
Happy Reading....
Kania, Zani dan Tisha baru saja beres makan malam di Restoran yang Zani inginkan dan mereka memutuskan untuk segera pulang.
"Kak, bukankah lebih baik jika Kakak, minta jemput Kak Ras atau sopir saja. ini sudah lumayan malam," kata Zani diikuti anggukkan kepala oleh Tisha.
Kania tersenyum untuk menangkan kedua iparnya itu.
"Kalian tenang saja Kakak pasti baik-baik saja, kalian segeralah masuk ke mobil sopir kalian sudah kelamaan menunggu tuh," kata Kania.
"Ya udah deh kita pulang dulu ya Kak, kakak hati-hati ya di jalannya," kata Zani.
"Iya salam untuk Mom dan Dad ya," kata Kania.
"Iya Kak." Zani dan Tisha pun memasuki mobil mereka yang sudah ada sopir yang menunggu di dalam mobilnya.
Setelah mobil yang membawa Zani dan Tisha pergi, Kania pun memasuki mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang rendah.
Karena lampu merah Kania pun menghentikan mobilnya terlebih dahulu, jalanan saat itu sedang dalam keadaan sepi, padahal hari libur.
Terdengar suara ponselnya yang ada di dalam tasnya yang di simpan di kursi samping kemudi berbunyi.
Kania mengambil tasnya dan melihat siapa yang menelponnya, ternyata yang menelponnya adalah Ras.
"Ya halo Ras, aku lagi di jalan," kata Kania mengapit ponselnya dengan bahunya dan mulai menjalankan mobilnya karena lampu sudah berubah menjadi hijau.
'Kenapa tadi gak telpon aku saja biar aku jemput,'
"Gak usah, kamu 'kan lagi bertemu dengan teman kamu, kamu sudah pulang belum?" tanya Kania.
'Sudah aku lagi dijalan,' jawab Ras.
"Oh ya udah kalau gitu nanti kita ketemu di rumah aja," kata Kania.
'Ya udah kamu hati-hati ya bawa mobilnya,'
"Iya," kata Kania setelah itu di menutup telponnya dan menyimpan ponselnya.
Saat mobilnya hampir sampai di jalan pertigaan ada sebuah mini bus yang sedang berjalan mengebut, mobil itu seperti sengaja ingin mencelakai Kania. tapi, untunglah ada mobil lain yang tiba-tiba saja menyalip mobil Kania hingga Kania secara reflek menghentikan mobilnya karena kedatangan sebuah mobil lain di sebelah kanannya.
Sehingga mobil yang melaju dari arah samping Kania menabrak mobil yang menyalip mobil Kania dan Mobil Kania hanya terbentur dibagian depannya sedikit. tapi, mobil didepannya bertabrakan dengan keras sehingga suara dari decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal dan hantaman dari kedua mobil itu pun terdengar sangat nyaring di pendengaran Kania dan pengguna jalan yang lainnya hingga mereka menghentikan kendaraan mereka.
Mobil Kania sedikit terdorong kebelakang beruntung di belakangnya jarak mobilnya dan kendaraan yang lainnya agak jauh karena mereka juga ikut berhenti saat Kania menghentikan mobilnya karena kaget ada mobil yang tiba-tiba menyalip mobilnya dengan kecepatan yang lumayan kencang.
Kania mematung melihat mobil yang menyalipnya terseret hingga beberapa meter dan menabrak beberapa mobil lainnya.
Jika tadi mobil itu tidak menyalipnya mungkin saat ini mobil yang sedang terseret itu ada mobilnya.
__ADS_1
Dia mengusap dadanya dan tubuhnya tiba-tiba saja gemetaran. Kania tersadar dari lamunannya saat ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya.
"Mbak gak pa-pa?" tanya seorang pria paru baya.
"Tidak pa-pa Pak," jawab Kania berusaha bersikap biasa saja.
"Sebaiknya Mbak meminggirkan dulu mobilnya sampai polisi selesai mengurus masalah di depan."
"Baik Pak." Dengan tangan yang masih gemetaran Kania meminggirkan mobilnya.
Dia melihat beberapa meter di depannya polisi sedang mengeluarkan dua penumpang dari mobil yang menyalipnya.
Dua orang pria yang tidak lain adalah sopir dan penumpang itu terluka sangat parah sehingga salah satu dari mereka tidak sadarkan diri dan seseorang masih membuka matanya tapi tidak berdaya.
Kania tidak berani turun dari mobilnya melihat hal itu, rasa takut tiba-tiba saja hinggap untuk kembali mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya.
"Tenang Kania, semua pasti baik-baik saja, rumahmu sudah dekat, tinggal beberapa meter lagi," gumam Kania.
Seorang polisi mendatanginya untuk meminta beberapa kesaksian atas kecelakaan yang terjadi, dia pun turun dari mobilnya. beberapa orang yang ada di sana juga dimintai keterangan seperti dirinya.
Kania hanya menjawab apa adanya jika tadi mobil itu menyalip mobilnya dan menyebabkan dia berhenti mendadak karena kaget.
"Mobil yang menabrak telah melarikan diri," kata Polisi itu.
"Terima kasih untuk waktunya Bu, sekarang Anda bisa melanjutkan kembali perjalanan Anda," kata Polisi.
Setelah polisi itu pergi, Kania kembali memasuki mobilnya, dia beberapa kali menghela napas dalam-dalam untuk memenangkan dirinya jika semuanya baik-baik saja.
Setelah dirasa cukup tenang Kania mulai menghidupkan kembali mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan perlahan.
"Terima kasih karena engkau masih memberikan perlindungan padaku Ya Allah, aku gak tau apa yang akan terjadi jika tadi mobil itu tidak menyalip mobilku secara tiba-tiba. mungkin, saat ini aku sudah terbaring di rumah sakit," gumamnya penuh rasa syukur.
Beberapa menit kemudian mobilnya telah sampai di depan gerbangnya dia menunggu penjaga rumahnya membukakan gerbang untuknya.
Dia memasukkan mobilnya dan langsung turun dari mobilnya, saat baru saja menginjakkan kakinya di lantai teras rumahnya, pintu utama terbuka dan Ras berjalan ke arahnya dengan langkah lebar.
"Sayang, syukurlah kamu baik-baik saja aku sangat mengkhawatirkan kamu," kata Ras yang tiba-tiba saja memeluk Kania dengan erat.
"Kamu kenapa Ras, aku baik-baik saja," kata Kania membalas pelukan Ras, sebenarnya dia masih merasa deg-degan dengan kejadian barusan dan mencari ketenangan dengan memeluk erat tubuh Ras.
"Perasaanku tidak enak barusan, apa terjadi sesuatu barusan saat di perjalanan, kenapa kamu telat sampai ke rumahnya?" tanya Ras melepaskan pelukannya dan menatap Kania dengan serius.
Dia sebenarnya sudah tau apa yang terjadi pada Kania karena anak buahnya yang dia suruh untuk menjadi pengawal bayangan Kania mengabarkan padanya barusan, hanya saja dia ingin mendengar cerita itu dari Kania langsung. orang-orang yang celaka itu adalah anak buah Ras.
"Bisakah aku masuk dulu ke dalam dan membersihkan diriku dulu Ras, aku ingin segera istirahat," kata Kania dengan menatap Ras.
"Baiklah ayo kita masuk dulu," kata Ras merangkul pundak Kania.
__ADS_1
Mereka pun berjalan menuju ke kamar mereka dan Ras langsung membiarkan Kania membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Sementara Ras, dia menunggu Kania sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.
Beberapa saat kemudian Kania keluar dari kamar mandi dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Ras tanpa memakai baju terlebih dahulu dan hanya memakai jubah mandi.
"Kamu gak mau pakai baju dulu," kata Ras heran.
"Aku mau segera istirahat," jawab Kania menggelengkan kepalanya.
Ras mengerti jika Kania pasti merasa syok dengan apa yang dialaminya barusan, mengingat dari kecil dia hidup dengan perlindungan ketat Papanya, sehingga dia selalu merasa aman.
"Baiklah, sekarang kamu bisa menceritakan semuanya padaku," kata Ras menarik Kania ke dalam pelukannya.
"Kamu tau gak barusan aku hampir saja kecelakaan," cerita Kania mendongakkan kepalanya menatap Ras.
"Maksudnya?" tanya Ras pura-pura tidak tahu.
"Barusan tiba-tiba ada yang menyalip mobilku secara tiba-tiba dan karena kaget aku reflek menghentikan mobilku dan kamu tau apa yang terjadi setelahnya?"
"Apa?"
"Mobil yang menyalip mobilku ditabrak mobil lain hingga terseret beberapa meter dan mobilnya terbalik, mobilku juga bagian depannya ikut terdorong kebelakang dan kayaknya bagian depannya itu pasti sedikit penyok," cerita Kania menatap Ras dengan sedikit kekhawatiran dari pancaran matanya.
"Tapi, kamu tidak apa-apa 'kan, tidak ada yang luka?" tanya Ras lagi.
"Tidak, aku baik-baik saja aku hanya sedikit syok melihat hal itu secara langsung di depan mataku, aku jadi berpikir jika seandainya mobil itu tidak menyalip mobilku mungkin saat ini aku sudah terbaring di rumah sakit atau mungkin aku sudah mening...."
Ras langsung membungkam Kania karena dia tidak ingin Kania menyebutkan hal itu.
"Jangan bicara seperti itu, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi" kata Ras dengan tegas.
Kania akhirnya hanya diam dan menganggukkan kepalanya, dia akhirnya tidak bicara lagi dan kembali memeluk Ras, dia menyembunyikan wajahnya di dada Ras dan Ras mengusap rambutnya dan mendaratkan beberapa kecupan di pucuk kepala Kania.
"Tidurlah sudah malam," kata Ras, Kania hanya menganggukkan kepalanya dan memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....