Istriku Penipu

Istriku Penipu
Pilihan Lain


__ADS_3

Suhu tubuh Gita sudah mulai turun setelah minum obat. Sekarang dia tidur dengan nyenyak. Arki membereskan handuk untuk kompres hangat di tubuh Gita. Sejak dua jam yang lalu, dengan tekun Arki mengompres dahi dan leher untuk membantu menurunkan demam. Dia bahkan belum beristirahat semenjak tiba dari Bandung.


Beberapa panggilan telepon Arki jawab setelah memastikan kondisi Gita mulai membaik. Kepala kantor cabang sempat khawatir Arki memberi penilaian jelek pada audit kali ini karena dia tiba-tiba pergi. Setelah menjelaskan keadaan dan meminta maaf, masalahnya cepat teratasi.


Arki menyesal mengabaikan pekerjaan pentingnya dan pergi tanpa mengabari. Perilaku yang jauh dari kata profesional. Namun, entah kenapa kekhawatirannya berpacu hebat saat tidak tahu keadaan Gita ketika sakit.


Nalarnya berimajinasi liar hingga tidak berpikir rasional. Jika dia sedikit saja tenang, mungkin Arki akan mengecek Gita lewat orang kepercayaannya atau bahkan menelepon ibu dan tantenya untuk memeriksa.


Gita tidak terbangun bahkan hingga pukul 21.25, saat Arki sudah menyelesaikan pekerjaannya yang tertinggal dan membersihkan diri untuk tidur. Perempuan itu terus terlelap seperti mati suri. Bahkan Arki sampai mengecek sejenak apakah Gita masih bernapas atau tidak. Untungnya dia masih hidup.


Selama tiga hari dua malam, Arki merindukan mendekap tubuh Gita. Sekarang dia dengan puas memeluknya. Meskipun saat ini Gita terkulai lemah seperti boneka kain.


Senyuman tidak bisa berhenti tersungging dari wajahnya saat mendekap erat dan mencium kepala istrinya. Arki senang punya mainan baru yang menyita waktu dan perhatiannya. Meskipun kadang merepotkan.


Tanpa sadar jemarinya menelusup kaos yang Gita kenakan, hingga menyentuh punggung hangat dan lembut itu. Sensasi yang hilang selama beberapa hari dan harus digantikan oleh bantal hotel yang tidak sebanding dengan ini.


Gita membuka matanya perlahan, terganggu dengan sesuatu yang dingin menembus kulit punggungnya dan aroma parfum masukulin yang menggelitik penciumannya. Kehangatan yang aneh juga menjalar melingkupi tubuhnya.


“Jangan sekarang, aku lagi lemes dan pusing!” ucap Gita lemah dan terdengar serak, mencoba menyingkirkan lengan Arki yang menelusuri punggungnya.


“Aku gak akan ngapa-ngapain. Cepetan tidur lagi kalau masih pusing!” bisik Arki.


“Bohong. Lepasin tangan kamu!” rengek Gita.


“Aku gak bohong. Aku bakal ngapa-ngapain kamu pas sehat nanti. Tidur yaa,” balas Arki sambil terkekeh.


Gita mengangguk dan menurut. Dia tidak bergerak-gerak atau menolak lagi. Terkadang Gita memang menggemaskan seperti ini.


Andai saja Gita terus menurut seperti sekarang, Arki mungkin akan mempertimbangkan untuk jatuh cinta padanya. Meskipun dia sudah tidak tahu bagaimana caranya memberikan hati.


...****************...


Arki turun dari lift ke lobby, setelah menerima panggilan dari resepsionis bahwa seseorang sedang mencarinya. Kedatangan orang tersebut membuatnya memakan bekal makan siang dengan cepat. Padahal dia sedang menikmati setiap gigitan bekal nikmat yang dibawakan Gita.


Seorang laki-laki berumur 40 tahunan dan berpakaian rapi langsung berdiri dari sofa saat Arki menghampiri. Dia tersenyum dan menunduk dengan hormat.

__ADS_1


“Mas Arkian, apa kabar?” sapa Basuki, orang kepercayaan Arya.


Arki menghela napas, menyuruh Basuki duduk kembali di sofa dan bergabung disana. “Ada apa sampai jauh-jauh kesini?” balas Arki tidak senang dengan kehadiran Basuki, bukan karena membenci laki-laki santun itu.


Sejak dulu dia senang dengan kepribadian Basuki. Namun dia adalah kaki tangan ayahnya, yang datang pada Arki ketika mengabarkan sesuatu yang menyebalkan untuknya.


“Saya disuruh Pak Arya buat ngasihin ini,” ujarnya menyerahkan amplop cokelat besar pada Arki.


“Apa nih?”


“Mas Arkian buka sendiri aja nanti. Tolong ditelaah baik-baik dan dipertimbangkan.”


“Jauh-jauh kesini cuma buat ngasihin ini doang? Kenapa gak pakai email aja sih? Title-nya aja bos besar, giliran ngasih informasi masih pake amplop cokelat kayak lamar kerja,” gerutu Arki.


Basuki tersenyum mendengar komentar tersebut. “Kata Bapak, biar Mas Arkian baca. Kalau email nanti gampang dihapus. Gak sempat dibaca dulu.”


“Ini amplopnya udah pasti langsung aku buang kok.”


“Jangan dong, Mas Arkian! Saya udah repot-repot kesini loh. Tolong dibaca dulu dan dipertimbangkan. Nanti hubungi saya. Masih punya nomor saya kan, Mas?”


Arki mengangguk. Dia tidak tega menolak permintaan Basuki. Hanya karena Basuki mendapatkan respect darinya, bukan karena tertarik dengan apapun rencana atau isi amplop yang dikirimkan oleh ayahnya.


Beberapa lembar dokumen berisi identitas beserta foto di susun sekian rupa seperti sebuah CV. Perempuan cantik dengan latar belakang luar biasa dan berasal dari keluarga kaya raya siap dipilih oleh Arki. Rupanya Arya benar-benar serius mengatakan akan menjodohkannya.


Arki membaca dan menelaah data setiap perempuan dalam amplop tersebut. Semuanya perempuan berkualitas tinggi dan cantik. Beberapa diantaranya menarik perhatian Arki.


Dia harus mengakui bahwa perempuan yang ditawarkan padanya itu menarik. Meskipun hingga kini Arki belum tahu apakah masalah ranjangnya hanya bisa diselesaikan dengan Gita, atau dia bisa mencicipi perempuan lain setelah keanehannya itu sembuh. Saat ini Arki hanya bisa menebak saja.


Dua identitas dia simpan di lacinya, sementara yang lain segera disingkirkan ke tempat sampah. Menikah dan memiliki anak dari perempuan yang memiliki asal usul yang jelas tidak ada buruknya, seperti yang ayahnya katakan.


Lagipula, Arki tidak pernah tertarik untuk melakukan hubungan jangka panjang dengan Gita. Dia hanya akan menikmati perempuan itu hingga bosan. Sampai keanehan dalam dirinya sembuh, kemudian membangun keluarga bersama perempuan yang selevel dengannya.


Pada akhirnya dia akan melepaskan Gita, seperti keinginan perempuan itu. Bercerai. Tentu saja setelah Arki puas dengan pelayanan yang Gita berikan.


Tapi sebelum itu bisa dilakukan, Arki harus memastikan sesuatu malam ini. Arki lekas mengambil gawainya dan melakukan panggilan telepon.

__ADS_1


“Kamu udah baikan?”


“Udah kok. Aku gak demam lagi dan baik-baik aja. Dari pagi aku istirahat,” jawab Gita.


Tubuhnya sudah segar kembali seperti sedia kala. Arki sepertinya mengirimkan surat izin dokter untuk beristirahat selama tiga hari ke kantor. Jadi, Gita bisa sedikit bersantai hari ini dan besok. Dia tidak tahu darimana Arki mendapatkan surat dokter tersebut, kemarin Gita hanya tidur seharian dan tidak pergi kemana pun.


Tapi Gita sepertinya harus berterima kasih pada Arki. Dia sudah merawatnya yang jatuh sakit lagi untuk kesekian kali. Apalagi kemarin dia sampai pulang lebih awal dari jadwalnya. Kemudian merawatnya dengan baik.


Gita jadi bingung sendiri, sebenarnya mana Arki yang asli. Si pemarah dan tukang mengatur, atau si pengertian dan baik hati. Benar-benar orang yang sulit ditebak.


“Bagus kalau gitu. Oh ya, aku ada hadiah buat kamu di laci meja ruang kerjaku. Sana lihat sekarang!”


“Di laci meja ruang kerja?”


“Hmm.. Kotak warna biru.”


Gita kemudian berjalan menuju ruang kerja Arki. Mencari-cari barang yang dimaksud. Apakah oleh-oleh dari perjalanan bisnisnya? Gita seketika menjadi tidak sabar.


Sebuah kotak berwarna biru berukuran sedang ditarik dari laci. Perasaannya sangat senang dan berdebar. Jangan-jangan Arki memberinya seperangkat perhiasan mahal. Gita tidak bisa berhenti tersenyum.


Saat membuka kotak hadiah tersebut, Gita tertegun sesaat. Senyumnya seketika hilang. Ditariknya seutas gaun malam berwarna merah dari dalam. Terbuat dari bahan yang transparan, dengan bagian belakang yang terbuka, sangat mini, tidak mungkin bisa menutupi tubuhnya.


“Udah dibuka?” ucap Arki yang masih tersambung di telepon.


Gita tidak menjawabnya. Hatinya mencelos kecewa. Ketakutan seketika muncul membajak pikirannya.


“Kamu gak lupa kan kalau punya utang dan ganti rugi yang harus kamu bayar? Kemarin malam harusnya kita melakukannya. Sayangnya kamu sakit. Tapi sekarang kamu udah sehat, kan?”


Gita masih tidak menjawab. Air mata seketika turun tak terbendung. Tangannya menjadi dingin karena gugup. Penilaian baiknya pada Arki karena merawatnya kemarin langsung menghilang digantikan kebencian.


“Arki, aku—”


“Jangan bilang sakit lagi. Tadi kamu bilang udah baik-baik aja. Awas kalau kamu cari-cari alasan! Kamu lupa aku bisa laporkan kamu dan temanmu kapan aja? Semua bukti sudah aku serahkan ke pengacaraku. Kalau kamu kabur atau lari, aku akan telepon pengacaraku untuk bikin laporan ke kepolisian secepatnya.”


Gita menggigit bibir bawahnya karena gugup. Mencoba menghentikan tangis dan ketakutan yang menghantam hebat saat ini.

__ADS_1


“Aku pulang agak malam, sekitar jam delapan. Ada acara makan malam dari perusahaan. Jangan lupa dandan cantik dan pakai bajunya pas aku pulang,” ucap Arki menjelaskan. “Sampai jumpa nanti malam, Gita!” lanjutnya seraya tersenyum puas. Kemudian menutup teleponnya.


 


__ADS_2