Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Cinta dari lama.


__ADS_3

Happy Reading....


RAS POV.


Aku menutup pintu kamar dengan sangat pelan karena tidak ingin mengganggu tidur Kania.


Tujuan pertamaku adalah ke dapur karena ingin membuat kopi untuk menghangatkan tubuhku di dinginnya malam ini.


Sebenarnya rumah ini begitu luas jika hanya ditempati oleh aku dan Kania saja. tapi, para pelayan dan pekerja lainnya sudah memiliki tempat mereka di paviliun yang berada tepat di bagian belakang rumah ini.


Setelah selesai membuat kopi aku membawa cangkir kopi ini menaiki tangga menuju ke ruang kerja, bukan untuk bekerja tapi hanya untuk bersantai menikmati suasana di malam hari.


Ku buka pintu ruangan kerjaku, ruangan yang tidak aku ijinkan siapapun untuk masuk ke dalamnya. Kecuali kepala pelayan Oma dan Opa sekaligus kepala pelayan yang bekerja di tiga rumah ini untuk membersihkan ruangan ini.


Ku simpan cangkir kopinya di meja kerja ku yang berukuran besar dan ku buka laci lalu mengambil sesuatu yang selalu tersimpan dengan rapi didalam sebuah kotak berukuran kecil.


Kotak yang tidak pernah aku ijinkan siapapun untuk melihatnya termasuk Mommy, kotak yang sedari kecil selalu ku jaga dan selalu dibawa jika aku akan berpergian jauh dan waktu yang lumayan lama.


Saat kotak terbuka sesuatu yang berkilau langsung terlihat karena tersorot lampu di ruangan itu.


Ini adalah sebuah gelang, gelang yang menurutku sangat indah, gelang yang selalu aku jaga dari saat aku mendapatkannya.


Ya ... Ini adalah gelang Kania, tertulis dengan indah namanya di gelang kecil ini gelang yang tidak sengaja terlepas saat aku menarik tangannya saat pertama kali kita bertemu.


Entah kenapa aku tidak mengembalikan gelang ini pada Kania saat itu, aku juga tidak mengatakan pada Ray jika aku mendapatkan gelang ini.


Aku menyimpan gelang ini dengan sebaik mungkin, entah kenapa aku bisa sampai seperti itu.


Sebenarnya bukan hanya gelang ini yang aku simpan dengan baik. tapi, nama Kania juga seolah sudah terpatri di hati dan pikiranku hingga aku tidak bisa membuka hati untuk siapapun karena nama dan bayangan Kania kecil selalu hadir bagaikan mimpi indah dalam tidurku.


Sebenarnya aku sudah bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu lebih tepatnya saat aku baru saja lulus dari SMA aku melihatnya lagi setelah sekian lamanya.


Saat itu Aku yang baru saja merayakan kelulusanku dengan teman-temanku di sebuah Restoran memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena ingin istirahat. tapi, tidak dengan Ray dia terus bermain dengan teman-teman kami dan membiarkan aku untuk pulang.


Saat itu aku pergi mengendarai motor kesayanganku, saat baru saja akan menghidupkan motor ponselku berbunyi dan ternyata Mom yang menelpon.


"Ya Mom," kataku padanya.

__ADS_1


'Ras kata Ray kamu sudah mau pulang,' kata Mom dari balik telpon.


"Iya Mom, ada apa?" tanyaku.


'Tolong ambilkan pesanan kue Mom di toko kue yang di jalan xxx,' kata Mom.


"Baiklah," jawabku santai dan langsung mematikan telponku. Kemudian menjalankan motorku menuju ke tempat yang Mom sebutkan tadi.


Saat sampai di tempatnya aku menghentikan motorku dan turun dari motor, bertepatan dengan seorang gadis yang memakai seragam SMA dengan rambut diikat ekor kuda yang baru keluar dari sebuah mobil.


Awalnya aku tidak memperdulikannya dan berjalan begitu saja melewatinya memasuki toko kue itu dengan santai.


Aku mengambil kue pesanan Mom dan berbalik badan berniat untuk segera pergi. tapi, seorang pegawai toko itu memanggil nama yang tak asing bagiku.


"Nona Kania," sapa seorang pegawai pada gadis yang baru saja memasuki Toko kue itu.


Aku berubah menjadi kaku, kakiku seolah sulit untuk diangkat dan di langkahkan, tiba-tiba saja jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, saat memandang gadis yang sedang berjalan ke arahku dengan memasang wajah datarnya.


Apa dia Kania yang sama dengan Kania yang dulu aku temui atau dia Kania yang berbeda dan hanya namanya saja yang kebetulan sama? kenapa dadaku terasa berdebar seperti ini saat dia semakin mendekatiku semakin menipiskan jarak antara aku dan dirinya? pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benakku.


"Aku mau mengambil pesanan Mamaku,"


Aku hanya mematung di tempatku dengan pandangan lurus pada gadis itu yang saat ini sedang membelakangiku.


Setelah dia mendapatkan pesanan kuenya dia membalikkan badannya menghadap ke arahku tapi dia melihat lurus ke arah lain sama sekali tidak melihatku.


Dia melangkahkan kakinya melewatiku yang masih mematung di tempatku. mataku tidak berkedip dan mengikutinya berjalan keluar dari Toko itu saat di luar aku melihat dia memasuki mobilnya diikuti oleh dua orang yang mengawalnya dari tadi.


"Kania," gumamku melihat kosong pada arah kemana mobil yang membawanya pergi.


Setelah saat itu aku memutuskan untuk mencarinya dan memastikan apa dia Kania yang sama atau tidak.


Aku terus mencarinya, mungkin terdengar gila karena mencari satu orang yang tidak aku tahu apapun tentangnya, aku hanya tahu namanya saja.


Beberapa bulan aku selalu ke toko kue itu sepulang dari kampus berharap dia akan datang lagi ke sana tapi harapanku sia-sia dia tidak kunjung kembali dan hal itu membuatku hampir menyerah.


Hingga tiba-tiba saja aku ingat jika aku dan Ray dulu mengantarkannya ke sebuah Restoran dan Kania sempat bilang jika itu adalah Restoran Papinya.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama lagi aku langsung pergi ke Restoran itu setiap hari sepulang dari kampus tapi tidak ada kehadiran Kania sama sekali di Restoran itu.


Saat mencoba memberanikan diri bertanya aku bertanya pada salah satu karyawan di sana menanyakan tentang Kania dan aku tahu kebenarannya, Kania bukanlah anak dari yang punya Restoran itu. Kania adalah anak dari sepupu yang punya Restoran itu.


Karena semakin penasaran aku pun bertanya tentang Kania, beruntung orang yang aku tanyai itu sudah bekerja lumayan lama di sana jadi dia tahu tentang Kania dan memberitahuku nama orang tua Kania.


Jangan tanya bagaimana perasaanku, tentu saja sangat senang sejak saat itu aku selalu menyempatkan diri untuk mengikuti dan melihat Kania dari jauh, semakin lama aku semakin yakin jika dia orang yang sama.


Selama beberapa tahun aku melihatnya dari jauh tidak berani mendekatinya, apalagi setelah tahu jika Papanya sangat menjaganya aku yakin tidak akan mudah untukku mendekatinya.


Tiba-tiba saja Ray mengatakan jika dia bertemu dengan Kania jujur saat itu aku merasa sangat kaget. tapi, aku tidak memperlihatkannya.


Aku pura-pura seolah tidak perduli padahal hatiku merasa tidak nyaman, bahkan saat Ray mengatakan jika Kania menerimanya, sebagian hatiku berkata tidak terima mendengar hal itu.


Aku tidak ingin menyakiti Ray, apalagi jika Kania memang menyukai Ray, aku berusaha menghilangkan perasaan itu perasaan yang mungkin tidak seharusnya aku jaga.


Sekuat tenaga aku berusaha melenyapkan perasaan yang ada di hati ini. tapi, perasaan itu tidak mau pergi apalagi melihat Kania yang terlihat bahagia berada di dekat Ray. Melihat mereka bertunangan aku merasakan perasaan yang berkecamuk.


Perasaan yang semakin lama semakin terasa menyiksa hingga kejadian di malam ulang tahun Zani semua keadaan menjadi terbalik.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat Kak Iden dan Ray tahu tentang kebenarannya, mungkin mereka akan sangat membenciku, begitupun dengan Kania dia pasti akan sangat membenciku.


Setelah puas dengan lamunanku, ku simpan kembali gelang Kania ke tempatnya dan keluar dari ruang kerjaku menuju ke kamar untuk tidur menyusul Kania yang sudah tidur dengan nyenyak.


Ku kecup keningnya dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu tidurnya dan merebahkan tubuhku di sampingnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2