Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Rebutan Ponsel.


__ADS_3

Happy Reading....


Alex dan Alya sudah sampai di rumah sakit mereka langsung menuju ke ruang rawat Iden, sesuai permintaan Delvin, Alex dan Alya hanya datang berdua dengan diantarkan sopir tidak memberitahu siapa pun lagi jika Iden kecelakaan.


Mereka telah sampai di ruang rawat Iden dan melihat kondisi Iden yang masih memejamkan matanya karena pengaruh obat yang Dokter berikan padanya.


"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Alex langsung mendudukkan dirinya di sofa yang tidak jauh dari Delvin dan Laura.


"Iden tidak hati-hati saat menyetir mobil dan dia hampir menabrak orang untung dia segera membelokkan setir mobilnya, hingga tidak sampai menabrak orang hanya saja mobilnya menabrak pohon yang ada di pinggir jalan," jelas Delvin.


"Apa orang yang hampir ditabraknya tidak kenapa-napa?" tanya Alya khawatir.


"Tidak Ma, malahan orang yang hampir Iden tabrak juga langsung menolong Iden dan menangani Iden karena dia ternyata Dokter di sini," kata Delvin.


"Syukurlah kalau Iden tidak sampai mencelakai orang," kata Alya dengan lega.


"Bagaimana Iden bisa teledor saat membawa mobil, apa ini ada hubungannya dengan pernikahan Ray dan Tisha?" tanya Alex menatap menantu dan Anaknya dengan serius.


Belum sempat Delvin menjawab pertanyaan Papanya terdengar lenguhan dari arah ranjang Iden.


Mereka semua berdiri dan mengelilingi Iden yang mulai membuka matanya secara perlahan.


"Syukurlah kamu sudah sadar Nak," kata Laura tersenyum.


"Ma," kata Iden parau.


"Iya kamu mau apa? mau minum gak?" tanya Laura, Iden menganggukkan kepalanya.


Laura mengambil segelas air dengan sedotan agar Iden mudah meminumnya. sedangkan Delvin menekan tombol yang ada di dekat kepala ranjang Iden untuk memanggil Dokter.


"Apa yang terasa sakit?" tanya Delvin.


"Seluruh badan Iden sakit semua Dad," keluh Iden dengan suara yang masih lemah.


"Tenanglah biar nanti Dokter memeriksanya," kata Delvin.


Iden menganggukkan kepalanya singkat.


Setelah beberapa saat kemudian datanglah Dokter yang tidak lain adalah Bella memasuki ruangan itu dengan tersenyum ramah kepada semua orang yang berada di sana.


"Selamat sore semuanya," sapa Bella.


"Selamat sore Dokter, bisakah tolong periksa anak saya," kata Laura.


"Iya Nyonya," jawab Bella mendekati ranjang dan tersenyum kepada Iden.


"Selamat sore Tuan," sapa Bella tersenyum pada Iden.


Iden hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan Bella melakukan tugasnya, dia melihat Bella dengan seksama karena seperti pernah melihat Bella sebelumnya, beberapa saat memperhatikan Bella akhirnya dia bisa mengingat jika Dokter muda yang saat ini sedang mengecek kondisinya adalah wanita yang hampir ditabraknya.

__ADS_1


"Apa kamu orang yang hampir aku tabrak tadi?" tanya Iden menatap Bella.


Bella tidak menjawabnya dia hanya tersenyum setelah itu memeriksa tabung infus Iden.


"Semuanya baik-baik saja Nyonya, Tuan. mungkin saya besok akan ke sini lagi untuk memeriksanya lagi," kata Bella kepada Laura dan yang lainnya.


"Terima kasih Dok," kata Laura.


"Iya sama-sama, Nyonya, kalau gitu saya permisi dulu, semoga Anda segera sehat kembali Tuan," kata Bella menatap Iden dan dijawab anggukkan kepala oleh semua orang.


Bella keluar dari sana meninggalkan keluarga itu, Iden masih menatap pintu saat Bella sudah pergi dari sana.


"Dia memang orang yang hampir kamu tabrak, dia juga yang membawamu ke rumah sakit ini dan menanganimu," kata Laura yang tahu Iden sedang memikirkan Bella.


"Kalau gitu Iden harus meminta maaf sekaligus berterima kasih padanya," kata Iden tersenyum tipis kepada Laura.


"Lain kali fokuslah kalau lagi menyetir, jangan melamun untung saat ini kamu masih diberikan keselamatan," kata Alex menatap Iden dengan serius.


"Iya, Opa nanti Iden akan lebih hati-hati lagi," jawab Iden tidak berani menatap Opanya itu.


"Kamu boleh sedih karena patah hati. tapi, ingat jangan sampai kamu bersikap ceroboh dan mencelakakan diri kamu sendiri, ingatlah pada orang-orang yang sangat menyayangimu dan sedih jika sampai kamu kenapa-napa," kata Alex dengan tegas dan Delvin pun tidak menyela pembicaraan Papanya pada anaknya itu karena apa yang dikatakan Papanya adalah benar.


Pria yang sudah lanjut usia itu masih tegas di saat-saat tertentu dia juga bisa ramah dan lembut di saat tertentu.


"Iya Iden tidak akan ceroboh lagi," jawab Iden patuh.


"Baiklah kalau gitu kamu kembalilah istirahat, kita juga mau segera pulang sudah sore, besok kita akan ke sini lagi," kata Alex.


"Nanti kita akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan keperluan kalian ke sini," kata Alya pada Delvin dan Laura.


"Iya Ma," jawab Delvin dan Laura bersamaan.


Alex dan Alya pun pergi dari sana, Laura menyuapi Iden makan setelah itu membantunya minum obat dan meminta Iden untuk beristirahat kembali, Iden pun menurutinya.


...****************...


Sementara di sisi lain Ras baru saja selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dan melihat Kania sedang serius menatap ponselnya sambil senyum-senyum dan itu adalah hal yang aneh menurutnya karena setelah sebulan tinggal bersama baru kali ini dia melihat Kania senyum-senyum sendiri sambil fokus ke ponselnya karena biasanya meskipun dia sibuk dengan ponselnya dia pasti akan memasang wajah serius.


"Apa yang seru di ponselmu sampai kamu senyum-senyum seperti itu?" tanya Ras yang sudah berdiri di depan Kania yang sedang duduk di sofa, dia berusaha mengintip ponsel Kania.


"Kamu apaan sih Ras ngagetin aja," kata Kania mengusap dadanya dan langsung menyembunyikan ponselnya.


"Kenapa ponselnya kamu sembunyikan, barusan kamu sedang melihat apa hah?" tanya Ras semakin penasaran karena Kania langsung menyembunyikan ponselnya seperti ada yang disembunyikan olehnya itu.


"Tidak apa-apa, ini bukan urusan penting," kata Kania santai. tapi, Ras tetap masih penasaran dia pun berusaha mengambil ponsel Kania dari tangannya.


"Kamu mau ngapain Ras, cepat pakai bajumu sana," kata Kania mengusir Ras.


"Lihat dulu ponselnya," kata Ras berusaha mengambil ponselnya Kania. tapi, Kania menyembunyikan ponselnya dibalik badannya.

__ADS_1


"Tidak mau, lagian ini bukan hal yang penting," kata Kania kukuh tidak memberikan ponselnya.


"Aku ingin melihatnya sebentar."


"Tidak boleh Rasheed aku bilang ini bukan hal yang penting, sebaiknya kamu ganti dulu baju sana!" kata Kania. tapi, Ras masih kukuh.


mereka akhirnya sibuk memperebutkan ponsel Kania itu, Kania mendorong tubuh Ras yang semakin dekat dengannya, dia kemudian lari menuju ke ranjang dengan ponsel yang masih di genggamnya erat.


melihat hal itu tentu saja Ras tidak tinggal diam, dia mengejar Kania dengan langkah besarnya dan saat sudah berada dekat Kania dia menarik tangan Kania dan membalikkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.


Kania memundurkan badannya secara perlahan dengan tatapan terkunci pada mata Ras yang juga tengah menatapnya dengan seksama.


Semakin Ras maju, Kania pun terus memundurkan badannya hingga kakinya telah mentok ke ranjang, Ras terus memajukan wajahnya ke wajah Kania hingga semakin menipiskan jarak antara mereka.


Melihat Ras terus memajukan wajahnya, Kania pun secara reflek menjatuhkan dirinya di ranjang dan tanpa dia sadari hal itu membuat Ras ikut ketarik karena tangan Ras masih memegang tangannya dan Ras kehilangan keseimbangan karena hal itu hingga dia menjatuhkan dirinya tepat di atas tubuh Kania dan menindihnya.


Ras bukannya berdiri. tapi, dia malah mencium Kania dengan sedikit ******* hingga membuat Kania membelalakkan matanya dan langsung mendorong Ras.


"Kam...."


"Ssuuttt mana ponselnya," kata Ras dengan santai memotong perkataan Kania.


"Gak boleh, kamu kenapa sih kepo banget sama ponselku?" kata Kania kesal.


"Beneran gak mau, mau aku berbuat hal yang lebih lagi dari yang barusan," kata Ras dengan menyeringai.


Mendengar perkataan Ras Kania langsung menutup mulutnya dengan satu tangannya dan menggeleng cepat.


"Ya udah mana ponselnya," kata Ras lagi.


"Ini. tapi, kamu bangun dulu berat tau," kata mengangkat ponsel yang di tangannya.


"Oh iya, aku keenakan ternyata," kata Ras terkekeh dan mulai bangun dari tubuh Kania yang cemberut.


Ras melihat ponsel Kania dan dia menatap tak percaya pada ponsel Kania dan Kania secara bergantian.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2