Istriku Penipu

Istriku Penipu
Merasakan Kembali


__ADS_3

Aditya terperanjat dari tidurnya, dia seperti mendengar suara-suara mistis menakutkan. Dia terjaga kemudian melihat sekeliling. Ruang tamu yang gelap dan tiba-tiba saja melihat sosok yang duduk di salah satu sofa ruang tengah juga. Menatap tajam ke arahnya.


Hampir saja Aditya berteriak, kalau saja Adrian tidak langsung menggeplaknya dengan majalah bekas. Menyadarkan laki-laki gondrong itu agar segera terbangun dari mimpinya.


“Anjingg! Bikin kaget aja!” seru Aditya kesal. “Ngapain sih, Dri?”


Adrian menempelkan telunjuk dibibirnya. Laki-laki berkaca mata itu menyuruh Aditya untuk diam dan menajamkan pendengaran. Suara terisak dan memanggil-manggil terdengar. Aditya seketika merangsek mendekati Adrian dan memeluknya.


“Kuntilanak? Takuuut,” kata Aditya mengeratkan pelukannya.


“Bukan, t o l o l!” seru Adrian kesal, menyingkirkan Aditya yang menempel padanya. “Mungkin kita harus mengizinkan Arkian lihat istrinya sebentar. Cuma lihat aja, dari kejauhan. Biar dia gak kayak gini terus,” lanjutnya.


Adrian sudah mengecek kamar Arki. Laki-laki itu menangis dan memanggil nama istrinya bahkan saat tidur. Dia tidak paham bagaimana rasanya kehilangan atau sejatuh cinta itu pada perempuan. Dia tidak pernah merasakannya pada Nabila—calon istrinya. Hubungan mereka terjalin karena Arya yang menyuruhnya berpacaran dengan Nabila, untuk merekatkan kerjasama bisnis antar keluarga.


“Dia lagi diawasi. Kamu jadi ikutan b e g o apa gimana sih, Dri? Rencana kita bisa gagal kalau sampai Arya curiga sama Arkian. Dia harus terus jadi bocah penurut dan hang out bareng Arya, biar aku bisa leluasa bergerak,” tolak Aditya.


“Aku tahu. Makanya kita bantuin dia biar gak ketahuan. Bocah g o b l o g itu udah menderita banget karena istrinya dibilang meninggal. Kamu tahu kan rasanya gimana ditinggalin orang? Aku gak mau kalau dia kayak gini terus, malahan nanti kelakuannya makin gak masuk akal karena gak bisa menahan diri buat ketemu istrinya. Seenggaknya kalau sama kita, orang-orang Basuki bisa kita alihkan perhatiannya.”


“Caranya?”


Adrian melepas kacamatanya. Menata rambut klimis belah pinggirnya menjadi seperti Arki. “Udah kelihatan kayak si bocah g o b l o k bucin belum?” katanya terseyum miring meremehkan. Persis seperti ekspresi Arki saat merendah orang.


“Yaa.. Mirip sih dari kejauhan.”


Adrian sejak dulu paling benci dibandingkan dengan Arki. Bukan hanya karena prestasinya saja. Melainkan wajahnya yang hampir mirip dengannya, sebenarnya mereka sangat mirip dengan Arya. Hanya saja orang lebih sering mengatakan Adrian tanpa ekspresi dan kaku. Cara bicaranya juga tidak seluwes Arki. Adrian bukan anak yang senang bergaul sejak dulu, seperti halnya Arki atau Aditya. Dia terlihat lebih serius dan ambisius dibandingkan mereka berdua.


Berbeda dengan Aditya, dia terlihat lebih mirip dengan ibunya. Meskipun sekilas mereka bertiga akan mirip satu sama lain. Namun Aditya memiliki sentuhan lembut dibalik tubuhnya yang macho. Terlihat flamboyan dan ramah pada sisi lainnya.


...****************...


Arki mencium wangi masakan saat terbangun dari tidurnya. Terperanjat sendiri, berpikir bahwa Gita kembali ke rumah. Dia segera berlari keluar kamar, hanya untuk mendapati dua makhluk yang membuat mata sakit sedang berada di dapurnya. Adrian sedang memasak makanan dan Aditya sibuk merapikan meja makan. Benar-benar pemandangan paling ganjil yang pernah Arki temui seumur hidupnya.


“Morning, Princess!” ucap Aditya menyambut Arki dengan senyuman jahil.


“T a i lo!” balas Arki kesal. “Siapa yang izinkan kalian masak di dapurku sembarangan?”


“Gak diizinkan juga gak masalah kok. Penting gitu izin kamu?” kata Adrian yang menyajikan nasi goreng di piring.

__ADS_1


Arki tergoda melihat nasi goreng dan telur dadar yang dimasak oleh Adrian. Akhirnya duduk meskipun harus menebalkan muka karena malu sudah berseru kesal pada mereka. Tapi sepertinya Adrian dan Aditya tidak terlalu peduli juga.


“Kita mau bantuin kamu buat ketemu istrimu,” ucap Adrian saat mereka selesai makan.


Arki yang sedang minum langsung tersedak karena kaget. “Kenapa? Kok tiba-tiba jadi baik? Kena virus ya kamu?”


“Kita kasihan aja sama kamu. Udah hidup kayak gelandangan di rumah gak ada yang masakin, ditinggal kabur istri, dan sekarang harus menahan diri. Padahal Abang Arki kangen pelukan istri tercinta,” ucap Aditya mengejek.


“Kita alihkan orang-orang Basuki. Aku juga udah nyuruh orang-orangku buat mengawasi pergerakan mereka. Kalau aman, kita akan berangkat sekarang ke Bogor.”


Adrian melepaskan kacamatanya. Arki tahu apa yang dipikirkan olehnya. Mengingat bagaimana mereka sering dikira adalah saudara kembar. Tapi Arki selalu meyakini bahwa dia lebih tampan, lebih gagah, dan lebih tinggi dari Adrian. Mereka sebenarnya tidak semirip itu. Arki membencinya.


Setelah mandi dan bersiap. Adrian mengenakan baju Arki, kemudian keluar rumah dan menggunakan mobilnya. Disusul oleh Aditya, dan juga Arki yang sudah bergaya super rapi berkacamata seperti Adrian, masuk ke mobil Aditya.


Mereka bisa melihat orang yang mengawasi mereka layaknya seperti tetangga biasa. Suami istri yang tampak harmonis. Si laki-laki juga bersiap pergi saat melihat mobil Arki dan Aditya keluar dari parkiran.


Adrian terus mengendarai mobil, sambil menghubungi bawahannya untuk mencari tahu apakah ada yang mengikutinya lagi selain si tetangga. Dia juga terus memantau apakah ada yang membuntuti mobil Aditya. Orang kepercayaan Adrian mengatakan semuanya aman.


Namun, untuk mewaspadai diikuti. Aditya tidak langsung pergi ke tempat Gita. Dia membelokkan mobil ke apartemennya. Berdiam diri selama beberapa jam, hingga orang-orang suruhan Adrian yakin bahwa Aditya memang tidak sedang diawasi. Sampai akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Bogor.


Selama perjalanan, Arki hanya duduk mematung di kursi belakang. Bisu memandang jalanan. Aditya juga sibuk berkonsentrasi menyetir sambil mendengar laporan-laporan dari Adrian juga orang suruhannya.


Arki pasti merasa sangat kehilangan dan hancur saat tahu istrinya meninggal dalam kecelakaan. Sehancur dirinya saat dulu, mendengar berita yang sama tentang ibunya. Padahal beberapa jam sebelum itu, ibunya berjanji mereka akan pergi ke luar negeri. Bersama James, pacar baru ibunya, yang akan melepaskan mereka dari cengkraman Arya.


Aditya melakukan ini untuk Ela, bukan untuk Arki. Dia berutang budi pada ibu tirinya itu. Entah seluas apa hatinya, hingga mau mengulurkan tangan membantu anak selingkuhan suaminya. Mengurus, membiayai, memperjuangkan, dan membagi sedikit cintanya. Diantara orang-orang yang tidak peduli, bahkan kakek neneknya sendiri memandangnya sebagai aib keluarga, ada Ela yang membelanya.


Setelah dewasa, Aditya tahu bahwa Ela terluka. Karena keberadaannya, anak-anak selingkuhan suaminya. Karena Arya, yang semakin gila pada perempuan hingga kabarnya sampai ditelinga Ela. Dalam diamnya, Ela masih mengubur jauh rasa cintanya pada laki-laki b e d e b a h itu. Aneh. Sungguh aneh. Apalagi Aditya mendengarnya sendiri terucap dari Ela di suatu hari.


Aditya ingin menghancurkan Arya, agar dia bisa membalas kematian ibunya. Aditya ingin menghancurkan Arya, agar cinta yang dikubur Ela juga tertimbun selamanya. Laki-laki yang tidak pantas menghancurkan dua perempuan tercintanya.


Mereka sudah sampai di sebrang kedai yang dimaksud oleh Danu. Aditya memarkirkan mobil di sebrang tempat tersebut. Diantara ruko-ruko kosong, bertuliskan ‘disewakan’.


Pengunjung berdatangan dan mulai ramai ke kedai. Rata-rata adalah makasiswi universitas yang tidak jauh dari sana. Mereka terus memperhatikan hingga satu jam. Namun tidak melihat keberadaan Gita muncul.


“Mungkin dia gak dibagian yang melayani kali. Gak kelihatan dari sini,” kata Aditya yang mulai tidak sabar.


“Hmm… mungkin dia di dapur. Lagi masak. Soalnya masakannya enak. Pantas kedainya rame,” kata Arki terdengar lemah. Tapi matanya selalu mengawasi dari jauh.

__ADS_1


Aditya terkekeh. Melihat Arki begitu fokus. “Kamu suka banget ya sama masakan dia?”


“Ya jelas lah.”


“Bangunin aku kalau udah lihat istrimu keluar. Aku mau tidur dulu, capek nyetir.”


Aditya segera menutup matanya. Membiarkan Arki fokus mengamati dari jauh. Dia membiarkan saja kakaknya melakukan itu, toh tidak akan ketahuan juga oleh istrinya. Kaca mobil mereka terlihat gelap dari luar. Arki bisa santai memata-matai hingga rasa rindu dan penasarannya tuntas.


Jam makan siang sudah hampir selesai. Mahasiswa dan para pengunjung yang ramai mulai surut dari kedai. Hanya beberapa saja yang tetap tinggal. Arki terbelalak tidak percaya saat melihat sosok Gita muncul ke depan kedai, membereskan piring dan mangkuk kotor bekas pelanggan. Wajahnya nampak bahagia, senyuman tidak hilang dari wajahnya saat berbicara dengan orang yang membantunya.


Arki tidak bisa berkata apa-apa selain terpaku di tempatnya. Air mata dan perasaan lega turun tiba-tiba. Gita yang dikenalnya. Gita yang dicintainya. Hidup, bernapas, dan bergerak bebas. Dia tetap sama seperti yang diingatnya. Tidak. Gita lebih cantik, lebih menawan, lebih menggairahkan dibandingkan terakhir Arki melihatnya. Apakah mungkin karena sekarang Gita hidup bebas dan bahagia? Tanpa dirinya yang mencengkram dan menyakitinya?


Dia terlihat lebih berisi dan seksi. Arki bahkan hampir bisa merasakan kulitnya yang lembut dalam genggamannya, seperti yang sering dia lakukan dulu. Arki tidak pernah tahu bahwa dia sebutuh ini pada Gita. Terlalu menginginkannya hingga nyaris gila. Kalau saja kewarasan tidak menahannya, saat itu juga Arki ingin berlari memeluk Gita. Dia ingin meminta maaf dan meminta Gita kembali.


Aditya menyadari bahwa Arki sedang memandang ke sebrang, dimana seorang perempuan cantik sedang membereskan meja-meja. Tidak buruk juga selera Arki. Aditya baru pertama kali melihatnya langsung. Kakak iparnya. Terlihat manis dan menyejukkan, seperti es melon di hari yang panas. Tapi bukan selera Aditya, dia lebih suka perempuan seksi dan menantang.


“Mas, boleh minta tolong, gak?” panggil Aditya menurunkan kaca mobil, pada seorang mahasiswa yang kebetulan melintas di depan kendaraannya.


“Ya? Ada apa, ya?” kata mahasiswa itu kebingungan mendekat ke arah Aditya.


“Tolong beliin makanan di kedai itu dong. Menu paling best seller deh tanyain,” kata Aditya.


Mahasiswa itu terlihat lebih bingung mendengar permintaan Aditya. Padahal jarak antara mobil dan kedai tidak lebih dari 200 meter. Dia bisa saja turun dan memesan langsung tanpa menyuruh orang lain.


“Saya harus jagain kakak saya, takut ngamuk,” bisik Aditya menyadari tatapan aneh dari mahasiswa tersebut. “Dia ODGJ. Tuh lihat sekarang aja lagi nangis,” lanjutnya.


Mahasiswa itu melongok sekilas ke kursi belakang dari jendela Aditya. Arki tampak menyedihkan, menatap lurus pada kedai dengan air mata yang jatuh ke pipinya. Baru kemudian dia menyetujui permintaan aneh tersebut. Tentu saja dengan dijanjikan uang imbalan.


“Maksud lo apa ODGJ, Setann!” kata Arki kesal menggeplak kepala Aditya.


“Sabar. Sabar. Ini bagian dari skenario. Kamu mau makan masakan istrimu lagi, kan?”


Tidak sampai dua puluh menit, mahasiswa itu kembali dengan sekantong penuh makanan. Setelah diberi uang seratus ribuan, dia pergi dengan senyuman cerah. Aditya menyerahkan kantong tersebut pada Arki. Setelah mencomot potato wedges dan menyuapkannya ke mulutnya sendiri.


“Nih makan! Semoga bisa ngobatin kangen sebentar. Habis ini kita fokus lagi sama rencana, kita pulang sekarang.” Aditya mulai menyalakan kendaraan.


Arki merasa tidak rela harus pergi. Kendati Gita sudah tidak ada dalam jarak pandang. Dia bisa betah seharian memandang kedai tersebut. Berharap Gita muncul lagi. Tapi Aditya benar, dia harus fokus kembali pada rencana. Agar saatnya bertemu kembali dengan Gita, dia benar-benar aman. Tanpa kejaran dan ancaman dari Arya.

__ADS_1


“Hmm.. masakan istrimu enak juga. Pantes bucin. Layak dimakan, gak kayak masakan si Adrian.” Aditya mengomentari sambil fokus menyetir.


Arki akhirnya memfokuskan diri ke kantong yang di peluknya. Tersenyum mencium aroma wangi dari masakan Gita. Dia mencoba satu persatu makanan tersebut. Rasanya benar-benar seperti yang diingatnya. Apalagi nasi goreng seafood favorit Arki. Dia mengunyah sambil tersenyum dan kerinduan yang semakin memuncak di hatinya.


__ADS_2