
Gita bersiap menyambut kedatangan ibu mertua ke rumahnya. Semua sudah rapi dan bersih. Kamar tamu yang dahulu dipakai oleh Gita telah kosong dari barang-barangnya.
Meskipun berat hati untuk melakakukannya, Gita tetap memindahkan semua miliknya ke kamar utama. Agar ibu mertuanya bisa memakai kamar tamu dengan leluasa, juga agar tidak curiga tentang hubungan buruk antara Arki dan Gita.
Ela dengan sumringah memeluk menantunya itu saat tiba. Perasaan sedikit kecewa akibat gosip yang dibawa Irma kemarin menguap begitu saja, tatkala tahu menantunya itu kini sedang mengandung cucunya. Kebahagiaan tidak terkira dia rasakan. Akhirnya penantian untuk menimang seorang cucu akan segera tiba.
Meskipun ada Anaya di rumah, tapi Ela menginginkan cucu yang berasal dari putranya sendiri. Dia merasa beruntung masih diberikan kesempatan hidup hingga sekarang dan menerima kabar baik ini. Kini dia selalu berdoa agar diberikan umur yang panjang hingga bisa bertemu cucunya nanti.
“Ibu senang denger kabar kamu hamil, Git. Jaga kesehatan dan kandunganmu ya, Nak!” ucap Ela dengan air mata berderai karena haru, masih memeluk sang menantu.
Gita tidak mampu membalas dan berkata apa-apa. Benar kata Mia, Gita sekarang adalah anak yang durhaka. Berbohong pada ibu mertua sebaik dan setulus Ela. Tidak ada yang bisa menghentikan kebohongan yang sudah dipantiknya, kini dusta itu sudah mengakar tunggang kemana-mana hingga terdengar ibu mertuanya.
Sebelum bertemu Ela, dia amat yakin bisa melalui hari dengan berpura-pura. Tapi kini hatinya tidak sanggup bila harus terus merasa berdosa pada orang tua.
“Ibu mau istirahat dulu atau mau langsung makan siang?” ucap Gita mengalihkan pembahasan.
“Ibu lapar. Mau makan masakan menantu yang kata Arki enak banget,” goda Ela.
Arki terkekeh. “Emang enak banget kok. Ibu harus nyobain masakan Gita,” katanya sambil menggandeng ibunya ke meja makan.
“Kamu gendutan ya, Ki? Jadi kelihatan seger, gak kerempeng lagi. Ibu suka lihatnya.”
Ela memperhatikan anak laki-lakinya itu kini lebih berisi dan cerah. Tidak seperti yang dia lihat dulu ketika baru saja putus dengan kekasih lamanya. Arki terlihat kurus dan depresi. Hatinya lebih tenang ketika melihat Arki bisa ceria kembali seperti ini. Pasti menantunya itu membawa pengaruh baik pada putranya.
“Iya gitu? Kayaknya aku harus nge-gym lagi biar gak gendut.”
__ADS_1
“Maksud ibu bukan gendut yang kelebihan gitu, Ki. Tapi lebih berisi dan segar. Udah segini cukup. Kalau kebablasan gendut karena masakan istri kamu enak, baru nge-gym lagi.”
“Iya, tapi kayaknya sebentar lagi juga gendut banget. Habisnya Gita gak berhenti bikin makanan enak terus tiap hari,” puji Arki.
Gita yang sedang menyendokkan makanan untuk Ela tiba-tiba tersipu, mengulas senyuman singkat dibibirnya. Arki memang kerap kali memuji masakannya. Dia juga selalu memintanya membuatkan bekal makan siang ke kantor. Gita senang saja membuatnya, lagipula dia juga sering membawa bekal makan siang ke kantornya. Meskipun ditempatnya makan siang gratis.
“Tapi sekarang Gita kan lagi hamil. Kasihan kalau disuruh masakin kamu mulu, Ki. Sekali-kali ajak makan di luar. Jangan bikin istrimu capek pas hamil muda. Nanti kenapa-kenapa.”
“Aku gak apa-apa kok, Bu. Masih kuat buat masak.”
Arki baru terpikir sekarang, dia memang tidak pernah mengajak Gita untuk makan diluar. Selain karena merasa sudah cukup puas dengan masakan istrinya, Arki juga cukup sibuk akhir-akhir ini. Terkadang lembur, atau bahkan pulang cepat hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya di rumah hingga larut malam.
Mungkin ibu ada benarnya, tidak ada salahnya mengajak Gita makan di luar berdua. Mereka tidak pernah punya waktu romantis untuk saling mengenal satu sama lain.
Ela terlihat sangat bahagia bisa mengobrol dengan anak dan juga manantunya. Apalagi ketika membicarakan mengenai kehamilan Gita. Wajahnya tampak berseri ceria mendengat Gita mengatakan tentang pengalaman yang dia rasakan saat hamil.
“Wah … gini toh calon cucu Oma bentukannya sekarang,” ucap Ela takjub melihat hasil USG palsu yang Gita tunjukan padanya. “Kapan periksa lagi, Git?” lanjutnya penasaran.
“Ummm …” Gita kehilangan kata-katanya bingung. Tengkuknya kini berkeringat dan tangannya terasa dingin karena panik.
“Harusnya seminggu atau dua mingguan lagi kayaknya. Iya kan, Git?” balas Arki dengan semangat.
“Nanti kasih tahu Ibu kalau mau periksa. Ibu juga pingin lihat bayi dalam perut kamu tuh, katanya kan bisa dengerin detak jantungnya juga pas USG ” Ela begitu antusias dengan kehamilan menantunya itu. Tidak ingin ada yang terlewatkan untuk melihat calon cucunya.
“Gak usah lah, Bu. Dokter tempat Gita periksa jauh, mau ke arah Depok. Nanti ibu kecapekan, jadi sakit deh. Ibu kan gak kuat perjalanan jauh apalagi kalau kejebak macet. Tadi aja ibu ngeluh pegal-pegal pas aku jemput, kan?” ucap Arki melarang ibunya ikut. Baru kali ini Gita merasa bersyukur karena Arki berada disampingnya dan mengatakan hal-hal seperti itu.
__ADS_1
“Kok jauh banget periksanya? Emang dekat sini gak ada rumah sakit yang bagus? Bukannya ada rumah sakit Internasional ya gak jauh dari sini?” Ela merasa heran dengan pemilihan rumah sakit yang jauh dari tempat tinggal mereka. Gita semakin dibuat panik oleh pertanyaan mertuanya.
“Gita nyamannya sama dokter yang ada di rumah sakit itu. Kenalannya,” kata Arki membela.
Gita terperangah dengan pembelaan dan kebohongan Arki. Dia tidak mengatakan bahwa Dokter Dewi adalah kenalannya, sama sekali tidak pernah. Tapi, Arki mengatakan itu untuk meyakinkan ibunya agar menyerahkan keputusan pemilihan dokter pada mereka. Membela dan melindungi Gita.
“Ya udah, kalau itu pilihan kalian. Ibu gak akan ikut karena tempatnya jauh. Tapi nanti kasih tahu Ibu ya hasilnya kayak gimana,” kata Ela menyerah.
Perasaan lega tidak terbendung dihati Gita saat mendengarnya. Dia sangat gugup dan takut ketika mertuanya mengatakan ingin ikut dalam pemeriksaan kehamilannya. Dia benar-benar harus berterima kasih dengan Arki, yang sejak tadi terus membelanya dihadapan ibunya sendiri.
Gita tidak mampu berkata apapun karena panik. Dia hanya mengunci mulutnya, tersenyum sambil meringis. Menyesali semua ide bodohnya karena menipu keluarga ini.
Mereka terus berbincang hingga malam, makan bersama, dan membuka oleh-oleh yang banyak Ela bawa untuk anak dan menantunya. Makanan, sayuran, hingga baju. Gita mendapatkan beberapa potong baju dari mertuanya itu yang dijahit langsung oleh dirinya di workshop.
Dua buah dress hamil indah berwarna kuning dan biru. Sangat cantik dan manis. Gita rasanya ingin menangis saat itu juga, bersimpuh dikaki mertuanya karena sudah menjadi menantu jahat yang mengecewakan.
“Ibu bikin ini tadi malam, dibantu sama Bu Asih yang biasa kerja bareng Ibu. Nanti kamu pake kalau perut kamu udah agak gede ya, Git.” Ela tersenyum pada menantunya. Menantikan saat Gita memakai baju hasil karyanya dengan perut membuncit.
Gita tiba-tiba menangis dan memeluk Ela dengan erat. Sungguh beban mental yang sangat berat sedang ditanggung Gita saat ini, membohongi mertua setulus Ela. Haruskah dia berkata jujur sekarang? Gita tidak sanggup melanjutkan dramanya yang menyiksa hati nuraninya.
“Kenapa nangis, Nak? Hmm?”
Ela mengusap punggung Gita menenangkannya. Ketika mendengar semua gosip yang dibawa oleh Irma tentang kehidupan Gita, selintas terpikir oleh Ela, betapa sulitnya hidup menantunya itu.
Meskipun sedikit kecewa karena Gita tidak jujur mengenai ibu dan saudari tirinya, Ela mafhum jika Gita tidak ingin berhubungan dengan mereka lagi. Mendapatkan perlakuan buruk sedari kecil hingga harus berjuang membayar utang-utang orang tuanya. Pasti beban yang berat sudah banyak ditanggungnya.
__ADS_1
Makanya Ela tidak terlalu marah, jikalau pun Gita menikah dengan Arki untuk menyandarkan beban finansial pada anaknya itu, Ela paham. Dia pun tidak keberatan, karena hingga detik ini, hal yang baik juga Gita berikan pada Arki. Dia bisa melihat anaknya lebih sehat dan lebih ceria dari sebelumnya. Bahkan kini menganugerahkannya cucu tidak lama lagi.