
Rasanya Arki baru beberapa saat saja terlelap dan meredakan letih yang melingkupi sekujur tubuhnya. Tidak berapa lama kemudian dia mendengar suara keributan yang lekas membuatnya terjaga. Dilihatnya ke sekeliling, Gita sudah tidak ada di ranjangnya. Suara berisik yang mengganggu tidurnya itu berasal dari toilet. Hanya sepersekian detik saja Arki langsung berlari ke sumber suara.
Di sana dia melihat Gita sedang muntah-muntah, sesekali menekan flush toilet duduk, dan terisak. Pemandangan yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan bagi Arki. Beberapa kali pernah melihat Gita mengalami hal demikian ketika sedang menipu dengan kehamilan palsunya. Entah karena apa waktu itu dia begitu hebat bersandiwara, hingga sakitnya begitu terlihat nyata seperti perempuan hamil lainnya.
Arki mendekat dan memeluk Gita dari belakang, yang sekarang masih menunduk ke arah lubang kloset memuntahkan cairan kekuningan. Dengan lembut, Arki mengelus punggung Gita.
Setelah cukup tenang dan tidak lagi mengeluarkan isi perutnya, Gita terlihat lemas dan hampir tumbang. Untung saja ada Arki di sebelahnya dengan sigap menahan. Sang suami yang telaten membersihkan bekas muntahan di mulut dan mengeringkannya, kemudian memapahnya kembali ke ranjang.
“Kamu mau makan atau minum apa biar gak mual lagi?” tanya Arki saat menyelimuti Gita.
“Pingin es krim cokelat,” balas Gita lemah.
“Oke, sebentar!”
Arki bergegas keluar dari kamar kemudian menyuruh salah satu bawahannya yang masih setia berjaga untuk membeli es krim cokelat secepatnya. Tidak peduli sekarang baru pukul lima pagi. Pasti ada minimarket 24 jam yang buka di sekitar sana dan menjual makanan yang istrinya inginkan. Setelah menginstruksikan hal tersebut, Arki kembali ke dalam ruangan dan duduk di kursi samping ranjang.
“Nanti bawahanku yang cariin. Tunggu sebentar. Mau aku bikinin teh manis anget?”
Gita menggeleng dan terkekeh.
“Kenapa? Kok ketawa?”
“Aneh aja lihat kamu nyuruh-nyuruh orang cuma karena permintaan sepeleku. Aku ngerasa kayak nyonya kaya beneran,” ucap Gita masih tidak percaya sehebat apa suaminya dan seluruh keluarganya.
Arki menaikan sebelah alis dengan bingung. “Lho? Kamu baru sadar?”
“Iya. Kirain kamu cuma pekerja kantoran biasa, auditor sukses yang karirnya naik dengan cepet. Bukan anak orang kaya yang punya banyak bawahan kayak mafia. Makanya aku dulu tanpa pikir panjang mau aja menipu kamu. Gak tahu bakal terseret sama kehidupan kamu kayak gini,” ungkap Gita.
“Menipu itu gak baik. Itu pelajaran buat kamu biar gak melakukan kejahatan kayak gitu lagi. Malah kamu beruntung yang kamu tipu itu aku. Sejak awal tahu kamu bohong, aku gak pernah berniat memenjarakan kamu. Semuanya cuma gertakan aja biar kamu mau sama aku,” kata Arki jujur.
“Kenapa kamu ngotot aku harus mau sama kamu? Emang kamu tertarik sama aku dulu, nggak, kan?” tanya Gita aneh.
Arki mengatakan terlambat menyadari bahwa dia menyukai dan menyayangi Gita. Lantas perasaan apa yang dia rasakan diawal pernikahan mereka hingga Arki begitu keras kepala menginginkan orang yang sedang menipunya.
__ADS_1
“Aku punya alasan untuk itu.”
“Apa? Cuma mau main-main dan pake tubuhku doang?” kata Gita dengan nada kesal.
Arki menghela napas. “Ya dan tidak. Kenapa malah ngomongin hal yang udah gak penting sih? Sekarang kan udah beda. Kamu gak perlu tahu alasannya apa, yang penting aku sekarang udah sayang banget sama kamu, ngerti? Jangan bikin aku jadi kesel dan naik darah ya!” kata Arki mulai terpojok. Dia tidak mungkin jujur pada Gita bahwa dulu mengalami disfungsi dan hanya Gita lah yang bisa membuatnya berhasrat kembali. Bisa-bisa jatuh harga dirinya.
“Kenapa sih harus marah-marah gitu? Aku gak suka kamu yang doyan marah-marah kayak gini.”
“Habis kamu selalu aja mancing emosi dan debat gak penting.”
“Aku kan cuma nanya. Aku sebenernya lebih suka kamu yang dulu pas masih jadi atasan di tempat kerja dibandingkan sekarang,” kata Gita merengut.
“Kenapa? Kayaknya gak ada bedanya.”
“Dulu kamu lebih ramah, baik hati, suka senyum, ngomongnya lembut, dan kelihatan keren banget. Meskipun sekarang juga masih kelihatan keren dan ganteng sih. Cuma sekarang kamu doyan ngambek, tukang marah, suka maksa, posesif, ngeselin. Pokoknya nggak banget deh. Aku lebih naksir kamu yang dulu.”
Arki terkekeh. “Aku juga masih kayak yang dulu. Bedanya dulu lebih banyak pencitraannya soalnya kita gak dekat,” jawab Arki santai. “Terus, dulu kamu sempat naksir sama aku?” lanjut Arki mencondongkan tubuhnya karena penasaran.
“Yaa … hampir semua cewek di kantor juga naksir kamu kali,” kata Gita salah tingkah. “Aku gak naksir kamu karena alasan ganteng doang kok. Beda sama yang lain. Aku naksir kamu karena kamu baik. beberapa kali belanjain aku dan bayarin aku pas farewell party,” lanjut Gita semakin salah tingkah.
Seharusnya Arki memang tidak usah berterimakasih pada Rio yang mencekokinya dengan minuman keras. Tapi karena perbuatan isengnya itu dia akhirnya bertemu dengan Gita dengan jalan yang sangat aneh dan berbeda.
Lamunan Arki terputus saat bawahannya yang berpenampilan plontos membawa sekantong es krim cokelat ke ruangan. Kemudian pergi kembali setelah Gita mengucapkan terima kasih dengan ceria. Segera saja setumpuk es krim tersebut dinikmati oleh Gita. Wajahnya yang pucat dan terlihat lesu tadi kini berubah sumringah. Sepertinya perasaan mualnya juga mulai berangsur menghilang. Arki hanya diam memperhatikan.
“Kok aku dulu gak pacarin kamu aja ya dari awal?” kata Arki menyeka bekas es krim yang mengotori ujung bibir Gita.
Gita mendelik. “Ya mana mau kamu sama aku yang masih burik, cungkring, dan kelihatan kayak korban bencana. Pacar-pacar kamu aja tampilannya pasti sekelas Luna, kan?”
“Dari dulu kamu manis kok. Aku pernah bilang sama Rio kalau kamu itu manis. Mungkin makanya aku beberapa kali berbaik hati belanjain kamu dan bayarin tempat karaoke buat acara perpisahan. Soalnya aku gak mungkin bersikap kayak gitu kalau ceweknya gak cakep.”
“Dih, pilih kasih. Ternyata beauty privilege beneran ada ya, pantes aku gak dapet soalnya gak cantik.”
“Kan tadi aku bilang aku baik sama kamu karena kamu manis. Berarti kamu juga dapat keuntungan dari berwajah cakep. Gimana sih?”
__ADS_1
“Ngga, cuma dari kamu doang. Coba aja kalau dari yang lain, aku gak usah nipu kamu dan nikah kayak gini.”
“Kamu gak lihat cowok yang suka nempel-nempel di kantor kamu itu? Siapa namanya? Dia ngelakuin itu karena tertarik sama kamu. Kalau orang lain yang ngelakuin itu sama kamu, udah aku hajar habis-habisan. Jangan pernah bilang nyesel nikah sama aku!" Arki memperingatkan.
Pembicaraan mereka terpotong oleh suara deringan telepon dari ponsel Arki. Sekilas dia melihat nomor Adrian menghubunginya. Tiba-tiba saja Arki berubah masam. Pasti hal yang akan dibicarakan Adrian bukan sesuatu yang menyenangkan. Dia sudah menyiapkan hatinya jika kasus mereka akan diperpanjang oleh Arya. Arki segera keluar ruangan untuk menerima panggilan tersebut. Tidak ingin Gita tahu apa yang terjadi di keluarganya.
“Arya kondisinya udah stabil sejak tadi malam. Sekarang keadaannya udah baik-baik aja meskipun lemah. Lalu ototnya sempat kejang. Untuk beberapa waktu dokter bilang gak bisa jalan,” kata Adrian dengan nada monoton khasnya.
“Terus kenapa? Dia menuntut kita?”
“Surprisingly, nggak. Ibu kamu udah ngejelasin semua kejadiannya dengan jujur sama Arya tadi. Dia menyetujui kesepakatan kita soal pembagian hak waris dan saham perusahaan. Surat cerai ibuku juga sudah dia tanda tangan. Perihal Basuki dan racun itu, dia juga gak akan menuntut.”
Arki mengerutkan dahi bingung. Bukan seperti Arya yang biasanya, dia diam saja ketika ada orang yang menyerangnya sedemikian rupa. Bahkan melenyapkan anak buah andalannya.
“Kenapa? Kok bisa?”
“Go ask your mother! Maybe she has some magic trick to handle this jerk,” kata Adrian tidak peduli. “Aditya sedikit gak terima soal ini. Kamu tahu kan tujuan dia apa ngelakuin ini semua? Meskipun kayaknya ibu kamu juga udah menenangkan dia.”
“Aditya di mana?”
“Aku gak tahu. Dia gak bisa dihubungi. Mungkin dia bakal ke sana, ketemu kamu.”
“Ngapain?”
“Well, I don’t know. Mungkin dia mau menenangkan diri dan nyari validasi tentang perasaannya sekarang. Just for your info, dia kayaknya lebih nganggap kamu abangnya dibandingkan aku. Dia beneran bakal dengerin omongan kamu. Try to give him advice or something, biar dia gak salah jalan.”
Panggilan terputus. Arki sedikit bingung harus menanggapinya. Sebenarnya dia selama ini tidak merasa begitu dekat dengan Aditya. Iya, benar. Walaupun Aditya diurus oleh ibunya. Meskipun setelah dewasa anak itu dengan santai menemui ibunya di rumah dan selalu bertemu Arki.
Hingga saat ini pun Arki tidak mencoba mengakrabkan diri. Malah lebih banyak tidak peduli. Jika diingat kembali, banyak momen dimana Aditya memang benar-benar mengikutinya seperti seorang kakak. Tentu saja Arki tidak begitu senang melakukannya. Dia anak tunggal dan selalu merasa seperti itu.
Kata-kata Adrian ternyata memang benar. Sosok tinggi dengan rambut sebahu yang kelihatan acak-acakan dan berminyak muncul di lorong. Terlihat ceria namun dipaksakan. Arki menghela napas berat saat Aditya mendekat.
“Aku mau jengukin kakak ipar,” katanya saat menghampiri Arki.
__ADS_1
“Belum jam besuk. Ini baru jam enam pagi. Balik lagi jam sembilan. Kamu mendingan ke hotel terus mandi dan ganti baju. Kamu masih pake baju kemarin. Bau kamu kayak kotoran kambing,” tandas Arki tidak begitu peduli kemudian masuk lagi ke ruangan Gita.
Aditya hanya terkekeh dan kemudian pergi mengikuti saran Arki.