Istriku Penipu

Istriku Penipu
Suami Yang Baik


__ADS_3

“Gita! Lo pasti bisa ngelewatin ini! Demi hidup yang nyaman dan semua utang lunas!” ucapnya meyakinkan dirinya sendiri bahwa rencananya akan terus berlanjut.


Gita tahu sejahat atau semesum apapun Arki, jalan satu-satunya adalah dengan menikahinya. Semua ini demi kehidupan yang lebih baik kedepannya. Tidak mungkin ada orang yang menawarkan sejuta fasilitas dan bantuan selain Arki.


Pernikahan yang dijanjikan oleh Arki sebenarnya menurut Gita sudah terbilang mewah. Jelas saja, dia menikah di ballroom hotel—meskipun bukan hotel berbintang, makanan yang lezat, dekorasi indah, dan Gita juga mengenakan kebaya dan riasan wajah cantik. Bahkan ibu dan kakak Mia tidak berhenti memujinya.  


Acara dihadiri oleh keluarga dan rekan-rekan kerja Arki. Dipihaknya, Gita hanya mengundang keluarga Mia dan juga Nadia. Tidak pernah terpikirkan untuk mengundang ibu dan adik tirinya. Dia sudah tidak punya kontak apapun lagi semenjak meninggalkan rumah. Ada yang memberinya kabar bahwa rumah peninggalan ayahnya sudah dijual dan ibu serta adik tirinya pindah entah kemana. Gita juga tidak terlalu peduli.


“Sah!!” seru para saksi setelah kalimat ijab qobul diucapkan oleh Arki dan wali hakim yang ditunjuk oleh KUA untuk mewakili Gita yang yatim piatu dan tidak memiliki saudara laki-laki. 


Meskipun seumur hidup Gita tidak pernah bermimpi akan menipu orang dan menikahinya, namun dia harus jujur, ini adalah salah satu momen yang cukup membahagiakan.


Sejak kecil Gita tidak pernah merayakan apapun, ulang tahun, kenaikan kelas, wisuda, hingga saat mendapatkan pekerjaan pertamanya, tidak satupun momen tersebut istimewa dan penuh selebrasi. Inilah pertama kalinya Gita merasakan keriuhan yang amat menyenangkan.


Semua orang mengucapkan selamat, memberinya hadiah, memeluknya, dan ikut berbahagia dengannya. Walaupun tidak ada dari orang-orang tersebut yang Gita kenali. Dalam momen tersebut Gita terbawa suasana yang penuh suka cita, melupakan bahwa laki-laki yang berada di sampingnya dan menjadi suami sahnya adalah orang asing, yang tidak dia cintai.


Selepas acara makan malam bersama keluarga besar Arki dari pihak ibu, Gita dan Arki berpamitan pulang. Mereka tidak menginap di hotel ataupun berbulan madu.


Arki mengatakan pekerjaannya sedang banyak dan izin cuti menikahnya yang tiba-tiba membuat jadwal pekerjaannya menjadi kacau. Makanya dia memutuskan untuk langsung pulang setelah resepsi, agar Arki bisa melakukan pekerjaannya dari rumah keesokan harinya.


Baguslah! Lagipula Gita tidak ingin berbulan madu ataupun melakukan aktivitas apapun dengan Arki. Malam ini dia akan menegaskan pada laki-laki itu bahwa dia tidak ingin melayaninya sebagai istri. Dia harus bisa meyakinkan Arki agar tidak menyentuhnya sama sekali.


“Jadi, kata dokter itu berbahaya?” tanya Arki yang kebingungan saat Gita menjelaskan mengenai larangan untuk berhubungan suami istri saat hamil muda, yang akan beresiko memicu kontraksi dini hingga keguguran.


“Iya. Lagian aku gak siap ngelakuin itu sama kamu. Aku masih trauma sama perilaku kamu di tempat karaoke yang sampai bikin aku hamil dan kelakuan kamu di kosan minggu lalu,” tolak Gita tegas.


“Git, aku minta maaf buat itu. Tapi sampai kapan kamu mau menghindari kontak fisik sama aku?”


“Sampai aku siap. Aku gak kenal kamu, kita gak saling kenal, dan pernikahan ini hanya karena kecelakaan. Terus kamu mengharapkan aku bakal jadi istri berbakti yang nurutin hasrat kamu, gitu? Egois! Aku nikah sama kamu karena anak dalam perutku, bukan buat menjalin hubungan sama kamu.”


Arki menghela napas. Dia tidak menduga hal ini akan terjadi. Memang benar dan masuk akal apa yang Gita utarakan. Mereka dua orang asing yang sama sekali tidak akrab, kemudian dipersatukan lewat pernikahan karena sebuah kecelakaan. Arki tidak mungkin mengharapkan Gita akan menerima dirinya begitu saja. Perempuan ini bahkan ketakutan saat mereka bertemu kembali untuk pertama kalinya di mall.

__ADS_1


“Aku ngerti. Buat saat ini aku gak akan nuntut kamu soal itu. Kita saling kenal dulu, sambil besarin bayi kita bareng-bareng. Aku yakin kita bisa menerima satu sama lain nantinya.”


“Jangan terlalu banyak berharap sama aku.”


“Gita, kita gak mungkin nikah hanya setahun atau dua tahun. Meskipun ini pernikahan karena kehamilan yang gak diinginkan, ada bayi diantara kita yang harus kita urus. Kita harus jadi keluarga buat dia.”


Gita mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha tidak menatap Arki. Berakting seakan dia mempertimbangkan kata-katanya. Jauh di dalam hatinya, Gita mencemooh gagasan tersebut. Mereka bahkan tidak akan bertahan lebih dari 4 bulan dipernikahan ini.


Setahun atau dua tahun? Gila saja!


“Aku akan bertahan buat bayiku, bukan buat kamu,” jawab Gita menegaskan mengenai hubungan mereka.


Kamar yang Gita tempati adalah kamar depan dekat ruang tamu, sebenarnya ini memang diperuntukkan khusus untuk tamu. Sedangkan Arki tidur di kamar utama.


Gita sangat menyukai rumah ini, tipe 60 minimalis modern 1 lantai, dengan 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, dapur, ruang tamu, ruang tengah dan ruang kerja Arki. Di bagian samping terdapat taman yang menyatu ke area depan.


Lingkungan sekitar juga terlihat tenang dan tertata. Gita yakin, tidak ada lagi tetangga yang akan menyetel lagu dangdut koplo malam hari, suami istri yang bertengkar sepanjang hari, atau anak-anak yang bermain bola di depan rumah dan di badan jalan saat sore dan malam. Benar-benar kehidupan damai orang menengah keatas.


Pagi hari ketika membuka kulkas dua pintu berdesain modern, mencari bahan makanan untuk dimasak saat sarapan, Gita tertegun melihat isi di dalamnya. Sayuran, buah, daging, telur, susu, kue, hingga camilan tersusun rapi di sana.


Pertama kali seumur hidupnya, Gita membuka kulkas berisi penuh makanan, bukan lagi berisi air dingin botol isi ulang, sisa bumbu dapur dan sisa makanan yang mengeras menjadi es. Jadi beginikah rasanya seperti Cinderella dan kaya mendadak?


“Aku kemarin beli bahan makanan, siapa tahu kamu mau masak. Aku gak terlalu ngerti harus beli apa aja, karena aku sendiri gak bisa masak,” kata Arki mengagetkan Gita yang sedang menatap takjub isi kulkasnya.


Arki dengan santai duduk di salah satu kursi meja makan sambil memperhatikan Gita, yang sedari tadi berdiri disana tanpa bergerak.


“Terus kamu makan apa kalau gak masak?”


“Catering harian. Pesan online.” jawab Arki santai.


Dasar orang kaya! Umpat Gita dalam hatinya.

__ADS_1


“Aku yang masak sekarang. Jangan makan sembarangan!Kamu gak tahu kan gimana makanan yang dipesan itu ngolahnya kayak apa, pake banyak micin, bahannya belum tentu segar, gimana kalau prosesnya gak bener? Daripada buang-buang uang, biar aku aja yang masak.”


Sebenarnya bukan itu alasan sebenarnya. Gita hanya ingin memastikan bahwa Arki tidak membuang uangnya untuk hal-hal tidak penting dan bisa Gita kerjakan sendiri. Memasak makanan untuk Arki artinya dia selangkah lebih maju untuk mengatur uang belanja laki-laki itu. Dia akan punya kesempatan untuk mengambil alih kontrol kehidupan finansialnya.


Arki tersenyum mendengar perkataan Gita. Baru tadi malam dia mengatakan tidak akan menjadi istri yang berbakti. Kini dengan tegas memintanya berhenti makan makanan dari luar dan akan memasakkannya makanan setiap hari. Arki tidak pernah tahu Gita semenggemaskan ini.


Beberapa menu makanan sudah terhidang di meja makan. Sejak satu jam tadi Arki benar-benar tergoda dengan aroma masakan yang menyebar ke ruang kerjanya, membuat perutnya keroncongan dan meeting online dengan bawahannya terganggu. Hari ini seharusnya Arki masuk kantor, dia sedang menyiapkan rencana audit tahunan perusahaan. Tapi Arki malah mengambil cuti menikah dadakan.


“Aku gak tahu kamu suka makanan apa. Kalau ada yang gak kamu suka bilang aja atau kamu punya alergi tertentu aku—”


“Aku gak ada alergi makanan,” jawab Arki cepat, kemudian lekas mencicipi makanan yang Gita masak.


“Enak gak?”


Arki tersenyum dan mengangguk. “Enak banget. Gak nyangka kamu jago masak gini, pantesan dulu kamu gak pernah makan siang di luar dan bawa bekal terus. Kalau makanannya seenak ini aku juga mau bawa bekal terus,” puji Arki.


Mendengar hal tersebut membuat Gita tersipu, dia tidak bisa menahan senyumannya terkembang. Baru kali ini ada yang memuji masakannya. Dulu Gita selalu memasakkan makanan untuk ayah, ibu tiri dan adik tirinya. Tapi tak pernah satu pujian pun dia dapatkan, meskipun itu dari ayah kandungnya sendiri.


Gita sibuk mencuci piring dan peralatan bekas memasaknya saat Arki menghampiri. Laki-laki itu menggenggam tangan kiri Gita hingga mereka saling berhadapan, matanya yang dalam dan indah menatap penuh kasih sayang. Gita baru memperhatikan sedekat ini dan menyadari begitu mempesonanya Arki.


“Makasih makanannya. Aku tahu kamu masih takut dan belum bisa memaafkan perbuatanku. Tapi aku harap kita bisa pelan-pelan lebih dekat dan saling mengenal setelah ini. Aku janji bakal jadi suami yang baik buat kamu,” ucapnya lembut.


Perasaan aneh tiba-tiba menyeruak dihati Gita, berdebar, kagum, terpesona saat mendengar dan menatap Arki yang berbicara. Sejak dulu, Gita tahu Arki bukanlah orang jahat, kejadian waktu itu juga bukanlah kehendaknya. Selama ini Arki yang Gita kenal adalah laki-laki yang baik, sopan, cerdas, dan diidolakan banyak perempuan di kantor.


Tunggu, Gita! Jangan terjebak! Lo melupakan bahwa Arki juga bisa melecehkan lo dalam keadaan sadar seperti yang dilakukannya di kosan minggu lalu.


“Udah aku bilang jangan terlalu berharap sama aku,” ucap Gita melepaskan genggaman Arki, kemudian sibuk mencuci kembali.


Hampir saja dia jatuh pada perangkap manis laki-laki mesum itu.


Ingat Gita, tujuan lo hanya untuk uang!

__ADS_1


__ADS_2