
Happy Reading....
Ras mendatangai kantor Kean untuk bertemu dengan Kania. tapi, saat sampai di kantor itu Kania ternyata sedang meeting jadi dia tidak ada di ruangannya.
Maksud kedatangan Ras yang tiba-tiba adalah untuk memberitahu Kania jika dia harus pergi ke New York hari itu juga karena ada masalah serius telah terjadi di Hotelnya, sebenarnya dia merasa tidak tenang harus pergi meninggalkan Kania sendiri sekarang, mengingat dia belum mengetahui siapa orang yang selalu mengirimkan makanan atau bunga untuk Kania sejak beberapa hari terakhir itu. tapi, dia tidak ada pilihan lain.
Ras menunggu Kania dengan sabar di ruangannya itu, beberapa kali ponselnya berbunyi, anak buahnya yang dia percayai untuk menjalankan Hotelnya yang di New York memintanya untuk segera ke sana, mengatasi kekacauan yang terjadi di sana.
Baru saja Ras merasa tenang karena masalah yang terjadi di Hotelnya yang di sini selesai, kini dia kembali dibuat pusing dengan masalah lainnya lagi.
Padahal niat awalnya dia juga ingin membantu Kania dalam mengatasi masalah perusahaan mertuanya itu karena mertuanya belum selesai dengan masalahnya yang di Bali, dia juga merasa kasian pada istrinya yang sibuk mengurus perusahaan bahkan terkadang hanya sedikit memiliki waktu untuknya beristirahat, dia juga khawatir semua ini akan berdampak pada kandungan Kania yang saat ini masih rentan.
"Ras, kamu ke sini?" tanya Kania yang baru saja memasuki ruangannya.
"Iya ada hal penting yang harus aku bicarakan," kata Ras tersenyum pada Kania.
Dia menarik Kania untuk duduk di kursi kerja Kania dengan dipangku menyamping olehnya, Ras memeluk Kania dengan erat menyandarkan kepalanya di pundak Kania.
"Ras jangan kayak gini nanti Mbak Dian masuk ke sini gimana?" kata Kania berusaha bangun dari pangkuan Ras itu.
"Biarkan dulu seperti Yang, aku ingin seperti ini dulu," kata Ras dengan suara yang agak berat dan mengusap perut rata Kania.
Kania pun memilih diam tetap dalam posisinya mengikuti keinginan Ras, dia merasa Ras tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
"Kenapa? apa pekerjaanmu sangat banyak sampai kamu lelah seperti ini?" tanya Kania mengusap rambut Ras dengan lembut.
"Aku harus pergi Yang."
"Pergi kemana?" Kania sedikit menjauhkan dari Ras untuk melihat Ras.
"Aku harus pergi ke New York, di sana ada masalah lagi," jawab Ras.
"Masalah apa?" tanya Kania serius.
"Ada yang melakukan transaksi ilegal di sana saat polisi sedang memeriksa Hotel, polisi meminta bukti kalau Hotel itu bukan tempat untuk hal seperti itu, kalau kita tidak bisa membuktikannya Hotel kita terancam akan ditutup," jelas Ras.
"Kapan kamu berangkat?" tanya Kania.
"Nanti sore," jawab Ras dengan enggan.
"Ya udah kamu pergilah, segeralah selesaikan masalahnya," kata Kania memegang kedua pipi Ras.
"Aku tadinya mau bantuin kamu mengurus masalah di sini karena masalah di Hotel yang di sini udah selesai," kata Ras.
__ADS_1
"Aku di sini baik-baik aja, kondisinya juga sudah hampir membaik, lagian dua atau tiga harian lagi papa dan om Nikko akan kembali karena masalah di sana sudah selesai, kamu jangan mikirin aku, fokus saja dengan masalah di sana biar cepat selesai dan kamu cepat pulang, aku pasti akan merindukanmu," kata Kania menghibur Ras.
"Aku jadi gak ingin pergi dengar kata-katamu itu," kata Ras memasang wajah cemberutnya seperti anak kecil.
"Kamu jangan memasang wajah seperti Ras, jelek tau, gak malu apa sama anak kamu," kata Kania dengan memberikan ciuman singkat pada Ras.
"Kamu makin membuatku gak mau pergi Sayang," kata Ras menciumi seluruh wajah Kania dengan gemas.
"Sekarang sebaiknya kita pulang, biar kamu bisa siap-siap anak buah mu pasti sudah menunggumu di sana," kata Kania bangun dari duduknya.
"Kerjaan kamu di sini gimana?" tanya Ras yang ikut berdiri.
"Sekarang gak terlalu sibuk, aku bisa minta Mbak Dian untuk menghandle dulu," kata Kania.
"Ya udah, kita pulang sekarang."
Mereka pulang lebih awal untuk mempersiapkan keberangkatan Ras. selama diperjalanan Kania melamun, dia merasa tidak tenang seolah akan terjadi hal yang tidak menyenangkan.
Kania berusaha mengenyahkan berbagai pikiran buruk dan perasaan yang tak nyaman itu, dia berusaha berpikir positif.
Kania yang sibuk dengan pikirannya tidak sadar jika saat ini mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di halaman rumah mereka, Ras mengerutkan keningnya saat memanggil Kania. tapi, tidak mendapatkan respon darinya.
"Kamu mikirin apa hmmmm?" Ras mengambil tangan Kania hingga Kania tersadar dari lamunannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? apa kamu tidak ingin aku pergi, kalau kamu memang tidak ingin aku pergi, aku tidak akan pergi aku akan minta Aunty Vira atau suaminya yang membantu menyelesaikan masalah di sana," kata Ras menatap Kania dengan serius.
"Gak Ras, kamu gak boleh ngerepotin aunty Vira, tanggung jawab Hotel itu 'kan sudah diserahkan ke kamu. jadi kamu yang harus menyelesaikan masalah ini," kata Kania.
"Terus kenapa kamu melamun seperti itu?" tanya Ras.
"Gak pa-pa hanya masalah kantor saja, ya udah kita turun yuk, kamu harus siap-siap," kata Kania mengalihkan pembicaraan dan memasang wajah yang seperti biasanya.
Ras tidak bicara lagi, dia mengikuti Kania yang langsung menuju ke kamarnya untuk mempersiapkan barang-barang yang akan Ras bawa.
"Apa semuanya sudah?" tanya Kania pada Ras saat selesai memasukan barang Ras ke dalam koper yang tidak terlalu besar.
"Sudah, tidak perlu terlalu banyak membawa barang aku akan menyelesaikan masalah di sana dengan segera agar kita bisa cepat bertemu lagi," kata Ras.
"Iya, selama di sana kamu hati-hati ya fokus saja sama masalah di sana jangan berpikiran hal yang lainnya," kata Kania.
"Baiklah aku tidak akan memikirkan masalah lain selain cara menyelesaikan masalah di sana, kamu dan dia." Ras melingkarkan tangan tangannya di perut Kania dia memeluk Kania dari belakang.
"Nanti kita pasti akan jarang berkomunikasi karena kesibukan kita dan perbedaan waktu di sini dan di sana," kata Ras bernada sedih.
__ADS_1
"Aku yakin itu tidak akan lama, aku percaya kamu akan menyelesaikan masalah di sana dengan cepat dan kita bisa bertemu lagi," kata Kania menghibur Ras sambil mengusap tangannya.
Kania membalikkan badannya dia menatap Ras dalam begitu pun sebaliknya, tanpa di duga Kania berinisiatif untuk mencium Ras terlebih dahulu.
Ras dengan senang hati mengikuti permainan Kania itu dengan permainan yang lembut dan memabukkan, Ras menggendong Kania menuju ke ranjang tanpa melepaskan permainan mereka.
...****************...
Ras dan Kania saat ini sedang berada di depan rumah mereka untuk berangkat ke Bandara, Ras melarang Kania untuk mengantarkannya ke Bandara dan meminta Kania untuk istirahat saja.
"Kalau ada apa-apa jangan pernah ragu untuk menghubungiku," kata Ras yang masih enggan untuk melepaskan pelukannya dari Kania.
"Iya," jawab Kania singkat dia juga memeluk Ras erat. entah kenapa dia merasa jika dia dan Ras akan berpisah untuk waktu yang lama.
Ras melepaskan pelukannya dan mendaratkan bibirnya di seluruh wajah Kania setelah itu dia bersimpuh di dengan perut Kania dan mencium perutnya itu untuk berpamitan dengan calon anaknya itu.
Ini adalah perpisahan pertama mereka setelah mereka saling menerima satu sama lainya jadi mereka sama-sama merasa berat untuk berpisah.
"Aku berangkat ya, kamu istirahatlah," kata Ras.
Kania menganggukkan kepalanya dengan berusaha memasang senyumnya untuk melepas Ras pergi, saat mobil yang membawa Ras sudah pergi, perasaan tak tenang itu pun kembali hadir di hatinya.
"Papa kamu hanya pergi sebentar saja, dia pasti akan segera kembali," gumam Kania mengusap perutnya untuk menenangkan hatinya yang merasa tak tenang.
Bukan tanpa alasan Kania merasa tidak tenang seperti itu. kejadian-kejadian yang terjadi secara beruntun dalam beberapa waktu itu dan orang misterius yang selalu mengirimkan sesuatu untuknya membuatnya berpikiran jika itu semua bukanlah sebuah kebetulan saja. tapi, Kania masih berharap bahwa ini memang hanyalah sebuah kebetulan saja.
Dia juga berharap masalah yang terjadi sekarang itu segera selesai dan kehidupan dia dan keluarganya kembali baik-baik saja seperti sebelumnya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1