Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Ketakutan Kania.


__ADS_3

Happy Reading....


Kania membuka matanya secara perlahan, dia memijat lembut keningnya yang terasa pusing, dia tersentak kaget hingga langsung mendudukkan dirinya saat sudah sadar jika dia tidak berada di kamarnya.


Dia melihat ke sampingnya dan semakin kaget karena dia tidak tidur sendiri, melainkan ada seorang pria asing yang masih tertidur di sampingnya.


Dia turun dari ranjangnya dan berjalan menjauh dari ranjang dengan sedikit terhuyung karena merasa sangat pusing, kepalanya terasa berputar.


"Mau kemana kamu?" Sebuah suara serak khas bangun tidur membuat Kania membalikkan badannya melihat ke arah pria yang tadi tidur sudah terduduk.


"Siapa kamu, apa maksudmu membawa aku ke tempat ini." Kania melemparkan pertanyaan itu dengan menatap lurus pria asing itu.


"Biar aku perkenalkan diriku dulu, namaku adalah Thomas Cornelius aku adalah pengagum rahasiamu yang selalu mengirimkan barang atau makanan untukmu. tapi, selalu kamu tolak. kamu tau itu membuatku sedih. tapi, gak pa-pa aku memaafkanmu karena aku menyukaimu." Pria itu memperkenalkan dirinya dengan begitu santai.


"Apa maksudmu membawa aku ke sini?" tanya Kania lagi.


"Seperti yang aku bilang tadi, aku menyukaimu," kata Thomas.


"Apa kamu tau aku sudah menikah dan...." Kania tidak melanjutkan perkataannya yang akan mengatakan jika dia sedang hamil.


'Tidak aku tidak boleh mengatakan kalau aku sedang hamil, dia bisa saja menyakiti calon anakku saat dia tau,' gumam Kania dalam hatinya.


"Dan apa?" tanya Thomas turun dari ranjang mendekati Kania.


"Suami dan keluargaku pasti akan menghawatirkan aku," kata Kania memundurkan langkahnya karena Thomas semakin mempersempit jarak antara mereka.


"Itulah yang aku harapkan, membuat mereka khawatir kalau perlu membuat mereka mati karena khawatir kehilanganmu." Tawa Thomas dengan lumayan keras membuat Kania mengepalkan tangannya.


Ingin rasanya dia memukul atau memaki pria yang menurutnya tidak waras itu tapi dia tidak boleh gegabah dan membahayakan dirinya dan kandungannya.


"Apa semua kejadian yang terjadi pada keluargaku adalah ulahmu juga?" tanya Kania lagi.


"Sebaiknya kamu tidak perlu terlalu banyak bertanya, kamu cukup bersikap baik saja maka aku tidak akan membuatmu susah, sekarang sebaiknya kamu mandi aku akan menunggumu di meja makan untuk sarapan," kata Thomas setelah itu dia pergi dari kamar itu.


Setelah kepergian Thomas, Kania berjalan menuju ke ranjang dan mendudukkan dirinya di sana dia berpikir bagaimana cara memberikan kabar pada keluarganya.


"Aku harus cari cara untuk menghubungi keluargaku ... sebenarnya apa tujuannya melakukan semua ini," gumam Kania.


Suara ketukan pintu terdengar disusul oleh suara seorang wanita yang meminta ijin untuk masuk ke kamar itu.


"Masuklah," kata Kania setengah teriak.

__ADS_1


"Nona, Anda harus segera mandi karena Tuan tidak suka terlalu lama menunggu," kata pelayan wanita yang menggantikan baju Kania semalam.


"Iya aku akan segera mandi, kamu keluarlah," kata Kania memasang wajah datarnya.


"Baiklah semua kebutuhan Anda sudah tersedia baju-baju Anda ada di ruang ganti, Saya permisi Nona," kata pelayan itu sebelum pergi dari kamar itu.


Kania masuk ke ruang ganti dia mengambil baju dan segera masuk ke kamar mandi, tidak lupa dia mengunci pintu kamar mandi takutnya pria yang menurutnya kurang waras itu menerobos masuk ke kamar mandi saat dirinya sedang mandi.


Membayangkan hal seperti itu Kania bergidik dan mandi dengan cepat karena tidak ingin membuat masalah dulu pada pria itu, dia belum tahu maksud dari pria itu sebenarnya.


Kania keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap dia berdiri di depan cermin dan menyisir rambutnya.


"Ras, cepat pulang dan cari kita, aku takut pria itu menyakitiku dan calon anak kita," gumam Kania lirih dan mengusap perutnya.


Kania menghela napasnya terlebih dulu sebelum berjalan keluar dari kamar itu, diluar kamar ternyata pelayan tadi sedang berdiri di depan pintu.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Kania menatap sekilas pelayan itu.


"Saya diperintahkan oleh Tuan untuk menunggu dan mengantarkan Anda ke meja makan Tuan sudah menunggu Anda," jawab pelayan itu.


"Hhmmmm ayo," kata Kania singkat


Pelayan itu berjalan di depan Kania untuk menuju ke meja makan, saat sampai di meja makan, Thomas sudah duduk manis disalah satu kursi yang ada di sana.


"Selamat sarapan," kata Thomas yang tidak mendapatkan sahutan dari Kania.


"Tenanglah aku tidak menaruh racun di makanan itu, bukankah sudah aku katakan asal kamu patuh, maka aku akan memperlakukanmu dengan baik," kata Thomas terkekeh karena melihat Kania yang enggan memakan makanan yang ada di depannya.


Kania menatap Thomas, bibirnya memang terkekeh tapi tatapan matanya seolah menatapnya dengan tatapan mengancam sehingga dia tidak bisa berkutik hanya bisa menurut.


Mereka pun memulai sarapannya, disela-sela sarapan ada seseorang yang tak lain adalah orang kepercaan Thomas mendekatinya dan berbisik di telinganya, Beberapa saat kemudian Thomas menyeringai tanpa menghentikan sarapannya.


Melihat hal itu Kania merasa tidak tenang dia takut saat ini Thomas sedang merencanakan hal yang akan mebahayakan keluarganya lagi.


"Kamu tau, aku punya kabar bagus untukmu mau dengar?" Thomas mengakhiri sarapannya dan menatap Kania dengan intens.


Kania tidak membuka suaranya dia masih mempertahankan wajah datarnya dan ikut menghentikan sarapannya yang masih tersisa di piringnya.


"Kenapa tidak dihabiskan makanannya apa kamu gak sabar mau mendengar kabar bagusnya," kata Thomas yang mulai bangun dari kursinya dan memutari meja berdiri di belakang kursi tempat Kania duduk.


Thomas menyentuh bahu Kania, refleks Kania menghindar dan membalikkan kepalanya menatap tajam Thomas.

__ADS_1


"Jangan kurang ajar! jangan berani-beraninya kamu menyentuhku!" bentak Kania yang sudah lepas kontrol dirinya.


"Siapa kamu berani membentakku hah! saat ini nasibmu ada di tanganku jadi sebaiknya kamu berperilaku baiklah karena aku bukan orang yang sabar." Thomas mencengkram wajah Kania dengan sangat erat hingga Kania merasakan perih di pipinya.


"Kamu tau saat ini ayah tercintamu itu sudah kembali dan dia sedang mencarimu, aku ingin lihat akan sehancur apa ayah dan suamimu itu setelah melihat aku menghancurkanmu," kata Thomas melepaskan cengkeramannya dari wajah Kania dan mengusap wajahnya dengan lembut.


"Apa yang mau kamu lakukan padaku?" tanya Kania.


"Tidak banyak, aku hanya ingin menikmati tubuhmu saja, kira-kira bagaimana reaksi ayah dan suamimu itu ya, ayahmu pasti akan sangat merasa bersalah karena telah gagal menjagamu dan suamimu itu apa dia masih mau menerima istrinya yang sudah pernah tidur dengan pria lain?" Mendengar perkataan Thomas, Kania menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak! aku mohon jangan lakukan itu, apa salah keluargaku sampai kamu melakukan hal seperti ini," kata Kania berdiri dari duduknya.


"Baiklah, baiklah untuk sekarang aku tidak akan macam-macam padamu karena sekarang aku mau mengerjakan hal yang lain dulu, sekarang sebaiknya kamu simpan energimu itu."


"Kamu bawa kembali dia ke kamarnya jangan pernah mengeluarkan dia dari kamar saat aku tidak ada," perintahnya pada pelayan.


"Baik Tuan, ayo ikut aku Nona," kata pelayan itu menarik tangan Kania pergi dari sana.


Kania kembali dimasukan ke kamar tempatnya tadi dan pintunya langsung dikunci dari luar, Kania melihat sekeliling kamar itu tidak ada telpon rumah atau apapun yang ada di sana yang bisa dia gunakan untuk memberikan kabar pada Ras.


"Bagaimana bisa ada hal semacam itu Kania, dasar bodoh pria itu tidak akan melakukan hal gegabah dengan menyimpan hal seperti itu di kamar ini," gumam Kania pada dirinya sendiri.


"Apa yang harus aku lakukan aku takut perkataannya barusan benar dia lakukan, apa yang harus Mama lakukan Nak," gumamnya lagi mengusap perutnya.


Kania melihat ke jendela juga tidak akan bisa kabur lewat sana karena jendelanya sudah dipasang besi dia hanya bisa menghela napas beratnya.


Dia mendudukkan dirinya di ranjang memeluk lututnya sendiri, entah apa yang akan terjadi padanya setelah ini, sekarang dia hanya berharap kalau papanya atau suaminya bisa segera menemukannya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2