
Tamparan keras mendarat di pipi Arki saat tiba di kediaman Wibisana. Ela tidak pernah semarah ini seumur hidupnya pada putranya sendiri. Kekecewaan jelas tergurat di wajahnya. Padahal, selama ini dia sudah berusaha keras membesarkan dan membimbingnya.
Belum pula sakit hatinya mereda karena pengakuan Arki tentang pernikahannya dengan Gita. Kini dia mendapatkan kabar tentang perbuatan gila putranya mencelakakan ayahnya sendiri. Ela tahu Arki begitu membenci ayahnya. Tapi sepertinya kebencian itu malah merubah dirinya menjadi seperti Arya. Melakukan hal-hal yang sama mengerikannya seperti Arya.
“Harusnya kalian semua dipenjara karena perbuatan seperti ini!” bentak Ela.
Arki, Adrian dan Aditya hanya menunduk pasrah menerima semua cacian dan protes panjang dari Ela.
“Apa kalian senang dengan berbuat sekejam itu pada ayah kalian sendiri? Pantas hal kayak gitu dilakukan? Ibu tahu kalian benci pada Arya. Tapi dia tetap ayah kalian! Alasan apapun tidak membenarkan perbuatan kalian!” lanjutnya penuh emosi.
“Terus menurut ibu dengan cara apa kita harus mendapatkan keadilan untuk perbuatan Arya? Dia udah bunuh ibunya Aditya, merusak hidup Tante Salma dan Adrian, terus memanipulasi kematian Gita! Kita harus menerima gitu aja diperlakukan seperti itu sama Arya!” balas Arki yang akhirnya bersuara.
Ela terdiam sesaat mendengar kata-kata Arki. “Maksud kamu memanipulasi kematian Gita gimana?” kata Ela bingung.
“Gita masih hidup. Orang yang kita kubur bukan Gita, tapi ibu tirinya yang melarikan diri dari Arya. Mereka memanipulasi seakan Gita sudah meninggal. Padahal dia disembunyikan di tempat lain. Ibu gak lihat aku sehancur apa pas tahu Gita meninggal? Terus aku harus tetap menghormati dan gak terpikirkan membalas semua perbuatannya, gitu?”
Ela menahan tangisnya saat Arki menjelaskan tentang kabar mengenai menantunya. Dia tahu Arya memang bisa melakukan hal-hal jahat seperti itu. Dia sudah melakukan hal jahat pada orang-orang disekitarnya. Meskipun hatinya tidak sanggup melihat anak-anaknya sendiri membalas dendam dengan sama kejamnya.
Setiap hari dia bersedih atas kematian ibu dari Aditya. Makanya dia rela merawat anak malang itu. Melepas semua perasaan cemburu dan sakitnya pengkhianatan dengan mengurus Aditya. Di dalam hatinya, dia ingin Arya berubah. Lebih bertanggung jawab pada semua perbuatannya. Ela juga tahu bahwa kematian ibu Aditya hanyalah rekayasa karena dia mencoba melarikan diri dari belenggu Arya.
Hingga saat ini, entah apa yang bisa dilakukannya untuk mengembalikan Arya ke jalan kebenaran. Menyudahi semua perbuatan gilanya yang semakin tidak terkendali. Sampai sekarang dia sulit mengerti sosok itu. Mantan suaminya sendiri, yang dia cintai sepenuh hati.
“Aku ingin Arya menandatangani surat cerai dengan ibuku dan pengalihan kekuasaan serta hak waris sesuai kesepakatan kami bertiga. Selebihnya aku gak akan berbuat apa-apa lagi,” ujar Adrian dengan tenang menyerahkan map di meja ruang tengah.
“Aku tetap mau dia mati. Sampai dia mati, aku gak akan menyerah,” kata Aditya menimpali dengan nada dingin.
“Aditya! Berhenti memperumit masalah! Perbuatan kamu terhadap Basuki saja sudah melanggar hukum. Kamu akan dipenjara karena melakukan hal yang lebih dari itu!” bentak Ela tidak percaya.
“Aku gak peduli kalau harus dipenjara. Aku harus lihat dia mati dulu, baru akan berhenti,” kukuh Aditya.
__ADS_1
Ela merangsek memeluk Aditya. Dia tahu bagaimana sulitnya hidup anak tersebut setelah ibunya meninggal. Tidak menyangka dendam yang ada dihatinya sedalam ini. Ela ingin Aditya hidup bahagia tanpa terus terkurung dalam kebenciannya pada Arya.
“Ayahmu sekarang sedang kritis, Dit. Cukup! Mama mohon sama kamu buat berhenti. Inget yang selalu Mama bilang sama kamu? Kamu harus hidup bahagia. Itu juga berarti melepaskan dendam kamu. Ayahmu udah dapat ganjarannya, karena perbuatan kalian penyakit jantungnya semakin parah. Nabila bilang mungkin saja dia gak selamat,” pinta Ela pada Aditya.
“Baguslah kalau gak selamat. Berarti usaha kita gak sia-sia balas dendam sama dia,” tambah Arki.
“Arkian, Ibu gak mau dengar lagi—“
“Ibu gak akan dengar apa-apa lagi dari aku soal Arya. Aku udah cukup puas dia masuk rumah sakit dengan keadaan yang seperti itu. Kalau Ibu mau terus membela dia, silakan aja. Gak ada lagi urusanku dengannya. Aku harus balik ke Bogor. Gita lebih membutuhkan aku dibandingkan ngomongin hal gak jelas kayak gini soal Arya.”
Arki langsung beranjak pergi dari sana. Tidak peduli ketika ibunya terus memanggil namanya. Akan sulit mendebat Ela jika berhubungan dengan Arya. Arki tahu hingga sekarang ibunya itu masih menyimpan perasaan cinta pada laki-laki kejam itu.
Tidak ada tuntutan atau permintaan apapun darinya untuk Arya. Ibunya juga sudah tidak bisa membalikkan keadaan seperti semula. Arya sudah lemah, dia menunggu kematiannya.
Apakah ibunya akan meminta mereka bersimpuh minta maaf di depan Arya? Hingga kiamat pun Arki tidak akan melakukannya. Tidak peduli jika ibunya akan sedih melihat anak laki-laki sedurhaka ini. Dia akan mengurusnya lagi setelah Gita keluar dari rumah sakit. Jika ibunya marah padanya pun, dia pasti akan segera memaafkannya. Terlebih ketika nanti tahu bahwa Gita sekarang sedang mengandung cucunya.
Gita tidak tahu kapan Arki sampai di rumah sakit kembali. Saat menerima telepon tadi siang dari ibunya, dia lekas berangkat kembali ke Jakarta. Berjanji akan pulang secepatnya. Kini laki-laki itu sedang berbaring di sofa.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari, saat Gita terbangun karena merasa haus. Dia turun dari ranjangnya dan menghampiri Arki. Menyematkan selimut agar suaminya tidak kedinginan. Beberapa saat Gita terus diam, duduk dipinggiran sofa sambil terus memperhatikan Arki yang tengah terlelap.
Sosok tersebut tampak damai dalam tidurnya. Meskipun demikian, Gita bisa melihat Arki sangat kelelahan. Kantung matanya menggelayut samar, rambut yang acak-acakan dan baju yang terlihat lusuh. Selama beberapa hari ini pasti dia belum bisa beristirahat dengan benar.
Beberapa hari kemarin dia datang menolongnya, menghajar orang-orang yang merusak kedainya dan menganiaya Gita. Risa tadi datang dan bercerita, melihat bagaimana marahnya Arki saat melihat Gita dipukuli. Amang Tukang Rujak yang bernama Sobri ikut bercerita, bahwa Arki melumpuhkan semua bawahan Basuki hingga tidak bersisa.
Bisa dibayangkan semenakutkan apa Arki saat itu. Tapi bagi Gita dia pantas disebut sebagai pahlawan. Iya, Arki selalu menjadi pahlawan dihidupnya. Bahkan sebelum semua skenario penipuan dan pernikahan dengannya terlaksana. Dia atasan di tempat kerja yang beberapa kali membantunya.
Gita tidak tahu kapan hingga semua kebaikan laki-laki ini tandas digantikan kebencian. Seharusnya Gita tidak sebenci itu pada Arki dulu. Mungkin hal seperti sekarang tidak akan terjadi.
Dia merenungkan kembali mengenai suaminya. Dia memang tidak sempurna. Pemarah, otoriter, posesif dan mungkin yang paling membuat Gita sulit menerima hingga membencinya adalah kenyataan bahwa Arki sudah menghabiskan banyak malam dihidupnya tidur bersama perempuan lain selain Gita. Padahal dia selalu menginginkan suaminya adalah orang yang menjaga diri sepertinya juga.
__ADS_1
Namun, kini Gita lebih bisa menerima. Semua itu masa lalu. Semua perempuan itu adalah masa lalu Arki. Hanya Gita lah yang akan menjadi masa depannya. Arki juga sudah cukup membuktikan diri bahwa dirinya menyesal dan akan berubah. Tidak akan tergoda lagi pada perempuan mana pun. Meskipun kadang ketakutan itu masih Gita rasakan.
Kecupan lembut Gita daratkan di bibir Arki, kemudian Gita lekas berdiri dan siap menyeret tiang infusnya kembali ke tempat tidur. Namun, tangan Arki menahannya. Entah kapan dia bangun. Apakah kecupannya tadi membuat Arki terjaga?
“Maaf,” kata Gita tiba-tiba karena merasa membangun istirahat Arki setelah harinya yang melelahkan.
“Buat apa?”
“Karena gak sengaja bangunin kamu?” lanjut Gita bingung.
Arki duduk dan menyuruh Gita juga duduk kembali di sofa. Dia merangkum wajah Gita dan menyentuh tengkuknya, mengarahkan wajah mereka agar mendekat. Kemudian mencium bibir manis tersebut. Kecupan yang dalam, lembut, dan menyenangkan.
Gita tidak menyangka Arki bangun hanya untuk ini. Tapi dia berusaha menikmatinya. Tidak ingin menolak sentuhan mengejutkan di dini hari seperti sekarang. Selama beberapa saat mereka saling memagut dan tidak saling melepaskan.
“Jangan setengah-setengah kalau mau cium aku,” kata Arki dengan cengiran lebar setelah puas menyerang.
“Kamu tadi lagi tidur. Masih sempat-sempatnya nagih buat dicium,” protes Gita pura-pura kesal.
“Gak mungkin gak kebangun kalau yang sentuh aku itu kamu,” goda Arki.
“Ya udah sekarang tidur lagi sana! Masih jam satu pagi.”
“Peluk dulu,” ucap Arki manja sambil merentangkan tangan. Gita membalasnya dengan sebuah pelukan hangat.
Arki kemudian mengangkat tubuh Gita dalam pangkuan. Menggendongnya kembali ke ranjang tempat seharusnya dia berada.
“Kamu yang istirahat. Jangan turun dari ranjang kayak tadi. Kamu belum sehat,” tandas Arki kemudian mengecup kening Gita.
Gita hanya mengangguk dan tersenyum. Merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya masuk dan melingkupi hatinya. Sesuatu yang sangat dia inginkan selama ini. Merasa disayangi sebegitu besarnya. Hal yang tidak pernah Gita bayangkan sebelumnya bisa hadir dihidupnya yang penuh dengan kerikil yang melukainya.
__ADS_1