Istriku Penipu

Istriku Penipu
Berkumpul


__ADS_3

Harum aroma masakan menguar ke seluruh ruangan, membuat Arki terbangun. Beberapa saat dia mengerjap-ngerjap sambil duduk di kasur, mengumpulkan kesadaran yang masih tercecer. Dia bangkit dari sana, mengambil kaos yang tergeletak begitu saja di lantai dan memakainya.


Semalam memang tidak terjadi apa-apa. Setidaknya untuk Gita. Arki masih mempertahankan kewarasannya untuk tidak menyerang istrinya yang masih sakit itu. Lagipula mereka belum berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan lampu hijau agar aktivitas menyenangkan bisa dilakukan.


Hanya Arki saja menikmati momen semalam. Sudah lama dia tidak melepaskan hasratnya yang sudah lama tertidur. Sedikit sentuhan dan bantuan dari istrinya sudah cukup untuk membuatnya lebih segar. Dia tidak perlu uring-uringan lagi selama beberapa hari ke depan.


Arki keluar dari kamar. Sekarang hatinya terasa hangat melihat pemandangan yang dilihatnya dari dapur. Bukan sosok tinggi gondrong atau laki-laki berkacamata dengan wajah masam yang dilihatnya kali ini. Melainkan Gita. Perempuan cantik yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuknya.


Hal seperti inilah yang selalu ingin dilihat Arki setiap pagi, seumur hidupnya. Pelukan hangat Arki tujukan pada tubuh mungil istrinya. Dia mengecup tengkuk mulus dengan anak rambut yang terurai dari kepangan. Gita merasa kaget dan geli sekaligus. Tapi tidak memprotesnya.


“Aku sebenarnya pingin kamu istirahat yang banyak. Tapi aku kangen masakan kamu,” bisik Arki di ceruk leher Gita.


Suara dalam dan berat sehabis bangun tidur itu membuat Gita tersenyum. Dalam hatinya merutuki diri sendiri karena berpikir yang tidak-tidak. Arki terdengar sangat seksi saat berbicara. Bolehkah dia berpikir macam-macam pada suaminya sendiri?


“Aku udah gak apa-apa. Lagian seminggu kemarin aku tiduran terus sampai pantatnya pegel,” balas Gita.


“Kalau gitu mau aku pijat pantatnya?”


“Arki! Jangan mulai ya pagi-pagi! Aku lagi masak nih!”


“Justru yang kayak gitu mulainya pagi-pagi. Biar jadi semangat seharian,” goda Arki kemudian mengecup pipi Gita.


Gita menghempaskan pelukan Arki yang bergelayut manja di tubuhnya. Saat ini dia sedang sibuk membuat sarapan. Tidak mau mengurusi kemesuman suaminya pagi-pagi. Lagipula Arki sudah mendapatkan sedikit kepuasan tadi malam.


“Kamu gak akan nyari kerjaan setelah ini?” tanya Gita tiba-tiba. Melihat Arki begitu santai duduk-duduk di meja makan dan terlihat seperti pengangguran.


“Hmm?” Arki memiringkan kepalanya agak bingung. “Kenapa emangnya?” lanjutnya.


“Kamu ... gak akan kerja lagi? Mau tinggal di rumah aja?” tanya Gita lagi bersitatap sejenak dengan Arki yang masih tampak tidak peduli.


“Kamu takut aku jadi pengangguran terus jadi miskin?” kata Arki dengan tenang. “Kalau aku jadi miskin kamu masih sayang sama aku gak?” lanjutnya sambil tersenyum.

__ADS_1


“Aku cuma gak suka sama laki-laki gak bertanggung jawab, yang gak peduli keluarga dan pemalas.” Gita menaruh makanan yang dimasaknya tadi di meja makan. Kemudian duduk bergabung dengan Arki disana.


“Menurutmu aku kayak gitu?”


“Gak tahu. Tapi kalau kamu jadi malas-malasan kerja karena udah merasa kaya. Aku bakal kesel banget sama kamu. Soalnya aku gak suka laki-laki manja yang gak berusaha dan hanya hidup dari kekayaan orang tuanya.”


Arki terkekeh. “Aku gak merasa hidup manja dan manfaatin kekayaan orang tuaku, apalagi dari uang Arya. Ibu membiayai dan membesarkan aku sendirian tanpa bantuan Arya. Meskipun setiap bulan Arya memang ngasih uang buatku sih. Tapi uang itu lebih banyak dipakai buat ngurus Aditya. Aku berusaha sendiri buat mencapai karir seperti sekarang. Meskipun harus diakui, kadang aku pakai nama Wibisana buat memuluskan jalan,” ucap Arki menjelaskan.


Gita tidak membalas. Dia hanya menatap makanan di depannya. Bukan maksudnya untuk menuduh Arki anak manja atau pemalas. Sejak dulu pun Gita tahu Arki adalah sosok kompeten yang sangat profesional dalam bekerja.


Hanya saja terasa asing melihatnya sangat santai seperti sekarang. Apalagi selama seminggu kemarin dia seperti tanpa beban apapun menemaninya. Sepanjang hidupnya, Gita selalu berpikir, jika dia harus bekerja untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan hidup. Dia tidak ingin pasangannya menyepelekan masalah finansial hanya karena berasal dari keluarga kaya raya.


“Aku dua bulan ini gantiin Arya di perusahaan. Tapi kemarin sudah mengajukan pengunduran diri sama board of director. Adrian bakal langsung menggantikanku di sana. Jadi sampai akhir bulan ini aku masih kerja. Harusnya. Tapi lagi-lagi Adrian yang udah beresin masalah kerjaanku. Jadi aku bisa santai-santai. Ada adik yang ambisius, kenapa gak dimanfaatkan, iya kan?” ucap Arki santai. “Tenang aja, aku nanti cari kerja, biar gak dikira pengangguran sama tetangga,” lanjutnya sambil terkekeh.


“Aku gak bermaksud bilang kamu kayak pengangguran.”


“Gak apa-apa. Aku ngerti kok. Nanti pasti bosen banget kalau kebanyakan di rumah, gak ketemu orang dan gak kerja. Tapi buat kamu gak akan aku izinkan kerja dulu sampai anak kita masuk usia sekolah. Gak ada tawar menawar!” kata Arki memperingatkan.


“Aku pernah denger sekilas tentang Adrian dari Luna. Tapi gak pernah ketemu. Dia juga adik lain ibu kayak Aditya? Kok pas pernikahan kita mereka berdua gak datang?” tanya Gita mengalihkan pembicaraan.


“Kita bertiga gak begitu dekat sih. Katanya Aditya mabok sampai pagi jadi dia gak datang ke pernikahan kita dan Adrian gak aku undang. Oh ya, nanti agak siangan aku mau ngajakin kamu pergi.”


Sekitar pukul 10 pagi, mereka sudah bersiap dan memasuki mobil untuk pergi. Arki pagi-pagi tadi sudah menceritakan sekilas tentang kunjungan mereka sekarang. Perasaan tidak nyaman kini menghinggapi hati Gita.


Saat sudah tiba di tempat tujuan dan memandang pintu berwarna putih dihadapannya, Gita kian was-was. Kenangan buruk berputar dikepala membuatnya gugup seketika. Tapi Gita tidak mungkin membiarkan Arki terus menghindari pertemuan ini. Apa yang sudah dia lakukan sangat salah. Semua masalah mereka harus segera diselesaikan.


Arki membuka pintu tersebut. Tampak seorang pria yang berbaring lemah di ranjangnya. Entah sejak kapan pria tersebut begitu tampak tua, dengan kulit yang berkerut-kerut pucat dan rambut beruban yang kian subur di kepala. Dia menatap nanar pada mereka yang baru muncul diambang pintu.


Seorang perempuan tampak kaget dan lekas menghambur memeluk Gita. Ela menangis seraya menghujaninya dengan pertanyaan dan menanyakannya kabar. Kerinduan luruh seketika saat mereka saling berpelukan.


“Ayah seneng kamu akhirnya mau datang,” kata Arya terdengar lemah.

__ADS_1


Arki hanya bergumam dan duduk di kursi samping ranjang. Menatap ayahnya yang sudah berusia lanjut dimakan usia. Padahal tidak berapa minggu yang lalu masih terlihat gagah dan muda.


Dokter mengatakan ayahnya memang sempat bermasalah dengan jantungnya. Tapi pola hidupnya yang sehat membuatnya terhindar dari penyakit parah tersebut lebih lama. Namun, keisengan ketiga anaknya membuat penyakit tersebut kambuh tiba-tiba dengan tingkat keparahan yang rupanya cukup mengkhawatirkan.


“Ayah mau minta maaf sama kamu dan Gita,” katanya tanpa berbasa-basi.


“Aku dan Gita udah maafin ayah. Jangan mengatur dan maksain sesuatu sama aku atau orang lain lagi. Berhenti bersikap seolah orang paling benar di dunia ini,” balas Arki.


Arya terkekeh. “Ayah udah gak punya tenaga lagi buat ngatur apa-apa. Sekarang giliran kalian yang mengatur sendiri hidup kalian sendiri. Harusnya memang seperti itu dari dulu.”


“Sekarang fokus aja sama penyembuhan. Aku juga mau minta maaf karena udah melakukan hal sampai sejauh ini.”


Arya mengulurkan tangannya pada Gita yang masih berdiri agak jauh darinya. Sesaat Gita ragu. Meskipun akhirnya dia menyambut uluran tangan tersebut hingga dia berdiri dekat ke sisi ranjang.


“Adrian bilang Basuki mukulin kamu sampai masuk rumah sakit. Meskipun itu di luar perintah, ayah mau minta maaf sama kamu. Arkian benar-benar sayang sama kamu, gak ada yang bisa menang kalau dia udah keras kepala kayak gitu. Kalian hidup yang rukun dan damai aja sekarang. Ayah gak mau ganggu pilihan Arkian. Dia lebih tahu siapa yang pantas buatnya.”


Gita tersenyum dan mengangguk. Tidak menyangka pria arogan yang menyebutnya tidak pantas karena bukan berasal dari keluarga kaya, kini melunak juga hatinya. Mungkin perbuatan ketiga anaknya itu menjadi sebuah pengingat untuk tidak berbuat semena-mena terhadap orang lain. Gita merasa senang karena sudah diterima oleh ayah mertuanya.


“Tapi kenapa Basuki kok tega menganiaya Gita tanpa perintah Mas Arya?” tanya Ela heran.


“Basuki habis dipecat sama ayah karena sentuh ceweknya. Dia pikir dengan melenyapkan Gita yang sedang hamil, bisa menjadi jalan biar bisa kembali dipercaya sama ayah. Soalnya ayah yang dulu pasti gak mau cucu yang dikandung Gita, kan?” jawab Arki.


Ela dan Arya terdiam, saling berpandangan sejenak. Kemudian mengalihkan tatapan pada Gita. Ekspresi mereka terlihat kaget kemudian berubah cerah.


“Gita hamil? Kok gak ada yang bilang sama ibu?” kata Ela tampak sangat senang.


“Sengaja. Biar ibu gak nyulik Gita dulu buat nginep sama ibu. Soalnya aku masih kangen—AAW!”


Ela mendaratkan tamparan di punggung Arki. Membuat anaknya itu mengaduh kesakitan.


“Ibu gak suka nyulik orang! Tuh bapakmu yang suka begitu!”

__ADS_1


__ADS_2