Istriku Penipu

Istriku Penipu
Godaan


__ADS_3

“Git, makan dulu terus minum obat.” Arki menaikan sandaran ranjang agar Gita lebih nyaman duduk.


Gita hanya menatap lurus ke arah makanan yang berada di overbed table tanpa selera. Perasaannya tidak karuan sekarang. Merasa takut sekaligus senang dengan keberadaan Arki. Membenci dan menginginkan Arki secara bersamaan.


Gita belum bisa menyingkirkan rekaman antara Arki dan selingkuhannya di hotel dari pikirannya. Hatinya begitu sakit. Hingga terus memimpikan itu berbulan-bulan sampai sekarang. Meyakini bahwa hal yang dilakukan oleh Arki saat itu adalah perbuatan yang jahat. Membuat Gita kian membenci suaminya dengan dugaan dan bayangan tentang hal-hal yang mereka lakukan.


Kini Arki datang memaksakan logikanya, menyuruh Gita berpikir objektif pada sebuah potongan video yang dilihatnya. Bagaimanapun Gita tidak akan bisa percaya. Meskipun jika Arki mengatakan kebenaran bahwa mereka tidak melakukannya lebih jauh daripada itu. Tetap saja, Arki memiliki niat untuk melakukannya. Gita sudah terlanjur terluka. Sulit kembali percaya pada Arki.


“Mau aku suapin? Tangan kamu masih sakit, kan?” tanya Arki saat melihat Gita hanya menatap makanan tanpa sedikitpun bergerak.


“Gak usah!” tolak Gita kemudian mengambil sendok dan menyuap makanan ke mulutnya. Dia tidak ingin bergantung pada Arki.


Setelah keluar dari rumah sakit, Gita harus mencari cara agar bisa melarikan diri dari Arki. Dia tidak ingin hidup dengan laki-laki pengkhianat yang menjijikkan. Gita tidak akan bisa melakukannya, dia akan selalu bersedih karena pernah melihat suaminya sendiri berbuat liar dengan perempuan lain.


Arki menyingkirkan helaian rambut Gita yang jatuh menghalangi wajah ke belakang telinga. Seketika itu juga Gita menghentikan suapannya dan menatap galak pada Arki.


“Gak usah pegang-pegang!” bentaknya kesal. Gita takut pertahanannya runtuh karena sentuhan-sentuhan Arki. Gita harus membencinya. Tidak boleh lagi menjadi orang bodoh yang tunduk pada laki-laki itu.


“Abis ini aku keramasin rambut kamu ya. Lengket dan masih banyak bekas darrahnya. Nanti aku bantuin kamu mandi juga.”


“Gak mau! Aku bisa sendiri kok.”


Arki tersenyum melihat keengganan Gita. Meskipun dia terlihat galak dan sedang kesal. Tapi Arki tahu, emosinya sudah berangsur mereda. Dia sudah kembali seperti Gita yang dikenalnya, yang selalu marah-marah. Namun, pada akhirnya akan menurut juga karena tidak bisa melawannya.


“Masa?” goda Arki. “Perban kamu nanti kena air lho. Nanti luka jahitan dikepala kamu sakit lagi, gimana?”


Gita semakin galak menatap Arki. Sambil cemberut dia menyuap beberapa kali makanan ke mulut. Sekarang dia memang merasa tidak nyaman. Tubuhnya lengket dan bajunya kotor. Ingin sekali mandi dengan air hangat, agar otot-ototnya rileks. Meskipun tubuhnya masih sakit untuk digerakkan.


Gita tidak berbicara lagi setelah itu. Dia hanya fokus untuk makan. Anehnya selera makannya malah meningkat. Padahal kejadian mengejutkan baru saja menimpanya. Mungkin bayi di dalam perutnya membutuhkan banyak energi karena shock.


Arki terus berada disamping Gita, mendampingi dan membantunya memotong makanan karena tangan Gita masih sakit. Dia seringkali meringis saat menyendok makanan yang keras. Setelah selesai makan, Arki juga membantu meminumkan obat yang sudah diberikan oleh perawat. Kini mereka kembali diam. Gita mulai menyalakan TV di depannya dan tidak mempedulikan Arki.


Arki duduk ditepian ranjang. Tangan kirinya bertumpu sebelah pinggang Gita, menghalangi pemandangan istrinya yang sibuk menonton siaran berita. Dia memiringkan kepala dan tersenyum pada Gita.


“Mau mandi sekarang?” tanyanya setengah menggoda.

__ADS_1


“Gak! Aku gak akan mandi. Biarin aja kayak gini sampai nanti keluar rumah sakit!”


“Aku pernah gak mandi beberapa hari karena depresi waktu tahu kamu meninggal. Terus adikku bilang, aku bau kayak tikus mati. Kamu mau bau kayak gitu juga?”


“Itu kan kamu! Aku gak akan bau kayak tikus mati!”


“Lihat tuh baju kamu kotor kayak gini, banyak bekas darrahnya. Dari kemarin belum diganti. Padahal nanti sore kamu harus periksa ke dokter kandungan. Keluar naik kursi roda, sepanjang koridor kamu bakal ketemu orang. Kalau mereka bilang kamu bau, gimana? Aku sih gak masalah nyium bau kamu, soalnya kan aku sayang sama kamu,” ucap Arki menggoda Gita.


“Apa sih?!” seru Gita kesal.


Tapi kata-kata Arki membuatnya menjadi berpikir negatif juga. Gita memang dijadwalkan memeriksakan kandungannya karena kram tadi pagi. Tidak mau sampai dokter dan perawat menjadi jijik padanya karena belum membersihkan diri.


“Ya udah minggir! Aku mandi sendiri aja,” ucap Gita setelah berpikir agak lama.


“Gak. Kamu gak bisa mandi sendiri dengan kondisi kayak gini. Biar aku aja yang mandiin kamu.”


“Jangan ngambil kesempatan buat berbuat mesum ya kamu! Aku gak mau disentuh-sentuh sama cowok tukang selingkuh kayak kamu! Jijik!”


Arki tersenyum dan mendekatkan wajahnya, kemudian mengecup singkat bibir Gita. Dia tidak tahan untuk melakukannya.


“Aku kangen diteriakin sama kamu,” balas Arki masih tersenyum menggoda Gita. “Kenapa kamu semarah ini denger gosip kalau aku selingkuh? Jangan-jangan kamu cemburu ya, Git? Kamu sayang sama aku juga, kan?” lanjutnya.


Arki mengira Gita pergi karena ancaman dari Arya saja. Tapi saat Aditya mengatakan bahwa pembicaraan yang beredar dari bawahannya, Gita bercerai dengan suaminya karena perselingkuhan. Reaksi dan kata-katanya tadi pun, yang sedang emosi terus mempermasalahkan mengenai hubungan Arki dengan Amanda. Seakan tidak rela jika Arki memiliki perempuan lain. Padahal selama ini Gita tidak pernah terlihat menyukainya.


“Gak usah mengada-ada! Aku benci sama kamu! Minggir, aku mau mandi!” ucap Gita panik dan gelagapan.


Alasan terbesar Gita meninggalkan Arki memang karena sangat cemburu. Apalagi semua bukti mengarah pada dugaan perselingkuhan Arki. Gita tidak bisa hidup bersama laki-laki yang mengkhianatinya. Apalagi Arki juga sudah mengabaikannya beberapa bulan sebelum kepergiannya.


Gita bersikeras turun dari ranjang dan hampir terjerembab jatuh menghantam lantai. Untung saja Arki dengan sigap memeganginya. Pada akhirnya Arki menggendong Gita ke kamar mandi dan mendudukkannya di kloset. Meskipun dengan penuh amukan dan penolakan. Arki merasa kembali ke masa-masa mereka sering ber cinta. Gita yang setiap saat melawannya.


“Diem! Nanti infusan kamu copot! Sini cepetan buka bajunya!”


Arki menarik kaos yang dikenakan Gita ke atas kepala. Protes dan makian terdengar lancar keluar dari mulut Gita. Namun Arki tidak begitu peduli. Dia berusaha berhati-hati agar kain tersebut lolos dari tangan yang tertempel infusan.


“Aku gak mau! Kamu pergi aja! Aku bisa sendiri!” tolak Gita terus-menerus.

__ADS_1


Arki tidak menggubris kata-kata Gita. Dia sudah berhasil meloloskan baju atasan istrinya. Pandangan indah aset yang menggantung ranum begitu menggodanya. Jika bukan karena lebam dan memar yang dilihatnya di sekujur tubuh Gita, mungkin Arki sudah kehilangan akal sehatnya. Saat ini Arki hanya ingin mengecup setiap luka tersebut agar segera menghilang dari tubuh cantik istrinya.


Gita menyilangkan kedua tangannya menutupi dada. Merasa sangat marah dan malu. Seakan pengalamannya yang sudah lama berlalu saat Arki menjamahi tubuhnya terulang kembali. Kini dia dalam keadaan tanpa busana kembali di depan Arki. Takut jika Arki akan menyerang dan berbuat macam-macam lagi padanya. Gita tidak ingin disentuh oleh laki-laki yang tidur dengan perempuan sembarangan.


“Kenapa ditutupin sih? Kayak aku gak pernah lihat aja. Aku udah hapal tiap lekukan tubuh kamu.”


Arki terkekeh melihat aksi Gita. Dia mulai membasahi tubuh istrinya itu dengan air hangat yang keluar dari shower. Seketika Gita menjadi lebih rileks. Seperti yang dia inginkan, mandi dengan air hangat. Kamar VIP yang diberikan oleh Arki tentu saja memiliki fasilitas tersebut. Bukan seperti kamar inap yang mampu Gita bayar saat beberapa minggu lalu harus dirawat karena mual hebat. Disana dia harus berbagi kamar dengan fasilitas toilet bersama. Menyebalkan!


Gita merasa nyaman saat aliran air hangat membasahi tubuhnya. Namun menjadi waspada kembali saat Arki mulai menggosokkan sabun ke tubuhnya, menyentuh setiap inchinya. Pikiran liar tidak bisa Gita hentikan untuk terus berlarian. Mengingatkannya bagaimana Arki menyapukan jemari di sepanjang lekukan tubuh. Membuat Gita seketika merinding.


Hal yang sama juga terjadi pada Arki. Pikirannya nyaris tidak bisa dikontrol lagi ketika menyentuh kulit lembut Gita. Merasakan tangannya menelusuri bagian-bagian yang harusnya tersembunyi dibalik baju. Arki saat ini ingin sekali meregangkan kedua paha Gita, melesakkan pusakanya ke bagian terdalam milik istrinya. Hangat dan mendebarkan. Nyaris saja dia benar-benar melakukannya, jika tidak menahan dan mengingatkan dirinya sendiri kalau Gita sedang terluka.


“Biar aku aja!” kata Gita dengan suara gemetar. Takut sekaligus menikmati sentuhan lembut Arki. Tapi saat ini dia tidak ingin terlalu jauh terbuai. Apalagi Arki mulai bergerak nakal menggosokkan sabun ke bawah perutnya.


Arki menyerahkan spons mandi ke tangan Gita. Membiarkannya menyelesaikan menggosok tubuh bagian bawah hingga ke kaki. Arki kemudian membilas sisa sabun yang menempel. Ujian yang sangat berat baginya. Melihat Gita basah dan tanpa busana. Ular kobranya sedang meronta-ronta di bawah sana.


Selesai memandikan Gita dan memakaikannya handuk, Arki mulai membasuh rambut Gita. Meskipun hanya puncak kepala dan beberapa helaian rambut kotor saja karena tercampur darrah. Kepala Gita masih dibebat perban karena pukulan yang dilakukan Basuki. Dengan cepat Arki mengeringkannya dengan hair dryer agar Gita tidak kedinginan.


Gita sudah lengkap berpakaian. Digendong keluar kamar mandi dan dibaringkan kembali di ranjang. Rasanya segar dan nyaman setelah mandi. Dia juga tidak banyak menolak atau meronta ketika dipakaikan baju oleh Arki. Malah keduanya hanya diam membungkam mulut masing-masing. Meredam pikiran dan hasrat yang ingin satu sama lain mereka lampiaskan.


Tanpa diduganya, Gita benar-benar merindukan sentuhan Arki. Dia terus saja berdebar tiap kali Arki menyentuhnya atau mendekatkan wajahnya saat membantu berpakaian. Mungkin karena dulu mereka terlalu sering memagut dan membelitkan tubuh hingga bertaut. Berbulan-bulan lamanya terpisah, membuat keinginan tersebut semakin tinggi.


“Aku mau beli makan siang dulu di kantin. Gak usah khawatir. Di luar ada bawahanku yang berjaga dan gak akan biarin sembarangan orang masuk kecuali perawat,” kata Arki berpamitan sejenak.


Gita hanya mengangguk. Kemudian melihat punggung Arki yang kini sudah menghilang dibalik pintu. Kenapa sekarang rasanya Gita tidak mau ditinggalkan meskipun hanya sejenak saja? Dia ingin Arki cepat kembali.


“Jangan biarin ada yang masuk!”


Arki memerintahkan pada dua orang yang duduk di depan ruangan Gita. Kemudian dia segera berjalan menyusuri lorong menjauh. Sebenarnya untuk melarikan diri dan menenangkan pikirannya yang dia yakini akan semakin tidak waras.


Bagaimana mungkin waras, jika dia baru saja melihat Gita tanpa busana dihadapannya dan menyentuh seluruh tubuh perempuan itu? Lalu Arki tidak bisa melakukan apa-apa. Menyerangnya. Melampiaskan hasratnya. Dia tidak bisa melakukannya.


Kali ini dia butuh tempat tenang sejenak, untuk menurunkan hasrat yang terlanjur melambung tinggi dan menyentuh kepala. Sebelum bisa kembali menemani Gita.


Arki merutuki dirinya sendiri yang begitu lemah dihadapkan Gita. Mau bagaimana lagi, Gita baginya adalah godaan yang sangat sulit dihindari. Hingga membuatnya begitu gila.

__ADS_1


__ADS_2