
Happy Reading....
Kania merasa bosen terus berada di rumah sakit, kondisinya pun sudah membaik. Jadi dia meminta Dokter untuk mengijinkannya pulang dan Dokter pun mengiyakan keinginannya karena kondisi Kania sudah lebih baik.
"Saya sarankan kalian untuk menunda memiliki keturunan terlebih dahulu," kata Dokter pada Kania dan Ras.
"Kira-kira harus berapa lama Saya mencegah kehamilan Dok?" tanya Kania.
"Minimal 6 bulan," jawab Dokter itu.
"Baiklah, terima kasih Dok," jawab Kania.
Mereka pun merencanakan pencegah kehamilan dengan Dokter kandungan dan setelah semua itu selesai mereka langsung pergi dari rumah sakit itu untuk pulang.
"Kenapa mama dan mom tidak datang?" tanya Kania pada Ras.
"Mama sama mom tadi ngabarin gak bisa jemput karena ada urusan," jawab Ras sambil mengusap kepala Kania yang menyender di dadanya.
Sekarang Kania jadi lebih manja pada Ras sejak pernyataan cintanya beberapa hari yang lalu, sikap Kania mulai berubah selalu ingin menempel pada Ras.
Ras tentu saja senang akan hal itu, itu adalah hal yang diinginkan olehnya selama dia menikah dengan Kania mengingat sikap Kania sebelumnya, dia ingin Kania merasa selalu membutuhkannya.
"Kamu tidurlah dulu nanti saat sampai aku bangunkan," kata Ras.
"Iya," sahut Kania menganggukkan kepalanya.
Kania memeluk pinggang Ras dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada milik Ras mencari kenyamanan, Ras juga melingkarkan tangannya di pinggang Kania.
Dia mendengar deru napas Kania yang mulai teratur, pertanda Kania sudah terlelap begitu nyaman di dekapannya itu.
Ras menikmati perjalanan itu dengan sesekali mengecup ujung kepala Kania dengan secara lembut agar tidak mengganggu tidur Kania.
Mobil yang ditumpanginya sudah sampai di depan rumah mereka, Kania yang merasakan mobil berhenti pun langsung membuka matanya dan menegakkan badannya.
"Aku merindukan rumah ini, rasanya aku seperti sudah bertahun-tahun pergi dari rumah," kata Kania menatap rumahnya yang hampir sebulan ditinggalkan olehnya.
"Ayo kita turun," Ras membukakan pintu untuk Kania dan juga menggandeng tangan Kania membantu Kania turun dari mobil.
Kania turun dari mobil dan saat sudah berada di luar dia melingkarkan tangannya di lengan Ras tidak menyisakan jarak antara mereka.
Mereka berjalan beriringan menuju ke pintu utama. tapi, ada yang aneh menurut Kania karena biasanya selalu ada yang membukakan pintu saat dia dan Ras pulang ke rumah.
"Kemana para pelayan tumben gak ada yang bukain pintu?" Kania berbicara sambil terus berjalan.
"Entahlah mungkin mereka lagi di paviliun," jawab Ras santai.
Kania menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Ras, dia kemudian memencet bel rumahnya. tapi, tidak ada yang membukakan pintunya.
__ADS_1
"Kamu bawa, kunci duplikatnya gak?" tanya Kania menatap Ras.
"Gak, aku lupa gak bawa," jawab Ras mengangkat bahunya.
"Kemana mereka ya, tumben gak langsung bukain pintu masa gak kedengaran sih," gumam Kania mencoba menekan lagi bel rumahnya dan masih sama.
Karena tidak ada yang membukakan pintu Kania pun mencoba membuka pintu itu dan ternyata tidak dikunci, dia melihat Ras lagi dengan kening yang mengerut.
"Kenapa mereka gak kunci pintunya, bagaimana kalau ada orang jahat masuk," kata Kania.
"Mungkin mereka lupa, lagian gak akan ada orang jahat yang masuk Yang, di gerbang 'kan penjaganya," kata Ras.
"Ya tetap aja, meskipun gerbangnya dijaga kita 'kan gak tau kapan bahaya itu datang menghampiri kita," gerutu Kania.
"Ya udah daripada kita cuma berdiri di sini kita masuk dulu yuk Sayang," ajak Ras memegang pundak Kania dengan kedua tangannya.
Kania menganggukkan kepalanya dan mulai membuka pintu hingga pintunya terbuka dengan lebar dan suara riuh langsung terdengar di dalam rumah itu.
"SELAMAT DATANG KEMBALI DI RUMAH!" ucapan serempak dari semua orang yang sudah berada di sana.
Ternyata Kiran dan Adelia tidak datang ke rumah sakit karena mereka merencanakan penyambutan itu bersama keluarga yang lainnya.
Ras tentu saja tahu tentang itu, hanya saja dia tidak mengatakannya pada Kania karena ingin memberikan Kania kejutan.
Semua keluarga besarnya secara lengkap hadir di sana. ada keluarga dari pihak Ras termasuk opa Pram, oma Dewi, Vira dan suaminya.
Kebetulan hari itu adalah hari weekend jadi semua orang bisa datang ke sana dan ikut memberikan penyambutan sederhana itu untuk Kania.
Bahkan Ray dan Iden pun hadir di sana sepertinya mereka sudah memaafkan Ras hingga mereka bisa turut serta hadir di sana.
Kania memasang senyum harunya dengan mata yang berkaca-kaca saking senangnya semua keluarganya hadir di sana untuk menyambutnya memberikan dukungan pada mereka.
"Ayo kita masuk dulu," ajak Ras menggandeng tangan Kania dan membawanya masuk ke dalam rumah, untuk bergabung dengan keluarganya itu.
"Maafin Aunty ya, karena Aunty gak bisa nengok kamu saat di rumah sakit. salahin tuh Om kamu yang gak mau Aunty tinggal pulang duluan kayak bayi gede." Katya memeluk Kania duluan saat Kania dan Ras sudah masuk ke dalam rumah.
"Kok aku sih Yang," protes Azri yang tidak terima disalahkan.
"Ya kamulah. emang siapa lagi, kamu 'kan gak mau aku tinggal, aku tuh harus kayak anak bebek yang ngikutin kamu kemana aja," ketus Katya menatap Azri.
"Iya gak pa-pa Aunty, Om, kalian datang sekarang saja Kania udah seneng banget makasih ya, sudah datang ke sini," kata Kania tersenyum pada Katya.
Katya ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya, setelah itu Katya memundurkan dirinya, kini giliran Vira yang memeluk Kania beberapa saat.
"Maaf ya, Aunty juga gak tau kalau kalian dapat masalah seperti ini, Ras juga tidak memberitahu Aunty dan pamanmu, kalau Mom kalian tidak mengabari Aunty mungkin Aunty tidak akan tau masalah ini sampai kapan pun," kata Vira sambil menatap keponakan dengan sinis.
"Ras gak mau ngerepotin Aunty," kata Ras membela dirinya.
__ADS_1
"Aku gak ngomong sama kamu," ketus Vira sambil kembali melihat Kania.
"Jangankan kamu, kita aja baru dia kasih tau setelah beberapa hari Kania diculik," cerita Adelia.
"Kamu jangan terlalu lama menyimpan kesedihan ya, biarkan itu jadi sebuah pembelajaran untuk masa depan yang lebih baik," kata Vira menghibur Kania.
"Iya Aunty dan Paman, terima kasih sudah nyempetin datang ke sini," kata Kania.
"Iya sama-sama, kebetulan Aunty dan Paman tidak sibuk," jawab Vira.
Setelah selesai dengan Vira, Kania menyalami para oma dan opa-nya, dia kemudian berlanjut pada Zani dan Tisha, setelah itu mereka melanjutkan ngobrolnya di meja makan siang bersama.
Selama acara makan siang berlangsung, Ras memberikan perhatiannya pada Ras dari mengambilkan makanan dan minuman untuk Kania hingga membuat Kania malu.
"Aku bisa sendiri Ras," kata Kania pada Ras.
"Kamu belum benar-benar sembuh, jangan terlalu banyak bergerak dulu," kata Ras yang baru mendudukkan dirinya di samping Kania.
"Sudah biarin aja Kan, jadikan dia pelayanmu sebagai hukuman karena sudah lalai menjagamu kemarin," kata Ray.
"Iya Kan, hukum dia jangan biarkan dia hidup dengan tenang gitu aja," sambung Iden.
"Ya, ya, aku tau kalian masih dendam padaku dan meminta istriku yang menghukum ku untuk memuaskan kalian. tapi, bagiku tidak pa-pa kalau harus jadi pelayan istriku selamanya," kata Ras sambil mengedipkan matanya menggoda Kania.
Kania hanya tersenyum canggung dengan hal, itu sedangkan Zani dan Tisha yang tidak duduk di meja makan terkekeh melihat kelakuan mereka.
Mereka ikut senang karena kini hubungan antara mereka bertiga telah baik-baik saja, itu adalah hikmah dibalik kejadian yang menimpa Kania beberapa waktu lalu.
Berbeda dengan anak Vira, anak Azri dan Katya dan juga Kai, mereka fokus pada makanan mereka tidak memperdulikan apa yang terjadi di sana.
"Sudah cepat kalian makannya jangan ribut, tidak baik ribut di depan makanan seperti itu," kata Alex membuka suara.
Setelah mendengar Tetua angkat suara mereka pun langsung diam dan melanjutkan makan mereka, hingga mereka semua selesai makan siang.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....