
Happy Reading....
Kania menatap bayangan dirinya di cermin, dia benar-benar seperti bukan dirinya lagi sekarang, bagaimana tidak. Wajahnya yang jadi bulat begitu pun dengan badannya dari atas sampai bawah semuanya membengkak.
"Kenapa hemmm ... serius banget ngeliatin cerminnya," kata Ras yang tiba-tiba saja memeluk Kania dari belakang.
Saking seriusnya melihat dirinya di cermin, Kania sampai tidak sadar jika Ras sudah berada di sana.
Ras menyimpan kepalanya di ceruk leher Kania, ditatapnya Kania melalui cermin yang berada di depannya dengan tangan yang asyik mengelus perut Kania yang sudah semakin besar itu.
"Kamu lihat King, badan aku sekarang udah kayak pemain sumo aja, bengkak dari atas sampai bawah," kata Kania dengan cemberut dan menatap Ras dari cermin.
"Kamu kayak gini 'kan karena lagi hamil Queen, di sini ada mereka yang sedang tumbuh dan sebentar lagi akan keluar bertemu dengan kita," sahut Ras sambil mengendus leher Kania hingga membuat Kania kegelian.
"Tapi aku gak pede kalau kita keluar, bahkan sekarang baju-baju aku udah mulai pada gak muat lagi," kata Kania masih cemberut.
"Nanti aku beliin lagi baju yang ukurannya pas untukmu," jawab Ras santai.
"Aku malu kalau menemani kamu menghadiri acara dengan badan yang seperti ini," kata Kania menghela napas berat.
Sekarang dia merasa tidak percaya diri saat Ras mengajaknya untuk menghadiri suatu acara atau undangan dari kliennya. meskipun dia memang sedang hamil. tapi, dia selalu melihat ibu hamil lainnya masih memiliki berat badan yang wajar tidak seperti dirinya.
"Kenapa harus malu sih Queen, kamu kayak gini karena sedang hamil anak-anakku, lagian mau seperti apapun bentuk tubuhmu dan seperti apapun tampilanmu kamu tetap akan menjadi istri tercintaku untuk selamanya," kata Ras menatap Kania dalam.
"Tapi, orang-orang akan berpendapat bahwa aku tidak cocok denganmu sekarang," keluh Kania lagi.
"Siapa yang berani bilang seperti itu hah? biar aku potong sekalian lidahnya biar gak bisa bicara sembarangan lagi," kata Ras dengan tegas.
"Hust, jangan bicara sembarangan di depan anak-anakmu, nanti mereka dengar lagi," kata Kania mencubit punggung tangan Ras.
"Oh iya lupa, anak-anak papa, jangan dengerin apa yang papa katakan tadi ya, itu gak baik," kata Ras mengusap lagi perut Kania.
"Dan untuk kamu, jangan pernah dengarkan apa yang orang lain katakan karena mau seperti apapun dirimu, hanya kamu yang pantas tetap berada di sisiku berjalan bersama denganku, tidak akan pernah ada orang lain lagi yang pantas selain dirimu," kata Ras yang sudah membalikkan badan Kania hingga menghadap padanya.
__ADS_1
Disingkirkannya helaian rambut Kania yang menghalangi wajahnya dan menyelipkan anak rambut itu ke belakang telinga. Ras menatap mata Kania dengan tatapan memuja.
"Perlu kamu tau, Queen ... Mau itu dulu, sekarang dan aku berharap untuk selamanya, kamu adalah satu-satunya wanita yang selalu mengisi ini, di sini sudah dipenuhi olehmu. Jangan pernah beranggapan kamu tidak percaya diri saat berjalan bersamaku, singkirkan pikiran-pikiran itu dari kepalamu. Dengan kamu berpikiran seperti sama saja kamu tidak menginginkan mereka ada di sini kalau mereka ngambek gimana coba?" Ras menyimpan tangan Kania tepat di dadanya.
Tatapan lembut, penuh ketulusan yang selalu Ras berikan untuk Kania selalu bisa membuat hati Kania luluh lantah oleh perasaan bahagia yang membuncah.
Baru saja Ras selesai bicara ada pergerakan di perut Kania yang dapat Ras rasakan. Salah satu tangan Ras yang masih berada di perut Kania bergerak.
"Tuh liat Queen mereka memberi respon," kata Ras dengan wajah senang.
Dia selalu senang saat anak-anaknya memberi respon jika dia dan Kania sedang membicarakan mereka.
Ras langsung berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan perut Kania, dia mulai berinteraksi lagi dengan anak-anaknya.
"Selamat sore anak-anak papa, kalian setuju 'kan? sama papa kalau Mama kalian ini jangan merasa tidak percaya diri seperti itu, mau bagaimana pun Mama kalian dia akan tetap cantik benar 'kan," kata Ras mengusap perut Kania dengan perlahan.
Ada respon lagi dari anaknya, membuat Ras terkekeh dan merasa gemas, dia jadi tidak sabar untuk segera menggendong anak-anaknya itu.
"Kenapa sebulan terasa lama Queen," kata Ras mendongakkan wajahnya menatap wajah Kania.
"Iya aku sudah gak sabar mau gendong mereka, " kata Ras sambil mencium perut Kania beberapa kali.
"Sabar aja itu tidak akan lama kok, hanya tinggal empat minggu dan 30 hari lagi," kata Kania terkekeh.
"Iya aku tau itu Queen," sahut Ras memutar matanya.
Sekarang usia kandungan Kania baru berusia 29 minggu, Dokter menyarankan dia untuk melakukan operasi saat usia kandungan sudah mencapai 33 atau 34 minggu karena kehamilannya cukup beresiko jika dia ingin lahiran normal sampai bayi berusia 9 bulan.
Dokter takutnya akan ada komplikasi yang terjadi entah itu pada kondisi ibu atau bayinya jika dia ingin melahirkan dengan usia kandungan lebih matang.
Ras dan Kania tidak mempermasalahkan hal itu, selama itu terbaik untuk dia dan anak-anaknya maka dia akan mengikuti anjuran dari dokternya itu.
"Udah jangan banyak berpikiran yang tidak-tidak yang harus lebih kamu pikirkan adalah kesehatan kamu dan anak-anak kita," kata Ras kembali berdiri mensejajarkan dirinya dengan Kania.
__ADS_1
"Iya, iya, aku tidak akan berpikiran yang tidak-tidak lagi," jawab Kania mengangguk kepalanya.
"Jangan pernah merasa insecure lagi ya, kamu sempurna dalam versimu menurutku, jangan pernah bandingkan dirimu dengan orang lain lagi," kata Ras menghibur Kania.
"Iya," jawab Kania menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Ras.
Ras mencium seluruh wajahnya setelah itu mengajak Kania untuk duduk karena mereka sudah terlalu lama berdiri seperti itu.
Kania tidak boleh terlalu lama berdiri karena bobot badan dan perutnya yang lumayan berat akan membuat dia cepat kelelahan meskipun hanya berdiri saja.
Ras membantu Kania berjalan, semakin besar usia kandungan Kania, semakin sulit pula Kania dalam melakukan aktivitas termasuk berjalan, dia harus selalu dibantu oleh Ras untuk berjalan karena takut jatuh.
Mereka duduk di sofa yang ada di kamar itu, Ras seperti biasa menyimpan kaki Kania di pangkuannya dan memijatnya secara perlahan, sementara Kania menonton televisi sambil ngemil.
Akhir-akhir ini dia memang suka sekali mengemil mungkin karena itu juga berat badannya semakin bertambah dengan cepat, dia selalu merasa ada yang kurang jika saat bersantai seperti itu tidak ada cemilan.
Alhasil pelayan di rumahnya setiap hari harus membuat cemilan sehat untuk Kania karena Ras tidak mengizinkan Kania makan cemilan dari luar.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....