
Happy Reading....
Semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam, Kania sudah turun lebih dulu dari kamarnya karena merasa canggung pada Ras setelah apa yang terjadi tadi di kamarnya.
Dia berpikir terlalu jauh, dia berpikir jika Ras akan berbuat macam-macam padanya karena penampilannya tadi sangat mendukung jika Ras ingin macam-macam.
Meskipun sebenarnya itu sudah hak Ras jika dia ingin macam-macam pada Kania karena Kania adalah istrinya secara resmi. tapi, Kania masih belum bisa melakukan hubungan layaknya sebagai seorang suami istri bersama Ras, dia belum siap untuk hal itu.
Lagi lagi Kania berpikiran terlalu jauh tentangnya dan Ras, dia menggelengkan kepalanya beberapa kali mengenyahkan pikiran-pikiran aneh yang singgah di otaknya itu.
"Kenapa Kan?" tanya Kiran heran karena melihat Kania menggeleng-gelengkan kepalanya seperti itu.
"Gak Pa-pa Ma, Kania hanya sedikit pusing," alibi Kania dan melanjutkan makannya.
Ras menatap Kania sambil terus memakan makanannya, Kania yang saat itu juga melihat ke arahnya membuat mata mereka bertemu dan Kania segera menundukkan kepalanya karena malu mengingat kejadian di kamarnya tadi.
Ras sama sekali tidak memikirkan kejadian tadi, dia terus melihat ke arah Kania karena Kania mengatakan jika kepalanya pusing, membuat dia khawatir jika Kania beneran sakit. tapi, dia tidak menunjukkan wajah khawatirnya dia tetap memasang wajah datarnya itu hingga membuat Kania sedikit salah tingkah dan berpikir jika Ras masih memikirkan masalah tadi.
'Apa dia masih memikirkan masalah tadi? aaahh rasanya aku benar-benar malu saat ini dia pasti sedang mentertawakanku karena sikap konyolku tadi,'
'Apa dia sakit kenapa dari tadi dia hanya menunduk tidak seperti biasanya?' kata hati Ras dan Kania secara bersamaan.
Ras dan Kania meneruskan makannya, begitupun dengan Kean, Kiran dan Kai, mereka makan malam dengan santai dan teratur.
Setelah selesai makan malamnya Ras dan Kania tidak langsung pulang karena Kiran meminta mereka untuk berbincang dulu beberapa saat karena belum terlalu malam.
Mereka saat ini sedang duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh dan cemilan sebagai teman mengobrol mereka.
Kania mengobrol dengan Kiran masalah seputaran hari-hari yang mereka lalui dan Ras mengobrol dengan Kean seputar masalah pekerjaan dan sebagainya, sedangkan Kai seperti biasa dia hanya tiduran di karpet bulu dengan bantal sofa sebagai bantalnya sambil terus memainkan ponselnya tidak ikut terlibat dengan obrolan orang dewasa.
"Bagaimana hubunganmu dengan Ras, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Kiran kepada Kania.
"Untuk sekarang semuanya baik-baik saja Ma," jawab Kania santai sambil memakan cemilannya.
"Mama tau kamu pasti belum bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya, Mama juga sama sepertimu dulu saat menikah dengan Papamu. Tapi, seiring berjalannya waktu Mama sudah mulai terbiasa dengan pernikahan ini terbiasa dengan kehadiran Papamu, keterbiasaan itu perlahan menghadirkan perasaan nyaman hingga merambah menjadi cinta," jelas Kiran meminum sedikit demi sedikit tehnya.
Kania tidak menjawab perkataan Mamanya dia kemudian melihat ke arah Ras yang sedang serius berbicara dengan Papanya yang posisinya tidak jauh dari posisinya.
__ADS_1
Apakah pernikahan dia akan sama seperti pernikahan orang tuanya dulu, pernikahan orang tuanya dulu bisa berjalan dengan baik sampai saat ini karena dia tahu jika Papanya begitu mencintai Mamanya. tapi, bagaimana pernikahan dia dan Ras, dia menganggap pernikahan mereka benar-benar pernikahan yang terjadi karena sebuah insiden, terjadi tanpa ada perasaan yang terlibat di dalamnya, apakah pernikahannya itu akan berjalan dengan baik atau hanya akan menjadi pernikahan di atas kertas saja? Pertanyaan itu muncul di benaknya.
"Jangan terlalu dipikirkan dan jangan terlalu dipaksakan. Kan, biarkan semuanya mengalir apa adanya. percayalah jika kamu dan Ras memang berjodoh hati kalian pasti akan menemukan jalannya untuk bersatu tanpa harus dipaksakan, hati kalian akan menyatu tanpa kalian sadari jika memang kalian sudah dituliskan berjodoh oleh takdir," kata Kiran yang bisa melihat keraguan dari mata anaknya itu.
Kania melihat ke arah Kiran dia tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
Ya ... Dia tidak akan memaksakan hatinya dan tidak akan terlalu memikirkan tentang pernikahannya ini, dia akan mengikuti alurnya dan menikmati setiap prosesnya, biarkan takdir dan hatinya yang menuntunnya. Takad Kania.
Setelah cukup lama berbincang tidak terasa waktu sudah semakin larut sudah saatnya untuk Ras dan Kania pulang.
"Kenapa gak nginep saja di sini," kata Kiran saat Kania dan Ras berpamitan.
"Ras gak bawa baju ganti buat besok kerja Ma, lain kali kita akan menginap di sini kalau kita sedang libur bekerja," kata Kania pada Mamanya.
"Ya udah kalian hati-hati ya, kamu bareng Ras aja ya Kan, pulangnya jangan bawa mobil sendiri udah malem bahaya," kata Kean menimpali.
"Iya Pa," jawab Kania.
"Biar besok pagi Papa suruh sopir untuk antarkan mobil kamu ke rumah kalian," kata Kean lagi.
Kania dan Ras menganggukan kepalanya patuh.
"Iya Ma, Ras sama Kania pulang dulu ya," kata Ras, kali ini dia tidak menyalami Mama mertuamu itu karena larangan dari Papa mertuanya yang posesif.
Kania dan Ras pun berjalan ke mobil dan memasuki mobil itu, Kania membuka jendela mobil itu dan melambaikan tangannya saat mobil itu akan melaju meninggalkan pekarangan rumah Kean.
Selama di perjalanan Kania dan Ras tidak membuka suaranya mereka hanya fokus melihat ke arah jalanan di depannya.
Saat belum sampai setengah perjalanan Kania merasa matanya terasa mengantuk, semakin lama semakin berat meskipun dia berusaha untuk tetap terjaga. tapi, matanya semakin sulit untuk terbuka hingga akhirnya dia pun tertidur.
Ras melirik sekilas ke arah Kania dan melihat Kania yang tertidur dengan tenang. dia kemudian memelankan laju mobilnya karena takut kepala Kania terantuk ke jendela mobilnya dan mengganggu tidur Kania.
Karena Ras melajukan mobilnya dengan pelan sehingga mobilnya sampai lumayan ke rumahnya, dia menghentikan mobilnya di depan teras rumahnya.
"Kan," panggil Ras berusaha membangunkan Kania.
Kania tidak bangun dia hanya bergumam kecil dan tidak jelas.
__ADS_1
Ras akhirnya turun terlebih dahulu dari mobil, dia kemudian memutari mobilnya dan membuka pintu mobil tempat Kania duduk.
"Tuan," sapa seorang penjaga mendekati Ras.
Ras menyimpan jarinya di bibir sebagai isyarat agar penjaga itu tidak berisik. dia tahu Kania pasti sangat kelelahan sehingga tidak bangun saat dibangunkan olehnya tadi.
Dia mengangkat tubuh Kania secara perlahan dan hati-hati, membawa tubuh Kania yang sedang asik mengarungi mimpinya itu keluar dari mobil.
Penjaga yang melihat Ras kesusahan untuk membuka pintu rumahnya pun membantunya membukakan pintu rumah karena para pelayan pasti sudah pada istirahat di paviliun.
Ras membawa Kania menuju ke kamar mereka dengan hati-hati, dia merebahkan Kania di ranjangnya dan menyelimutinya.
"Sepertinya kamu benar-benar kelelahan sampai tidak terganggu sedikitpun saat aku membawamu ke sini," kata Ras merapikan rambut Kania yang menghalalkan wajahnya dengan perlahan.
Ras duduk di samping Kania dia memperhatikan wajah tenang Kania dengan seksama dan tatapan lembut.
Setelah puas melihat wajah Kania yang tenang, Ras pun berdiri dan pergi keluar dari kamarnya itu dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur Kania.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Tidak ada henti-hentinya aku ucapkan terima kasih pada kakak-kakak semuanya yang sudah mau membaca ceritaku ini dan memberikan likenya.
Jika ada yang belum baca karyaku yang lainnya bisa coba baca karyaku yang lainnya dulu sambil nunggu cerita ini up lagi.
__ADS_1
Selamat beristirahat kakak-kakak semuanya😘