Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Bertemu Orang Tua Griffin.


__ADS_3

Happy Reading....


Kania dan Ras berencana akan pergi makan siang keluar sambil jalan-jalan hari ini. tapi, rencananya itu gagal karena Kean menelpon Ras dan meminta Ras sama Kania untuk ke rumahnya.


"Sebenarnya ada hal penting apa sih, sampai papa minta kita ke sana sekarang juga, aku 'kan pengen jalan-jalan," kata Kania dengan nada merajuk.


"Mungkin ada hal yang ingin papa sampaikan sama kita, lain kali kita atur lagi buat jalan-jalannya ya," kata Ras menenangkan Kania yang merajuk dengan cara lembut.


Dia menggenggam tangan Kania dan menciumnya beberapa kali, sambil fokus pada setirnya.


"Tapi mulai besok kamu sudah harus ke Hotel dan bekerja di sana, kita akan sulit waktu lagi untuk bisa jalan-jalan bareng," keluh Kania.


"Gimana kalau weekend ini kita pergi liburan," usul Ras.


"Benarkah, kemana?" tanya Kania menegakkan tubuhnya dan menatap Ras dengan antusias.


"Kemana aja yang kamu mau asal jangan terlalu jauh aja, soalnya kita gak bisa terlalu lama karena hari selasa atau rabu aku mau meeting dengan arsitek untuk membahas tentang perbaikan Hotel," kata Ras.


"Hotelnya mau diperbaiki?" tanya Kania.


"Iya, udah lama Hotel itu gak diperbarui agar lebih menarik dan pengunjung pun merasa puas dengan Hotel kita. karena untuk membuat pengunjung puas tidak cukup hanya dengan pelayanannya saja. tapi, tampilan yang menarik pun bisa jadi daya tarik untuk Hotel kita itu," jelas Ras.


"Baiklah kalau gitu gimana kalau kita mulai berangkat hari jum'at biar sabtu dan minggu kita di tempat liburannya dan senin pulang," usul Kania.


"Baiklah. tapi, sebelum itu kita harus periksa lagi ke Dokter, kamu sudah boleh perjalanan jauh atau tidak," kata Ras.


Kania menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Ras, tidak terasa mobil mereka pun telah sampai di depan rumah Kean.


Ras memarkirkan mobilnya dan turun terlebih dahulu setelah itu barulah dia membukakan pintu mobil untuk Kania dan mengulurkan tangannya pada Kania.


"Ayo turun My Queen," kata Ras mengulurkan tangannya dengan memasang senyum.


"Terima kasih, My King," jawab Kania yang ikut tersenyum dan menerima uluran tangan Ras sambil turun dari mobilnya.


Mereka berjalan memasuki rumah itu dengan saling bergandengan tangan dengan erat seolah takut ada yang akan melepaskan gandengan mereka itu.


"Nona Kania dan Tuan Ras, sudah ditunggu oleh tuan dan nyonya di ruang tamu," kata pelayan yang menyambut mereka di pintu utama.


"Ada tamu Bi?" tanya Kania pada pelayan.


"Iya Non, sekarang sedang ngobrol dengan tuan dan nyonya," jawab pelayan itu.

__ADS_1


"Baiklah ayo kita ke sana," ajak Ras dijawab anggukan oleh Kania.


Mereka pun berjalan menuju ke ruang tamu dan saat sudah semakin dekat ruang tamu, Ras dan Kania saling bertatapan karena ruang tamu terdengar ramai.


Saat memasuki ruangan itu mereka melihat Kean dan Kiran sedang mengobrol dengan Griffin dan dua orang yang sudah lumayan tua.


Di sana ada Aunty dan Omnya juga yang ikut mengobrol seperti layaknya keluarga.


"Selamat siang semuanya," sapa Ras hingga membuat semua orang yang sedang mengobrol di sana mengalihkan perhatian mereka pada Ras dan Kania.


"Kalian sudah datang, ayo cepat ke sini," kata Kiran.


Kania dan Ras berjalan mendekati sofa tempat semuanya berbincang dengan akrab, Kania menatap mama dan papanya dengan bingung.


Kean yang mengerti kebingungan Ras dan Kania pun menjelaskan jika kedua orang tua itu adalah orang tua Griffin atau bisa dibilang kakek dan nenek Kania.


"Kania, Ras ini adalah orang tua Griffin, seperti apa yang pernah Papa katakan sebelumnya bahwa Griffin adalah adik sepupu Papa," kata Kean.


Kania menatap tak percaya pada Kean dan Griffin, dia memang belum tau jika Griffin adalah sepupu Papanya.


"Gak salah Pa, dia sepupu Papa?" tanya Kania heran karena Griffin terlihat jauh lebih muda, dibanding Papanya.


"Iya, aku adalah adik sepupu Papa kamu dan mereka adalah Kakek dan Nenek kamu dan Kai," jawab Griffin.


"Sudahlah Kan, Ras, sampai kapan kalian mau berdiri seperti itu," kata Kiran membuat Kania dan Ras mengerti.


Mereka menyalami orang tua Griffin yang tidak lain adalah kakek dan neneknya Kania. Ayah Griffin bernama Matteo Cornelius dan ibunya bernama Eliana Cornelius.


"Ternyata benar yang Griffin katakan kamu benar-benar mirip dengan anak bungsuku, mendiang Caroline adiknya Griffin," kata Eliana berbicara dengan bahasa inggris, dia menatap Kania dan mengusap pipi Kania.


Kania menanggapi perkataan Eliana dengan tersenyum, kemudian dia mendudukkan dirinya di samping Ras.


"Karena Kalian sudah berkumpul di sini aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian. sebenarnya maksud kedatangan kita ke sini selain untuk berkunjung, kita juga ingin memberikan ini pada kalian terutama kamu sebagai anak tertua dari mendiang kak Marcello," kata Matteo menyerahkan sebuah berkas pada Kean.


"Apa ini?" tanya Kean dengan bingung.


"Buka dan bacalah itu adalah daftar warisan dari kakekmu untukmu dan Katya," jawab Matteo.


Kean mulai membaca satu persatuan setiap huruf dan angka yang tertera di beberapa lembar kertas itu.


Setelah selesai memeriksanya dia kemudian memberikan berkas itu pada Azri untuk dibaca juga oleh Azri, setelah selesai Azri menyimpan berkas itu di meja.

__ADS_1


"Bolehkah aku menolak itu," kata Kean menatap Matteo dengan serius.


"Kenapa? apa kamu merasa kurang puas dengan jumlah itu?" tanya Matteo pada Kean.


"Tidak, bukan begitu aku merasa tidak akan bisa menjalankan terlalu banyak bisnis seperti itu. tapi, kalau Azri mau menjalankannya aku tidak akan keberatan," kata Kean menatap Azri.


"Aku juga sebenarnya tidak yakin," kata Azri.


"Kalian terimalah ini, ini adalah keinginan mendiang kakek kalian, beliau sangat menyesal karena telah mengusir kak Marcello dulu dan dia sangat berharap kalian mau menerima apa yang telah beliau berikan pada kalian dan menjalankannya dengan baik. kalau masalah mengurusnya kalian jangan khawatir karena aku sudah menempatkan orang-orang kepercayaanku untuk menjalankannya, kalian hanya perlu mengontrolnya sesekali dan saat ada masalah saja," jelas Matteo panjang lebar.


Kean tidak langsung menjawabnya dia hanya diam memikirkan apa yang harus dilakukannya sekarang, dia merasa bimbang.


"Ayolah, aku mohon terima saja agar orang tuanku atau nenek dan kakek kalian tenang di alam sana karena apa yang diinginkan mereka terlaksana," bujuk Matteo pada Kean.


Kean menatap Azri, meminta pendapat dan Azri menganggukkan kepalanya sebagai jawaban jika dia menyerahkan semua keputusan pada Kean.


"Ya, Baiklah kita akan menerima ini, untuk membuat kakek dan nenek tenang," jawab Kean.


Matteo bernapas lega karena keinginan terakhir orang tuanya telah dia sampaikan dan di terima oleh Kean dan Katya.


"Syukurlah, kalian tidak perlu khawatir masalah pekerjaanya karena Paman sudah menugaskan orang yang bisa dipercaya untuk mengerjakan pekerjaan di sana kalian hanya perlu memeriksa sesekali saja," jelas Matteo.


"Iya kita akan usahakan untuk memeriksa ke sana secara langsung," kata Kean menunjuk dirinya dan Azri.


Setelah pembahasan masalah warisan itu selesai, Kean melanjutkan pembicaraan mereka ke arah lain, hingga waktunya untuk makan siang pun tiba.


Kean meminta Matteo dan keluarganya untuk ke meja makan, untuk makan siang sebelum Matteo dan keluarganya pulang ke apartemen milik Griffin.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2