
Ballroom hotel tampak ramai diisi oleh ibu-ibu dan bapak-bapak yang saling bercengkrama, bersenda gurau dan melepas rindu dengan temu singkat hari ini.
Tertulis sebuah spanduk di atas panggung yang sudah dihias dengan balon dan bendera berwarna putih biru “Reuni Akbar SMA Nusantara 2 Angkatan 1987 : The sweetness of reunion is the joy of heaven”.
Semua hidangan lengkap tersaji di atas meja-meja. Acara begitu meriah dipandu oleh MC yang melanglang buana di ibukota dan penyanyi papan atas untuk bernostalgia.
Diantara semua keriuhan dan kemeriahan itu, salah satu meja sedang sibuk beradu pamer. Membanggakan anak, cucu, hingga kekayaan yang melimpah. Tentu saja diselingi oleh gosip-gosip seru dan paling baru.
“Katanya keponakanmu yang auditor itu udah kawin ya, Ir? Kok gak ngundang toh ke kita-kita?”
“Loh, si Arki itu jadi sama teman anakmu? Ih udah aku bilang kan, kenalin aja sama anakku yang kedua. Baru lulus kuliah psikologi tahun ini.”
“Aku juga tadinya mau kenalin anakku loh, Ir. Anaknya cantik, baik, sholeh, udah jadi manager di perusahaan Korea. Gagal deh ngemantu anak ganteng.”
“Haduuh, pusing ya. Tiap kumpulan nanyanya ponakanku terus. Kasih lah jodoh buat si Indah. Kasihan anakku udah janda setahun.”
“Masalahnya kita gak ada kenalan bujangan yang cocok sama seleramu ngemantu, Ir. Kalau ada, tak kenalin ke kau tuh!”
Kemudian mereka tergelak. Saling menjodoh-jodohkan anak dan saudara yang saat ini masih berstatus jomblo. Disisipi gosip dan curhatan yang tidak bisa berhenti mengalir dari mulut kelima perempuan yang duduk di meja bundar itu.
“Aku tuh ya, sebenarnya pingin ngundang kalian ke nikahan keponakanku. Sayangnya gak dapat jatah undangan. Nikahnya kecil-kecilan, mana diburu-buru lagi. Sampai sekarang aku tuh gak setuju sama istrinya si Arki. Mbakku juga setengah hati lepasin anaknya buat kawin sama cewek gak jelas,” ucap Irma berapi-api membuka curhatnya.
“Emang gimana anaknya, Ir? Kok sampe keponakanmu mau?”
“Ah biasa aja. Mana yatim piatu, miskin, gak cantik-cantik amat. Apalagi mulutnya tuh gak sopan sama orang tua. Bikin kesel lah kalau ketemu istrinya si Arki. Kirain tuh dia hamil duluan makanya maksa si Arki nikahin. Heran tuh anak, seleranya jadi turun semenjak gagal kawin sama tunangannya dulu.”
“Mana coba lihat fotonya? Kayaknya cakepan anakku deh. Kalau kamu udah misuh-misuh gini berarti anaknya dibawah standar banget ya, Ir? Bilang ke Mbakmu, kenalin aja sama anakku. Daripada ngemantu cewek gak berkualitas gitu.”
Irma mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Mencari-cari foto pernikahan Arki dan Gita di galeri, kemudian menyerahkan gawai tersebut pada teman-temannya yang penasaran. Mereka satu persatu melihat dan meneliti perempuan berkebaya putih di foto.
“Ini sih si Gita anak tirinya Bu Ani,” seru Reni tiba-tiba.
__ADS_1
“Hah? Kamu tahu nih anak, Ren? Iya bener namanya emang Gita,” kata Irma kaget. ternyata temannya ada yang mengenali sosok Gita.
“Kenal lah, dulu tetangga di Pondok Petir. Ibu tirinya tuh temen sekolah adikku sejak kecil. Sombongnya minta ampun. Suka pamer barang-barang dan perhiasan. Foya-foya terus sampe jatuh miskin. Dia nikah sama bapaknya si Gita, punya usaha minimarket gitu dulu. Lumayan kaya lah. Sampai dia ambil utangan ke bank buat bikin bengkel. Gak laku. Minimarketnya juga makin sepi, terus tutup. Katanya sih gak bisa bayar tagihan bank, jadinya rumahnya dijual. Pindah deh gak tahu kemana,” ucapnya bersemangat menceritakan semua aib keluarga Gita.
“Tapi ibu tirinya masih idup tuh, Ren?”
“Masih idup kok. Kemarin balik ke rumah ibunya di Pondok Petir sama anak satunya si Risa. Pantesan kok si Gita gak dibawa balik. Udah kawin toh sama keponakanmu! Mujur juga nasibnya dapet laki kaya,” kata Reni sambil terkekeh.
“Tapi anak ini nih, gak pernah bilang punya ibu tiri. Ngundang aja nggak. Dia malah sungkem sama ibu bapak temennya, gak tahu lah siapa itu.”
“Ya emang gak akur sih sama ibu tirinya. Suka disiksa. Mana maau ngundang atau ngasih tahu. Tapi ya, katanya semua utang bekas ibu tiri dan bapaknya tuh, si Gita yang bayar. Enak sekarang dia nikah sama keponakanmu yang kaya. Bisa numpang hidup sekalian bayar utang dong.”
Hati Irma langsung bergolak mendengar penuturan temannya itu. Pantas saja dia selalu merasa tidak setuju dengan gadis yang dibawa ke rumah oleh Arki.
Rupanya pilihan keponakannya itu adalah perempuan yang tidak baik menurutnya. Rubah licik yang memiliki niat menggerogoti harta keponakannya. Semua masa lalunya, keluarganya, tempat asalnya, dan segala hal tentang Gita tidak cocok untuk Arki.
Irma terus menggali informasi mengenai kehidupan masa lalu Gita dari temannya. Hingga semua gosip dan detail kecil dia pertanyakan. Semua itu dia kumpulkan untuk diberitahukan kepada kakaknya.
“Mbak mau biarin Arki berumah tangga sama cewek matre kayak dia? Udah jelas dia mau nikah sama Arki buat morotin hartanya,” ucap Irma pada Ela, menceritakan apa yang didengar dari temannya.
Ela menghela napas, merasa sedikit kecewa setelah tahu tentang kehidupan menantunya. Apalagi merahasiakan tentang keberadaan ibu dan adik tirinya sendiri. Menyebut dirinya sebatang kara dan tidak memiliki siapa-siapa. Meskipun benar hubungan diantara mereka kurang baik, Gita seharusnya jujur saja padanya.
“Arki udah milih sendiri, Ir. Masa harus dipisahin sih? Aku sempat takut Arki gak mau nikah semenjak putus sama Luna, terus jadi aneh-aneh hidupnya. Sekarang pas Arki udah nikah, kita malah haling-halangi hidup dia.” Ela berpikir lebih bijaksana bereaksi terhadap informasi yang didapatkannya.
Asal Arki bahagia dengan pilihannya, dia setuju saja. Dia sudah melihat anak satu-satunya itu begitu menderita karena diselingkuhi tunangannya. Tidak mungkin dia tega memisahkan anaknya itu dengan pilihan hatinya.
Selama ini, Gita menurutnya adalah anak yang baik. Dia rajin menghubungi dan menanyakan kabarnya. Dia juga mengurus Arki dengan baik. Tidak pernah terlewat Arki menyebutkan masakan-masakan Gita yang disukainya saat bertukar pesan. Tidak ada alasan untuknya membenci Gita hanya karena masa lalu dan kehidupannya dulu.
“Kamu sama Gita benar-benar saling sayang, Ki?” kata Ela disambungan telepon. Hatinya gusar ingin memastikan sesuatu pada putranya.
Arki terdiam sejenak. Menyeret suaranya agar keluar dari bibirnya. Aneh tiba-tiba ibunya menanyakan hal seperti ini, disaat hubungannya dengan Gita tidak ada kemajuan sama sekali. Malah mereka baru saja bertengkar dan saling membentak.
__ADS_1
"Iya, kita saling sayang kok,” jawabnya nyaris samar ditengah keraguan. Apakah perasaan yang dia rasakan untuk Gita itu sayang? Atau hanya obsesi saja, yang Ingin membuktikan bahwa dirinya normal dan baik-baik saja?
“Kamu beneran udah kenal lama sama Gita, kan? Udah tahu dia kayak gimana kan, Ki? Ibu gak mau, hanya karena kamu sering ditanyain buat nikah. Terus jadi gegabah memutuskan berumah tangga. Ibu pingin kamu sama Gita terus akur, hidup sama-sama sampai tua.”
“Iya. Aku kenal gimana Gita, Bu. Aku yang milih buat nikah sama dia. Ibu jangan khawatir.”
“Seandainya banyak hal yang gak kamu tahu soal Gita. Ibu mau, kamu pelan-pelan belajar untuk memahami dan menerimanya. Gak ada pasangan yang sempurna, yang ada cuma pasangan yang berusaha saling mengerti dan belajar menjaga hubungan.”
“Iya, aku paham.”
“Kamu gak akan sekeras kayak dulu berhubungan sama Luna kan, Ki? Meskipun pasangan kamu gak sesuai ekspektasi kamu.”
“Aku lagi berusaha, Bu.”
“Arki, kasih orang lain maaf itu berarti ngasih mereka kesempatan untuk jadi lebih baik. Bukan ruang untuk ngasih kesempatan diri kamu buat balas dendam. Ngerti?”
“Iya, aku ngerti.”
“Kalau gitu ibu tutup teleponnya. Udah malam. Cepetan beristirahat dan tidur.”
“Ibu,” panggil Arki sebelum ibunya menutup telepon.
“Ya?”
“Gita sekarang lagi hamil.”
__ADS_1