
“Hah? Serius Gita hamil? Itu beneran anak lo, Ki?” Kata Rio tidak percaya. Bagaimana dia bisa percaya? Ular Arki saja sangat letoy berhadapan dengan mantan-mantannya setelah kepergian Luna. Berita ini nyaris seperti dibuat-buat.
“Gue sebenernya gak terlalu yakin kalau gue ngelakuin itu sama Gita. Tapi menurut gue, Gita gak mungkin hamil karena cowok lain. Lo tahu sendiri kan tuh anak kayak gimana?” ucap Arki sambil bernapas berat.
“Ya bisa jadi dia main sama orang lain, Ki. Kita gak pernah tahu kehidupan orang kayak gimana di luar sana. Lo harus tes DNA kalau anak itu lahir.”
Arki terkekeh. Rio memang benar, dia sangat meragukan bahwa anak yang dikandung Gita adalah benih yang sudah dia tanam. Satu-satunya yang membuat Arki yakin hanyalah sebuah garis tipis kepercayaan pada karakter Gita yang sudah dia ketahui selama 2 tahun, ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Gita bukan perempuan yang dekat dengan banyak laki-laki, dia baik, dan jujur. Semua hal tentang Gita, memiliki impresi baik dimatanya. Mungkin karena itulah Arki mmepercayainya.
“Kalaupun dia bukan anak gue, gak apa-apa. Ibu udah pingin banget punya cucu. Tapi sampe sekarang gue gak berani nikahin satu cewek pun karena masalah gue. Bikin Ibu terus-terusan berharap bisa lihat gue nikah tuh, kasihan.” Arki sudah sangat pasrah dengan kisah percintaannya yang selalu berakhir perpisahan.
Semua lukanya setelah pengkhianatan Luna berdampak besar untuknya. Padahal ketika hubungan mereka berakhir, Arki sama sekali tidak pernah kesulitan mendapatkan pengganti, yang lebih cantik, yang lebih baik, dan yang lebih mempesona.
Tapi bukan hal itu yang membuatnya terus tertahan masa lalu, kenyataan bahwa pengkhianatan tersebut telah membuatnya hilang kepercayaan pada orang lain dan dirinya sendiri, yang membuatnya sulit sekali memberikan hatinya lagu
Apalagi dengan semua penjelasan dan pembelaan Luna mengenai alasannya berpaling dari Arki. Dia sangat tersakiti. Melihat Luna melakukan hubungan dengan laki-laki lain diapartemen yang dia belikan untuk gadis itu, bagaimana tubuhnya disentuh oleh orang lain, bagaimana Luna mende sah, membuatnya jijik dan muak. Hingga dia tidak sanggup menyentuh perempuan mana pun setelahnya. Dalam bayangannya, semua perempuan menjadi mirip dengan Luna yang berkhianat di depannya.
Arki membenci kepercayaannya dirusak seperti itu. Padahal apa yang tidak dia lakukan sebagai kekasih? Dia selalu menyediakan waktu, memperhatikannya, memanjakannya, memenuhi kebutuhannya. Tapi Luna malah mengatakan bahwa Arki adalah laki-laki egois, seorang monster menakutkan yang membelenggunya. Luna ingin bebas dan pergi bersama laki-laki yang bisa memberikannya ruang untuk menjalin hubungan dengan sehat. Omong kosong macam apa itu?!
“Tapi lo bakal nikah sama Gita, Ki. Ular lo gak bisa berpetualang dan lo gak akan punya kesempatan buat menyembuhkan keanehan lo itu,” kata Rio membuyarkan lamunan Arki.
“Siapa bilang? Justru bukannya Gita yang bikin ular gue bisa ganas gitu?” Arki tersenyum menatap Rio dengan tatapan penuh perhitungan.
“Tapi kan lo bilang gak yakin kalau kalian sampe ngelakuin itu?”
__ADS_1
“Tinggal gue buktikan lagi pas udah kawin, kan?” Arki terkekeh. “Malam itu gue tahu, kita gak sekedar ciuman doang. Meskipun entah sejauh mana ingatan gue ini bisa dipercaya. Sama mantan-mantan gue gak pernah sejauh itu soalnya. Anggap aja ini gambling, kalau ternyata Gita satu-satunya cewek yang bisa bikin gue bergairah. That’s good. Kalau ternyata anak itu bukan anak gue, tinggal gue ceraikan Gita. Gampang, kan?” ucap Arki yang tidak mau pusing.
Sejak sebulan lalu dia memang sangat penasaran mengenai apa yang terjadi dengan dirinya bersama Gita. Apakah dengan bersama perempuan itu, Arki akan merasakan kembali momen seperti masa lalu, dimana dia tidak takut untuk menyentuh seorang perempuan?
Dia akan membuktikannya sendiri tidak lama lagi. Setelah mereka menikah, akan banyak kesempatan untuknya melakukan itu bersama Gita.
...****************...
Gita dan Mia menunggu seseorang sejak setengah jam yang lalu di kantin Rumah Sakit Bunda Medika, namun orang yang dimaksud belum juga muncul. Mia sampai menghabiskan 2 gelas jus mangga karena bosan menunggu lama.
Akhirnya orang yang ditunggu tiba. Senyuman merekah melihat kedua teman lamanya itu yang sudah jarang sekali ditemui. Padahal, mereka sangat dekat ketika masa SMA.
Perempuan tambun itu langsung duduk di salah satu kursi kosong. Gita tidak menghabiskan banyak waktu untuk berbasa-basi dan menceritakan maksud kedatangan mereka.
“Tuh kan, gue bilang juga apa, Git? Lo itu udah gak waras. Pintu hati lo udah tertutup gara-gara kemiskinan,” kata Mia menyetujui Nadia. Padahal kemarin, dia sudah berada dipihak Gita.
“Malsuin surat-surat hasil tes dan hasil USG itu gak sulit loh, Nad. Lo tinggal ganti pake nama gue, cetak pas rekan lo pada gak ada. Gampang, kan?” ujar Gita menyepelekan.
“Mata lo gampang! Gue mempertaruhkan profesi dan nama instansi ya. Gak bisa sembarangan malusin hasil kayak gitu. Lo mau dituntut karena itu?”
“Ini gak lama, Nad. Paling cuma dua tau tigak bulan. Kan ibu hamil juga gak kontrol tiap minggu dong? Paling lo nyiapin 4 atau 5 hasil USG, hasil lab, atau apapun lah itu.”
“Gak mau!”
__ADS_1
“Gue bakal bayar lo berapa pun. Gaji lo disini gak terlalu gede juga, kan?”
“Biarpun gaji gue kecil, gue tetep mempertahankan integritas gue sebagai perawat ya! Gue gak mau mempertaruhkan kerjaan dan karir yang gue bangun tanpa orang dalam demi duit yang bakalan habis sekejap.”
“Susah, udah gue bilangin dia dari kemarin, Nad. Kalau si Gita ambisnya udah kambuh, jalan penuh beling aja dia injek. Kuda lumping kalah sakti,” komentar Mia geram dengan keteguhan Gita untuk melakukan penipuan.
“Lo temen yang gak bisa diharapkan!” ucap Gita kesal kemudian pergi meninggalkan kedua temannya.
Memang mudah mengatakan bahwa perilakunya ini salah saat mereka punya pekerjaan, keluarga yang lengkap dan baik, serta tidak memiliki utang yang menghantui. Gita rela disebut penjahat karena ini. Asalkan semua utangnya lunas dan beban beratnya terangkat.
Gita memasuki kamar kosan yang cukup nyaman. Malah sangat luar biasa nyaman dibandingkan kamar di rumah lama yang sudah ditinggalinya selama 25 tahun, atau kamar Mia sekalipun. Kasur empuk yang wangi, AC yang sejuk, dan pemandangan dari jendela yang cukup memuaskan. Semua ini dia rasakan berkat Arki, yang langsung mencarikannya tempat tinggal sementara saat terakhir mereka bertemu.
Dia tidak ingin Gita menumpang di rumah Mia lagi dan merepotkan keluarga itu. Gita lantas berpamitan pada keluarga Mia, mengatakan dia sudah mendapatkan pekerjaan dan akan tinggal sendiri di dekat kantornya. Untung saja mereka percaya.
Arki dengan sigap menghubungi temannya yang memiliki usaha kos-kosan mewah di pusat Jakarta untuk menyediakan satu kamar untuk Gita. Apalagi Gita diberikan beberapa juta uang pegangan sementara dia menganggur. Benar-benar kebaikan dan kekuatan uang yang luar biasa.
Gita jadi mempertimbangkan lagi keputusannya mengenai hubungannya dengan Arki nanti, seperti yang Mia katakan. Haruskah dia terus hidup bersama laki-laki seperti Arki?
Tapi Gita tidak mau nanti Arki menyentuhnya, apalagi dia suka memesan perempuan sembarangan dan bermain dengan mereka. Gita tidak suka laki-laki yang suka celap celup dan liar seperti itu.
__ADS_1