Istriku Penipu

Istriku Penipu
Keturunan


__ADS_3

Ela benar-benar memperlakukan Gita penuh kasih sayang selama seharian kemarin. Mereka mengobrol sepanjang hari, berbelanja di pasar bedua, memasak sambil bercanda, bahkan mereka dengan gembira menyiapkan acara syukuran untuk Irma. Tidak peduli betapa tidak senangnya dengan adik Ela tersebut. Asalkan bisa terus merasakan hal-hal seperti ini, Gita tidak apa-apa.


Jumat malam, Irma tiba di rumah bersama dengan Indah dan Anaya. Semua perisapan untuk acara ulang tahnunnya besok sudah hampir selesai terutama persiapan camilan dan makanan untuk para tamu. Beberapa tetangga dan pegawai Ela juga ikut membantu. Irma tidak usah lagi repot-repot mengurusnya, karena semua sudah dilakukan oleh kakaknya, sebagai hadiah dan ucapan selamat ulang tahun untuk adiknya.


Suasana rumah menjadi ramai dengan kedatangan mereka kembali. Irma dengan semangat menceritakan perjalanan liburannya di Jogja kepada para pegawai Ela. Meninggi dan berbangga diri seperti kebiasaannya. Perilaku yang bertolak belakang dengan Ela yang sangat rendah hati.


Selama semalaman itu pula, Irma terus mengoceh dan berbincang tanpa mempedulikan keberadaan Gita. Seperti dirinya adalah benda transparan di ruangan. Meskipun Ela sesekali melibatkannya, tapi Irma adalah pusat perhatian. Semua orang tertuju pada dirinya. Gita juga sebenarnya tidak keberatan, karena tidak terlalu mengenal orang-orang yang ada dalam perkumpulan tersebut.


Hanya saja, setelah semua perbincangan usai dan orang-orang yang membantu pulang dan beristirahat. Irma tetap enggan menganggap kehadiran Gita. Entah dendam apa yang ada dihatinya.


Apakah karena sindiran kecil di masa lalu saat Gita menyingkirkan Sherly, orang yang Irma jodohkan untuk Arki? Apakah dia belum bisa menerima Gita sebagai menantu di keluarga ini? Gita juga tidak mau ambil pusing, toh dia akan segera pergi. Irma bebas menjodohkan Arki dengan siapa saja nantinya.


Meyakinkan diri bahwa ketika Arki bersanding dengan yang lain, hatinya tidak akan hancur berkeping-keping.


Tenda sudah dipasang dihalaman, makanan prasmanan sudah ditata dengan rapi, kue sudah dibawa ke panggung kecil, dan seorang MC cabutan sudah tampak siap memulai perayaan.


Dibandingkan dengan acara syukuran untuk orang yang berulang tahun di umur nyaris 50-an, ini seperti pesta untuk cucunya. Meriah dan sangat kekanakan. Tapi Gita tidak mau berkomentar. Ela pun bersedia saja melakukannya demi adiknya.


Acara berjalan dengan meriah dan lancar. Ternyata banyak teman lama Irma yang datang menghadiri acara tersebut. Mereka terlihat seperti orang-orang yang berada. Membawa mobil dan hadiah-hadiah untuk Irma. Ela pun sibuk menerima tamu dan teman-teman lama yang hadir menemuinya juga. Gita lelah. Dia ingin segera pulang, tapi dia masih harus menunggu Arki datang.


“Ini Gita, kan? Waduh beda banget! Udah nikah sekarang jadi beda banget,” tanya seorang perempuan menghampiri dan duduk di sebelah Gita.


Gita berpikir sejenak, menggali pikirannya mencari ingatan mengenai perempuan yang terasa familiar itu. “Bu Reni, ya? Kok bisa disini?” tanya Gita akhirnya setelah menemukan jawaban.


Gita mengingatnya sebagai salah satu keluarga kaya dilingkungan rumahnya di Depok, sebelum usaha ayahnya bangkrut dan harus pindah mengontrak di Manggarai. Ibu tirinya dulu sangat suka beradu kekayaan hingga berutang demi terlihat lebih tinggi dan berada dibandingkan orang ini.


“Aku teman SMA-nya Irma. Seangkatan,” balasnya lagi.


“Oh.”


“Kamu nikah sama keponakannya Irma, kan? Kok suami kamu gak ada sih?”


“Arki lagi dinas ke Malang. Nanti sore dia kesini.”


Irma datang bergabung dalam obrolan. “Arki sibuk kerja. Dinas terus ke luar kota. Heran padahal ada istri di rumah, tetap aja ambil kerjaan di luar. Harusnya kasih aja ke bawahannya yang masih single. Sampai acara Tantenya aja datang telat kayak gini,” sambar Irma.


“Orang sibuk gitu kan, Ir. Namanya juga pegawai,” bela Reni.


“Harusnya bedain dong pas masih single sama udah nikah. Jangan kebanyakan dinas ke luar, kayak gak ada tanggung jawab aja di rumah. Atau mungkin Arki ngerasa masih single kali ya karena kamu belum kasih dia anak sampai sekarang,” cecar Irma pada Gita.

__ADS_1


“Iya mungkin juga sih. Kalau udah punya anak biasanya ada cowok yang jadi lebih betah di rumah dan gak pergi-pergi ngambil kerjaan di luar terlalu banyak.”


“Iya kan, Ren?” Irma merasa senang mendapat dukungan. “Kamu tuh periksa ke dokter, Git! Kamu kan punya riwayat keguguran. Mestinya harus ekstra usahanya buat dapat keturunan. Jangan-jangan kamu rahimnya lemah lagi. Padahal keturunanku tuh pada subur-subur loh, lihat Indah. Pas nikah langsung hamil,” cemoohnya tanpa ampun.


Gita hanya mematung, menggigit bibirnya karena panik, sedih dan ingin. Dia ingin. Sangat ingin mengandung anak Arki dan memulai rumah tangganya dengan benar. Mendapatkan perhatian laki-laki itu lagi seperti saat mereka pertama kali menikah. Sekarang itu sudah tidak mungkin. Arki tidak mencintainya. Perpisahan mereka sudah di depan mata.


“Mungkin keturunan dari ibu kamu kali ya, Git? Kalau gak salah ibu kamu juga kosong sampe 3 tahun sebelum akhirnya hamil kamu,” kata Rena mengingat sesuatu tentang ibu Gita.


“Oh pantesan kalau gitu. Keturunan dari ibunya toh, makanya susah hamil. Makanya aku tuh udah bilang sama Arki dari dulu, kalau cari istri tuh harus pilih-pilih dari keturunan yang baik, jelas, dan sehat. Perlu tahu bibit, bebet, dan bobotnya.”


Kemarahan kini menggelegak naik ke kepala Gita. Tidak ada yang boleh menghina ibunya. Gita tahu bahwa dia bukan berasal dari keluarga yang baik ataupun harmonis. Memang dia berasal dari keluarga yang kacau balau. Tapi Gita yakin dia berasal dari keturunan orang baik. ibunya baik dan sehat. Bahkan ibunya bukan meninggal karena riwayat sakit mematikan melainkan kecelakaan.


Gita berdiri dari kursi dengan amarah yang meledak-ledak. Menatap Irma dengan tatapan kebencian dan air mata yang menggenang. Berdiri menjulang dan menantang. Hatinya tersakiti terus menerus karena pembicaraan gila tentang keturunan.


“Kalau keturunan menurut Tante Irma hal yang paling penting di dunia. Kenapa Tante Irma mengizinkan Indah nikah sama orang terpandang yang ternyata b a j i n g a n? yang ninggalin dia pas lagi hamil dan gak pernah datang mengakui anaknya! Harusnya Tante Irma cari menantu yang baik dan jelas kayak yang selalu Tante omongin! Jangan ngurusin siapa yang harus Arki nikahi! Dan jangan pernah hina ibuku sembarangan!” teriak Gita nyaring, mengagetkan semua tamu yang berada disana hingga suaranya terdengar jauh.


Gita mendorong Irma yang berada dihadapannya hingga terjatuh. Kemudian berlari dari halaman rumah Ela, menabrang beberapa tamu hingga terhunyung, dan pergi entah kemana. Air matanya tidak kunjung berhenti. Dia ingin pergi. Memutus hubungan dengan keluarga ini, dengan Arki, sesegera mungkin. Meskipun di kejauhan Gita mendengar samar suara Ela memanggilnya kembali.


...****************...


Arki datang tidak lama sejak kejadian menghebohkan itu, bingung sendiri dengan keramaian yang mengerubungi Irma. Tantenya itu sedang diobati, kedua tangannya lecet karena menahan berat tubuh saat terjengkang jatuh akibat dorongan Gita. Irma juga masih menangis histeris tersedu-sedu dan ditenangkan oleh Ela dan Indah di sebelahnya.


“Tante didorong sama istri kamu! Dia ngata-ngatain Indah dan juga tante, Ki.” Irma begitu shock dengan kelancangan Gita dan berniat mengadukannya pada Arki.


“Gak kayak gitu kejadiannya, Ki.” Ela mencoba memandang masalah lebih objektif agar Arki tidak cepat salah paham.


Arki bingung sendiri, Gita memang terkadang sangat impulsif. Tapi semua perilakunya yang berbahaya deringkali di dorong oleh rasa ketakutan dan marah yang tidak bisa disimpannya lagi. Sama ketika Gita mencoba melukainya. Dia tidak mungkin melakukan hal jahat pada Irma tanpa sebab.


“Tante ngomong apa sama Gita?” tanya Arki, tahu bahwa tantenya itu terkadang terlalu lepas mengeluarkan isi kepalanya.


“Itu—”


“Tante ngomong apa sama Gita?” ulang Arki tegas nyaris membentak.


“Arki, tenang dulu!” Ela mencoba menahan anaknya agar tidak marah-marah.


“Tante bilang dia susah hamil kayak ibunya.” Irma takut-takut menjawab.


Omong kosong apa lagi itu?

__ADS_1


Gita tidak hamil karena dia yang memintanya meminum pil kontrasepsi. Dia belum siap punya anak dengan Gita disaat hubungannya masih sangat abu-abu dan mereka saling membenci.


“Gita dimana?” Arki mulai hilang kesabaran. Dia tahu bahwa Gita akan histeris karena pertengkaran ini. Dia takut istrinya itu melakukan hal berbahaya. Tidak, Arki sebenarnya khawatir. Sangat khawatir Gita terluka karena perkataan tantenya.


“Dia lari keluar. Gak tahu kemana pokoknya lari ke arah pertigaan, Kak.” Indah mencoba memberitahu.


Tidak sampai satu detik mendengar informasi dari Indah, Arki segera berlari. Menyusuri jalanan dan memanggil nama Gita berulang-ulang. Ponsel Gita pun berkali-kali dihubungi, tapi tidak ada jawaban.


Dia semakin panik ketika langkahnya mulai begitu jauh dari rumah. Pikirannya kacau disergap ketakutan. Arki tidak bisa berpikir jernih saat sesuatu terjadi pada Gita. Bahkan dia tidak sempat memikirkan untuk mencari istrinya mengendarai mobil, malah berlari juga seperti Gita.


Setelah pencarian cukup lama, Arki menemukan sosok yang dikenalnya. Duduk di pinngir trotoar di depan mini market perumahan.


Gita dengan pandangan kosong menatap jalanan lengang, air mata bercucuran, mata memerah, dan penampilan berantakan. Dia sudah tidak mengenakan alas kaki lagi dengan luka-luka di lutut. Arki segera berlari menghampiri, lega karena telah menemukan Gita. Dia kemudian berjongkok dihadapannya.


“Kamu gak apa-apa, Git?” tanya Arki khawatir.


Gita mengalihkan pandangan ke arah Arki yang berada di hadapannya. Tidak menjawab. Sorot mata Arki adalah tatapan yang sama seperti saat dia menemukan Gita di kediaman Wibisana, juga saat menemuinya di IGD. Penuh ketakutan dan kepanikan. Benarkah Arki peduli padanya? Benarkah dia peduli tentang keadaannya? Lalu kenapa dia terus menyakitinya?


“Tunggu di sini sebentar!”


Arki masuk ke mini market. Tidak sampai 5 menit kemudian dia keluar menenteng kantong plastik putih. Dia mengeluarkan isinya berupa air mineral, kapas, tissue, obat luka, dan juga plester. Langsung saja Arki membersihkan serta mengobati luka Gita.


Gita hanya memandanginya, masih dengan tatapan kosong dan hati yang penuh luka. Kenapa Arki terus melakukan ini? Berpura-pura. Padahal dia tahu sebentar lagi akan melepasnya. Setiap saat dia memberinya harapan, kemudian mejatuhkannya kembali. Gita merasa sangat bodoh dan konyol. Terus-terusan dipermainkan olehnya.


“Aku mau cerai secepatnya sama kamu,” ucap Gita tiba-tiba ketika Arki masih mengobati lukanya. “Aku udah gak tahan hidup sama kamu dan keluarga kamu. Tolong cepat lepaskan aku aja, Ki. Kamu juga boleh masukin aku ke penjara. Aku gak peduli, asal aku bisa pisah sama kamu. Jangan menyakiti aku lebih dari ini, aku gak kuat! Aku gak bisa!” Tangisnya kini pecah kembali.


Arki menatap Gita kaget, melihat perempuan itu begitu tersakiti dan menderita berada di sampingnya. Gita benar-benar ingin bebas dan lepas dari belenggunya. Hal-hal yang menyakitinya. Dari Arki yang terus mengulur waktu untuk melepaskannya.


Pasti Gita ingin segera menemukan kebahagiaan dengan orang lain, orang yang tidak dibencinya. Tapi hati Arki bergemuruh hebat, tidak ingin merelakan. Meskipun tidak tega melihatnya kini sangat terluka.


“Hmm… aku akan melakukannya segera,” ucap Arki terdengar tenang. Namun pikirannya ganas penuh penolakan.


Air mata meluruh deras di pipi Gita. Dia menatap Arki dengan perasaan terluka dan tidak berdaya. Hatinya sudah tidak sanggup lagi menghadapi hal-hal membingungkan dan menyakitkan di hubungan mereka. Kini dia mendengar langsung Arki siap melepaskannya. Kepalanya riuh. Kelegaan disertai perasaannya yang runtuh.


Kenapa dia begitu kaget mendengar itu dari Arki? Padahal dia yang memintanya. Padahal dia tahu hati Arki tidak pernah berada dalam genggamannya. Padahal dia tahu bahwa bukan dirinya lah yang diinginkan oleh Arki. Padahal dia tahu, semenjak pembicaraannya dengan Arya, Arki sudah bukan lagi miliknya. Dia juga bukan menantu yang diinginkan keluarga Arki.


“Ayo naik!” kata Arki menyuruh Gita naik ke punggungnya. Sendal yang dikenakan Gita rusak dan sudah tidak bisa dipakai lagi. Dia tidak bisa berjalan pulang dengan alas kaki seperti itu.


“Aku gak mau minta maaf sama Tante Irma,” ucap Gita saat sudah berada di gendongan Arki. Mengaitkan kedua tangannya di depan leher Arki, merasakan punggung hangat laki-laki itu untuk terakhir kalinya. Kesedihan yang begitu dalam seiring aroma parfum yang menenangkan terhirup ke indera penciumannya.

__ADS_1


“Gak usah minta maaf. Nanti aku yang bilang dan jelaskan. Kamu langsung naik mobil aja.”


__ADS_2