
“Bu Gita yakin akan mengajukan cerai pada beliau?”
Pandangan mata tajam Nathan menelisik perempuan dihadapannya. Ekspresinya bercampur antara bingung dan takut. Baginya Gita terlihat seperti perempuan dari kalangan biasa, bukan orang yang kaya raya atau punya posisi tinggi di masyarakat.
Walaupun terlihat cantik dan manis, dia bergaya sederhana. Nyaris jauh dari barang-barang branded luar negeri seperti sosialita pada umumnya. Bahkan tas tangannya saja, Nathan taksir harganya tidak lebih dari 5 juta. Bukan lawan bagi suaminya.
Darimana Arkian memungut perempuan ini menjadi istrinya?
“Saya sudah bawa bukti-bukti kekerasan yang dilakukan oleh suami saya. Bila diperlukan saya juga akan menyerahkan bukti visum segera,” ucap Gita kemudian menyerahkan beberapa lembar foto lebam di lehernya, bekas hickey di paha dan perutnya, serta luka-luka dikakinya. Meskipun luka dikakinya bukan salah Arki. Tapi semua itu terjadi karena perbuatannya yang membuat Gita sangat panik dan ketakutan.
“Emm… Saya akan dalami dulu dan saya akan hubungi jika pihak kami bersedia menerima kasus ini.”
“Jadi maksudnya saya gak bisa dapat jawaban dari Anda dan menggugat cerai suami saya segera?”
“Bu Gita menuntut perceraian dengan tuduhan kekerasan, saya harus mengumpulkan alat bukti dan juga hal lain yang mungkin mendukung tuntutan. Kasus perceraian ini cukup sulit terutama jika Bu Gita menghendaki beberapa tuntutan keuangan terhadap suami Anda. Selain itu, saya tidak bisa janji akan menanganinya dengan cepat, karena klien saya juga sudah banyak mengantri,” kata Nathan berkilah.
“Kalau gitu saya daftarkan sendiri gugatan perceraian saya ke pengadilan. Baru saya akan memanggil Anda sebagai kuasa hukum.”
“Bu Gita, tolong jangan gegabah. Saya sarankan untuk Anda menunggu atau mungkin bermediasi bersama suami dengan konsultan pernikahan terlebih dahulu.”
Gita menautkan alis, tidak senang dengan saran tersebut. Bisa-bisanya seorang pengacara menyarankannya melakukan mediasi dengan orang sekasar Arki, yang sudah jelas telah melakukan kekerasan terhadapnya.
“Jadi maksud Anda, saya harus mediasi dengan suami yang abusif, gitu?”
“Bu Gita, ketika nanti telah dilakukan sidang perceraian pun, pihak pengadilan akan melakukan mediasi pada kedua belah pihak. Prosesnya tidak akan instan dan Anda langsung terbebas begitu saja.”
“Saya tidak peduli dengan mediasi. Saya ingin cerai secepatnya!"
Nathan mendorong dokumen-dokumen yang tadi Gita serahkan di meja. “Kalau begitu, saya rasa tidak bisa membantu Bu Gita untuk masalah kali ini. Saya sarankan, Bu Gita untuk mencari bantuan hukum di law firm yang lebih besar agar mendapatkan kuasa hukum yang bersedia mendampingi Bu Gita.”
Perasaan marah tidak bisa Gita sembunyikan. Ternyata semua testimoni bagus mengenai Nathan di forum hukum adalah bualan. Laki-laki itu malah menyuruhnya untuk mediasi dengan Arki. Gila saja! Dia mana mungkin bisa berdamai dengan suami yang sangat jahat dan menakutkan itu. Sehari pun Gita tidak sanggup lagi satu rumah dengan Arki.
Gita duduk di café sendirian. Matanya fokus pada laptop dihadapannya mencari-cari informasi lain mengenai pengacara yang kompeten untuk mendampinginya di pengadilan. Beberapa kasus hukum mengenai perceraian pun Gita baca dengan seksama, agar menjadi referensi untuknya menghadapi Arki.
Nathan sebenarnya memang benar, dia tidak boleh gegabah mengambil langkah hukum mengenai kasus kekerasan yang dilakukan Arki padanya, yang bisa mendukung bukti dipersidangan. Kalau salah langkah, Gita lah yang akan kena imbasnya, karena kebohongan yang selama ini dia rahasiakan kepada Arki.
__ADS_1
Mia datang dan langsung duduk di kursi dekat Gita. Menatap sahabatnya itu dengan penuh selidik karena penasaran. Tidak lama, Gita mengangkat wajahnya dari laptop kemudian menutup benda tersebut.
“Jadi apa lagi yang mau lo curhatin?” kata Mia sudah tahu maksud dan tujuan Gita mengajaknya bertemu.
“Gue mau cerai.”
“Ck … Lo udah bilang itu dari kapan hari dah, tapi tetap maju mundur karena lo gak rela melepaskan hidup damai dan nyaman lo, kan?” cibir Mia.
“Kali ini gue beneran mau cerai. Nih, gue udah kumpulin dokumen dan bukti kenapa gue harus cerai sama dia buat dibawa ke pengadilan. Tapi gue lagi nyari kuasa hukum yang bagus, buat ngelawan Arki nanti.”
“Gue yakin lo gak akan menang.”
“Kok lo gitu sih, Mi?”
“Tuntutan lo apa ke dia? Minta ganti rugi dan harta gono gini? Lo baru kawin sebulan … Elaah.”
“Gue tahu, kemungkinan gue dapet harta gono gini kecil. Tapi gue mau dia bayar ganti rugi karena melakukan kekerasan sama gue. Lo tahu apa yang dia lakuin ke gue tadi malam? Dia mencoba memperkosa gue pas lagi tidur dan mukul gue sampe pingsan. Pake itu aja gue bisa menjerat dia biar diadili atau bahkan dipenjara.”
“Terus lo sendiri? Lo kan juga nipu dia, Git?” Mia memicing memandang sahabatnya.
“Gue akan tetap menjalankan rencana gue soal keguguran sampai akhir. Dia gak akan tahu soal kehamilan gue yang palsu itu. Minggu ini gue udah mendekati jadwal dateng bulan, kalau dia gak percaya dia boleh cek sendiri kalau kehamilan gue udah lenyap. Terus gue bakal bilang ‘ini semua karena ulah lo, makanya gue bisa keguguran. Sekarang kita gak punya alasan lagi buat mempertahankan rumah tangga, gue mau cerai,’ dan taraa gue udah daftarin gugatan ke pengadilan plus dapat kuasa hukum yang bantu,” ucap Gita menjelaskan rencananya.
“Lo sok-sok pake kuasa hukum gini emang duitnya ada? Bukannya duit yang lo pegang itu duit suami lo?”
“Kan gue udah pindahin sebagian ke rekening pribadi gue. Jadi bisa bayar pengacara hebat sekalipun.”
“Kalau dia ngajuin banding, gimana? Lo harus bayar pengacara lebih mahal. Lo pikir orang kayak dia mau kalah sama lo di pengadilan? Sekarang aja lo ditekan terus, dia juga pasti ungkit-ungkit kesalahan lo pas proses persidangan. Lo tahu? Kalau prosesnya alot berarti lo harus siap spare duit yang banyak buat menangin perkara dan dapat ganti ruginya.”
Gita tahu itu. Dia juga sudah mengkalkulasikan berapa banyak yang harus dia korbankan untuk mendapatkan ganti rugi dan haknya yang tentu lebih besar dari pengeluaran selama proses perceraian. Karena jumlah tuntutannya tidak main-main, semua usaha dan pengeluarannya juga tidaklah sedikit. Tentu saja semua itu akan dibiayai oleh uang Arki, yang dia pelan-pelan curi dari uang bulanannya.
“Gue udah siap semuanya. Tenang aja,” ucap Gita meyakinkan diri.
Meskipun kekhawatiran besar sedang tumbuh menjamur dihatinya. Selama ini tidak ada rencananya yang berjalan mulus ketika dihadapkan pada Arki. Tapi lebih baik mencobanya, daripada terus terjebak dalam pernikahan yang bisa melukai harga dirinya.
“Ya terserah deh. Mudah-mudahan rencana lo sukses, terus pisah sama dia. Gue pingin lo hidup normal lagi. Kerja yang rajin, gak usah neko-neko kayak sekarang.”
__ADS_1
“Gue juga berharap kayak gitu. Balik ke kehidupan normal dan gak berbohong lagi. Utang gue juga udah lunas sekarang. Gue gak punya beban apa-apa buat kerja kerja kerja sampe mati. Asal gue gak punya cicilan, hidup gue aman. Biarpun gue masih berharap kaya mendadak hasil dari ganti rugi setelah perceraian.”
Gita pulang cepat hari itu, takut Arki tahu kalau dia pergi keluar rumah untuk mencari pengacara dan berniat mendaftarkan gugatan perceraian. Dia akan melakukan pencarian pengacaranya Senin nanti, saat dia kembali bekerja. Gita tidak mungkin keluar rumah saat weekend, karena Arki akan terus disana untuk mengawasinya.
Taksi online yang Gita kendarai sudah sampai di depan rumahnya. Dia turun dari sana kemudian kaget ketika dua orang menghampirinya. Orang yang seumur hidup tidak ingin Gita temui lagi. Orang yang menyebabkannya menanggung kemalangan beserta segudang utang yang menumpuk.
“Enak yee, udah jadi orang kaya, gak inget sama Ibu dan sodara sendiri!” ucap Ani geram.
Dia sudah menunggu Gita di depan rumah sejak siang, berpanas-panasan, dan dikira gelandangan oleh orang yang kebetulan melintas. Tapi tidak seorang pun keluar dari rumah mewah tersebut untuk menyambutnya.
“Ngapain Ibu disini? Bukannya Ibu udah ngusir aku dan gak mau ketemu lagi? Pasti Ibu kesini buat minta duit, kan?”
“Kita mau tinggal di rumah lo. Sekarang kita gak punya rumah dan lo punya kewajiban buat ngurusin hidup kita kayak yang lo janjikan ke ayah lo! Gue punya hak atas kehidupan lo yang mewah kayak sekarang. Gue udah ngurusin lo dari kecil. Gak inget lo, hah?!”
“Hak? Sebelum nuntut hak, harusnya Ibu penuhi dulu kewajiban sebagai orang tua. Selama ini yang Ibu lakukan cuma manfaatin aku doang buat bayar utang! Kalau pun harus melanggar janji sama ayah buat ngurusin hidup kalian, aku bakal lakuin. Biar ayah sekalian bangkit dari kubur dan lihat kelakuan istrinya yang gak tahu diri!” balas Gita emosi.
Ani sangat tidak senang dengan kelakuan Gita yang semakin hari semakin berani melawannya. Ini semua karena pengaruh temannya Mia yang sangat liar itu. Padahal dulu Gita lebih penurut dan mudah dikendalikan.
Kesombongan dan keberaniannya makin menjadi setelah statusnya berubah dari orang miskin menjadi orang yang berkecukupan. Sejak kapan dia sekarang memakai baju bagus, tas mahal, dan sepatu cantik? Memuakkan!
Apalagi Gita terlihat lebih berisi dan molek. Dia sepertinya mendapatkan kemewahan hingga bisa melakukan perawatan terhadap wajah buruk rupanya. Ani semakin dibakar perasaan iri.
“ANAK DURHAKA LO! GAK INGET GUE KASIH MAKAN, GUE SEKOLAHIN! TAHU GITU GUE SURUH AYAH LO BUAT BUANG LO DI BANTAR GEBANG, SEKALIAN LO DIKUBUR SAMA SAMPAH!” teriaknya nyaring.
Mereka terus beradu mulut dan saling melemparkan ejekan serta sumpah serapah. Saling menyerang seakan siap menghunuskan kata-kata kebencian paling mematikan.
Gita sudah tidak peduli jika tetangga di sekitarnya mendengar pertengkaran tersebut. Meskipun pada jam ini biasanya mereka tidak berada di rumah, melainkan di tempat kerja masing-masing.
“Gue tahu lo nikahin suami lo sekarang karena lo pura-pura hamil, kan?!” tandas Ani membuka kartu rahasia yang disembunyikan Gita.
“Gita, mereka siapa?” tanya Arki yang tiba-tiba muncul. Keluar dari mobilnya dan terlihat bingung dengan pertengkaran di depan rumahnya.
Gita terdiam dan membeku. Sama sekali tidak menyadari kedatangan mobil Arki yang kini terparkir di jalan depan dekat rumahnya. Dan lagi, ibunya mengetahui tentang kebohongan Gita.
Apakah Arki juga mendengar apa yang ibu tirinya tadi katakan?
__ADS_1