Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Kesedihan Kania.


__ADS_3

Happy Reading....


Kania meringkuk sambil menangis dibawah selimutnya, perasaannya hancur lebur mengingat kejadian yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu.


Saat ini dia merasa putus asa dengan hidupnya, kejadian tadi benar-benar sudah mengguncang jiwanya menyisakan sebuah trauma untuk dirinya.


"Apa yang harus aku katakan pada Ras, bagaimana aku menjelaskan semua ini," gumamnya dengan isak tangis yang tidak berhenti.


Disaat seperti ini dia ingin bertemu dengan mama dan papanya, dia ingin menangis di pelukan mamanya, dia ingin mendengar omelan papanya yang selalu melarangnya banyak hal.


"Aku merindukan kalian, pa Kania takut, tolongin Kania," gumamnya lagi yang masih disertai tangisan itu.


Baru kali ini dia merasa setakut ini, selama ini dia tidak pernah merasa takut, dia selalu merasa aman karena kemanapun selalu dijaga oleh pengawal dan sekarang dia benar-benar tahu bagaimana rasanya ketakutan itu.


"Ras apa kamu akan menerima aku lagi sekarang aku- aku...." Kania tidak mampu melanjutkan perkataannya dia semakin membenamkan dirinya dibalik selimutnya dengan tangisan yang semakin menjadi.


Ingin rasanya dia menangis dengan kencang mencacimaki pria yang sudah membuatnya seperti itu, pria yang hampir menghancurkan hidupnya.


Disaat Kania masih bergelung dengan kesedihannya, pelayan Thomas datang memasuki kamarnya.


"Nona, ayo biar saya bantu membersihkan diri," kata pelayan membuat hati Kania seperti tersayat oleh benda yang sangat tajam.


Dia merasa saat ini dirinya adalah seorang yang kotor karena ditubuhnya terdapat bekas-bekas Thomas yang beberapa saat lalu menyentuhnya.


"Nona menangis terus tidak ada gunanya, sekarang sebaiknya kamu bangun biar saya bantu untuk membersihkan diri anda agar anda dan saya bisa segera beristirahat," kata pelayan itu dengan nada sinis dia tidak terlihat iba sedikitpun pada Kania yang baru saja mengalami hal yang membuatnya trauma, padahal pelayan itu adalah sama-sama seorang wanita.


"Aku bisa melakukannya sendiri, kamu pergilah," kata Kania dengan suara yang serak karena terus menangis.


"Ya udah kalau begitu saya akan pergi," kata pelayan itu langsung pergi dari sana.


Saat pelayan itu masih di depan pintu Kania mendengar Thomas bertanya pada pelayan itu, mendengar suara Thomas membuat Kania ketakutan dia segera turun dari ranjangnya dengan menggunakan selimut membungkus badannya.


Dia bergegas masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi itu badannya gemetaran mendengar suara langkah kaki memasuki kamar itu.


Kania menyandarkan tubuhnya di pintu dan mengeratkan genggaman tangannya di selimutnya, dia takut Thomas akan melakukan apa yang dilakukannya tadi.


"Kunci lagi pintunya," kata yang terdengar disertai langkah kaki yang mulai menjauh.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu tertutup Kania menjatuhkan dirinya dan terduduk di lantai dingin kamar mandi itu, dia kembali menumpahkan tangisannya.


Dia memeluk lututnya dan terus berpikir entah apa yang akan terjadi padanya esok hari, ketakutan menghantuinya hingga membuat dia ingin menghilang saja rasanya dari dunia ini.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Kania menangis dengan posisi yang sama seperti itu, hingga dia merasa selimut yang dipakainya sudah tidak bisa membuat tubuhnya hangat.


Kania melepaskan selimut itu dan berjalan menuju ke bawah shower lalu menyalakan shower hingga guyuran air dari shower itu secara perlahan membasahi seluruh tubuhnya.


Kania mendongakkan kepalanya membiarkan air shower mengenai wajahnya, dia menutup matanya tapi setiap menutup matanya lagi-lagi bayangan mengerikan itu hadir hingga dia membuka kembali matanya dan matanya kembali panas, air mata ikut mengalir diiringi aliran dari air shower itu.


Tubuh Kania sudah menggigil bahkan tubuhnya terasa mati rasa, dia mematikan shower dengan langkah gontai dia mengambil bathrobe dan memakainya, dia membuka pintu kamar mandi secara perlahan dan melanjutkan langkahnya menuju ke ruang ganti.


Dia memakai baju tidur yang panjang agar dapat menghangatkan tubuhnya. selesai berpakaian dia mengambil selimut baru dari lemari yang ada di ruang ganti.


Dia tahu di mana tempat selimut di kamar itu karena dia sering melihat pelayan jika sedang merapikan kamar itu.


Kania kembali ke ranjang tapi dia tidak merebahkan tubuhnya untuk beristirahat, dia hanya duduk memeluk lututnya lagi dengan membungkus tubuhnya dengan selimut.


Dia hanya menatap dengan tatapan kosong kedepannya dengan hati yang terus berharap agar papanya atau suaminya segera menemukannya dan memberikan hukuman pada Thomas.


Dia percaya papanya atau suaminya akan menemukannya meskipun dia dibawa pergi ke tempat terpencil sekalipun.


Hanya ada kesunyian di kamar itu membuat Kania semakin asik dengan pikirannya, wajah Kania kini tampak pucat seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi.


Tidak ada lagi binar kehidupan dari sorot matanya yang ada hanyalah tatapan kosong seperti ruangan yang tidak ada penghuninya kosong dan sunyi.


...****************...


Kania tidak memperdulikan apa yang pelayan itu lakukan, dia sama sekali tidak bergerak ataupun bereaksi.


"Cepatlah siap-siap untuk sarapan, tuan menunggumu di bawah," kata pelayan itu membuat Kania menatap pelayan itu dengan tatapan terluka.


"Aku tidak ingin sarapan, aku tidak ingin bertemu dengannya," kata Kania dengan suara yang nyaris berbisik.


"Kamu tidak punya pilihan, menurutlah atau tuan akan memperlakukan kamu lebih parah dari semalam," kata pelayan itu datar.


"Aku akan kembali lima belas menit lagi dan saat aku kembali kamu harus sudah siap untuk sarapan," kata pelayan itu langsung keluar dari kamar itu tidak lupa mengunci kembali pintu kamar itu.


Kania tidak punya pilihan lain selain menurut, dia melihat ke arah luar dari jendela, dia melihat kearah langit yang cerah dengan matahari yang mulai bersinar.


"Kapan aku bisa keluar dari tahanan ini, kapan papa akan datang," gumamnya lalu mengusap pipinya yang kembali basah itu.


Tidak ingin membuat masalah dengan Thomas lagi, Kania pun pergi ke kamar mandi tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi.


Pelayan sudah menunggunya di kamar itu, tanpa banyak bicara lagi pelayan melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu Kania pun mengikutinya.

__ADS_1


Kania menundukkan kepalanya saat sudah sampai di meja makan dia tidak mau melihat wajah pria yang sedang duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apapun.


Kania mengepalkan tangannya, dia berusaha menenangkan dirinya yang tidak menentu dan duduk di kursi, berhadapan dengan Thomas berdua dengan Thomas membuat perasaan takut dan marah itu muncul lagi.


"Selamat pagi," sapa Thomas dengan wajah tanpa dosanya.


"Segeralah sarapan, aku akan pergi untuk mengurus sesuatu yang penting," kata Thomas disela-sela sarapannya.


"Oh iya hari ini aku memberikan hadiah pada suami dan papamu, aku yakin saat ini mereka sudah melihat hadiahku itu," kata Thomas.


Kania tidak menggubrisnya dia masih menundukkan kepalanya dan memakan sarapan yang terasa pait di mulutnya itu.


Kania tiba-tiba saja merasakan sakit di perutnya, dia mengusap perutnya itu dengan salah satu tangannya.


"Kenapa kamu berhenti, habiskan sarapanmu," kata Thomas dengan nada mengancam.


Kania berusaha terlihat baik-baik saja meskipun sakit di perutnya membuat dia tidak bisa menelan sarapannya dengan benar.


'Jangan sampai terjadi apa-apa dengan kandunganku, aku mohon,' kata Kania dalam hatinya.


"Kamu tidak menanyakan hadiah apa yang aku kirimkan pada suamimu dan papamu itu," kata Thomas terkekeh, Kania masih diam menahan sakit.


"Baiklah meskipun kamu tidak bertanya. tapi, aku ingin memberitahumu. aku mengirimkan rekaman tentang apa yang terjadi semalam, aku tidak sabar menunggu reaksi mereka saat melihat apa yang terjadi semalam." Thomas berbicara dengan tertawa.


Mendengar perkataannya itu membuat Kania langsung menatapnya dan memberikan tatapan tajamnya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu ... oh aku tau kamu mau tau 'kan kenapa aku melakukan semua ini, itu semua aku lakukan karena aku tidak ingin melihat keluarga kalian bahagia." Thomas menatap Kania.


Setelah itu Thomas bangun dari kursinya dan pergi dari sana Kania memegang perutnya yang tambah sakit itu. Dia mencoba meminum air putih sebanyak mungkin untuk menghilangkan sakitnya itu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2