
Happy Reading....
Hari yang tidak pernah Ray dan Tisha sangka akan terjadi pun telah tiba. saat ini dia sedang melihat bayangan dirinya di cermin.
'Dulu aku bermimpi hari pernikahanku akan menjadi hari yang paling membahagiakan untukku dan untuk semua orang, aku sudah merancang dengan indah rencana pernikahanku itu dengan Kak Iden. tapi, kini semua itu hanyalah mimpi yang tidak akan pernah terwujud,' gumam Tisha dalam hatinya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya hingga membuat penata riasnya kesusahan untuk mendandaninya karena dia terus menangis.
Maira memasuki kamar anaknya itu, dia hanya bisa menghela napas panjang saat melihat anaknya belum selesai di dandani juga karena pasti terus menangis dan mempersulit penata riasnya.
"Sha, kamu jangan menangis terus dong sayang, ijab qabulnya sebentar lagi dilaksanakan pengantin pria juga sudah siap tinggal berangkat, masa kamu belum selesai juga di riasnya," kata Maira berusaha menenangkan anaknya itu.
"Sha gak mau nikah Ma," rengek Tishanpada Mamanya.
"Kamu harus mau Nak, tidak ada pilihan lain," kata Maira menatap Tisha yang juga menatap dirinya dari cermin di depannya.
"Sha takut, Sha gak bisa mencintai Kak Ray begitupun sebaliknya, Kak Ray pasti sangat mencintai Kak Kania, seperti Sha mencintai Kak Iden, bagaimana pernikahan ini akan berjalan Ma, sedangkan kami sama-sama memiliki orang lain di hati kami," kata Tisha menundukkan kepalanya.
"Kamu tau 'kan meskipun Ray mencintai Kania tapi Kania sudah menjadi adik iparnya, dia tidak mungkin bisa bersama dengan Kania lagi dan kamu juga tidak mungkin bersama dengan Iden jadi kamu harus menerima pernikahan ini dan melupakan perasaanmu pada Iden," kata Maira dengan serius.
Tisha tidak bicara lagi dia hanya menatap kosong ke depannya, Maira meminta penata rias untuk mendandaninya lagi karena Tisha sudah tidak menangis lagi.
Tidak jauh beda dengan Tisha, Ray juga seperti tidak memiliki gairah hidup dia hanya memasang wajah malasnya dan memakai pakaian yang sudah Adelia siapkan untuknya.
Dia melihat bayangan dirinya di cermin seharusnya dia memakai baju ini sebulan yang lalu.
"Berhenti memikirkan hal yang tidak akan mungkin terjadi Ray, itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri," kata Vano yang sudah berada di belakang Ray.
Ray tidak menjawab perkataan Vano dia hanya menghela napas panjang untuk memenangkan dirinya.
"Ayo kita harus segera turun," kata Vano berbalik badan akan keluar dari sana.
Ray hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Vano keluar dari kamarnya menuju ke ruang keluarga dimana semua orang sudah menunggunya.
"Semoga kamu dan Tisha bahagia ya Ray," kata Iden menepuk punggung Ray.
"Maafin Ray, Kak," kata Ray menatap kakaknya dengan tatapan bersalah.
"Sudahlah lupakan saja, kamu hanya perlu berjanji agar kamu menjaga Tisha dengan baik," kata Iden tersenyum, sedangkan hatinya terasa perih dengan perkataannya sendiri.
__ADS_1
Ray tidak menjawab, dia hanya menatap Iden dengan tatapan sendu, dia tahu kakaknya itu pasti terluka karena dia sendiri tahu bagaimana perasaan Iden terhadap Tisha.
Ray bertekad dia akan menemukan orang yang sudah menjadi penyebab semua ini terjadi, dia tidak akan pernah mengampuni siapapun orangnya karena sudah membuat keadaan yang semula baik-baik saja menjadi sangat rumit seperti ini.
Saat suasana sedang tenang, tiba-tiba saja Vira memasuki ruangan itu dan membuat suasana yang tadinya tenang menjadi ramai karena suaranya.
"Sungguh! aku benar-benar pusing, sebenarnya apa yang terjadi di sini kenapa tidak ada yang memberitahu aku semuanya, aku kira yang sebulan lalu menikah adalah Ray tapi kenapa sekarang jadi Ras dan Ray kenapa bisa menikah dengan Tisha, bukannya Tisha itu pacaran sama Iden," kata Vira yang bingung dengan keadaan yang ada.
Dia memang baru pulang dari luar negeri karena mengikuti suaminya untuk masalah pekerjaan sekalian liburan.
Dia benar-benar kaget saat pulang kemarin dan orang tuanya bilang melalui telpon jika Ray akan menikah dan yang menikah sebulan yang lalu adalah Ras.
"Nanti kita jelaskan setelah acara ini selesai," jawab Vano.
"Terus sekarang Ras dimana aku penasaran seperti apa istrinya karena aku belum sempat melihatnya," kata Vira mulai mendukung dirinya di sofa diikuti oleh suaminya dan anak-anaknya.
"Dia sedang di perjalanan," jawab Adelia.
Ras dan Kania memang tidak datang bersama dengan Alex dan keluarganya mereka datang lebih lambat.
Beberapa saat kemudian Ras datang dengan Kania mereka terlihat serasi dengan baju yang Adelia siapkan agar keluarga mereka memakai baju yang serasi.
"Kenapa gak sekalian datangnya nanti siang aja sih Ras biar sekalian acaranya sudah selesai," sindir Vira pada ponakannya itu.
"Aunty kapan pulang?" tanya Ras tidak menghiraukan perkataan Vira sebelumya.
Vira berdiri dari duduknya dan mendekati Kania dan Ras yang masih berdiri di dekat pintu.
"Kemarin dan Aunty langsung diberikan kejutan oleh kalian semua," kata Vira memutar matanya, melihat Ras dan Kania bergantian.
"Kania ini Aunty Vira, dia adalah Kakaknya Daddy," kata Adelia memperkenalkan Vira pada Kania. karena mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
"Halo Aunty, aku Kania." Kania mengulurkan tangan pada Vira dan langsung di sambut dengan senang hati oleh Vira.
"Ternyata kamu cantik aku yakin Ras tidak akan sulit untuk jatuh cinta padamu," kata Vira enteng, dia tidak tahu perkataannya itu membuat hati keponakannya yang lain sakit hati.
Sedangkan Ras dan Kania hanya tersenyum menanggapi perkataan Vira itu.
__ADS_1
"Oh iya Kan, dia Paman Gio suami Aunty Vira dan mereka berdua adalah anak-anaknya," kata Adelia segera mengalihkan pembicaraan karena melihat raut wajah Ray langsung berubah saat mendengar perkataan Vira.
Kania pun tersenyum kepada Paman Ras dan kedua sepupu Ras, setelah cukup berbincang-bincangnya, Vano meminta semua orang untuk berangkat ke rumah pengantin wanita.
Mereka berangkat berjalan kaki Karena rumah Dimas hanya terhalang tiga rumah saja di sebrang rumah Vano.
Selama di perjalanan Ras sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kania.
Semenjak kejadian di Restoran beberapa hari yang lalu, Ras dan Kania memang tidak menjaga jarak antara mereka lagi sesuai perkataannya Kania benar-benar berusaha membuka hatinya untuk Ras.
Seluruh keluarga Vano telah sampai di depan gerbang rumah Dimas, mereka disambut oleh pihak pengantin wanita, serangkaian acara pun di mulai hingga sampai di acara ijab qabulnya.
Ray sudah duduk di depan penghulu dan Dimas sebagai wali nikah Tisha, mereka saat ini sedang menunggu Tisha keluar dari rumahnya.
Acara itu diadakan di halaman depan rumah Dimas tidak di dalam rumahnya, rencananya setelah acara ijab qabul selesai mereka akan mengadakan acara resepsi yang sederhana karena tidak banyak tamu yang mereka undang.
Beberapa saat mereka menunggu akhirnya yang ditunggu pun telah muncul dari balik pintu rumahnya.
Tisha tampak cantik dengan baju pengantin yang melekat pada tubuhnya tapi sayang dia menyembunyikan kecantikannya itu dengan wajah yang tertunduk.
Tisha berjalan dengan digandeng oleh Mama dan Kakak laki-lakinya, selama di perjalanan menuju ke tempat Ray yang sedang menunggunya, Tisha sama sekali tidak mengangkat kepalanya.
Dia takut akan kembali menangis jika dia mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan Iden, dia tidak sekuat itu melihat orang yang dicintainya melihat dia duduk di pelaminan dengan adiknya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....