
Happy Reading....
Kania yang sedang terlelap membuka matanya, dia mendudukkan dirinya dan melihat sekitar, lampu kamar masih menyala itu artinya Ras belum masuk ke kamar lagi semenjak dia tertidur.
Kania turun dari ranjang karena dia ingin ke kamar mandi, dia memasuki kamar mandi untuk menuntaskan keinginan buang air kecilnya.
Tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi dan berjalan lagi ke ranjangnya, dia merebahkan tubuhnya lagi di ranjang dan memakai selimut berusaha untuk tidur lagi.
Beberapa menit dia berusaha untuk tidur tapi kantuk itu tak juga hadir dan sekarang yang hadir malah rasa lapar di perutnya.
Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, dia melihat ke arah telpon dan turun lagi dari ranjangnya berjalan menuju ke telpon yang menempel di dinding kamarnya itu.
Dia menimbang antara harus menelepon pelayan atau tidak dia melihat lagi ke arah jam sudah larut.
"Kasian juga mereka kalau diganggu, ini waktunya mereka istirahat setelah seharian bekerja," gumamnya menyimpan kembali gagang telponnya.
"Kayaknya aku lihat di internet saja, cara memasak telur pasti gampang," gumamnya berjalan keluar dari kamarnya dengan melihat ponselnya dan langsung melakukan pencarian tentang membuat telur ceplok.
"Gampang ternyata," gumamnya melihat tutorial video cara membuat telur ceplok sambil berjalan.
Setelah sampai di dapur dia menyimpulkan ponselnya di meja dan membuka kulkas mengambil beberapa telur dan membawanya ke kompor.
Dia mengambil teflon yang berukuran kecil dan menyimpannya di atas kompor dia menyalakan kompornya tanpa mengecilkan api di kompornya.
Dia menuangkan minyak sedikit sesuai dengan arahan tadi di video dan langsung mengambil satu telur dan memecahkan telornya dengan spatula tapi dia terlalu keras memukul telornya hingga telurnya pecah dengan sekali pukulan dan setengah cangkangnya ikut masuk ke teflon yang sudah sangat panas itu.
"Yah, kok ikutan masuk sih," gumamnya akan mengambil cangkang telur itu menggunakan tangannya. tapi, karena api kompor yang besar sehingga minyaknya menyiprat dan mengenai telapak tangannya.
"Aawww," ringisnya karena telapak tangannya terasa panas dia menggoyang-goyangkan tangan dan meniupnya.
Ras yang saat itu sedang menuruni tangga akan ke dapur untuk menyimpan gelas bekas kopinya, kaget karena mendengar suara Kania dan mendengar suara ribut di dapur.
Dia mempercepat langkahnya menuju ke dapur dan matanya terbelalak, melihat Kania sedang meniup tangannya dan telur yang sudah menjadi coklat dengan asap yang hampir memenuhi dapur.
"Apa yang kamu lakukan hah!" katanya berjalan dengan cepat lalu mematikan kompor dan langsung menatap Kania tajam.
"Aku hanya ingin memasak telur," jawab Kania sambil meniup telapak tangannya yang perih.
"Dengan menghancurkan dapur seperti ini," kata Ras tegas.
"Aku tidak berniat menghancurkan dapur, aku hanya ingin menggoreng telur karena aku lapar, aku juga tidak mau mengganggu para pelayan," kata Kania menatap Ras kesal.
Ras menghela napas panjang bukan karena takut Kania menghancurkan dapur yang menjadi masalahnya tapi dia khawatir Kania terluka.
Tanpa bicara lagi dia mengambil tangan Kania yang terluka dan mencucinya terlebih dahulu di wastafel.
Kania hanya menurut dengan apa yang Ras lakukan padanya, Setelah mencuci tangan Kania Ras mendudukkan Kania di kursi meja makan.
__ADS_1
Dia kemudian menuju ke tempat penyimpanan obat-obatan yang menempel di dinding dia mengambil salep khusus untuk obat luka bakar.
Dia mengambil tangan Kania dan mengoleskan salep itu di telapak tangannya, meskipun Ras sudah sangat hati-hati mengoleskan salep itu tapi tetap saja Kania meringis saat jari Ras yang menyentuh lukanya.
"Apa kamu gak bisa masak?" tanya Ras saat sudah selesai mengoleskan salep itu.
"Aku gak bisa masak menyentuh peralatannya saja gak pernah," kata Kania apa adanya.
Dia memang tidak bisa masak karena Papanya tidak mengijinkannya untuk menyentuh peralatan dapur dan sebagainya dengan alasan takut Kania terluka karena Kania pernah terluka saat ingin membantu Mamanya memotong sayuran dan tangannya tergores pisau, Saat itu Papanya malah jadi memarahi Mamanya karena membiarkan Kania membantunya, semenjak saat itu tidak ada orang yang membiarkan dia memegang peralatan dapur.
"Biar aku buatkan makanan untukmu," kata Ras bangun dari kursinya.
"Kamu bisa masak?" tanya Kania tidak percaya.
"Sedikit," jawab Ras sambil berjalan menuju ke kompor.
Kania hanya diam memperhatikan punggung Ras, dia kemudian melihat ke arah luka yang sudah terbalut oleh salep.
'Entah kenapa aku merasa meskipun dia terlihat datar dan acuh tapi dia selalu memperhatikanku, apa itu beneran atau hanya aku saja yang kepedean, mengira jika dia memperdulikanku,' katanya dalam hatinya.
"Apa tangannya masih sakit?" tanya Ras dengan wajah yang biasa saja, padahal sebenarnya dia menghawatirkan Kania.
"Tidak, hanya melihat lukanya saja," kata Kania menatap Ras.
"Makanlah karena ingin cepat jadi aku hanya masak pasta yang tidak terlalu ribet," kata Ras menyerahkan piring berisikan pasta buatannya di depan Kania.
"Terima kasih," kata Kania mendekatkan piringnya dan langsung memulai memakannya.
"Aku tidak lapar," jawab Ras yang duduk berhadapan dengan Kania.
"Oh," jawab Kania singkat dan meneruskan makannya.
Ras hanya memperhatikan Kania yang sedang memakan pasta buatannya dengan lahap terlihat jika dia benar-benar lapar.
"Kenapa kamu terus menatapku?" tanya Kania menatap Ras dengan heran tanpa menghentikan aktivitasnya makannya.
"Ada saus di ujung bibirmu," kata Ras.
"Benarkah." Kania mengusap bibirnya tapi bukan di saus itu berada.
"Masih ada," kata Ras menunjuk kearah bibir Kania.
Kania melakukan hal yang sama tapi lagi lagi tidak tepat di saus yang ada di bibirnya.
Ras pun mengulurkan tangannya ke arah bibir Kania yang terdapat saus, dia mengusap bibirnya dengan perlahan hingga saus di bibir Kania hilang tersapu oleh jarinya.
Merasakan sentuhan lembut di bibirnya dari Ras Kania mematung dia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.
__ADS_1
"Sudah tidak ada, cepatlah habiskan kita harus tidur lagi ini masih malam," perkataan Ras membuat Kania menganggukkan kepalanya kaku.
Perasaan tak nyaman masih hinggap di hatinya, dia memakan makanannya dengan kepala tertunduk.
"Ini minumlah." Ras menyimpan segelas air putih di depannya.
Kania menganggukkan kepalanya dan meminum air itu hingga tandas, Ras mengambil piring dan gelas kotor bekas Kania.
"Biar aku saja," kata Kania menahan gerakan Ras.
"Tangan kamu masih sakit, aku gak mau kamu memecahkan piring dan gelas ini," kata Ras santai mengambil piring dan gelas kotor itu menyimpannya di wastafel.
"Ayo tidurlah," katanya sambil berjalan melewati Kania yang masih duduk di meja makan.
Kania berdiri dan melangkahkan kakinya mengikuti Ras menuju ke kamarnya, dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang sementara Ras memasuki kamar mandi dan tak lama kemudian memasuki ruang ganti.
Ras keluar dari ruang ganti dengan bertelanjang dada seperti biasanya.
"Apa kamu tidak merasa dingin setiap tidur tidak memakai baju seperti itu?" tanya Kania.
"Tidak sama sekali," jawab Ras santai dan merebahkan tubuhnya di samping Kania.
"Kenapa? apa kamu takut tergoda karena setiap hari melihat tubuh bagian atasku ini?" tanya Ras dengan santai dia memiringkan badannya melihat ke arah Kania.
"Siapa yang akan tergoda, aku hanya heran aja setiap hari kamu tidur tanpa baju seperti itu, terlihat aneh, bukankah percuma kamu membeli baju tidur kalau tidak dipakai." Kania menatap ke arah Ras yang ternyata juga sedang melihatnya.
Untuk beberapa saat mereka saling menatap tanpa mengeluarkan suara sama sekali.
Kania membalikkan badannya mengakhiri saling bertatap dengan Ras, dia membelakangi Ras dan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Sedangkan Ras hanya tersenyum sambil melihat punggung Kania yang tertutup oleh selimut.
Dia senang Kania akhir-akhir ini tidak terlalu cuek padanya dia berharap Kania akan cepat membuka hati untuknya.
"Tidurlah," kata Ras, Kania hanya menjawabnya dengan deheman.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....