
Kenapa Gita sampai pada sebuah keputusan besar untuk membohongi Arkian Wibisana? Jawabannya karena sangat terdesak, lelah, frustrasi, dan bingung semua masalahnya tidak berangsur hilang.
Setelah menyeleseikan utang dengan pinjol, yang membuat Mia mengorbankan uang pendaftaran kuliah ekstensinya. Kini Gita dihadapkan pada waktu tenggat pembayaran cicilan bank.
Bulan lalu dia bisa lolos karena mendapatkan uang pisah setelah resign dari perusahaan lama. Sekarang Gita sama sekali tidak memegang uang sepeserpun.
Dia tidak mau jika kali ini Mia atau keluarganya terlibat dalam masalah itu lagi. Mereka sudah cukup baik dengan menampung Gita dan memberinya makan tiga kali sehari secara gratis. Sungguh tidak tahu diri jika Gita meminjam uang pada keluarga tersebut.
Pesan otomatis yang dikirimkan oleh pihak bank mengenai waktu pembayaran yang akan dilakukan secara autodebet terus bermunculan di ponsel Gita. Saat sedang menghapus pesan-pesan tersebut, tidak sengaja Gita menemukan kembali pesan yang dikirimkan oleh Arki sebulan yang lalu. Tentang janjinya yang akan melakukan apa saja termasuk ganti rugi atas perilaku tidak senonohnya itu.
Gita memikirkan ulang mengenai ide untuk mengambil keuntungan dari Arki. Jika Arki hanya akan mengganti rugi seharga utang Gita ke bank--yang kemungkinan besar tidak akan disetujuinya, tidak akan ada yang berubah dari hidupnya. Gita akan tetap miskin, pengangguran, menumpang hidup di rumah orang lain.
Bayangkan jika Gita bisa hidup seperti Arki, merasakan sebentar tinggal di dunia yang berbeda dari kelas ekonomi sosialnya sekarang. Impian yang sudah lama Gita pendam. Jawaban dari itu hanyalah dengan menipu Arki dan menikahinya. Alasan yang tidak mungkin seorang Arkian Wibisana tolak adalah dengan mengatakan bahwa perbuatannya dulu telah merusak masa depan Gita, dengan hamil anaknya.
“GILA! GAK WARAS LO, GIT!” maki Mia mendengar penuturan Gita tentang apa yang sudah dia lakukan hari ini pada Arki, berbohong bahwa dirinya hamil dan meminta pertanggungjawaban.
“Lo sendiri kan yang bilang kalau gue gak bisa jadi penggoda atau simpenan, ya jadi penipu aja. Gue ikutin saran lo, Mi.” Gita tertawa senang. Baru kali ini dia merasakan kemenangan dalam hidupnya.
“Ya maksud gue gak… gue cuma bercanda doang waktu itu, Git.” Mia kehilangan kata-kata melihat kelakuan sahabatnya. Dia jadi bertanya-tanya apakah Gita menjadi seliar dan sejahat ini gara-gara pengaruh jelek darinya?
__ADS_1
“Mi, gue bosen hidup miskin. Gue mau manfaatkan kesalahan Arki buat keuntungan gue, apa salahnya sih?”
“Tapi gak bilang lo hamil juga kali, Git. Terus abis ini lo bakal kayak gimana nutupin kebohongan lo? Padahal lo tinggal minta ganti rugi duit sama dia aja, udah. Dia pasti kasih.”
“Utang gue 400 juta ke bank, Mi. Seharga KPR subsidi. Gue tahu Arki kaya, tapi bukan anak konglomerat yang bakal ngasih gue duit ganti rugi segede itu, cuma untuk kesalahan kecil ga senonoh yang dia lakuin. He is not some kind of wealthy a f boy, CEO of some s h i t, or golden spoon heirs, dia cuma pekerja kantoran middle class keatas yang kaya karena kerja. I knew him.”
“Terus setelah lo kawin sama dia, lo pikir dia bakal bisa bayarin utang lo?”
“Udah pasti, karena dengan dengan status pernikahan tanpa perjanjian pranikah, artinya utang gue adalah utang dia juga. Gue yakin sebenernya Arki mampu bayar sebesar itu, tapi cuma kalau gue nikah sama dia. Kalau kita gak nikah, dia gak mungkin reckless ngeluarin duit ganti rugi sebesar itu.”
“Gue gak paham, Git. Kenapa sampe sejauh ini sih?”
“Gue harus ngelakuin sampai sejauh ini, Mi. Dia audior hebat, ngerti tentang finance, ngerti keuangan, ngerti gimana cara duit bekerja dan dia juga pasti tahu intensi gue soal duit, dia pasti tahu kalau gue bakal manfaatin duit dia. Tapi dengan ngasih tahu kalau gue hamil. Dia gak punya pilihan lain selain nikah sama gue dan biarin gue mengakses kehidupan finansial dia buat keuntungan gue.”
“Tapi lo gak hamil, Git. Lo gak akan ngelahirin bayi dia.”
“Gue gak akan jadi istri dia sampai gue ngelahirin, Mi. Gue bakal bikin skenario soal keguguran biar dia gak nanya lagi soal bayinya. Gue nikah sama dia cuma beberapa bulan aja, sampai utang gue dia lunasi, sampe gue dapat menguras harta dia, abis itu kita cerai. Gue juga bakal dapat harta gono-gini setelah itu, kan? Gue masih tetap untung banyak.”
Mia melongo mendengar semua strategi yang dijelaskan oleh Gita. Anak ini benar-benar sudah memikirkan mengenai rencananya. Dia dibuat tak bisa berkata-kata dengan ide tidak waras yang digagas sahabatnya itu.
__ADS_1
“Emang bener ya, kalau orang pinter dikasih bibit jahat bakal licik banget,” ujar Mia mengomentari pemikiran Gita.
“Banyak koruptor yang lebih licik. Apa salahnya gue sedikit menghukum cowok yang kurang ajar sama gue?”
“Tapi, apa lo gak takut ketahuan? Kalau karirnya secemerlang itu udah pasti dia pinter. Dia pasti bisa bongkar semua kebohongan lo.”
“Gue butuh banyak bantuan lo buat ini, Mi.” Gita menatap Mia dengan penuh pengharapan.
“Gue takut, Git. Kalau dia nanti lapor polisi karena lo bohongin dia gimana?”
“Tenang aja. Gue udah pikirin ini mateng selama 3 hari 3 malam. Gue udah melakukan banyak riset biar kehamilan palsu gue gak ketahuan. Asal lo bantuin gue ya, Mi?”
Mia menatap sahabatnya itu, sangat ragu untuk mengiyakan permintaannya yang sangat tidak masuk akal itu. Tapi mau bagaimana lagi, Gita memang sedang sangat membutuhkan banyak uang. Mungkin dengan rencananya ini, semua masalahnya bisa terselesaikan. Akhirnya Mia menyanggupi permintaan Gita, meskipun enggan.
“Git, kalau si Arki emang ngasih lo duit dan kenyamanan hidup dengan nikah sama dia. Kenapa gak lo lanjutin aja nikah sama dia setelah lo pura-pura keguguran? Lo bisa hidup enak selamanya.”
“Maksud lo, gue harus beneran jadi istri dia, gitu? Najis! Gue gak mau jadi istri dia dan disentuh sama tangan mesumnya itu! Kejadian malam itu belum gue lupain ya! Gue masih trauma sampe sekarang," kata Gita menyalak galak.
“Kan lo bilang kejadian itu diluar kesadaran dia. Kalau nanti lo jatuh cinta sama dia, bukannya malah lebih bagus?”
__ADS_1
Gita memandang temannya itu dengan ekspresi jijik. “Gak! Gue udah illfeel duluan sama dia. Ogah banget jatuh cinta sama dia, apalagi dia suka jajan. Lo lihat sendiri kan di rekaman CCTV? Dia manggil dan main sama cewek murahan.”
Mia Cuma menggelengkan kepala. “Semoga lo gak kena karma, Git!”