Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Kesedihan Iden.


__ADS_3

Happy Reading....


Setelah kejadian di Restoran beberapa hari yang lalu Bella benar-benar melakukan apa yang dikatakannya pada Ras, yaitu dia mulai menghindari Iden.


Dia selalu menolak ajakan Iden untuk bertemu dengan alasan sibuk atau ada acara lain, hal itu tentu saja membuat Iden bingung dan sedih dengan Bella yang terkesan menghindarinya.


Dia memikirkan apa dia pernah melakukan kesalahan pada Bella sehingga sikap Bella tiba-tiba berubah drastis seperti itu, dia tidak tahu jika Bella sengaja menghindar darinya setelah tahu jika dia memiliki hubungan dengan Vano dan Adelia.


Saat ini Iden sedang duduk kursi kerjanya dia sedang menatap ponselnya, dia melihat riwayat chat-nya yang tidak pernah dibalas oleh Bella dan hanya dibaca saja.


"Sebenarnya kamu kenapa sih Bel? apa aku pernah melakukan kesalahan sampai kamu menghindariku seperti ini," kata Iden mengacak rambutnya frustasi.


Saat sedang sibuk dengan kegundahan hatinya, pintunya diketuk dan tak lama kemudian daddy-nya Delvin memasuki ruangannya.


"Dad, ada apa?" tanya Iden menegakkan duduknya.


Delvin tidak langsung bicara dia hanya melihat anak satu-satunya itu dengan seksama, dia tahu anaknya sedang ada masalah, terlihat dari tampangnya yang acak-acakan.


"Ini perbaikilah," kata Delvin menyimpan sebuah berkas di depan Iden.


"Daddy sudah sering bilang, pisahkan masalah pribadi dengan pekerjaan kalau kamu melakukan sedikit saja kesalahan saat sedang bekerja itu bisa berakibat fatal bagi kamu sendiri dan perusahaan," kata Delvin menasehati Iden.


"Maafin Iden Dad, Iden akan memperbaikinya," kata Iden mengambil berkas itu.


"Ada masalah apa? apa masalah tentang wanita?" tanya Delvin.


"Gak ada masalah apa-apa Dad," jawab Iden sekenanya.


"Perbaiki itu dan kirimkan ke ruangan Dad kalau udah selesai," kata Delvin sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Iden.


Iden menghela napas berat saat Delvin sudah tidak terlihat, lalu dia mulai memeriksa kembali berkas yang daddy-nya suruh diperbaiki.


Pikiran yang tak menentu membuatnya tidak bisa bekerja dengan profesional, sepertinya dia harus menemui Bella secara langsung untuk meluruskan masalah ini.


Dia memutuskan untuk segera membereskan pekerjaannya itu dan akan meminta ijin pada daddy-nya untuk pergi keluar, dia berencana akan menemui Bella dan membicarakan masalah apa yang sedang terjadi itu.


Setelah selesai memperbaiki berkasnya Iden membawa berkas itu untuk diantarkan ke ruangan Delvin dan akan langsung pamit untuk pulang lebih dulu.


"Dad, ini berkasnya," kata Iden menyimpan berkas itu, di meja kerja Delvin.


Delvin mengambilnya dan memeriksanya terlebih dahulu karena takutnya Iden melakukan kesalahan lagi.

__ADS_1


"Kamu kembalilah," kata Delvin pada Iden.


"Dad, bolehkah Iden pergi, ada yang harus aku selesaikan," kata Iden menatap Delvin.


"Pergilah, biar masalah kantor Daddy yang urus, segeralah selesaikan masalahnya," kata Delvin menatap Iden sambil membenarkan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Makasih Dad," kata Iden setelah itu pergi dari ruangan itu.


Delvin menggelengkan kepalanya, dia tahu Iden sedang ada masalah dengan orang yang saat ini sedang dekat dengannya, meskipun Iden tidak mengatakannya. tapi, dia paham kenapa Iden sampai kurang fokus saat bekerja, tidak seperti Iden yang biasanya.


Iden memasuki mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran kantornya itu, dia berencana akan ke rumah sakit tempat Bella bekerja.


Beberapa saat kemudian mobil Iden telah sampai di parkiran rumah sakit itu, dia turun dari mobilnya dan langsung memasuki rumah sakit itu.


Dia melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Bella, dia mengetuk pintu ruangan itu tapi tidak ada jawaban dia tidak menyerah dan mencoba mengetuk pintu itu lagi. tapi, masih tidak ada sahutan.


"Apa Bella sedang tidak ada di ruangannya ya," gumamnya sambil mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang berada di dekat ruangan itu.


Saat sedang menunggu dia melihat ada suster yang biasanya selalu bersama Bella melewatinya, dia pun bertanya pada suster itu tentang keberadaan Bella.


"Suster di mana Dokter Bella, kenapa tidak ada di ruangannya?" tanya Iden.


"Apakah masih lama Sus?" tanya Iden.


"Maaf Saya kurang tau Tuan, Saya permisi dulu Tuan masih ada yang harus saya kerjakan lagi," pamit Suster itu.


"Iya, terima kasih Sus maaf mengganggu," kata Iden.


"Iya tidak apa-apa Tuan, permisi." Suster itu pun pergi dari sana.


Iden kembali mendudukkan dirinya di kursi lagi, dia mengeluarkan ponsel di saku celananya dan mulai mengirimkan pesan lagi pada Bella. tapi, pesannya tidak Bella baca.


Dia memutuskan untuk terus menunggu di sana, dia menyandarkan punggungnya di dinding sambil memejamkan matanya.


Telinganya mendengar derap langkah kaki yang mendekat, dia pun membuka matanya dan melihat ke sampingnya dimana asal suara itu berasal.


Dia tersenyum kala melihat Bella sedang menuju kearahnya. tapi, perlahan senyuman itu hilang saat menyadari Bella tidak sendirian saat itu.


Bella berjalan didampingi oleh seorang pria yang juga memakai jas Dokter seperti dirinya. Bella tampak berbincang sambil sesekali tertawa dengan Dokter pria itu.


Dia seolah tidak menyadari kehadiran Iden yang sedang menatapnya dengan tatapan kesal karena melihat dia sedang tertawa dengan pria lain sedangkan pesan darinya tidak pernah dibalas olehnya.

__ADS_1


"Baiklah, aku juga balik ke ruanganku dulu ya, ingat nanti malam jangan lupa," kata pria yang bersama dengan Bella.


"Iya bawel, nanti aku pasti datang," kata Bella tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Setelah pria yang bersama dengan Bella itu pergi, Iden berjalan mendekati Bella yang memasang wajah santainya.


"Kenapa pesan dariku tidak pernah kamu balas dan kenapa teleponku selalu kamu abaikan dan kamu selalu beralasan sibuk setiap kali aku ajak kamu jalan, sebenarnya apa yang terjadi, apa aku melakukan kesalahan sampai kamu menghindari aku seperti ini," kata Iden panjang lebar dengan pandangan lurus pada Bella.


"Kamu gak salah, aku yang salah, aku audah mencoba untuk menjalin hubungan denganmu. tapi, ternyata aku gak bisa Den, aku gak bisa mencintaimu, aku gak mau nyakitin kamu lebih dalam dengan membohongimu, sebaiknya kita tidak perlu berhubungan lagi, kita lupain kalau kita pernah saling kenal," kata Bella dengan nada yang ringan seolah tanpa beban.


Sementara Iden, dia menatap tak percaya pada Bella semudah itu Bella mengatakan semua itu disaat dia sudah benar-benar mencintainya.


"Apa kesabaran aku menunggumu selama dua tahun lebih itu tidak artinya buat kamu Bel, apa kamu tidak memiliki sedikit pun perasaan padaku Bel?" tanya Iden menatap Bella sendu.


"Maaf Den, aku tau aku salah karena sudah memberikan harapan palsu padamu, kamu lupakan saja aku, aku yakin di luar sana masih banyak wanita yang cocok denganmu," kata Bella dan langsung memasuki ruangannya meninggalkan Iden yang masih mematung tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Semudah itu kamu mengatakan itu Bel, kamu tidak tau sebesar apa harapanku untuk hubungan kita, aku bahkan sudah merencanakan banyak hal tentang masa depan kita," kata Iden di depan pintu Bella.


Dia yakin Bella bisa mendengar perkataannya itu, dia berharap Bella berubah pikiran dan mau mencoba membuka hati untuknya lagi.


"Aku akan selalu nunggu kamu Bel, kalau kamu sudah berubah pikiran datang lagi padaku Bel," kata Iden.


Setelah mengatakan itu dia mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana dengan harapan Bella akan berubah pikiran dan mencoba untuk menerimanya lagi.


Iden menyeret kakinya dengan langkah berat meninggalkan rumah sakit itu, dia merasa hatinya sakit sama seperti saat dia tahu jika Tisha harus menikah dengan Ray.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2