Istriku Penipu

Istriku Penipu
Calon Mertua


__ADS_3

Mereka sampai di rumah milik ibu Arki sekitar pukul 11.30, jalanan ternyata macet dan membuat kendaraan tertahan beberapa kali.


Rumah yang mereka kunjungi tampak sederhana, dengan taman yang cukup luas, 2 lantai, dan disebelahnya terdapat bangunan khusus tempat para penjahit binaan ibu Arki bekerja.


Ibu Arki sudah lama membuka usaha rumahan dengan menjahit daster, kerudung, ataupun gamis. Mempekerjakan beberapa tetangganya disana. Dia menghidupi Arki lewat semua karya dan usahanya sebagai penjahit, setelah dia bercerai dengan suaminya sewaktu Arki masih SD.


Arki menggenggam tangan Gita saat mereka akan memasuki rumah. Gita terlalu kaget untuk menolak hal tersebut. Padahal Gita benci harus bersentuhan dengan orang yang melecehkannya. Tapi kali ini dia tidak punya pilihan, ketika memasuki halaman rumah itu, hatinya langsung jatuh ke kaki karena gugup.


“Assalamualaikum,” ucap Arki saat memasuki rumah.


Dia langsung mencium tangan seorang perempuan yang duduk di sofa ruang tamu, Gita menduga dialah ibu Arki. Wajah sebelah kirinya terlihat kaku, efek penyakit stroke yang dideritanya. Di sofa lain di dekatnya, duduk seorang perempuan yang beberapa tahun terlihat lebih mudah dari Arki.


“Oh ini calon tuh?” kata perempuan muda yang menggendong anak balita, berjalan masuk menuju ruang tamu.


Gita dipersilakan duduk setelah mengikuti Arki mencium tangan kedua perempuan tertua disana, yang sesuai dugaannya diperkenalkan sebagai ibu dan yang lain adalah tante Irma. Sedangkan perempuan yang menggendong balita merupakan adik sepupu Arki bernama Indah dan anaknya Anaya.


“Cantik juga calon kamu, Ki,” ucap tante Irma yang terus menelisik penampilan Gita. Untung saja Gita hari ini berdandan, bisa jadi gunjingan kalau dia tampil polos seperti biasanya saat bertemu keluarga Arki.


“Bang Arki kan seleranya cewek-cewek cakep, Bu,” jawab Indah.


“Ah tapi masih cakepan yang kemarin sih, Ki,” balas tante Irma. Kata-kata itu langsung membuat Gita ingin menyumpal mulut perempuan tua itu.


“Yang dulu yang mana maksudnya?” tanya Arki ketus. Baru kali ini Gita mendengar Arki berbicara dengan nada seperti itu.


“Ibu sih yang mana aja, asal Arki seneng sama dia,” kata ibu Arki menengahi.


“Aku gak mau banyak basa-basi, lagian aku udah kasih tahu juga beberapa hari lalu lewat telepon. Aku sama Gita kesini mau mengenalkan Gita, sekaligus minta restu buat nikah,”


“Kapan rencananya, Ki?” tanya ibunya.


“Minggu depan.”


“Hah? Gila kamu, Ki! Masa secepat itu?” kata tante Irma kaget.


“Ki, apa gak terlalu cepat? Persiapan nikah kan banyak,” ucap ibu yang kurang setuju dengan keinginan anaknya.

__ADS_1


“Ini gak terlalu cepat kok dan ngapain juga harus nunggu lama? Aku udah ngehubungin teman-temanku yang punya usaha WO. Mereka bisa sediakan jasa mereka dalam waktu seminggu. Dekorasi, baju, make up, catering dan semuanya aman. Kita gak mau pesta yang terlalu gede dan ribet juga, Bu,” kata Arki menjelaskan persiapannya.


Gita pun tidak percaya saat mendengarnya. Arki benar-benar sangat cepat tanggap untuk urusan ini. Rasanya Gita ingin bertepuk tangan untuk Arki. Pantas saja karirnya melejit diusia muda menjadi seorang senior auditor. Dia benar-benar cepat dalam mengambil keputusan dan mempersiapkan langkah.


“Jangan-jangan kalian mau nikah cepet gara-gara hamil duluan, kan?” tuduh tante Irma.


Gita yang dari tadi diam saja langsung mengkerut takut. Persiapan mental yang dia banggakan menciut seketika saat berhadapan dengan tuduhan seperti ini. Pura-pura hamil adalah kebohongan semata dan rencana liciknya saja, tapi entah kenapa Gita merasa saat ini dia memang sedang mengalaminya.


“Tante jangan ngomong sembarangan dan memperkeruh suasana kayak gini. Tante pikir aku berani ngelakuin hal-hal kayak gitu sebelum nikah?” ucap Arki membela diri.


Gita langsung menatap Arki yang masih menghadapi tuduhan tantenya.


Cih! Padahal dia suka jajan perempuan! Sok suci!


“Kita belum kenal satu sama lain, Ki. Gita baru kamu kenalin sekarang,” ucap ibunya lebih tenang.


“Tapi aku udah kenal sama Gita lebih dari 2 tahun. Kita udah pacaran 6 bulan, Bu. Aku minta maaf gak sempat kenalin Gita sama kalian. Tapi kita udah mantap banget mau nikah dalam waktu dekat.”


Arki jago bohong juga ternyata. Pikir Gita.


“Ki, apa gak bisa tunggu sampai bulan depan?”


“Kita tuh padahal udah punya calon buat kamu, temennya Indah yang mau kita kenalin bulan ini,” kata Tante Irma tidak sengaja membocorkan.


Arki langsung tercengang mendengarnya. “Oh ini jadi alasannya gak kasih aku sama Gita restu? Karena kalian udah nyiapin cewek lain, dan mengabaikan perasaan aku, gitu?” Arki mulai kesal. Nada bicaranya mulai meninggi.


“Bukan begitu, Ki. Ibu cuma mau kenal Gita lebih dalam dulu.”


“Yang mau nikah itu aku, Bu. Gita paling sekali dua kali berkunjung kesini, kalau Gita gak cocok sama ibu emang bakal ibu tolak? Terus gimana sama perasaan aku?”


“Arki, kita gak tahu bibit, bebet, bobotnya anak ini. Apalagi kamu bilang dia yatim piatu, ga punya saudara sama sekali. Gimana kalau dia penipu, Ki?” ucap Tante Irma menuduh Gita.


Gita langsung menggigit bibir bawahnya karena gugup dan takut. Lehernya juga terasa tegang, keringat dingin membasahi tengkuknya. Apakah dia memang terlihat seperti penipu? Apakah semua kebohongannya terlihat jelas?


“Irma!” bentak ibu, matanya menangkap ekspresi Gita yang tidak nyaman. Bukan maksudnya untuk mempersulit restu pada mereka. Dia hanya ingin mengenal calon menantunya itu lebih dekat, tidak ingin kejadian dulu terulang kembali.

__ADS_1


“Tante kalau ngomong sembarangan kayak gitu lagi aku—“


“Arki, udah!” potong ibu dengan tegas.


Ibu menarik napas terlebih dahulu sebelum berbicara. “Kalian udah pikirkan matang-matang rencana pernikahan ini? Bukan karena ada hal lain yang bikin kalian mau cepat-cepat menikah?” ucap ibu dengan tegas namun tetap tenang. Arki mengangguk, melihat itu Gita pun ikut mengangguk.


“Ibu gak punya maksud buat menghalangi niat baik kalian, hanya saja ibu masih berpikir ini terlalu cepat. Tapi kalau kalian mau janji sama Ibu buat berumah tangga dengan benar dan sudah memikirkan ini matang. Ibu gak bisa menahan kalian buat nikah,” lanjutnya.


Arki tersenyum lega mendapatkan izin ibunya. Meskipun dia harus berbohong tentang keadaan Gita dan semua hal pada orang yang disayanginya itu. Pernikahan yang diawali oleh kebohongan seperti sekarang, apakah ini akan berakhir baik?


“Ibu gak mau denger kalian pisah karena gak cocok setelah menikah beberapa bulan. Ibu gak mau kalian saling menyakiti, membohongi, atau mengkhianati,” kata ibu penuh peringatan sambil menatap lekat Arki dan Gita bergantian.


Dada Gita terasa sesak mendengar ultimatum dari ibu Arki. Bagaimana dengan rencananya yang menceraikan Arki dalam waktu 3 bulan? Apakah satu-satunya pilihan hidupnya adalah menikahi Arki selamanya? Menjadi istri dan melayani laki-laki melecehkannya? Laki-laki yang terlihat baik diluar tapi sangat liar dan menjijikkan di dalam, yang senang bermain dengan perempuan bayaran. Gawat!


Pembicaraan berlanjut ke hal-hal yang lebih ringan. Meskipun tidak ada hal baik yang ada dihidup Gita, tapi kali ini dia mencoba mengatakan dengan sejujur mungkin. Dibumbui sedikit kebohongan, tentu saja.


Tante Irma jelas sangat tidak senang dengan semua penuturan Gita. Sepertinya dia masih menganggap Gita bukanlah calon yang tepat untuk Arki.


“Makan yang banyak ya, Git. Ibu udah masakin khusus buat tamu yang Arki bawa,” kata ibu yang terus menawarkan makanan di meja makan.


Mereka masih mengobrol banyak hal saat makan siang, meskipun Gita lebih banyak diam karena masih merasa canggung pada keluarga Arki. Dia hanya menyuap dan mengunyah makanannya dengan tenang, sesekali menjawab pertanyaan jika ditanya.


Makanan ibu Arki sangat enak. Gita menyukainya, suwir ayam, perkedel kentang, dan Soto Bandung yang lezat. Saat menyuap untuk kesekian kalinya, Gita tanpa sengaja memakan bagian paling dia benci dari olahan ayam, yaitu kulit.


Sejak kecil Gita membenci tekstur dan rasanya yang aneh, dia seringkali mual dan pusing setelah mencicipi kulit ayam. Kaget karena bahan tersebut masuk ke mulutnya, membuat seketika perutnya bergolak. Dia ingin muntah saat itu juga.


Gita langsung meminta izin untuk pergi ke toilet, memuntahkan makan siangnya dan seluruh isi perutnya. Cukup lama Gita berada di toilet, kepalanya pusing tak karuan.


Gawat!


Dia akan benar-benar dikira hamil oleh keluarga Arki jika seperti ini. Seseorang mengetuk pintu toilet. Gita segera merapikan diri, menyeka sisa air di mulutnya, dan menahan perasaan tidak nyaman diperut yang tidak kunjung hilang.


“Git, kamu kenapa?” kata Arki saat Gita membuka pintu toilet.


“Kita boleh pulang sekarang gak? Aku tiba-tiba mual dan pusing,” jawab Gita lemas.

__ADS_1


Arki sudah menduganya saat Gita terburu-buru pergi ke toilet dengan ekspresi tidak nyaman. Pasti gadis itu mengalami sesuatu, dan benar saja, sepertinya Gita muntah-muntah karena kehamilannya. Gawat jika keluarganya sampai tahu.


 


__ADS_2