Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Selalu ribut.


__ADS_3

Happy Reading....


Kean seperti biasanya disaat ada Radit dia akan kembali seperti dirinya yang dulu dia selalu menganggap Radit adalah rivalnya karena tahu jika Radit dulu menyukai Kiran dan Radit juga selalu ada untuk Kiran dan Kania disaat dia dan Kiran belum bersama.


"Kamu mau ngapain ke sini?" tanya Kean sambil menundukkan dirinya di samping Kiran.


"Aku hanya kangen sama Kiran, Kania dan Kai," jawab Radit santai dia tahu Kean tidak terlalu suka jika dirinya berdekatan dengan istri dan anak-anaknya. tapi, dia senang membuat Kean marah.


Radit sudah melupakan perasaannya terhadap Kiran dari jauh-jauh hari dan sekarang dia hanya menganggap Kiran sebagai adiknya tidak lebih, hanya saja pria yang sudah tidak terlalu muda yang duduk di depannya itu selalu saja bersikap berlebihan padanya.


"Apa kamu gak ngaca hah, kamu sudah tua, sudah punya anak dan istri ngapain kangen sama istri dan anak-anakku," kata Kean sinis.


"Kayaknya kamu lupa ya, kalau umur kamu lebih tua dariku," kata Radit santai.


"Meskipun umurku lebih tua darimu tapi aku terlihat lebih muda dan lebih segar darimu," kata Kean percaya diri.


"Oh ya tapi aku melihatnya tidak seperti itu dimana-mana kalau udah tua ya tua aja, dasar gak tau diri udah tua tapi masih ingin disebut muda," kata Radit semakin membuat Kean kesal.


"Udah deh kalian itu dari dulu gak pernah berubah ya, tiap ketemu pasti ribut, kayak perempuan saja cek-cok terus," kata Kiran menengahi mereka berdua.


Sampai sekarang dia masih heran sama kelakuan sepupunya, suaminya dan juga Kakaknya Azri, disaat mereka bertemu selalu ada saja perdebatan tidak penting yang terjadi, entah itu saling ledek, saling memuji diri sendiri dan sebagainya dan hal itu sudah berlangsung selama puluhan tahun.


"Kamu ngapain sih biarin dia ke sini seharusnya kamu usir dia saat dia bertamu bukannya diterima dengan baik seperti ini," omel Kean pada Kiran.


"Dia sepupu aku, mana mungkin aku tidak menerimanya saat dia bertamu," kata Kiran santai.


"Tau tuh udah tua masih saja kelakuan kayak bocah," ledek Radit. tapi, tidak digubris oleh Kean.


"Sekarang kamu pergi sana, anak sama istri kamu pasti nyariin, jadi suami dan Ayah kok masih saja suka bertamu sembarangan bikin malu aja," usir Kean menatap tajam Radit.


"Aku sudah ijin pada mereka kalau aku ke sini lagian apa susahnya aku mengunjungi sepupu dan anak-anakku," jawab Radit acuh, dia tidak menggubris perkataan Kean, dia malah dengan santainya menyeruput kopi yang di siapkan oleh pelayan.


"Dasar tidak tau malu mereka bukan anak-anakmu. tapi anak-anakku" cibir Kean.


"Pa, pi, udah dong Kania pusing nih kalian meributkan hal yang tidak penting seperti itu," kata Kania jengah karena menyaksikan perdebatan tidak berfaedah antara Papanya dan Papi angkatnya.


Kai sudah pergi dari tadi dia hanya menyapa Radit sebentar dan langsung pergi ke kamarnya dia tidak ingin pusing karena menyaksikan perdebatan antara kedua orang tua yang tidak sadar akan umur itu.

__ADS_1


Kai sudah menduga jika hal seperti itu pasti terjadi. jadi dia mencari aman.


"Papa juga tidak ingin ribut. tapi, kehadirannya di sini membuat Papa tidak nyaman dia itu seperti kuman, mengganggu," kata Kean dengan nada sinis di akhir kalimatnya.


"Udah deh jangan ribut terus, Pa kamu sebaiknya mandi gih udah sore nih," kata Kiran pada Kean.


"Kok kamu malah ngusir aku, seharusnya orang yang kamu usir itu adalah dia, bukan aku, kenapa jadi aku yang kamu usir," kata Kean menatap Kiran.


"Aku bukan ngusir kamu Pa, aku hanya minta kamu untuk segera mandi, siapa yang ngusir kamu sih," kata Kiran yang balik menatap Kean.


"Tadi itu kamu ngusir aku," kata Kean yang kukuh.


"Terserah, aku capek liat kalian ribut sekarang kalian lanjutkan saja ributnya aku mau mandi udah sore," jawab Kiran sambil bangun dan berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke kamarnya.


"Kamu lihat, kehadiran kamu itu bagaikan kuman yang menjengkelkan gara-gara kamu Kiran marah padaku padahal yang salah adalah kamu, sebaiknya kamu pergi sana," kata Kean menatap Radit dengan sengit setelah itu dia berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu menyusul Kiran.


"Huh, kalian itu udah pada tua masih saja hobi ribut," kata Kania menggelengkan kepalanya pusing.


"Papa kamu selalu mulai," kata Radit santai.


"Ya udah kalau gitu Papi mau pulang dulu ya, udah sore," jawab Radit berdiri.


"Iya, semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu dan semoga sikap suami kamu tidak seperti Papa kamu," kata Radit mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana memasuki rumah.


"Emang kenapa dengan sikap Papa," kata Kania heran sambil mengikuti langkah Radit.


"Menyebalkan," jawab Radit santai.


Kania tidak menjawab lagi dan mereka pun sampai di depan pintu Radit berjalan menuju ke mobilnya dan masuk ke mobilnya.


Kania melambaikan tangannya saat Radit membunyikan klakson mobilnya, setelah memastikan mobil Radit sudah jauh meninggalkan rumahnya.


Kania memasuki rumah itu dan langsung menuju ke kamarnya untuk mandi sebelum makan malam tiba.


Beberapa saat kemudian, mereka satu persatu mulai turun menuju ke meja makan dan makan malam pun di mulai.


"Besok Papa akan ke Bali untuk mengurus beberapa masalah di sana sama Nikko kamu gak pa-pa 'kan kalau harus handel semua masalah kantor selama dua atau tiga hari," kata Kean pada Kania disela-sela makannya.

__ADS_1


"Gak pa-pa kok Pa, ada Mbak Dian juga yang akan bantuin Kania," jawab Kania santai.


"Kalau ada hal yang tidak bisa kamu kerjakan hubungi Papa atau Om Nikko saja," kata Kean, Kania menganggukkan kepalanya.


Setelah itu di meja makan kembali hening hingga makan malam mereka pun selesai dan mereka memutuskan untuk ke kamar mereka masing-masing dan beristirahat.


Kania mencuci muka dan menggosok giginya terlebih dahulu setelah itu merebahkan tubuhnya di ranjang dia melihat ponselnya sepi.


"Dia pasti belum sampai," gumam Kania melihat layar ponselnya.


Setelah itu menyimpan kembali ponselnya dan berusaha untuk tidur dengan memejamkan matanya.


Kania membolak-balikan badannya tapi dia masih tidak mengantuk juga, dia mengambil kembali ponselnya dan membuka aplikasi tempat dia membaca komiknya berharap rasa kantuk akan segera datang.


Ternyata caranya itu berhasil beberapa saat kemudian dia tertidur dengan tangan masih menggenggam ponselnya.


Sementara di sisi lain Ras yang masih berada di pesawat, tidak berhenti memikirkan Kania dia ingin segera sampai ke tempat tujuannya agar dia bisa segera menelpon Kania-nya.


"Kenapa perjalanannya sangat lama," gumamnya kesal.


Padahal belum sampai sehari dia berpisah dengan Kania tapi dia sudah sangat merindukan Kania.


Saking rindunya dia merasa penerbangannya sangat lama padahal itu hanya perasaannya saja, penerbangannya berjalan seperti biasanya baik-baik saja.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2