
Happy Reading....
"Bagaimana kalau aku tidak hamil?" lirih Kania menundukkan kepalanya.
Ras memiringkan tubuhnya hingga menghadap pada Kania, ditariknya pundak Kania dengan kedua tangannya agar Kania menghadap padanya.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Ras menatap Kania yang tidak berani menatap balik padanya.
"Apa kamu akan kecewa kalau aku masih tidak hamil juga?" tanya Kania yang mulai mengangkat wajahnya dan menatap Ras dengan intens.
"Aku tidak akan kecewa sama sekali, anak adalah rezeki dari Allah untuk kita, jika saat ini kamu masih belum hamil juga, itu artinya Allah ingin kita lebih sabar lagi untuk menunggu kehadirannya," kata dengan suara yang teramat lembut hingga membuat perasaan Kania perlahan mulai menjadi tenang.
"Aku takut kamu akan kecewa kalau ternyata aku tidak hamil."
"Sssttt, kamu tenang saja bagaimana pun hasilnya nanti, aku tidak akan pernah kecewa padamu, apapun nanti hasilnya tidak akan ada yang berubah dengan hubungan kita," kata Ras menatap Kania dengan penuh kelembutan.
Tatapan yang mampu membuat perasaan Kania kembali membaik, Ras selalu bisa membuat kesedihan yang Kania rasakan secara perlahan menghilang tergantikan dengan perasaan hangat yang memenuhi setiap sudut di hatinya.
"Jangan sedih ya, apapun hasilnya nanti kita harus menerimanya dengan sepenuh hati," kata Ras dijawab anggukkan oleh Kania.
"Tersenyum dong, jangan sedih-sedih gitu biar tambah cantik," goda Ras membuat pipi Kania bersemu merah.
"Apaan sih King," kata Kania tersipu membuat Ras jadi gemas.
"Nah itu baru ratu ku," kata Ras tersenyum lebar sambil mengacak rambut Kania.
"Ihhh King, jadi acak-acakan tuh rambutnya," kata Kania mengerucutkan bibirnya membuat Ras tambah gemas.
"Oh maaf, maaf, sini aku rapikan lagi," kekeh Ras lalu merapikan rambut Kania.
Akhirnya mereka saling bersenda gurau tidak memperdulikan orang-orang yang ada di sana menatap mereka dengan tatapan beragam.
Mereka mengira Kania dan Ras adalah pasangan muda yang baru saja beberapa bulan menikah.
Waktu tidak terasa, kini hanya ada mereka yang duduk di kursi tunggu itu, tinggal menunggu pasien yang di dalam ruangan peraktek itu keluar baru mereka memasuki ruangan itu.
Kania menatap pintu ruangan itu dengan harap-harap cemas, Ras yang mengerti kecemasan Kania pun mengambil tangan Kania dengan perlahan.
Dia menggenggamnya dengan lembut dan mengecup punggung tangan Kania untuk menenangkannya.
"Jangan cemas semua akan baik-baik saja," kata Ras.
Kania tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan hati yang penuh dengan harapan, harapan agar Sang Pencipta mau menitipkan anugerah-Nya di dalam rahimnya.
Anugerah yang sudah sangat dia dan suaminya nantikan, anugerah yang akan menjadi pelengkap antara dirinya dan suaminya kelak.
"Ibu Kania," panggil Suster di depan pintu ruangan peraktek dokter Obgyn.
__ADS_1
"Ayo," ajak Ras bangun dari kursinya tanpa melepaskan genggaman tangan Kania.
"Iya," jawab Kania setelah menghela napas beberapa kali.
Mereka mulai memasuki ruangan itu dengan detak jantung mereka yang lebih meningkat, dia merasa deg-degan dengan hasil yang akan mereka dapatkan.
Apakah akan sesuai dengan harapan mereka? atau mereka harus bersabar lagi menunggu hari itu tiba. Tapi, mereka sudah meyakinkan hati mereka apapun hasilnya nanti, mereka akan menerimanya.
"Silakan duduk. Dengan Ibu Kania benar?" tanya Dokter perempuan berhijab dengan tersenyum ramah pada mereka berdua.
"Iya Dok, saya Kania dan ini suami saya Rasheed," jawab Kania berusaha tersenyum, meskipun perasaannya tak karuan.
Kania dan Ras duduk berhadapan dengan Dokter yang bernama Susan itu.
"Santai saja Bu jangan tegang," kata Dokter itu terkekeh karena dia bisa melihat dengan jelas raut tegang di wajah Kania.
"Saya merasa deg-degan Dok," jawab Kania terus terang dengan tersenyum malu.
"Sudah biasa bagi pasangan baru merasa deg-degan saat akan memeriksa kandungan," jawab Dokter itu.
"Apa Ibu sudah melakukan tes kehamilan dengan testpack sebelumnya?" tanya Dokter menatap Kania.
"Belum Dok, saya baru sadar kalau saya sudah telat datang bulan baru tadi saat memeriksa suami saya," jawab Kania menggelengkan kepalanya.
"Apa ada keluhan semacam morning sickness atau yang lainnya sebelum ini?" tanya Dokter itu lagi.
"Tidak ada Dokter. Tapi, suami saya yang akhir-akhir ini jadi aneh, barusan juga saya dan suami saya sudah memeriksanya ke Dokter. tapi, Dokter meminta kami ke sini untuk memeriksa saya," jelas Kania.
"Iya Dok," jawab Kania.
"Baiklah Ibu ikut saya berbaring di ranjang."
Kania mengikuti Dokter Susan menuju ke ranjang diikuti Ras di belakangnya, Ras membantu Kania merebahkan tubuhnya dengan terlentang di ranjang.
"Maaf ya Bu, bajunya saya buka dulu sedikit," ijin Suster pada Kania.
"Iya Sus," jawab Kania menganggukkan kepalanya.
Suster mulai membuka sedikit baju bagian perut Kania dan mulai mengoleskan jel untuk membantu mempermudah pergerakan alat USG.
"Siap Buk, Pak?" tanya Dokter Susan menatap Ras dan Kania sebelum menempelkan alat USG di permukaan perut Kania yang sudah terlapisi jel.
"Siap Dokter," jawab Kani dan Ras bersamaan.
"Rileks ya Bu," kata Dokter Susan yang sudah mulai menempelkan alat USG di perut Kania.
Dokter Susan mulai menggerakkan secara perlahan alat USG itu untuk mencari letak rahim Kania.
__ADS_1
Kania dan Ras menatap layar dengan seksama meskipun mereka tidak mengerti dengan apa yang ada di layar itu. tapi, mereka tidak ingin mengalihkan pandangan mereka dari layar itu.
Beberapa detik kemudian sebuah senyuman terbit di bibir Dokter Susan dengan pandangan lurus ke layar dan kemudian mengalihkan pandangannya pada Kania dan Ras yang sedang menunggu dengan raut wajah penasaran.
"Selamat untuk kalian, kalian akan segera menjadi orang tua," kata Dokter Susan dengan tersenyum lebar.
"Ja-jadi is-istriku benar-benar hamil Dok?" tanya Ras dengan suara yang tergagap karena perasaan haru dan bahagia yang membuncah dalam hatinya.
Jangan tanya bagaimana reaksi Kania saat ini dia bahkan tidak mampu mengeluarkan suaranya karena mendengar kabar itu, dia hamil, dia akan memiliki anak, anak yang sudah dinantikan olehnya kini telah hadir di rahimnya.
Air mata menetes di ujung mata Kania karena perasaan bahagia yang teramat dia rasakan saat ini, dia menangis karena terlalu bahagia saat ini.
"Iya lihatlah mereka sudah hadir di sana, menurut perkiraan saya usia mereka baru saja lima minggu, mereka masih sangat kecil," jawab Dokter Susan menunjuk tiga titik di layar USG.
"Mereka?" kata Ras dan Kania menatap Dokter itu dengan bingung.
"Iya lihatlah mereka, tiga titik ini adalah calon anak kalian," jawab Dokter Susan.
"Jadi saya hamil anak kembar Dok?" tanya Kania dengan mata yang berbinar.
"Iya calon anak kalian kembar tiga," jawab Dokter Susan.
"King aku hamil- hamil anak kembar, bahkan tiga," kata Kania menatap Ras dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya, kita akan memiliki tiga anak sekaligus." Ras menganggukkan kepalanya dan berkali-kali mencium kening Kania untuk menunjukkan kebahagiaan dan rasa syukurnya dengan kabar yang membahagiakan itu.
Ras dan Kania saling berpelukan dan menangis karena bahagia, Ras mengusap ujung matanya yang basah karena air mata haru.
Mereka berpelukan tanpa memperdulikan keadaan Dokter dan Suster yang masih berada di sana yang mereka pikirkan saat ini mereka sangat bahagia, hingga mereka tidak memperdulikan sekitar mereka.
Dokter Susan dan Suster yang melihat reaksi Kania dan Ras tersenyum haru, melihat Ras dan Kania terlihat sangat bahagia dengan kabar kehamilannya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Langsung dikasih tiga tuh, bukan cuma satu anaknyaš¤ Yuk jangan lupa dukungannya Like dan Komen, mau ngasih hadiah sama Vote juga alhamdulillah. Ciee ngarepš