
Happy Reading...
Kania baru selesai makan siangnya, dia baru saja akan melanjutkan kembali pekerjaannya. tapi, ponselnya berbunyi Ras lah yang menelponnya, Kania segera mengangkatnya.
"Ya, Ras."
'Apa kamu udah makan siang?" tanya Ras.
"Udah, aku baru saja selesai memakan makanan yang kamu kirimkan," kata Kania.
'Makanan yang aku kirimkan?"
"Iya, makanan yang kamu kirimkan barusan." Kania mengerutkan keningnya karena heran dengan nada bicara Ras yang seperti orang yang kebingungan.
'Aku gak pesan makanan untukmu Kan, aku saja baru mau makan,' kata Ras membuat Kania bingung.
"Kalau bukan kamu terus siapa yang kirim makanan itu untukku."
'Apa kamu baik-baik saja sekarang? jangan-jangan orang itu berniat mencelakaimu,' kata Ras terdengar panik.
"Aku baik-baik saja Ras, aku gak ngerasain apapun," kata Kania.
'Terus apa maksud orang itu ngirimin kamu makanan."
"Entahlah Ras. tapi, di atas kotak makanan itu ada sebuah note," kata Kania.
'Note apa? apa isi note itu?' tanya Ras.
"Bentar akan aku fotoin notenya." Kania kemudian mengambil kembali note dan memotretnya lalu dikirimkan ke Ras.
Di tempatnya, Ras yang melihat isi note itu merasa tak nyaman, jelas isi note itu bukan note biasa. tapi, seperti sebuah pesan dari seorang pria yang sedang mendekati seorang wanita.
"Ras kenapa kamu diam?"
'Gak pa-pa mulai sekarang kamu jangan menerima apapun dari orang yang tidak jelas seperti itu,'
"Iya, ya udah aku mau mulai kerja lagi kamu juga mau makan 'kan."
'Iya, aku mau makan dulu ya aku juga masih ada pekerjaan, nanti pulangnya aku jemput.'
"Iya." Panggilan telpon itu pun terputus Ras dan Kania kembali melakukan pekerjaannya.
Disela-sela kegiatannya Ras kepikiran tentang orang yang mengirimkan makanan untuk Kania itu, "Apa itu Ray, apa Ray yang mengirimkan makanan itu karena ingin mendekati Kania lagi," gumam Ras
"Tidak ... itu tidak mungkin Ray, aku tau bagaiman Ray meskipun dia bilang kalau dia ingin bersama Kania lagi. tapi, dia tidak akan melakukan itu, dia pasti tau kalau dia nekat mendekati Kania itu hanya akan membuat Mom dan Dad marah, dia tidak mungkin melakukan hal yang akan membuat suasana semakin kacau."
"Tapi, siapa yang mencoba mendekati Kania apa orang itu tidak tau jika saat ini Kania sudah menikah." Semakin dipikirkan rasanya semakin membuat Ras bingung dan membuatnya tidak bisa fokus untuk melanjutkan pekerjaannya.
...****************...
Saat waktu sudah menunjukkan untuk pulang, Kania bersiap untuk pulang dia membereskan barang-barangnya yang akan dibawa pulang.
Ras sudah mengiriminya pesan, mengatakan jika dia sudah diperjalanan menuju ke kantor Kean, Kania pun memutuskan untuk menunggu di lobby.
"Mbak, belum pulang," kata Kania saat melihat Dian masih berada di meja kerjanya.
"Baru selesai beres-beres Non," jawab Dian tersenyum.
__ADS_1
"Inikan udah diluar jam kerja Mbak, gak usah panggil Non lagi, kita ke lobby bareng yuk," kata Kania.
"Baiklah ayo," kata Dian tersenyum dan bangun dari kursinya untuk turun ke lobby bersama Kania.
"Mbak, tadi kurir yang nganterin makanan bilang gak siapa yang pesan makanan itu?" tanya Kania saat mereka sedang berada di dalam lift.
"Nggak, kenapa gitu Kan, ada yang salah sama makanannya?" tanya Dian heran.
"Sebenarnya makanan itu bukan dari Ras," jawab Kania.
"Loh kalau bukan dari Tuan Ras, terus dari siapa dong?" tanya Dian.
"Justru itu aku juga gak tau yang jelas tadi Ras bilang kalau bukan dia yang ngirim makanannya," kata Kania bingung.
"Aneh masa iya salah kirim," kata Dian heran.
"Kayaknya bukan deh Mbak, itu memang makanan untuk aku kayaknya, cuma aku gak tau siapa yang ngirim," kata Kania.
"Apa mungkin Nyonya yang pesan makanan itu," tebak Dian.
"Gak mungkin juga Mbak, masa mama ngirim makanan pakai note yang ada kata-katanya gitu," kata Kania.
"Iya juga ya, kalau orang yang ingin mencelakai kamu, pasti kamu sudah kenapa-kenapa dari tadi. tapi, kamu gak pa-pa 'kan?" tanya Dian menatap Kania dengan serius.
"Ini buktinya aku masih sehat-sehat aja," jawab Kania.
"Iya, terus siapa orang misterius itu dan apa maksudnya tiba-tiba ngirim makanan gitu ... atau jangan-jangan itu penggemar rahasia kamu Kan," tebak Dian lagi.
"Apalagi itu kayaknya gak mungkin Mbak, tau sendiri 'kan aku kalau ketemu orang baru gimana, jarang ramah tamah, jadi gak mungkin tiba-tiba ada yang kayak gitu," sanggah Kania.
Kania menggelengkan kepalanya menyanggah perkataan Dian itu, mereka telah sampai di lobby, saat Kania sedang berjalan, orang yang bekerja sebagai resepsionis di sana memberikan buket bunga padanya.
"Untuk apa ini?" tanya Kania menatap resepsionis itu dengan heran.
"Ini barusan ada kurir yang ngirim ini Nona," kata Resepsionis itu.
Kania dan Dian saling bertatapan beberapa detik dan Kania pun kembali mengalihkan perhatiannya pada resepsionis itu.
"Siapa yang ngirimnya?" tanya Kania.
"Di sini tidak ada nama pengirimnya hanya ada note ini saja," jawab Resepsionis itu.
Kania mengambil note itu dan membacanya, lagi-lagi dari pengirim yang tidak ada namanya.
"Kamu buang saja terserah kamu mau dikemanain juga," kata Kania menyimpan note itu ke buket bunganya.
"Baiklah Nona," kata Resepsionis itu.
"Dari orang misterius lagi?" Entah sejak kapan Ras berada di sana dan suaranya itu membuat Kania kaget.
"Ras kamu dari kapan sampainya?" tanya Kania karena tidak menyadari kehadiran suaminya itu.
"Baru aja, itu bunga dari orang yang ngirimin kamu maan siang tadi?" tanya Ras lagi menatap Kania.
"Iya kayaknya, makanya aku menyuruhnya untuk membuangnya," kata Kania.
"Oh baguslah, mending dibuang aja gak penting ini, ayo kita pulang sekarang," ajak Ras menggandeng tangan Kania.
__ADS_1
"Iya ayo, Mbak aku pulang duluan ya," pamit Kania pada Dian.
"Iya, Non," kata Dian.
Ras dan Kania memasuki mobilnya yang diparkir di depan pintu lobby dan tak menunggu lama lagi Ras langsung menjalankan mobilnya.
"Oh iya tadi juga ada yang chat aku nomor asing," kata Kania membuka percakapan.
"Apa orang misterius itu juga tau nomor kamu, sebenarnya siapa orang itu? apa kamu pernah dekat dengan pria sebelumnya, saat sekolah misalnya," kata Ras hanya melihat Kania sekilas dan kembali fokus pada setir mobilnya.
"Tidak pernah, dari dulu aku tidak dekat dengan siapapun saat sekolah mau itu perempuan atau laki-laki, selain saudara-saudaraku," jawab Kania.
"Terus siapa orang itu, aku yakin orang itu sedang berusaha mendekatimu," kata Ras.
"Kamu tenang aja ya, meskipun dia berusaha mendekatiku, aku tidak akan pernah meladeninya," kata Kania menenangkan Ras.
"Aku percaya sama kamu Yang, hanya saja aku penasaran siapa sebenarnya orang itu, nanti kamu blok langsung nomor yang tadi kirim chat ke kamu ya," kata Ras mengambil tangan Kania dan mengecupnya.
"Iya nanti pasti langsung aku blok," jawab Kania.
"Semoga orang itu bukan orang yang berniat buruk pada keluarga kita, semoga Allah selalu menjaga keluarga kita." Doa Ras.
"Iya Aamiin," kata Kania.
"Oh iya gimana kerjaan kamu tadi?" tanya Ras.
"Benar-benar membuatku lumayan pusing," keluh Kania menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Kenapa? ada masalah apa?" tanya Ras.
"Tiba-tiba saja beberapa klien perusahaan berencana untuk menghentikan kerja samanya dengan perusahaan Papa," cerita Kania.
"Kok bisa mendadak gitu, terus gimana rencana kalian selanjutnya?" tanya Ras.
"Mulai besok aku diminta untuk menemui beberapa klien Papa yang berada di kota ini secara langsung dan yang di luar kota ataupun yang di luar negeri papa sama om Nikko yang mengurusnya," jelas Kania.
"Ini agak aneh gak sih, kenapa masalah ini terjadi secara bersamaan seolah ada yang menargetkan papa dan usahanya," kata Ras.
"Aku juga sempat berpikir seperti itu. tapi, semoga saja itu hanya perasaan kita saja, semoga saja masalah ini cepat selesai dan semuanya kembali seperti semula," kata Kania.
"Iya semoga saja."
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1