Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Pembicaraan di dalam mobil.


__ADS_3

Happy Reading....


Pagi ini Kania berangkat ke kantornya dengan diantarkan oleh Ras, Ras yang memaksanya untuk mengantarkannya karena dia takut kejadian semalam terjadi lagi.


Kejadian semalam bisa saja merupakan sebuah permulaan, kini Ras tahu maksud dari Papa mertuanya selalu menempatkan pengawal untuk anak-anaknya karena keluarganya memang tidak setenang yang terlihat.


Ada orang yang mungkin dari dulu sudah menargetkan keluarga Kania itu.


"Apa yang mau kamu bicarakan sama Papa?" tanya Kania pada Ras yang sedang menyetir.


"Aku hanya mau membicarakan beberapa hal saja dengannya," jawab Ras santai dan fokus pada jalanan di depannya.


"Kamu jangan pernah membicarakan yang terjadi semalam, aku takut nanti Papa maksa aku buat bawa pengawal atau sopir kemana-mana lagi," kata menatap Ras dengan tatapan memohon.


"Liat saja nanti, nggak janji karena aku gak mungkin nolak perintah Papa," kata Ras santai.


Ras sebenarnya tahu tanpa diberitahu pun mertuanya pasti sudah tahu apa yang terjadi semalam karena dia yakin mertuanya itu punya banyak mata.


"Ayolah Ras, aku gak mau kemana-mana harus dengan sopir atau pengawal lagi," kata Kania mengguncang tangan Ras yang sedang menyetir.


"Menurutku akan lebih baik kalau kamu kemana-mana dengan sopir atau pengawal." Ras sengaja menggoda Kania dia ingin tahu seberapa gigih Kania memohon padanya.


"Aku akan lakukan apapun yang kamu minta. tapi, kamu jangan membahas masalah semalam kepada Papa," kata Kania dengan serius.


Sudut bibir Ras terangkat, mendengar perkataan Kania, dia tidak boleh melewatkan kesempatan ini untuk keuntungannya.


"Yakin, apapun?" tanya Ras meyakinkan.


"Iya apapun," jawab Kania dengan yakin.


"Jangan menyesal," kata Ras menatap Kania sekilas setelah itu fokus lagi kedepannya.


"Nggak akan," kata Kania, Ras menganggukkan kepalanya.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Kania.


"Tidak banyak, aku hanya ingin nanti malam kita bergadang saja," kata Ras santai.


"Untuk apa, kamu mau aku temenin kamu kerja, atau nonton atau main game, aku mau kalau gitu," kata Kania yang tidak mengerti kemana arah pembicaraan Ras itu.


"Bukan bergadang untuk itu," kata Ras memutar matanya.


"Terus buat apa dong?" tanya Kania bingung, dia menatap Ras.


"Buat olahraga malam," kata Ras santai.


"Ngapain sih olahraga malam, kenapa gak siang aja coba. tapi, gak pa-pa deh aku mau kok nemenin kamu olahraga malam," kata Kania masih belum paham.


"Bukan olahraga biasa. tapi, olahraga di ranjang," jawaban Ras membuat Kania tersedak ludahnya sendiri.

__ADS_1


"Sampai bergadang?" tanya Kania dengan tatapan tidak yakin.


"Iya sampai bergadang," kata Ras, dia menghentikan mobilnya karena sudah sampai di parkiran kantor Kean.


Ras melepaskan sabuk pengamannya dan membalikkan badannya menghadap Kania.


"Sampai gak tidur sama sekali," kata Kania lagi dengan suara pelan.


"Ya, sampai gak tidur, pokoknya dari terbenamnya matahari sampai terbit lagi matahari," kata Ras. Kania melotot melihat Ras dengan tatapan horor.


"Kamu pikir aku gak butuh istirahat apa," kata Kania menatap tajam Ras.


"Terserah kalau kamu gak mau, aku tinggal ceritakan semuanya ke Papa tentang apa yang semalam terjadi, kamu pasti bisa menebaknya bagaimana reaksi Papa saat tau kamu hampir saja celaka," kata Ras memanas-manasi Kania.


"Tapi gak sampai bergadang juga, Ras lagian aku lagi datang bulan," bohong Kania.


"Kamu lupa, siklus bulanan kamu baru beres dua hari yang lalu," kata Ras yang memang tahu tentang hal itu.


"Kamu menghitungnya," kata Kania tidak percaya.


"Ya dan perlu kamu ingat, kita tidak melakukan itu sudah sepuluh malam," kata Ras lagi membuat Kania semakin tak percaya jika Ras sampai menghitungnya, kapan saja mereka melakukan hal itu.


"Emangnya harus ya, di hitung sampai segitunya," kata Kania dengan cemberut.


"Haruslah, itu 'kan masalah yang teramat penting bagiku," jawab Ras.


"Jadi ... setuju, tidak dengan syaratnya, mending bergadang karena melayani suami atau mending diintilin terus sama sopir atau pengawal seperti sebelumnya," kata Ras menaik turunkan alisnya.


"Jadi kamu meragukan kemampuanku gitu. apa perlu aku buktikan dari sekarang jika aku kuat." Ras menatap Kania dengan tajam setajam harimau yang sedang mengawasi mangsanya dan siap menerkam mangsanya.


Ras juga sengaja mendekatkan dirinya ke Kania hingga Kania memundurkan badannya.


"Eum- itu- anu," kata Kania tiba-tiba saja jadi gugup karena tatapan Ras padanya.


"Apa, mau aku buktikan sekarang?" tanya Ras dengan menyeringai.


"Gak perlu, sekarang 'kan aku harus kerja kamu juga mau ke Hotel 'kan, jadi nanti malam aja ya," kata Kania berusaha tersenyum. dia mendorong pelan tubuh Ras.


"Jadi, kamu setuju dengan syaratnya?" tanya Ras mengangkat salah satu alisnya.


"Emang aku punya pilihan apa," kata Kania kembali memanyunkan bibirnya.


Melihat hal itu tentu saja membuat Ras gemas dan langsung menyergap bibir ranum milik Kania yang terbalut oleh lipstik berwarna peach itu.


Kania memukul pundak Ras untuk menghentikan aksi nakal Ras itu. tapi, Ras masih belum puas, hingga beberapa detik kemudian barulah dia mulai melepaskannya.


"Kamu merusak riasanku," kata Kania saat Ras melepaskannya.


"Siapa suruh kamu memanyunkan bibirmu seperti itu, itu sama saja mengundang untuk dici*m," kata Ras mengusap bibir Kania yang sedikit basah.

__ADS_1


"Sebaiknya kita segera turun, sebelum aku tidak bisa menahan diri untuk menggempurmu di mobil," kata Ras.


Kania langsung membuka pintu mobilnya dan buru-buru keluar dari mobilnya sebelum Ras benar-benar melakukan apa yang dikatakannya.


Melihat Kania ketakutan karena perkataannyax Ras hanya terkekeh dan mulai turun dari mobilnya.


Ras melingkarkan tangannya di pinggang Kania dan Kania pun membiarkannya, mereka berjalan beriringan memasuki kantor Kean.


Para karyawan yang melihat mereka, menyapa mereka dengan sopan dan ramah. tapi, Kania dan Ras, sama-sama tidak menyahuti sapaan para karyawan Kean.


Mereka berjalan beriringan dengan memasang wajah datar dan dinginnya.


"Mereka benar-benar cocok ya, sama-sama lempeng kayak triplek," kata salah satu karyawan saat Kania dan Ras sudah memasuki lift.


"Iya. tapi, Tuan Ras sepertinya sangat mencintai Nona Kania, terlihat dari caranya menrangkul pinggang Nona Kania dengan posesif seperti itu," jawab karyawan lainnya.


"Iya, mereka juga cepat saling menerima satu sama lainnya, meskipun pernikahan mereka awalnya seperti itu."


Karyawan yang berada di sana menganggukkan kepalanya, kemudian mereka menuju ke tempat mereka masing-masing karena sebentar lagi waktunya untuk memulai pekerjaan mereka.


Sementara itu Kania dan Ras sudah sampai di lantai paling atas.


"Aku langsung ke ruanganku ya," pamit Kania pada Ras, saat sudah di depan ruangannya.


"Iya, aku mau langsung ke ruangan Papa, nanti siang jangan sampai telat makan siang," kata Ras.


"Iya kamu juga," kata Kania mengambil tangan Ras dan mengalaminya.


"Hati-hatilah, nanti pulangnya aku jemput ya," kata Ras. lalu mencium kening Kania.


"Iya, ingat janjinya tadi," Kania mengingatkan Ras.


"Tentu, aku bakalan ingat, apalagi janji kamu tadi," Jawab Ras sambil terkekeh.


"Ya udah aku masuk dulu," kata Kania langsung memasuki ruangannya.


Ras pun melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan mertuanya ada hal yang ingin dia tanyakan pada Papa mertuanya itu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2