Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Pernikahan (Ray dan Tisha)#2


__ADS_3

Happy Reading....


Tisha didudukan di kursi yang berada di samping Ray, setelah itu Maira memasangkan selendang putih di kepala Ray dan Tisha dan dia pergi dari sana, dia duduk di samping Adelia yang sebentar lagi akan menjadi besannya.


"Apa Tisha baik-baik saja Ra?" tanya Adelia pada Maira.


"Dia baik-baik saja Del, hanya saja dari semalam gak berhenti nangis, aku sampai beberapa kali nenangin dia dulu tadi saat sedang di dandani," keluh Maira pada Adelia.


"Ray juga dari semalam banyak melamun aku sama Vano juga beberapa kali memperingatinya," kata Adelia bercerita pada sahabatnya itu.


"Aku tau ini tidak akan mudah untuk mereka, mereka harus menikah dengan orang yang bukan mereka cinta sama sekali, apa hubungan mereka akan baik-baik saja kedepannya, aku takut mereka malah akan saling menyakiti nantinya," kata Maira menyampaikan ketakutannya.


"Maka dari itu aku mau minta ijin padamu untuk membiarkan Tisha agar tinggal di rumahku, jika mereka tinggal di rumahku untuk beberapa saat mungkin aku bisa memantau mereka," kata Adelia.


"Setelah ini Tisha sudah sepenuhnya tanggung jawab Ray, kami sebagai orang tua sudah memasrahkan dia pada Ray," kata Maira.


"Syukurlah kalau gitu, kamu tenang saja aku akan selalu mengawasi Ray agar dia mau menerima pernikahan ini," kata Adelia dengan yakin.


"Ya, terus bagaimana apa kalian sudah menemukan titik terang dari masalah yang datang secara tiba-tiba ini?" tanya Maira menatap Adelia dengan serius.


"Ras masih mencoba untuk mencari taunya, semoga saja kita bisa cepat mengetahui siapa dalang dari kejadian itu," kata Adelia.


Maira hanya menganggukkan kepalanya setelah itu dia kembali fokus melihat Ray yang sedang mengucapkan ijab qabul dan Tisha yang hanya menundukkan kepalanya.


Kata sah pun terdengar dari para saksi yang berada di sana semua orang mengucapkan hamdalah dan selanjutnyaPak penghulu membacakan doa-doa untuk kedua mempelai.


Ray memasangkan cincin di jari manis Tisha begitu pun sebaliknya Tisha memasangkan cincin di jari manis Ray.


Ray mencium kening Tisha, Tisha memejamkan matanya dengan air mata yang tidak dapat dikendalikannya lagi, meluncur begitu saja.


Kania yang melihat Tisha menangis karena posisi duduknya tepat di depan meja untuk ijab qabul itu. jadi dia bisa melihat dengan jelas jika Tisha menangis.


Dia memegang tangan Ras dengan erat karena dia tahu perasaan Tisha yang harus menikah dengan pria yang tidak diduganya dan tidak dicintainya.


Ras yang merasakan genggaman tangan Kania semakin erat pun hanya mengusap punggung tangan Kania menggunakan tangan yang sebelahnya lagi dengan lembut.


"Apa kamu cemburu melihat Ray menikah dengan orang lain?" bisik Ras.

__ADS_1


Kania langsung menatapnya dengan dalam hingga mereka bertatapan untuk beberapa saat.


"Tidak sama sekali," kata Kania santai dan mengalihkan perhatian ke arah lain lagi.


Dia sudah bertekad jika dia akan menerima pernikahan mereka itu jadi dia sudah mulai berusaha melupakan perasaan yang sempat hadir di hatinya untuk Ray.


"Terus kenapa kamu menggenggam tanganku semakin erat seperti ini," kata Ras.


"Aku hanya emosional saja karena bisa merasakan apa yang Tisha rasakan beberapa waktu lalu," kata Kania.


Ras tidak bicara lagi dia kembali melihat ke arah Ray dan Tisha yang saat ini sedang di tuntun menuju ke pelaminan.


Tisha mengambil tisu dan mengelap air matanya saat berjalan menuju ke pelaminan.


Kemudian dia mengangkat kepalanya dan berubah memasang senyumnya saat orang-orang mulai mendekatinya untuk mengucapkan selamat.


"Ayo kita ucapkan selamat pada mereka terlebih dahulu," kata Ras bangkit dari duduknya.


Kania hanya menurut dia mengikuti langkah Ras mendekati kedua pengantin itu dengan memasang wajah yang biasa.


"Selamat, semoga kalian bahagia," kata Kania datar.


Dia menyalami Ray sekilas, setelah itu dia berdiri di depan Tisha dan melakukan hal yang sama pada Tisha.


"Terima kasih Kak," kata Tisha menundukkan kepalanya.


Tanpa menjawab lagi dia langsung melanjutkan langkahnya, untuk bersalaman dengan Maira dan Dimas.


Tisha menatap Kania dengan sedih dia merasa bersalah pada Kania dan melihat sikap Kania yang seperti itu, membuat dia berpikiran jika dia sudah menjadi penyebab Ray dan Kania batal menikah.


"Jangan dipikirkan, dia memang orang yang kurang ramah pada orang yang belum terlalu dikenalnya, setelah kenal lama dia pasti akan bersikap baik kok," kata Ras yang bisa melihat Tisha sedih dengan sikap Kania itu.


"Iya Kak Ras," jawab Tisha berusaha tersenyum.


Ras pun pergi dari sana, menyusul Kania yang sudah turun lebih dulu dari pelaminan.


Setelah Kania dan Ras, kini giliran Iden yang memberikan selamat pada Tisha dan Ray, Iden seperti biasa memasang senyumannya agar dia terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Tisha tidak berani menatap Iden terlalu lama, dia hanya melihatnya sekilas dan menundukkan kembali pandangannya, sedangkan Ray menatap Iden dengan tatapan sedih dan perasaan bersalah.


Iden tidak berlama-lama di sana setelah mengucapkan selamat pada pasangan pengantin itu dia pun segera pamit pada keluarganya beralasan ada pekerjaan mendadak.


Keluarganya pun tidak menahannya lagi, mereka mengerti jika tidak mudah untuk Iden berada lebih lama di acara pernikahan wanita yang dicintainya, meskipun dia sudah menyembunyikan perasaan sedihnya sebaik mungkin.


Iden pergi dari sana dan langsung menuju ke rumah Vano untuk mengambil mobilnya dan pergi dari sana menggunakan mobilnya.


Sungguh, ini tidaklah mudah seperti yang terlihat, dia pikir dia akan kuat menerima semua itu. tapi, ternyata dia tetap kalah, hatinya tetap tidak kuat melihat perempuan yang menjadi pacarnya selama dua tahun menikah dengan adiknya sendiri.


"Takdir macam apa ini yang kau tuliskan padaku, kenapa kau hadirkan cinta yang begitu besar di hatiku jika akhirnya akan seperti ini," gumam Iden sambil menjalankan mobilnya dengan pikiran melayang.


Bayangan-bayangan kebersamaan dia dan Tisha menari-nari di otaknya, senyuman Tisha dan suara tawa gadis itu saat mereka saling bercanda.


Rengekan gadis itu saat dia meminta di ajari tentang pelajaran di sekolahnya yang tidak dia mengerti dan saat dia memberikan banyak tugas padanya semuanya masih tersimpan di kepalanya.


"Kenapa harus seperti ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Dia terus menjalankan mobilnya dengan sembarang, tidak tentu arah dan tujuan, dia hanya ingin pergi sejenak agar dapat melampiaskan perasaan sedih yang mengganggunya, dia berharap setelah ini bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik lagi.


Tatapan mata yang menatap jalanan di depannya dengan lurus dan pikiran berkeliaran entah kemana, itulah yang Iden alami saat ini.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2