Istriku Penipu

Istriku Penipu
Jejak Arki


__ADS_3

Gita akhirnya memulai usaha membuka kedai kecil di dekat kampus Risa, yang menyajikan makanan kekinian yang digemari mahasiswa dengan harga yang terjangkau. Setelah lepas dari pengawasan orang-orang Arya, Gita tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk pindah dari rumah yang Arya berikan.


Selain pertimbangan keamanan karena takut terseret masalah dengan keluarga Wibisana kembali, rumah tersebut berada di daerah pelosok yang cukup sepi. Sangat sulit jika membuka usaha kedai makan di sana.


Akhirnya mereka memilih untuk membeli ruko yang mereka ubah menjadi kedai makan di lantai 1 dan tempat tinggal di lantai 2. Dengan kecakapan Risa yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman, banyak sekali mahasiswa di kampusnya yang datang ke kedai tersebut.


Pembeli juga banyak yang memuji makanan yang disajikan di sana. Selama satu bulan berjualan, banyak sekali mahasiswa yang datang hingga Gita kewalahan dan terpaksa merekrut karyawan untuk membantunya.


Tapi Gita sangat senang, kini hidupnya terasa lebih baik dibandingkan sebelumnya. Apalagi hubungannya dengan Risa menjadi lebih baik setelah kepergian ibu tirinya sebulan lalu. Banyak sekali perubahan pada gadis remaja itu. Sekarang mereka saling mendukung, membantu dan menguatkan.


“Kayaknya kita harus tambah orang lagi deh, Bu Gita,” kata Heni—karyawannya—yang sedang mempersiapkan bumbu halus untuk berjualan besok.


“Iya bener. Aku gak bisa bantuin terus nih sekarang, banyak tugas. Kalau makin rame kayak gini, aku nanti gak bisa konsentrasi kuliah gara-gara mikirin kesai kita.” Risa menyetujui usulan Heni.


“Siapa yang dulu bilang mau bantuin, hah? Sekarang malah nyerah. Dasar tukang bohong!” kata Gita menoyor kepala Risa.


“Idih, kan aku dulu gak tahu kalau tugas anak kuliahan sebanyak ini. Lagian Mbak Gita juga tukang masak tapi gampang tumbang gini. Dikit-dikit pusing. Dikit-dikit lemes. Gimana mau maju kedainya?!” balas Risa membela diri.


Gita hanya mendelik sebal pada Risa sambil merebahkan diri di sofa. Dia akhir-akhir ini semakin mudah lelah dan pusing. Mungkin karena baru pertama kali bekerja sebagai juru masak dan menggunakan tenaganya setiap hari. Terpapar panas api kompor dan sangat sibuk menerima pesanan.


Biasanya Gita hanya bekerja dibalik meja kantor dengan ruangan ber-AC. Gita menjadi kagum pada Mia yang bekerja di dapur, bahkan sekarang membuka warung makannya sendiri.


Pikiran tentang Mia membuat Gita menjadi sangat sedih. Sekarang dia tidak bisa menghubungi sahabatnya lagi. Dia juga mungkin sudah tahu tentang kabar kematian Gita.


“Bu, saya punya keponakan, cewe, yang lagi nyari kerja juga. Kalau Bu Gita mau nambah orang. Nanti saya suruh dia datang,” ucap Heni mengusulkan dan mempengaruhi lagi.


Gita berpikir sejenak, menimbang dan mengkalkulasikan mengenai biaya yang harus dia keluarkan untuk merekrut orang baru. Tapi saat ini dengan kapasitasnya yang sekarang, Gita tidak akan sanggup menerima pesanan pelanggan yang datang untuk makan di tempatnya.


“Suruh kesini aja deh, Bu. Besok pagi langsung ikut bantu-bantu.” Gita menyerah akhirnya.


“Siap, Bu.” Heni terlihat senang.


Gita bangkit dan duduk di sofa, berniat membantu mengupas dan memotong sayuran juga. Tapi dia tiba-tiba limbung, perutnya bergolak seketika. Gita lekas berlari ke toilet dan memuntahkan isi perutnya. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Gita terus muntah-muntah hingga semua yang dimakannya saat makan malam keluar.


“Mbak Gita, kenapa? Keracunan ayam geprek tadi?” kata Risa khawatir, menepuk-nepuk punggung Gita dengan lembut.


“Gak tahu. Mual banget, kepalaku juga pusing,” balas Gita setelah lelah muntah-muntah.


Dia hanya terduduk dilantai dengan kepala yang terkulai di dudukan toilet. Padahal dia tidak memakan kulit ayam saat makan malam tadi. Kenapa tiba-tiba mual seperti alergi makanannya muncul?


“Bu Gita, mau ke dokter gak? Biar saya antar naik motor sekarang.” Heni menawarkan, khawatir melihat atasannya terlihat begitu pucat.

__ADS_1


“Gak usah. Aku punya obat mual kok. Nanti minum itu aja. Mungkin alergi makananku kambuh. Bu Heni pulang aja kalau udah selesai.”


Heni akhirnya berpamitan pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya. Selama itu pula Gita tidak membantu apa-apa, dia hanya berbaring di kamarnya. Sekarang dia menyerahkan semua persiapan pada Heni, orang yang sekarang sudah dia percaya menangani pesanan pembeli.


Risa membawa segelas air hangat untuk Gita yang sedang berbaring meringkuk di kasur. Gita lekas duduk dan mencari-cari obat mual yang biasa diminumnya saat alergi kulit ayam kambuh. Saat akan memasukkan obat itu ke mulut, tiba-tiba Risa mengentikan tangan Gita.


“Mbak Gita beneran alergi, kan?” kata Risa curiga.


“Iya. Kayaknya karena abis makan ayam geprek tadi. Kamu kan tahu aku alergi kulit ayam.”


“Tapi, tadi kan kulit ayamnya dikasihin ke aku.”


“Ya mungkin nyisa kali, terus kemakan.” Gita berniat meminum obatnya lagi, tapi dihentikan kembali oleh Risa.


“Mbak Gita nggak lagi hamil, kan?” Mata Risa memicing curiga.


Gita terperanjat kaget mendengar perkataan Risa. Tidak pernah terpikirkan dia hamil saat ini. Dulu memang Gita berharap bisa hamil, untuk mengembalikan perhatian Arki padanya. Tapi sudah lama Arki tidak pernah menyentuhnya semenjak mereka berpisah kamar.


Tunggu!


Memori tentang malam terakhirnya bersama Arki di Bali kembali berputar. Gita bermimpi melakukan hubungan suami istri lagi dengan Arki setelah sekian lama. Apalagi Gita sudah tidak mengkonsumsi pil kontrasepsinya, karena tidak pernah menyangka Arki akan muncul tiba-tiba dihari dimana Gita akan meninggalkannya.


Saat terbangun karena harus pergi, Gita mendapati dirinya sudah tidak berbusana dengan nyeri dan perasaan tidak nyaman di bagian intinya. Hari itu juga Gita teringat berusaha menghilangkan jejak-jejak yang ditinggalkan Arki ditubuhnya.


“Mbak Gita inget gak si Nurul temenku pas kita tinggal di Manggarai? Dia juga sering ngeluh pusing dan lemas berminggu-minggu. Terus muntah-muntah di sekolah. Persis kayak Mbak Gita. Ternyata dia hamil. Aku pikir Mbak Gita sering pusing dan lemes karena kecapekan abis masak, tapi kalau sampai muntah-muntah kayak tadi. Aku curiga Mbak Gita beneran hamil kayak si Nurul,” kata Risa berteori.


Tidak mungkin. Gita tidak boleh hamil sekarang. Setelah sejauh ini berusaha menjauh dan meninggalkan Arki. Tidak boleh ada hubungan apapun antara dia dan Arki. Gita sudah berusaha sekuat tenaga menghilangkan perasaan dan bayangan tentang Arki, semuanya harus hancur begitu saja dengan keberadaan jejak yang ditinggalkan Arki di rahimnya.


“Aku gak hamil! Ini cuma alergi kulit ayam!” tolak Gita, dia melanjutkan aksinya meminum obat alergi.


Risa menghentikannya lagi untuk ketiga kali. “Mbak Gita, kalau minum obat sembarangan sebelum tahu beneran hamil atau nggak. Nanti anaknya bisa cacat kayak Mbak Lulu tetangga kita dulu.” Risa mengambil obat dari tangan Gita dan yang masih ada di laci.


“Aku beneran gak hamil. Kamu pernah lihat aku pas abis makan kulit ayam juga, kan?” kata Gita bersikukuh. Menghilangkan perasaan was-was dan dugaannya yang berlarian tentang kondisinya. Meyakini bahwa dia hanya sedang alergi.


“Nggak. Beda kok. Masa alergi ngeluh lemes dan pusing tiap hari.”


“Ya bisa aja karena aku kecapekan abis masak.” Gita tetap menolak tegas. Meskipun perasaannya sekarang mempertanyakan kebenarannya juga.


“Heloo... Dulu banyak temenku yang hamidun pas masih sekolah ya, bestie. Udah hafal banget kalau yang begini pasti tandanya, ya Mbak Gita hamidun juga. Nanti aku beliin testpack ya di apotik sebelah.”


“Gak! Gak usah!”

__ADS_1


Tapi Risa sudah melenggang pergi. Tanpa mendengar penolakan atau penjelasan Gita lagi. Kini Gita ditinggal sendiri. Dia merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur. Pusing dan mualnya belum menghilang juga.


Pikiran liar berputar di kepala. Bagaimana jika benar dia sedang hamil anak Arki? Disaat dia sudah memutuskan pergi. Menjauh. Bahkan mendeklarasikan kalau dia sudah mati.


Arki juga mungkin sudah bahagia di sana dengan perempuan pilihan ayahnya. Gita tidak mungkin datang kembali, meminta pertanggungjawaban. Bisa-bisa nyawanya melayang berhadapan kembali dengan Arya.


Gita ingin memulai hidup yang baru. Menemukan cinta dan menikah kembali, dengan orang yang benar-benar menyayanginya. Dia tidak bisa memiliki anak dari Arki sekarang. Tidak akan sanggup juga membesarkannya sendiri tanpa ayahnya.


Kenapa dia harus mengalami hal ini saat hidupnya sudah mulai membaik dan bahagia?


Kenapa harus muncul lagi segala hal tentang Arki dihidupnya?


...****************...


Setelah semalaman penuh pergolakan batin serta penolakan. Gita meyakinkan diri, bahwa dirinya tidak hamil. Perasaan mual dan pusing yang dia rasakan juga sudah menghilang dengan cepat.


Risa tetap menyuruhnya mengecek, dengan membeli beberapa jenis testpack seperti yang dulu Gita lihat digunakan Nia dan Mia. Gita menolak. Merasa tubuhnya sudah baik-baik saja dan segar kembali.


Mereka bersiap-siap membuka kedai. Orang yang Heni janjikan juga datang pagi ini. Seorang gadis seumuran Risa yang baru lulus SMK. Dia berpengalaman menjadi kasir dan pelayan saat program magang di sekolahnya dulu. Sangat percaya diri bisa membantu dan bekerja dengan baik di bagian itu.


Sementara Heni sibuk membantu Gita di dapur. Gita menjelaskan mengenai takaran bumbu-bumbu yang dipakai dan cara memasak beberapa menu yang selalu laris dipesan. Agar Gita bisa menyerahkan tugasnya sebagian pada Heni.


Saat sedang mempraktikkan membuat tomyam, Gita kembali merasa mual, mencium aroma masakannya sendiri. Gita mencoba menahannya dan masih terus memasak sambil menjelaskan pada Heni. Namun, dia semakin tidak bisa melanjutkannya lagi.


Gita berhenti ditengah jalan, tidak melanjutkan masakannya, dan segera berlari ke toilet. Muntah-muntah hebat seperti tadi malam. Mual dan pusing datang kembali. Membuatnya terpaksa menguras isi perutnya hingga kosong tak bersisa.


“Bu Gita masih saki kayak tadi malam? Mau istirahat dulu aja gak hari ini, gak usah buka kedai dulu?” kata Heni yang melihat Gita keluar dari toilet dengan wajah pucat pasi.


“Aku pusing banget pingin istirahat sebentar. Tapi sayang kalau tutup seharian. Bu Heni bisa gantiin aku sebentar gak sampai aku baikan? Paling agak siangan udah enakan lagi,” kata Gita. Jelas tidak ingin menutup kedainya karena takut rugi.


“Boleh. Saya juga udah ahli kok. Sering lihatin Bu Gita masak. Tenang aja, kalau ada yang saya gak tahu. Langsung telepon Bu Gita. Sekarang Bu Gita istirahat aja di atas.”


“Makasih ya, Bu. Nanti Risa jam 10 pulang sebentar soalnya gak ada kelas. Dia bisa bantuin Bu Heni.”


Gita akhirnya memilih beristirahat sejenak, menghilangkan perasaan mualnya karena mencium aroma masakan yang kuat. Dia hanya berbaring di sofa sambil terus menahan keinginan untuk muntah.


Pikirannya kembali terarah pada dugaan kehamilan setelah melihat kantong plastik di meja berisi testpack yang dibeli oleh Risa tadi malam. Haruskah Gita mengeceknya? Bagaimana jika jawabannya ternyata benar, kalau dia sekarang sedang hamil?


Setelah berulang kali berpikir selama lebih dari setengah jam, Gita bangkit dan mengambil kantong plastik di meja dan berjalan menuju toilet. Dia melakukan hal yang diinstruksikan di kemasan testpack. Menunggu selama beberapa saat dengan hati gundah.


Indikator di alat penguji tersebut mulai berubah, menampilkan satu garis merah dengan jelas. Tidak lama kemudian garis yang lain muncul dengan samar, lama kemudian sejelas garis lainnya. Gita mematung tidak percaya. Menatap dua garis merah yang tergambar dengan jelas.

__ADS_1


Cepat saja dia mengeceknya kembali dengan testpack merek lain. Dua buah sekaligus. Mungkin saja ada kesalahan di hasil pertama. Setelah menunggu, dua alat uji tersebut menampilkan hasil yang sama. Dua garis penanda kehamilannya.


Gita seketika menangis. Roboh tidak percaya. Kenapa masih saja hingga kini dia harus menemukan jejak Arki dimana-mana. Ditubuhnya, dirahimnya, dan dihidupnya.


__ADS_2