Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Muntah-muntah.


__ADS_3

Happy Reading....


Beberapa hari pun berlalu hubungan Kania dan Ras masih baik-baik saja, hanya saja ada yang aneh dengan diri Kania akhir-akhir ini.


Setelah kejadian beberapa hari yang lalu Kania selalu makan siang di Hotel dan dia selalu ingin memamerkan kemesraan antara mereka di depan Ayu.


Kania selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa dia jadi seperti ini dan kenapa hatinya merasa tidak tenang saat melihat Ayu berada di dekat Ras.


Dia selalu ingin bersikap seolah Ras hanya miliknya, dia selalu bersikap posesif pada Ras saat dia dan Ras berada di Hotel dan saat Ayu ada di sekitar mereka.


Melihat perubahan Kania itu, Ras sama sekali tidak merasa terganggu atau pun merasa tidak nyaman, dia justru sangat senang dengan sikap Kania yang seperti itu, dia jadi merasa kini bukan hanya dirinya yang merasa takut kehilangan Kania. tapi, Kania pun sepertinya takut kehilangan dirinya.


"King, bolehkah aku selalu ikut kamu kerja, aku berhenti saja ya dari kantor, aku selalu merasa tidak tenang saat kita berjauhan, kepalaku selalu dipenuhi oleh pikiran-pikiran buruk," cerita Kania sambil memainkan tangannya di dada Ras.


Saat ini mereka sedang duduk di kursi kerja ada di ruangan Ras, Kania memainkan jari telunjuknya di kancing kemeja Ras sambil menyandarkan kepalanya di pundak Ras dengan posisinya yang duduk di pangkuan Ras.


"Aku 'kan sudah memintamu untuk berhenti aja kerja, aku tidak masalah kamu ikut aku bekerja seperti ini, asal kamu tidak merasa bosen saja," kata Ras sambil pandangannya fokus ke laptop.


"Nanti kayaknya aku akan bilang dulu ke papa kalau aku mau berhenti dulu kerja," kata Kania yang tiba-tiba saja menghadiahkan sebuah kecupan di pipi Ras.


"Queen, jangan mancing-mancing deh, aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga," kata Ras dengan nada sedikit menggeram.


Bagaimana Ras tidak merasa terpancing, Kania tidak hanya mencium pipinya. tapi, dia juga dengan sengaja menggerakkan pinggulnya hingga membuat Ras langsung menatap Kania yang sedang menatapnya sambil terkekeh.


"Kalau kamu mau nanti aja ya, nanti malam aku pasti puasin kamu," kata Ras yang ikutan menggoda Kani dengan mengedipkan matanya.


"Baiklah aku gak ganggu kamu lagi. tapi, aku gak berat 'kan?" tanya Kania memeluk Ras dan menyimpan dagunya di pundak Ras.


"Tidak asal kamu jangan buat aku On saja," jawab Ras membuat Kania terkekeh.


Kali ini Kania tidak mengganggu Ras lagi, dia memejamkan matanya dengan tangan melingkar di pundak Ras.


Beberapa menit kemudian pintu ruangan itu diketuk dan Ras menyuruh orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk, pintu terbuka dan muncullah Ayu dengan sebuah berkas di tangannya.


Saat memasuki ruangan itu, Ayu sempat melihat sekilas ke arah Kania yang posisinya tidak berubah masih duduk di pangkuan Ras dengan membelakanginya.


"Maaf mengganggu Tuan, ini adalah laporan pengeluaran dan pemasukan Hotel kita bulan ini Tuan," kata Ayu menyimpan berkas itu di meja kerja Ras.


Ras hanya berdehem sebagai sahutan dengan mata yang fokus pada laptopnya, tanpa melihat Ayu sama sekali.


"Kalau tidak ada yang lain lagi Saya permisi Tuan," kata Ayu.

__ADS_1


Karena tidak mendapatkan sahutan, dia pun memutuskan untuk pergi dari ruangan itu tapi saat dia hendak membuka pintu ruangan itu, Ras menghentikannya.


"Tunggu."


"Ada yang bisa saya bantu lagi Tuan?" tanya Ayu membalikkan badannya.


"Pesankan makan siang untukku dan istriku...." Ras menyebutkan menu makanan yang dia dan Kania inginkan dia hanya melihat Ayu sekilas.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu Tuan," kata Ayu langsung pergi dari sana.


Kania saat ini sedang tertidur dan Ras tidak mau mengganggu Kania, meskipun pahanya terasa pegal karena lumayan lama menanggung bobot badan Kania.


Tak lama kemudian Ayu datang dengan meja dorong di depannya yang berisi makanan untuk makan siangnya dan Kania.


"Queen, bangun udah saatnya untuk makan siang," kata Ras membangunkan Kania dengan usapan lembut di punggungnya.


"Aku ketiduran, kamu pasti pegel ya, maaf ya King," kata Kania dengan nada menyesal sambil mengusap matanya dan turun dari pangkuan Ras.


"Tidak apa-apa ayo kita makan dulu," kata Ras bangun dari kursinya.


Mereka berjalan beriringan menuju ke sofa. Ayu sedang menata makanannya di meja yang ada di depan sofa, Kania menyipitkan matanya melihat ke arah Ayu.


'Sebenarnya kenapa aku selalu merasa waspada setiap ada perempuan ini di dekatku atau Ras, aku seolah merasa kalau ada bibit-bibit pelakor dalam dirinya, entah ini hanya ketakutanku saja atau apa,' gumam Kania dalam hatinya.


"Saya permisi dulu Tuan, Nona," pamit Ayu dan langsung pergi dari sana.


"Ayo kita mulai makan Queen," ajak Ras dibalas anggukan oleh Kania.


Mereka pun memulai makanan mereka. tapi, baru saja Kania memakan makanannya beberapa suap, tiba-tiba saja perutnya terasa bergejolak.


Kania menghentikan makannya dan pergi ke toilet yang ada di luar ruangan itu, tanpa berbicara pada Ras, hingga membuat Ras bingung.


"Queen kamu kenapa?" tanya Ras saat Kania sudah berjalan dengan cepat keluar dari ruangan itu.


Karena tidak mendapatkan jawaban dari Kania, Ras menghentikan makannya yang baru habis setengah itu dan menyusul Kania ke luar ruangannya menuju toilet.


Dia dalam toilet Kania sedang memuntahkan isi perutnya, wajahnya kini memerah hingga membuat Ras panik.


"Queen kamu kenapa? kenapa wajah kamu memerah seperti ini?" tanya Ras panik sambil memijat tengkuk Kania secara perlahan dan lembut.


Kania tidak berbicara, dia hanya menggelengkan kepalanya dan kembali memuntahkan apa yang ada di perutnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Kania berhenti muntah, dia membersihkan mulutnya dengan air dan mengelapnya dengan tisu, saat mengangkat kepalanya, pandangannya buram dan terasa berputar, dia hampir saja terjatuh ke lantai jika Ras tidak sikap menangkapnya.


"Queen kita ke rumah sakit ya, badan kamu jadi panas gini, muka kamu juga tambah merah," kata Ras khawatir.


"Iya, tenggorokanku sakit Ki...." Kania tidak menyelesaikan perkataannya karena Kania tidak sadarkan diri.


Ras langsung menggendong Kania dan membawanya keluar dari toilet, dia bergegas menuju ke lift untuk membawa Kania saat sampai di depan lift dia berpapasan dengan Ayu.


"Tuan, Nona kenapa?" tanya Ayu dengan wajah yang terlihat khawatir.


"Dia sepertinya sakit, kalau ada yang ingin bertemu denganku suruh datang lagi lain waktu aku mau membawa istriku ke rumah sakit," kata Ras sambil terus melangkah memasuki lift.


"Baik Tuan, semoga Nona baik-baik saja," kata Ayu menundukkan kepalanya.


Ras menutup pintu lift tanpa menjawab perkataan Ayu, dia sangat khawatir dengan keadaan istrinya.


Setelah sampai di lobby, Ras meminta salah satu anak buahnya untuk menjadi sopirnya membawanya ke rumah sakit.


"Cepatlah," kata Ras saat mobil baru saja melaju.


Dia menatap wajah Kania yang masih memerah dan mengusapnya dengan lembut.


"Kamu jangan buat aku takut lagi, Queen. Kenapa kamu suka sekali buat aku takut seperti ini," kata Ras pada Kania yang tidak sadarkan diri.


"Bisakah percepat lagi jalannya, ke rumah sakit terdekat aja," kata Ras dengan tidak sabar pada sang Sopir.


"Baik Tuan," jawab Sopir itu, sambil menambah kecepatan laju mobilnya meskipun agak sedikit susah karena sekarang waktunya istirahat jadi jalan lumayan padat.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2