
Keributan itu terdengar sampai ke keluarga Mia. Hanya ada Mia dan ibunya di rumah saat itu, mereka segera datang ke lokasi kejadian dengan panik.
Mia langsung menginterogasi kedua debt collector yang sudah babak belur dihajar oleh warga sekitar. Sementara ibunya menghampiri Gita di tempat lain yang sedang diobati.
“Kita juga gak mau kayak gini, Pak, Buk…,” ucap si Kumis dengan pasrah dan sedih. “Kita disuruh orang pusat buat nagih, gimana pun caranya, pokoknya uang perusahaan harus balik.” Lanjutnya.
“Ya tapi gak sampe gebukin cewek juga. Kalau lo gebukin dia sampe masuk rumah sakit atau meninggal, lo sendiri mau tanggung jawab?" kata Mia kesal.
“Kita damai aja lah, Bu. Kita minta si ibu itu balikin duit pinjamannya. Biar dia gak kita tuntut udah bawa lari uang, dan kita juga gak di tuntut buat penganiayaan,” tawar Si Kumis.
“Ya enak di elo kalau kayak gitu.”
“Bu, saya minta tolong. Saya juga gak mau kejadian kayak gini. Tapi ini udah kerjaan. Saya juga punya anak istri buat dikasih makan. Nanti perusahaan malah nuntut duitnya sama saya.” Si Kumis memohon-mohon pada Mia.
Mia mendengus. Dia tahu semua ini hanyalah bagian dari pekerjaan mereka, meskipun dilakukan dengan cara yang salah. Beberapa temannya juga pernah menjadi debt collector dan menceritakan betapa berat tuntutan pekerjaan tersebut. Mia tidak bisa membiarkan kedua orang ini dipecat ataupun Gita dituntut karena pinjamannya macet.
“Berapa utang Si Gita?”
“8,5 juta. Termasuk bunga karena nunggak sebulan.”
“Tunggu bentar, gue ambil duit dulu di ATM.”
Gita tertidur seharian setelah mendapatkan perawatan dari salah satu warga yang kebetulan adalah perawat. Terdapat memar di dekat mata dan mulutnya, membuat Gita meringis kesakitan saat terbangun karena suara Mia yang masuk ke kamar.
Jam dinding menunjukkan pukul 23.20 saat Mia masuk, sudah mandi dan bersih setelah pulang bekerja. Dia bersiap untuk tidur.
“Mi, lo bayarin utang gue ke debt collector tadi siang?” kata Gita yang masih berbaring di tempat tidir.
__ADS_1
“Hmmm,” jawab Mia singkat kemudian ikut berbaring disana. Membungkus tubuhnya dengan selimut lain.
“Itu kan duit lo buat lanjutin kuliah S1, Mi. Pendaftarannya bukannya udah deket?”
“Gue nanti pinjem duit Bang Rudi aja, Git. Santai,” jawab Mia yang tidak mau pusing. “Lagian kalau lo gak bayar, mereka bakal terus dateng dan nagih. Gue kira urusan lo udah selesai sama mereka setelah dapet duit pesangon,” tambah Mia.
“Duit pesangon udah gue dibayarin cicilan ke bank, Gak ada yang sisa. Tapi beneran, lo nanti pinjem sama Bang Rudi buat pendaftaran kuliah?”
“Iyaa, Gita. Bawel. Tenang aja. Santai, santai.” Mia berusaha menenangkan.
“Kok lo baik banget sih, Mi.” Gita tidak bisa menahan tangisnya yang turun tiba-tiba melihat kebaikan Mia. “Gue janji, kalau gue jadi kaya, orang pertama yang gue balas kebaikannya itu lo dan keluarga lo,” lanjutnya penuh pengharapan.
“Bener ya? Pokoknya kalau lo duluan yang kaya, ajak gue makan di restoran mewah, yang makanannya se-uprit tapi harganya ngalahin UMR Jakarta,” kata Mia sambil tertawa. “Lagian lo dari dulu selalu bantuin gue belajar. Kayaknya gue gak bakal lulus sekolah dan jadi begajulan kalau gak gaul sama cewek pinter macem lo,” ungkap Mia mengenang masa lalu.
Mia memang bukan siswa yang pintar di sekolah. Dia berhasil lulus SD saja karena ayahnya yang seorang pedagang telur di pasar, sering mengirimi gurunya telur gratis setiap bulan. Demi memperhatikan anaknya yang sangat kurang dalam masalah belajar seperti Mia. Meskipun Nia—kakaknya—jauh berbeda dari itu.
Mia mendapat keuntungan dengan kepintaran, kerajinan dan kesabaran Gita. Sedangkan Gita mendapatkan keuntungan dari sifat Mia yang ceria, mudah berteman, dan sangat jago berkelahi, membuat masa sekolah Gita bebas dari bully. Hingga sekarang, pertemanan mereka terus berlanjut dan terjalin erat.
...****************...
“BAPAAAK, IBUUU … AKU HAMIIIIIL!!!” teriak Nia berlari dari toilet ke ruang tengah.
Ibu dan Gita yang sedang berada di dapur langsung mengikuti arah suara nyaring dari Nia. Ayah yang sedang menonton TV lekas mematikan benda tersebut, guna mendengar anak sulungnya memberitakan sesuatu yang bahagia. Mia yang duduk dekat ayahnya memasang wajah kaget dan tidak percaya mendengar penuturan kakaknya.
“Serius, Kak? Alhamdulillah. Punya cucu kita, Pak!” balas ibu berbahagia sambil terharu.
“Nih aku sampai beli 6 merek testpack biar hasilnya akurat. Semuanya garis dua. Lihat tuh!” Nia menaruh semua hasil tes kehamilannya di meja dekat sofa. Masing-masing diantara orang disana langsung membawanya satu, menilik benda kecil yang menjadi sumber kehebohan.
__ADS_1
“Woaaah.. Bentar lagi gue punya keponakan!” seru Mia senang.
“Selamat ya, Kak Nia.” Gita memeluk Nia dengan penuh kasih sayang, merasakan kebahagian tersebut menular padanya.
“Aku harus kirim pesan sama Bang Rudi. Mudah-mudahan dia lagi berlayar di tempat yang ada sinyalnya,” ucap Nia yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Mereka sarapan pagi dengan suka cita. Terus membicarakan mengenai kehamilan Nia. Tentu saja semua senang, karena ini adalah cucu pertama di keluarga mereka, yang sudah dinantikan sejak lama.
Setelah selesai sarapan, seperti bias Nia akan bersiap berangkat menuju kantornya. Dia bekerja sebagai staff admin di salah satu perusahaan di Menteng. Gita membantu ibu Mia membereskan meja dan mencuci piring kotor bekas sarapan. Sementara Mia dan ayahnya berada di teras, duduk di bangku plastik sambil mengobrol dan meminum kopi. Bersantai sebentar sebelum berangkat ke pasar untuk memantau pekerjanya berjualan.
“Jadi kamu tuh gimana mau persiapan kuliah S1-nya? Kampusnya udah buka pendaftaran?” tanya ayah Mia yang penasaran dengan rencana putrinya.
“Aku kayaknya mau nunggu tahun depan aja buat kuliah, Pak.”
“Loh, kok tahun depan? Bukannya duit pendaftarannya udah kekumpul? Kalau tahun depan kuliah, kamu udah 26 tahun. Lulus 28 tahun. Apa gak capek tuh si Anwar nungguin 3 tahun sampe lulus kuliah buat nikahin kamu?”
“Uangnya aku pinjemin uangnya buat bayar utangnya Gita dulu, Pak.”
Gita mendengar pembicaraan tersebut dari ruang tamu. Awalnya dia hanya akan bersih-bersih ruangan tersebut, tanpa sengaja menyimak pembicaraan antara Mia dan ayahnya. Perasaan Gita langsung bersalah. Dia benar-benar bodoh karena tidak memikirkan masa depan Mia, jika dia menyerahkan uang pendaftaran kuliah untuk membayar utang Gita.
Meskipun Mia mengatakan akan meminjam uang dari kakak iparnya, tapi sekarang keluarga kecil kakak iparnya tersebut pasti membutuhkan banyak biaya untuk persiapan kehamilan dan kelahiran Nia.
Sedangkan Gita sampai saat ini juga belum mendapatkan kepastian kapan mendapat pekerjaan. Dia semakin sulit memprediksi kapan bisa mengembalikan uang Mia.
Gita lantas pergi ke kamar, menangis tersedu karena merasa menjadi beban semua orang. Statusnya yang pengangguran, menumpang hidup, dan sekarang temannya harus membayar utangnya. Belum lagi dia harus memikirkan pembayaran bulanan yang harus disetor ke bank dalam waktu dekat. Gita merasa sangat malu dan tidak berdaya.
Andai saja dia punya cara agar menjadi kaya dengan cepat. Satu kali saja seumur hidup, dimana Gita merasa aman tanpa harus memikirkan masalah finansial dan terbebas dari utang. Tapi hingga kini tidak ada jalan pintas menuju itu semua. Semenjak kuliah dia selalu bekerja, bekerja, dan bekerja tanpa mengenal lelah. Tapi kekayaan tidak pernah menyambanginya seujung kuku pun.
__ADS_1
Gita sangat membenci kemiskinan yang menyelubungi hidupnya.