Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Pikiran jelek Kean


__ADS_3

Happy Reading....


Selama di perjalanan pulang Kania merasa ngantuk hingga beberapa kali menguap. akhirnya karena tidak bisa menahan kantuknya dia pun tertidur di mobil.


Ray menghentikan mobilnya saat mobilnya sudah sampai di depan gerbang rumah Kean dia melihat ke arah Kania yang terlelap.


Ray mendekatkan wajahnya ke wajah Kania dia menyingkirkan anak rambut Kania yang menghalangi wajah Kania. ditatapnya wajah Kania yang tenang secara dekat.


Tanpa sadar wajahnya semakin maju semakin mengikis jarak antara mereka. tapi, saat jarak wajahnya dan wajah Kania hanya beberapa senti, Kania mengerjapkan matanya hingga membuat Ray sadar dengan apa yang akan dilakukannya dia segera menjauhkan dirinya dari Kania dan berdeham kecil menyingkirkan kegugupannya.


"Sudah sampai ya?" tanya Kania mengucek matanya.


"Iya kita baru saja sampai, aku baru saja mau bangunin kamu," kata Ray tersenyum kaku.


"Kenapa berhentinya di sini, kenapa gak dibawa masuk aja mobilnya," kata Kania saat menyadari jika mereka berada di depan gerbang.


"Aku tidak akan lama, aku akan langsung pulang," kata Ray.


"Oh ya udah, mau turun dulu ga?" tanya Kania.


"Iya, aku anterin kamu sampai ke depan pintu," kata Ray.


"Baiklah ayo," Kania turun dari mobil diikuti oleh Ray.


Ray mengambilkan tas Kania yang berisi baju-baju kotor dari bagasi mobilnya.


"Biar aku saja," kata Kania akan mengambil alih tasnya dari Ray.


"Tidak perlu, biar aku saja," kata Ray sambil berjalan.


Mereka pun berjalan mendekati gerbang yang kebetulan langsung dibuka oleh penjaga karena mereka mendengar suara mobil yang berhenti di depan gerbang.


"Selamat malam Nona, Tuan Ray," sapa beberapa penjaga membungkukkan setengah badannya.


Kania hanya menganggukkan kepalanya begitupun dengan Ray. mereka berjalan dengan saling beriringan.


Baru saja mereka menginjakkan kaki mereka di lantai teras rumah, pintu utama rumah itu terbuka dan muncullah Kean berdiri di ambang pintu.


"Papa belum tidur?" tanya Kania.


"Belum, Papa nungguin kalian, kenapa malam banget pulangnya?" tanya Kean menatap Ray dengan tatapan menyelidik.


"Maaf Pa, tadi kami keasikan main jadi pulangnya telat," jawab Ray santai dan terkekeh. dia tidak tahu jika pikiran calon mertuanya sedang berkelana ke arah lain saat dia mengatakan keasikan main.


Kean tidak langsung menjawab pernyataan Ray dia hanya memberikan tatapan tajam kepada Ray dan memindai tubuh Kania dari atas sampai bawah dan saat melihat Kania memakai jaket kebesaran milik Ray membuat dia berpikiran yang tidak-tidak tentang anak dan calon menantunya itu.


Kania yang melihat tatapan Papanya itu, hanya memutar matanya malas. dia tahu, pasti Papanya sedang berpikiran yang tidak-tidak tentangnya karena melihat dia memakai jaket Ray.

__ADS_1


Berbeda dengan Ray yang tidak paham dengan arti tatapan Kean padanya dia berpikir apa dia melakukan kesalahan. bukannya tadi dia sudah meminta ijin dulu dan mengabari Kean jika mereka akan pulang telat. tapi, kenapa tatapan calon mertuanya seperti itu padanya.


"Jangan berpikiran negatif Pa, Kania dan Ray hanya jalan-jalan. kita main air sampai baju Kania basah dan terpaksa Kania memakai jaket Ray karena Kania bisa masuk angin kalau memakai baju yang basah selama di perjalanan," jelas Kania membuat Ray jadi paham jika Kean berpikiran dia dan Kania berbuat macam-macam.


"Iya Pa, kita gak ngapa-ngapain kok. kita hanya bermain air di pantai," kata Ray ikut menjelaskan karena sudah memahami situasinya.


"Beneran?" tanya Kean masih belum yakin.


"Kalian sudah pulang?" Suara Kiran di belakang Kean membuat ketiga orang itu menoleh ke arah Kiran.


"Iya Ma," jawab Kania dan Ray.


"Kenapa gak masuk, kenapa malah berdiri di depan pintu seperti ini?" tanya Kiran heran dia berdiri di samping Kean.


"Gimana mau masuk Ma, Papa nahan kita tuh. malah dicurigai yang aneh-aneh," adu Kania kepada Kiran.


"Dicurigai bagaimana?" tanya Kiran dengan heran.


"Tanya aja sama Papa," kata Kania.


Kiran menatap Kean dengan menuntut jawaban.k Kean pun balas melihatnya dengan santai.


"Aku hanya heran saja kenapa Kania memakai jaket kebesaran seperti itu. wajar 'kan seorang Papa berjaga-jaga dan bertanya," bela Kean santai.


"Kapan Papa bertanya? tadi Papa pasti langsung berpikiran yang tidak-tidak tentang kami," kata Kania memutar matanya.


"Gimana gak ngejelasin Kania sudah tau pasti Papa punya pikiran jelek tentang Kania dan Ray," cetus Kania.


Kiran yang awalnya hanya jadi penonton kini angkat suara menghentikan perdebatan antara ayah dan anak itu.


"Kalian sebaiknya masuklah dulu," kata Kiran kepada Kania dan Ray.


"Tidak perlu Ma, Ray harus segera pulang sudah malam," jawab Ray sopan.


"Oh ya udah kamu hati-hati ya di jalannya," kata Kiran.


"Tunggu! kamu sama Kania benar-benar tidak melakukan hal yang aneh-aneh 'kan di luar sana tadi?" tanya Kean membuat Kania dan Kiran memelototinya.


"Tenang saja Pa, Ray tidak berani melakukan hal-hal yang belum waktunya," jawab Ray dengan santai.


"Pa, diem deh gak lihat apa baju Ray basah gitu dia pasti sudah kedinginan, kamu malah terus menahannya seperti itu!" kata Kiran menatap Kean dengan tajam.


"Iya, iya aku hanya bertanya apa salahnya," kata Kean santai.


Kiran tidak menyahut lagi omongan suaminya itu.


"Sudah jangan pedulikan omongannya, kamu segeralah pulang dan istirahat," kata Kiran kepada Ray.

__ADS_1


Ray menganggukkan kepalanya dan langsung pamit kepada Kean, Kiran dan Kania.


"Hati-hati di jalannya," kata Kania dijawab anggukan kepala oleh Ray.


Setelah Ray keluar dari gerbang rumah Kean, Kania disuruh masuk dan beristirahat oleh Kiran.


"Kamu benar-benar tidak melakukan hal yang di luar batas 'kan Kania?" tanya Kean sekali lagi saat Kania sedang menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Terserah Papa mau percaya atau tidak, Kania dan Ray tidak mungkin melakukan hal tidak wajar, Kania capek celana Kania juga basah jadi dingin, Kania mau mandi dan istirahat," kata Kania dengan melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya tidak menggubris lagi Papanya itu.


"Menurutmu apa mereka benar Ma?" tanya Kean pada Kiran.


"Kamu pikir Kania akan melakukan hal-hal yang akan merugikannya apa?" ketus Kiran sambil berjalan menuju kamarnya.


"Mungkin Kania tidak akan. tapi, 'kan kita tidak tau dengan Ray siapa tau dia yang merayu Kania...." omongan Kean terhenti karena Kiran melayangkan tatapan tajamnya lagi.


"Baiklah, baiklah aku diam, aku percaya sama anakku dan Ray," kata Kean pada akhirnya.


"Lagian bukannya kamu sendiri yang minta Ray untuk jadi suami Kania, kamu juga sudah tau gimana Ray itu, terus kenapa sekarang kamu jadi curiga seperti itu padanya," omel Kiran melanjutkan langkahnya.


"Siapa tau saja dia tidak bisa nahan dirinya sampai mereka menikah dan...."


"Stop berpikiran yang jelek, Tuan Kean!" Kiran memotong perkataan Kean dan menekankan nama Kean.


Kean akhirnya diam dan mengikuti Kiran memasuki kamar mereka jika dia meneruskan lagi perkataannya dia yakin malam ini dia akan disuruh tidur di kamar lain.


Padahal menurutnya, dia tidak salah dia hanya takut saja jika anaknya dan Ray melakukan hal-hal yang belum waktunya mereka lakukan.


"Sebaiknya cepatlah istirahat besok kamu harus meeting pagi, jangan terlalu banyak berpikiran hal yang tidak-tidak," kata Kiran mulai merebahkan tubuhnya.


"Iya, iya," Kean menurut dia merebahkan tubuhnya di samping Kiran.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2