
Happy Reading....
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan Kania baru saja membuka matanya, seluruh badannya terasa benar-benar pegal dan lemas dari atas sampai bawah.
"Ras gila! dia benar-benar nyiksa aku semalaman penuh. badanku rasanya remuk dari atas sampai bawah," gerutu Kania sambil merapatkan selimut yang menutup tubuh polosnya.
Semalam Ras benar-benar melakukannya sesuai dengan perkataannya dari setelah makan malam hingga subuh, Ras hanya memberikan jeda sebentar saja dan melakukannya lagi dan lagi dan sekarang rasanya Kania benar-benar tidak kuat untuk bangun dari tempat tidur.
"Kamu sudah bangun," kata Ras memasuki kamar dengan penampilan yang sudah rapi dengan pakaian santainya.
Kania tidak menjawabnya, dia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain sebagai bentuk protesnya pada Ras karena semalaman menyiksanya tanpa ampun.
"Kenapa hemmm, apa kamu marah?" tanya Ras menyimpan nampan yang berisi sarapan untuk Kania yang dibawanya dari dapur di meja.
"Pikirin aja sendiri, sekarang seluruh badanku sakit, apalagi bagian pangkal pah*ku, dasar gila, tidak punya pikiran, emangnya kamu pikir aku apaan hah, semalam aku sudah bilang capek tetep saja tidak mendengarkannya," omel Kania menggebu.
Mendapatkan omelan dari Kania bukannya kesal atau marah, Ras malah tertawa nyaring tanpa dosa karena dia memang tidak mendengarkan Kania yang sudah meminta berhenti. tapi, dia tetap saja menggempurnya.
"Apanya yang lucu hah! kamu senang ya liat aku menderita seperti ini," kata Kania memukul Ras dengan bantal agar Ras menghentikan tawanya yang menyebalkan menurutnya.
"Iya deh, iya aku minta maaf ya, lain kali gak gini lagi deh," kata Ras menangkap bantal yang dipakai Kania untuk memukulnya dan membujuk Kania yang sedang kesal.
"Sekarang sebaiknya kamu mandi dulu, setelah itu sarapan dulu," kata Ras dengan lembut.
"Aku males bangun ke kamar mandinya, aku mandinya nanti saja setelah sarapan, perutku udah lapar," kata Kania dengan nada malas.
Ras tidak bicara lagi dia menarik selimut yang menutupi tubuh polos Kania dengan sekali tarikan.
"Ras apa yang kamu lakukan!" Kania setengah berteriak dan langsung berusaha menutupi tubuhnya dengan bantal karena kaget dengan Ras yang tiba-tiba menarik selimutnya.
"Aku hanya ingin membantumu untuk mandi, katanya badan kamu sakit," kata Ras, kemudian mengangkat tubuh polos Kania, secara reflek Kania melingkarkan tangannya di leher Ras.
"Aku bisa jalan sendiri," kata Kania tanpa melihat wajah Ras.
"Kenapa? apa kamu masih malu, aku sudah ratusan kali melihat dan menyentuh semuanya," kata Raa santai sedangkan Kania memalingkan wajahnya yang sudah merona karena perkataan Ras.
Ras mendudukkan Kania di bathub dia memutar keran shower setelah mengatur suhu airnya dan memandikan Kania seperti memandikan seorang anak kecil.
"Aku bisa sendiri." Kania memprotes.
"Diam dan nurut saja," kata Ras tidak ingin dibantah sambil menuangkan sampo di rambut Kania dan sedikit memijat kepala Kania untuk membuat Kania Rileks.
Beberapa saat kemudian Ras sudah selesai membersihkan badan Kania, dia mengambil bathrobe dan menyerahkannya pada Kania.
Setelah Kania memakai bathrobe Ras kembali menggendong Kania meskipun Kania menolak untuk Ras, gendong. tapi, Ras tidak mendengarkannya.
Dia membawa Kania ke ruang ganti dan mendudukkannya di sofa yang tersedia di sana.
__ADS_1
"Mau sekalian aku pakaikan bajunya?" tanya Ras, saat sudah mengambilkan baju untuk Kania.
"Tidak, aku bisa sendiri kamu tunggu saja di luar," tolak Kania dan mengusir Ras.
"Baiklah, aku akan menunggu di luar," jawab Ras setelah itu dia keluar dari ruang ganti.
Beberapa saat kemudian Kania selesai memakai bajunya dan keluar dari ruang ganti.
Ras sudah merapikan tempat tidur dan sedang menunggunya di sofa sambil menonton tv.
"Makanlah dulu, ada yang mau aku bicarakan," kata Ras menepuk tempat di sampingnya.
Kania menganggukkan kepalanya dan duduk di samping Ras, dia mulai memakan, makanan yang Ras bawa untuknya.
Ras tidak berbicara lagi dia membiarkan Kania untuk makan terlebih dahulu.
Kania makan dengan lahap, dia benar-benar kelaparan tenaganya terkuras habis oleh pria di sampingnya yang tidak lain adalah suaminya.
"Pelan-pelan saja, nanti kamu tersedak kalau makan cepat seperti itu," kata Ras memperingati Kania yang makan seolah tanpa dikunyah dulu.
"Aku benar-benar lapar, kamu lihat jam, sebentar lagi jam makan siang, ini aku baru sarapan jam segini," kata Kania menunjuk ke arah jam.
"Iya maaf, aku sangat merindukanmu sehingga rasanya tidak ingin terlepas darimu. tapi, kamu juga menyukainya 'kan, buktinya kamu juga ikut mendes*h" mendengar perkataan Ras Kania langsung tersedak makanannya.
Uhuk ... Uhuk
Kania langsung meneguk air yang Ras sodorkan, hingga tenggorokannya terasa lega.
"Lanjutkanlah makannya, setelah kamu selesai makannya, aku mau membicarakan hal yang penting," kata Ras menyimpan gelas di meja.
"Mau bicara apa, kenapa gak sekarang saja," kata Kania.
"Nanti saja," kata Ras.
Kania pun menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya yang tinggal sedikit lagi.
Beberapa saat kemudian Makanan Kania pun habis, dia meneguk kembali air di gelas yang masih tersisa.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Kania menatap Ras.
"Aku mau mengajakmu untuk pergi berbulan madu, apa kamu ingin pergi ke suatu tempat untuk kita berbulan madu?" tanya Ras menatap Kania dengan serius.
"Serius aku boleh memilih tempatnya?" tanya Kania dengan terlihat binar di matanya menandakan jika memang ada tempat yang paling ingin dia kunjungi.
"Ya kamu boleh memilih tempat yang kamu mau," kata Ras menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Kania.
"Sebenarnya ada beberapa yang ingin aku kunjungi, biarkan aku berpikir dulu oke, kira-kira mana yang paling ingin aku kunjungi," kata Kania menatap Ras dengan tersenyum manis.
__ADS_1
Ras menatap Kania yang tersenyum seperti itu, jantungnya selalu berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihat senyuman itu.
Senyuman yang seperti mentari di pagi hari yang memberikan kehangatan pada setiap sudut di hatinya.
"Gimana, aku boleh memikirkannya dulu 'kan?" tanya Kania menyadarkan Ras dari lamunannya yang sedang terpesona untuk kesekian kalinya pada wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya.
"Ya, kamu boleh memilih tempat yang paling kamu sukai, setelah kamu sudah menentukannya, kita bisa langsung berangkat," kata Ras.
"Terima kasih. tapi, aku harus bilang dulu ke Papa takutnya ada pekerjaan penting di kantor."
"Tidak perlu, Papa yang nyaranin untuk kita bulan madu, dia ingin kamu menikmati hari-hari tanpa mikirin pekerjaan dan yang lainnya."
"Serius Papa yang nyaranin?" tanya Kania.
"Iya," jawab Ras menganggukkan kepalanya.
"Apa kita akan diikuti oleh pengawal?" tanya Kania menatap Ras dengan tatapan penuh tanya.
"Tidak, tidak akan ada pengawal, mereka hanya akan menjaga kita dari jauh," kata Ras bicara dalam hati di akhir perkataannya.
"Syukurlah aku mau lihat-lihat dulu di ponselku, Kira-kira negara mana yang lebih cocok untuk kita kunjungi sekarang," kata Kania akan mengambil ponselnya.
"Tidak sekarang, nanti saja lihat-lihatnya, sekarang sebaiknya kita tidur dulu semalam 'kan kita tidak tidur sama sekali," kata Ras menarik tangan Kania.
Kania menarik kembali tangannya dari genggaman Ras dan menatap Ras dengan waspada.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak dengan otak kecilmu itu, aku hanya merasa mengantuk karena tadi hanya tidur sebentar. jadi sekarang mau tidur lagi," kata Ras yqng langsung mengangkat tubuh Kania lagi.
"Aku bisa jalan sendiri, gak perlu kamu gendong terus," rajuk Kania memasang wajah ditekuk saat Ras menidurkannya di ranjang.
"Ssstt diamlah, aku ngantuk," kata Ras yang langsung memeluk tubuh ramping Kania dan memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1