Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Kecelakaan.


__ADS_3

Happy Reading....


Brukkkk....


Suara dentuman keras terdengar saat mobil Iden menabrak pohon tepat di pinggir jalan, kepalanya juga terbentur dengan lumayan keras ke setir mobilnya hingga membuat darah mulai merembes di keningnya dan dia langsung tidak sadarkan diri.


Sementara itu tidak jauh dari mobilnya ada seorang wanita yang sedang berdiri tidak jauh dari mobilnya sedang memejamkan matanya dan berdiri di tengah jalan.


Wanita adalah orang yang hampir Iden tabrak karena dia mengemudi dengan pikiran yang kacau dan laju mobil yang sangat kencang tak terkendali hingga hampir saja dia menabrak seorang wanita yang sedang menyebrangi jalan.


Wanita itu membuka matanya saat dia mendengar dentuman keras. tapi, tubuhnya tidak kenapa-napa. dia melihat ke sampingnya dan kaget saat mobil yang hampir menabraknya ternyata menabrak pohon.


"Oh syukurlah, aku masih diberi keselamatan dan orang itu masih sempat membelokkan setirnya meskipun mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan," gumam wanita itu mengusap dadanya lega.


"Kamu gak pa-pa Mbak?" tanya seseorang yang berada di sana.


"Tidak apa-apa Mas, sepertinya orang itu yang kenapa-napa deh," jawab wanita itu dan menunjuk ke arah mobil Iden.


"Syukurlah kalau Mbak tidak apa-apa, tadi kita takutnya Mbak ketabrak sama mobil itu karena mobil itu lajunya cepat banget," kata ibu-ibu.


"Bapak-bapak, ibu-ibu saya tidak apa-apa tapi bisakah kita melihat pengemudi mobil itu, sepertinya dia kenapa-napa deh," kata wanita itu karena orang-orang yang berada di sana malah mengerumuninya yang jelas-jelas tidak apa-apa.


Mereka semua pun mendekati mobil Iden dan salah seorang melihat ke dalam mobil itu, dia melihat kepala Iden yang berada di setir mobil dan darah mengalir di setir itu.


"Sepertinya dia sudah tidak sadarkan diri, kepalanya juga terbentur ke setir mobilnya hingga mengeluarkan banyak darah," kata orang yang mengintip.


"Coba buka pintunya, kita harus segera membawanya ke rumah sakit dia bisa kehilangan banyak darah," kata wanita itu sedikit khawatir.


Seseorang pun berusaha membuka pintu mobilnya. tapi, ternyata mobilnya terkunci.


"Pintu mobilnya terkunci, apa kita harus lapor polisi dulu. biar polisi saja yang menangani masalah ini," usul orang yang berusaha membuka pintu mobilnya dan menatap semua orang yang berada di sana.


"Pasti akan kelamaan kalau lapor polisi dulu, takutnya dia akan benar-benar kehabisan darah kalau menunggu terlalu lama," kata wanita itu sambil berpikir.


"Pecahkan saja kaca mobilnya," usul wanita itu.


"Apa Mbak yakin?" tanya seseorang dengan ragu.


"Saya yakin, biar nanti saya akan tanggung jawab dengan resikonya, daripada orang ini mati begitu saja," kata Wanita itu dengan yakin.


"Baiklah," kata seseorang memutari mobilnya dan memecahkan kaca mobil di samping kemudi mobil dengan batu dan membuka kunci mobilnya.


"Sekarang bapak-bapak tolong bawa dia ke mobil saya yang berada di sana," kata wanita kepada bapak-bapak .


Babak-babak itu pun menganggukkan kepalanya dan membopong tubuh Iden menuju ke mobil wanita yang berada di seberang jalan.

__ADS_1


Mereka memasukkan Iden ke kursi belakang dan menidurkannya di sana dengan hati-hati. darah masih terus mengalir di kening Iden hingga wajahnya hampir tertutup oleh darah.


"Apa ada yang bisa menyetir?" tanya wanita itu menatap bapak-bapak satu persatu.


"Saya bisa," jawab salah seorang bapak-bapak itu.


"Baiklah, tolong setirin mobilnya ya Pak, saya akan duduk di belakang" kata wanita itu yang langsung di setujui oleh bapak itu dan memberikan kunci mobilnya pada bapak itu.


Mereka pun memasuki mobilnya, si bapak, duduk di depan untuk menyetir sedangkan wanita itu duduk di kursi belakang dia menyimpan kepalanya Iden yang berlumuran darah di pangkuannya.


Dia melakukan pertolongan pertama dengan mengikatkan cardigan yang di pakainya ke kepala Iden agar bisa mengurangi aliran darah yang mengalir di kepala Iden.


"Bisa tolong percepat Pak," kata wanita itu pada si sopir karena melihat wajah Iden yang tertutup darah sudah mulai pucat.


"Iya Mbak kita bawa ke rumah sakit mana Mbak?" tanya sopir.


"Ke rumah sakit Medical," kata wanita itu, si sopir menganggukkan kepalanya.


Selama di perjalanan wanita itu terus memeriksa detak jantung Iden dan denyut nadinya untuk memastikan bahwa pria yang hampir menabraknya itu baik-baik saja.


"Kenapa terasa lama, denyut nadinya sudah mulai melemah," gumam wanita itu menjadi khawatir.


"Sebentar lagi sampai Mbak," kata Sopir itu menambah kecepatan mobilnya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil mereka sampai di depan rumah sakit sopir itu langsung turun dari mobil dan meminta bantuan kepada petugas rumah sakit untuk membawa Iden.


"Bawa ke IGD sepertinya dia kehilangan banyak darah dan tolong hubungi Dokter Ortopedi takut ada tulang yang bermasalah karena kecelakaan ini," kata wanita itu kepada para petugas laki-laki sambil mendorong brankar.


"Baik, Dok," jawab petugas laki-laki.


Wanita yang tidak lain adalah Dokter itu mengikuti para petugas lainnya untuk memasuki ruangan IGD untuk menangani Iden.


Beberapa saat kemudian suster keluar dengan membawa barang-barang pribadi milik Iden dia kemudian mencari nomor telpon keluarga Iden.


Suster itu menelpon ke nomor Delvin yang saat itu masih berada di acara pernikahan Ray dan Tisha.


Delvin mengangkat telponnya dengan agak menjauh dari keluarganya yang sedang berbicara dengan para kerabat yang lainnya.


"Halo Iden ada apa?" kata Delvin mengangkat telponnya.


'Maaf apa ini dengan keluarga yang memiliki ponsel ini?' tanya suster.


"Iya saya ayahnya yang punya ponsel ini, ini dengan siapa ya, kenapa ponsel anak saya bisa sama kamu?" tanya Delvin.


'Maaf Tuan yang punya ponsel ini saat ini mengalami kecelakaan dan sekarang sedang ditangani di ruangan IGD,' kata suster itu.

__ADS_1


"Sekarang anak saya sedang di rumah sakit mana?" tanya Delvin khawatir.


"Di rumah sakit medical jalan xxx Tuan," jawab suster itu.


"Baiklah saya akan segera ke sana tolong berikan penanganan terbaik untuk anak saya," kata Delvin langsung mematikan ponselnya tanpa mendengar jawaban suster itu lagi.


Dia mendekati Laura istrinya yang sedang berbicara dengan yang lainnya.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang." Delvin berbisik kepada istrinya agar tidak membuat semua orang khawatir karena acaranya belum selesai.


Laura memasang wajah heran dan melihat ke arah Delvin, Delvin tidak menjawab dia langsung pamit kepada orang yang berada di sana dengan alasan ada urusan penting dan menarik Laura segera pergi dari sana.


"Kenapa Dad? buru-buru banget?" tanya Laura heran sambil mengimbangi langkah Delvin yang menarik tangannya.


"Nanti aku jelaskan di mobil," jawab Delvin singkat menyuruh Laura memasuki mobil yang berada di parkiran rumah Vano.


Meski bingung Laura pun menurutinya dan memasuki mobil dan duduk manis menunggu Delvin menjalankan mobilnya.


"Iden kecelakaan," kata Delvin singkat sambil mulai menjalankan mobilnya.


"Apa! bagaimana bisa, terus sekarang gimana keadaannya dia baik-baik saja 'kan," kata Laura panik.


"Tenanglah, dia sudah di tangani di rumah sakit, aku yakin dia pasti akan baik-baik saja," kata Delvin menenangkan istrinya dan dirinya sendiri.


"Apa karena masalah Tisha, hingga dia tidak konsentrasi saat menyetir mobil, padahal 'kan dia adalah orang yang selalu berhati-hati dan tertib," kata Laura dengan sedih.


Dia tahu anaknya sangat sedih dengan semua ini meskipun dia selalu berusaha terlihat baik-baik saja. tapi, dia tahu itu juga tidak mudah baginya.


Delvin tidak bicara karena dia juga tahu anaknya pasti terpukul karena masalah ini, sehingga kejadian seperti ini bisa terjadi, dia hanya berharap anaknya segera melupakan kesedihannya dan mencari kebahagiaannya yang baru.


"Kita berdoa saja agar dia selalu baik-baik saja, aku percaya anakku bukan orang yang lemah, dia pasti tidak akan terlalu lama larut dalam kesedihannya," kata Delvin. Laura hanya menganggukkan kepalanya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2