
Happy Reading....
Kania sudah menentukan kemana dia ingin pergi dia memutuskan untuk pergi ke negeri sakura, Jepang.
Menurut perkiraan saat ini di sana sedang musim gugur jadi banyak destinasi yang bisa dia dan Ras kunjungi untuk melihat keindahan musim gugur di negeri sakura itu.
Saat ini Kania sedang membereskan barang-barangnya, besok dia akan langsung berangkat ke sana, tadi siang setelah dia mengatakan jika dia ingin ke Jepang untuk bulan madunya, Ras langsung memintanya untuk bersiap-siap dan mengatakan jika besok mereka akan langsung berangkat.
"Jangan terlalu banyak bawa barang, bawa yang pentingnya saja, jika ada yang kurang nanti kita bisa beli saat di sana," kata Ras memasuki ruang ganti.
"Ini juga yang pentingnya aja yang aku bawa," kata Kania hanya melihat Ras sekilas, setelah itu kembali melanjutkan memasukkan barang-barangnya ke sebuah koper.
"Oh iya kita berapa hari di sana?" tanya Kania melihat ke arah Ras yang sedang duduk di sofa sambil memperhatikannya.
"Terserah kamu, kita akan pulang saat kamu sudah puas jalan-jalan di sana," kata Ras.
"Serius, aku tidak ingin memutari seluruh Jepang Ras, aku hanya penasaran sama beberapa tempat di kota Kyoto dan ingin mencoba berkeliling di beberapa destinasi yang katanya cocok saat musim gugur," kata Kania dengan antusias.
"Baiklah nanti kamu bisa mengunjungi tempat-tempat itu sampai kamu meras puas," kata Ras.
Kania tersenyum lagi dan menganggukkan kepalanya, setelah itu dia kembali melanjutkan menata barang-barangnya yang katanya tidak terlalu banyak. tapi, tetap saja barangnya saja sampai dua koper besar, sedangkan barang Ras hanya memerlukan satu koper saja.
"Tuan, Nona, saya permisi dulu," pamit Rina yang dari tadi membantu Kania membereskan barang-barangnya.
"Iya Mbak, makasih ya Mbak," kata Kania.
Rina menganggukkan kepalanya dan keluar dari sana menyisakan Ras dan Kania yang masih berada di sana.
"Kenapa?" tanya Kania pada Ras yang masih terus melihatnya.
"Kamu berkeringat, kenapa gak nyuruh pelayan saja yang merapikan barang-barangnya," kata Ras mendekati Kania dan mengusap kening Kania dengan lembut menggunakan tangannya.
"Ras, kenapa kamu seperti orang yang benar-benar mencintaiku, apa kamu memang sudah mencintaiku,?" tanya Kania menatap dengan intens ke dalam mata Ras.
Dia bisa merasakan sikap Ras padanya, berbeda dari Ray dulu, bukan maksudnya membandingkan antara mereka berdua. tapi, meskipun dia melihat kejujuran dari perkataan Ray yang selalu mengatakan jika dia mencintainya. tapi, Kania merasa cinta Ray padanya tidaklah sebesar cinta Ras padanya meskipun Ras tidak mengatakan jika dia mencintainya.
Dia melihat tatapan Ras padanya mampu membuatnya merasakan cinta yang mungkin tidak dia sadari sebelumnya.
Semakin lama dia bersama Ras, semakin sering dia melakukan kontak pisik dengan Ras, semakin terbentuk pula perasaan yang masih belum berani dia ungkapkan pada Ras.
Ras tidak banyak bicara. tapi, perbuatannya itu membuat Kania mengartikan jika itu bentuk dari cintanya. hal itu tentu saja membuat Kania merasa bahagia sekaligus takut, dia takut jika ternyata dia hanya salah menafsirkan perlakuan Ras padanya, dia takut jika ternyata itu hanyalah keinginannya saja, dia takut jika ternyata dia sendirilah yang terlalu terbang tinggi karena perasaan cinta. tapi, ujungnya dia akan jatuh dan hancur lagi, lebih hancur dari sebelumnya.
"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu itu?" tanya Ras mengusap pipi Kania dengan lembut.
__ADS_1
Tatapannya yang lembut dan seolah penuh cinta membuat Kania terlena. tapi, Kania tidak pernah membiarkan dirinya terlalu terlena. karena takut itu hanya sebuah angannya saja.
Kania tidak mengeluarkan suaranya dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas perkataan Ras barusan.
Belum sempat Ras bicara, pintu kamar mereka telah diketuk hingga akhirnya mereka pun mengakhiri saling menatapnya dan berjalan menuju ke pintu kamarnya.
"Maaf mengganggu Tuan muda, Nona muda, Tuan dan Nyonya sudah berada di rumah Tuan Besar, mereka meminta saya untuk memanggilkan Tuan dan Nona muda untuk segera ke sana," kata pelayan yang berdiri di depan pintu kamar mereka.
"Baiklah, kita akan segera ke sana," kata Ras.
"Baiklah permisi Tuan dan Nona muda," pamit pelayan itu langsung pergi dari sana.
Ras menengok ke sampingnya melihat Kania yang berdiri di sampingnya.
"Sebaiknya kita menemui Mom dan Dad dulu," kata Ras.
"Iya, ayok kita ke sana," kata Kania melangkahkan kakinya duluan. tapi, Ras menahan tangannya.
"Apa lagi?" tanya Kania menghentikan langkahnya dan melihat Ras dengan heran.
Ras membungkukkan badannya, mendekatkan mulutnya ke telinga Kania.
"Aku memang mencintaimu," kata Ras membuat Kania mematung di tempatnya dengan pandangan lurus ke depannya.
"Ayo, mereka sudah menunggu kita," kata Ras menarik tangan Kania dengan lembut.
Kania hanya menurut, dia berjalan mengikuti langkah Ras dengan pikiran yang masih tertinggal di tempatnya tadi.
Dia menatap punggung lebar Ras yang sedang berjalan dengan santai di depannya, dengan hatinya dan pikiran yang sedang bertanya-tanya.
Apakah yang barusan di dengarnya adalah nyata, Ras bilang dia mencintainya, apakah yang dipikirkannya selama ini benar jika Ras benar-benar mencintainya?
"Kan, kamu baik-baik aja?"
Saking asiknya berargumen dengan hati dan pikirannya, dia sampai tidak menyadari jika saat ini dia sudah berada di ruang keluarga Alex dan sedang menjadi pusat perhatian.
"Eh- iya Mom, maaf tadi Kania gak mendengar perkataan Mom," kata Kania dengan malu.
"Kamu kenapa sakit?" kata Adelia menatap Kania heran.
"Tidak Mom, Kania baik-baik saja," jawab Kania tersenyum kaku.
"Paling Kania, sudah tidak sabar untuk pergi berbulan madu besok," kata Iden menggoda Kania.
__ADS_1
Iden saat ini sudah mulai berjalan lagi kakinya sudah semakin membaik meskipun harus memakai tongkat.
Kania tidak menjawabnya dia hanya menundukkan kepalanya karena malu, dia mengikuti Ras untuk duduk di sofa.
"Kenapa dadakan gitu pergi bulan madunya?" tanya Vano yang baru beberapa jam yang lalu Ras kabari jika dia akan pergi berbulan madu.
Dia dan Adelia langsung berangkat ke rumah orang tuanya untuk memastikan perkataan Ras.
Ray, Zani dan Tisha tidak ikut karena Tisha dan Zani tadi belum pulang dari kampusnya jadi mereka hanya datang berdua.
"Mumpung kita ada waktu luang Dad, jadi kita mendadak bikin rencana perginya," jawab Ras.
"Hati-hatilah selama di sana dan jangan lupa bekerja keraslah agar segera dapat hasil," kata Delvin mengedipkan matanya pada Ras.
"Tenang saja Dad, doain saja agar pas kita pulang dari bulan madu kita sudah mendapatkan berita baik, iya 'kan sayang," kata Ras membuat Kania kembali malu karena dia menyebutkan kata sayang di depan semua orang, meskipun tidak terlalu paham dengan arah pembicaraan Ras dan keluarganya itu, Kania tetap menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Ras.
"Oke, oke, mesra-mesraan dilanjut nanti saja saat tidak ada orang singgel di sini nanti dia sedih," kata Delvin meledek anaknya Iden.
"Siapa yang sedih Dad," sahut Iden memutar matanya malas.
"Kalian nanti hati-hati ya di sananya dan nikmatilah quality timenya jangan memikirkan masalah lain lagi," kata Alya dijawab anggukkan kepala oleh Ras dan Kania.
Setelah beberapa saat berbincang, mereka semua pun menuju ke meja makan untuk makan malam bersama seperti biasanya.
Setelah selesai makan malamnya, mereka saling berpamitan untuk pulang begitu pun dengan Kania dan Ras mereka langsung ke kamarnya dan istirahat agar besok mereka lebih fresh untuk berangkat bulan madunya.
Ras dan Kania tidak membahas masalah yang sebelumnya, mereka memutuskan untuk langsung istirahat.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1