Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Kesedihan.


__ADS_3

Happy Reading....


Kabar yang paling tidak ingin ku dengar diucapkan oleh Dokter, membuat seluruh badanku terasa lemas dan seolah tak bertulang.


Aku menjatuhkan diriku di kursi tunggu yang ada di depan ruangan tempat Kania mendapatkan perawatan sambil menundukkan kepala, aku memaki diri, sendiri dalam hati karena tidak bisa menjaga Kania dan calon anak kita dengan benar.


Aku juga memaki pria yang menjadi penyebab semua ini terjadi, seandainya saja membunuh tidak akan mendapatkan hukuman ingin rasanya aku membunuhnya dengan cara yang sangat menyakitkan.


Aku kehilangan calon anakku di saat aku belum sempat melihatnya.


Baru saja beberapa saat yang lalu aku merasa bahagia yang teramat karena aku akan memiliki buah hati dengan Kania. tapi, sekarang semua itu harus terkubur dalam-dalam seiring dengan hilangnya anakku.


Ingin rasanya aku berteriak sekeras mungkin, meluapkan bermacam emosi yang berada di hatiku ini. tapi, aku tidak akan bisa melakukan itu.


Air mataku hampir saja jatuh jika tidak ada yang mengusap punggungku dan membuatku segera mengusap ujung mataku.


"Kamu harus kuat kalau kamu memperlihatkan kesedihanmu di depan Kania, itu akan membuatnya semakin sedih dan terluka," kata Mom mengusap punggungku.


Aku menatap Mom yang sedang berusaha memberi kekutan, tidak ada yang keluar dari mulut ini hanya anggukan kepala yang aku lakukan sebagai jawaban.


Mulutku seolah terkunci, kata-kata yang ingin terucap tertahan di kerongkongan karena sesak yang terasa di hati.


"Ini semua pasti tidak mudah untuk Kania terima, makanya berusahalah membuat Kania perlahan melupakan kesedihannya."


Benar, apa yang Mom katakan aku memang harus kuat, Kania saat ini membutuhkan aku untuk menjadi sumber kekuatannya.


Jika aku lemah seperti ini, jika aku terlalu sedih seperti ini, siapa yang akan menghiburnya, orang yang paling dia butuhkan saat ini adalah aku suaminya.


"Ras sudah gagal menjaga Kania, Pa, maafin Ras yang sudah gagal menjaga Kania dan membuatnya berada disituasi seperti ini," kataku menatap Mom dan Papa secara pergantian.


"Jangan menyalahkan diri seperti itu, ini bukanlah saat yang tepat untuk itu. sekarang yang terpenting adalah membuat Kania kembali seperti sebelumnya," jawab Papa menatapku.


Tak lama kemudian suster memberikan kabar jika Kania sudah sadar. Aku menatap satu persatu orang tuaku.


Mereka menganggukkan kepala mereka. "Pergilah, temui Kania lebih dulu, kita akan masuk nanti saat kondisi hatinya sudah lebih baik," kata Papa menepuk pundakku.


"Ya, saat ini Kania akan sangat membutuhkanmu tolong tenangkan dia," kata Mama yang juga menatapku.

__ADS_1


Aku menganggukkan kepala dan tanpa menunggu lagi aku langsung memasuki ruangan itu dan melihat Kania sedang menatap kosong di depannya.


Saat ini hanya ada dia sendiri di ruangan itu karena Dokter dan Suster sudah pergi terlebih dahulu.


"Yang," panggilku, padanya sambil berdiri di samping ranjangnya.


"A-anak kita sudah ... gak ada," katanya dengan terbata dan terputus, dia menatapku dengan tatapan terluka dan air mata yang mulai luruh di pipinya.


Aku langsung memeluknya dengan erat untuk menenangkannya, aku membiarkannya menumpahkan kesedihannya terlebih dahulu agar dia bisa merasa lebih tenang.


"Menangislah untuk sekarang. tapi, nanti aku tidak akan mengijinkan mu untuk menangis lagi."


Aku berusaha menahan diri agar tidak ikut menangis, aku mengerjapkan mata berkali-kali saat merasa mataku memanas.


Tak ada kata yang terucap diantara kita berdua, hanya terdengar isakkan tangisnya yang membuat hatiku terasa sesak.


Bagaimana kesedihan yang saat ini aku rasakan cukup aku yang tau. tapi, aku yakin Tuhan memiliki rencana di masa yang akan datang sebagai pengganti kesedihan ini.


"Aku tidak menjaganya dengan baik, maafkan aku, aku sudah berusaha menjaganya. tapi, ternyata dia lebih memilih pergi disaat kita bahkan belum sempat melihatnya, dia tidak ingin bersama kita," racau Kania masih membenamkan wajahnya di dadaku.


Dadaku terasa basah oleh air matanya. tapi, aku membiarkannya dan mendengarkan setiap perkataan yang ingin diucapkannya.


Aku mengusap pipinya yang basah dan merapikan rambutnya yang berantakan sambil menatapnya, dia pun ikut menatapku tanpa dengan bola mata yang hampir tak terlihat karena matanya bengkak.


Entah berapa hari dia sudah menangis. Itulah pertanyaan dalam benakku.


Wajahnya kini masih pucat, wajah yang aku rindukan kini berada di depanku lagi, sedang menatap ku dengan tatapan yang sendunya.


"Apa kamu tau. sepertinya Allah ingin kita menghabiskan waktu berdua lebih lama lagi deh. dia mengambil calon anak kita bukan karena tidak mempercayai kita untuk menjaganya. tapi, Allah ingin memberikan kita waktu untuk pacaran dulu. kita belum pernah pacaran 'kan sebelumnya, Allah juga ingin memberikan kita waktu lagi untuk belajar terlebih dahulu sebelum kita benar-benar siap untuk jadi orang tua, apa kamu mengerti." Aku mengatakan itu bukan hanya untuk menghibur Kania. tapi, juga menghibur diri sendiri.


Kania masih menatapku dan menganggukkan kepalanya, meskipun suara tangisan sudah tak keluar lagi dari mulutnya. tapi, butiran-butiran bening dari matanya masih terus berjatuhan.


Aku tahu ini adalah hal yang tidak mudah untuknya, mendapatkan perlakuan buruk dari orang yang tidak dikenalnya sama sekali, ditambah kehilangan calon anak mereka karena kejadian itu.


Itu memang bukan hal yang mudah untuk dilupakan baik untuknya atau untukku. tapi, aku akan berusaha membuat semuanya kembali seperti sebelumnya.


Aku akan membuat istriku kembali dan melupakan masalah yang telah terjadi ini secara perlahan, itulah janji ku saat ini.

__ADS_1


"Apa kamu tidak akan meninggalkan aku, kita sudah kehilangan calon anak kita dan aku...." Dia menghentikan perkataannya dan menundukkan kepalanya seolah tidak memiliki kepercayaan diri lagi.


Ini bukanlah Kania, istriku yang aku kenal, Kania yang aku kenal adalah wanita yang tidak pernah menundukkan kepalanya di depan lawan bicaranya, dia selalu mengangkat wajahnya dengan begitu percaya dirinya.


Aku memegang kedua pipinya yang terlihat memar, tidak hanya itu leher dan kedua pergelangan tangannya juga terlihat berwarna ungu kebiruan, terlihat bekas penganiayaan.


Aku mengusap kedua pipinya secara perlahan dan tersenyum padanya, ku kecupi semua bekas luka itu dengan lembut.


"Aku tidak punya alasan untuk meninggalkan istriku ini, aku bukan orang yang bodoh yang akan meninggalkan orang yang aku cintai, orang yang aku dapatkan dengan susah payah begitu saja, bukan 'kah aku rugi besar jika meninggalkanmu," kataku terkekeh.


Dia kembali memelukku dengan erat dan menumpahkan lagi air matanya, aku hanya bisa mengusap punggungnya dengan sangat lembut.


Aku sungguh tidak memperdulikan apa yang telah terjadi antara Kania dan pria itu, aku tidak ingin memusingkan kebenaran dari perkataan pria itu.


Saat ini aku hanya perduli pada Kania yang saat ini sudah bersamaku lagi dan aku bisa memeluknya lagi sepuasnya.


"Sudahlah jangan nangis lagi mata kamu udah bengkak, kamu pasti sudah menangis cukup lama 'kan."


Kania hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan dan aku kembali mengusap pipinya dan mengecup keningnya.


"Aku sampai lupa yang lainnya masih menunggu di luar."


Aku memutuskan untuk memanggil keluargaku untuk memasuki ruangan itu karena melihat istriku sudah terlihat mulai tenang.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2