
Gita hanya bisa membalas pertanyaan Arki dengan kebisuan. Tanpa sadar menggigit bibir bawahnya karena panik. Bungkam adalah pilihan yang tepat. Arki tidak akan mentoleransi kebohongan lainnya dengan mudah. Apalagi kebohongan ini yang menjebaknya dalam suatu ikatan yang tidak main-main nilainya.
“Jangan coba-coba bohong dan melanggar aturanku ya! Aku gak suka kalau kamu gak jujur dan semaunya kayak kemarin-kemarin,” lanjut Arki memperingatkan lagi.
Tubuh Gita menjadi lemas, nyaris menyerosoh ke lantai mendengar peringatan tersebut. Namun, Arki menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh. Tangan kuatnya memblit di pinggang Gita. Membelenggunya lagi seperti tadi.
Gita merasakan kengerian tersimpan dalam tatapan lembut Arki, siap untuk menghukumnya. Dia tidak tahu akan membangunkan orang sejahat apa jika kebohongan itu terungkap.
“Jangan gigit bibir kamu kayak gitu, nanti luka.” Arki menyapukan ibu jarinya di bibir Gita yang sedari tadi tanpa sadar digigitnya karena panik. Kebiasaan jeleknya yang tidak pernah hilang.
Arki tidak menyukai Gita menggigit bibirnya sendiri seperti itu, membuatnya tergoda untuk melakukannya untuk Gita. Menggigit lembut dan mencerupnya.
“Aku … mau siapin makan malam dulu,” kata Gita menarik dirinya dari pelukan Arki. Tapi laki-laki itu tetap mencangkum tubuh Gita di dekatnya.
“Kamu gak mau ngasih hadiah buatku?”
“Hadiah apa? Buat apa?” balas Gita bingung.
“Aku udah selesaikan masalah utang kamu dan bela kamu depan penagih utang tadi, sampai babak belur kayak gini.”
Gita berpikir sejenak. Ya, memang yang dilakukan oleh Arki pantasnya mendapatkan apresiasi. Meskipun Gita sangat membenci laki-laki di depannya ini. Pada kenyataannya Arki lah yang menyelesaikan semua masalahnya yang menggantung tepat di kepala Gita, nyaris menghantamnya kapan saja.
“Nanti aku kasih kamu cokelat yang lebih mahal. Tapi tunggu sampai kamu gajian,” ucap Gita polos.
Mungkin yang dimaksud hadiah oleh Arki sama seperti cokelat pemberiannya kemarin. Harusnya Gita membalasnya dan memberikan hadiah seperti itu juga. Cokelat mahal untuk menghargai bantuannya.
Arki tidak bisa menahan tawanya. Tergelak karena Gita tidak paham maksudnya. “Aku bisa beli cokelat kayak gitu tiap hari. Lagian kenapa nunggu sampai gajian sih?” ucapnya disela tawa.
__ADS_1
“Kan aku gak punya uang. Semua yang aku pegang itu uang kamu. Kalau mau ngasih hadiah berarti harus dari uangku sendiri.”
Arki tersenyum lembut. “Semua uangku, itu uang kamu juga. Tapi aku gak mau hadiah kayak gitu.”
“Terus apa? Kamu mau aku belikan mobil? Rumah baru? Atau tiket jalan-jalan ke luar negeri?”
Arki menggeleng. “Aku mau kamu,” jawabnya pasti.
Gita tahu yang dimaksud oleh Arki, lekas saja tangannya mendorong tubuh laki-laki itu menjauh. Sayangnya dia tidak begitu kuat, hingga satu hentakan saja dari Arki, membuatnya merapatkan diri lebih erat padanya.
Salah satu tangannya menelusuri leher Gita, membimbing wajah mereka agar mendekat. Cepat, liar dan panas. Begitulah yang tepat untuk menggambarkan bagaimana gerakan Arki mencium bibir Gita.
Berkali-kali dia mencerup bibir indah istrinya itu dengan beringas. Hasratnya sudah naik ke kepala, menggila. Ingin rasanya meleburkan dirinya lewat gerapai sentuhan lidahnya.
Hanya Gita yang bisa membuatnya seperti ini. Begitu lapar akan keintiman yang sudah lama dia hindari. Padahal seujung jari pun, Arki tidak pernah menginginkan perempuan mana pun setelah kisah cintanya berakhir dengan Luna, hingga tandas seleranya mengira dirinya tidak normal.
Sekarang, lewat kecupan paling panas yang pernah dia coba. Gita membuktikan kembali, tidak ada yang salah dengan dirinya. Entah, mungkin hanya dengan Gita lah semua pelabuhan hasratnya harus tuntas bermuara. Yang jelas, Arki begitu menginginkannya. Dia tidak akan melepaskan perempuan ini hingga kapan pun juga.
Tangan Arki lainnya begitu kuat menahan Gita agar tetap didekatnya. Dia bisa merasakan lekukan indah pinggang dan punggung istrinya itu. Jemarinya menggerapai nakal, mengelusnya lembut. Rasanya ingin mengoyak kemaja kerja Gita saat itu juga, kemudian menyentuhkan jemarinya di kulit lembut istrinya.
“ARKIAN!” seru Gita marah, menjauhkan diri dari Arki. Matanya berair karena tangis.
Sejak tadi Gita terus memberontak, memukulkan kepalan tangannya di tubuh laki-laki itu, hingga tangisnya luruh. Tapi begitu kuat dan lama Arki membelenggunya. Nyaris saja dia pingsan karena ketakutan dengan semua gerakan tangan Arki yang menjelajahinya. Apalagi bibirnya dibuat bungkam oleh ciuman. Gita benar-benar tidak berdaya.
“Kenapa?” tanya Arki santai melihat Gita yang begitu marah.
“Udah aku bilang aku ga mau disen—”
__ADS_1
“Aku gak peduli,” potong Arki cepat. “Sampai kapan kamu mau kayak gini, Git? Kita udah nikah dan kamu harus belajar posisi kamu kayak gimana sekarang. Aku gak masalah kita gak bisa ngelakuin hubungan suami-istri karena kehamilan kamu. Tapi cuma karena ciuman kayak gini doang bikin kamu marah, itu gak masuk akal, Git.”
“Dimana letak gak masuk akalnya? Kamu pernah dilecehkan sampai ngerasa jijik sama diri sendiri, Ki?” teriak Gita, air mata meluruh tidak terkendali.
Kali ini Arki sudah keterlaluan. Menjijikkan! Memalukan! Menyabalkan! Tidak bisakah dia menyingkirkan pikiran kotor untuk menyentuhnya sekali saja?
Ternyata hal yang lebih menakutkan dari terungkapnya kebohongan tentang kehamilannya adalah sentuhan Arki. Begitu bencinya Gita terhadap sentuhan laki-laki itu. Hal yang membuatnya tidak bisa berhenti bermimpi buruk berhari-hari.
Arki memanfaatkan keadaan seperti saat ini untuk berbuat tidak senonoh lagi padanya. Kenapa laki-laki itu tidak pernah mau berhenti berpikir bahwa semua penyebab kekacauan ini adalah perilaku kotornya?
“Gita, tenang dulu!” seru Arki mencoba menenangkan Gita yang sekarang histeris.
Sial!
Dia sepertinya terlalu gegabah dan terbawa suasana. Kacau sudah semua rencananya untuk menaklukkan Gita pelan-pelan. Harusnya Arki bisa menahan diri sebentar. Mempraktikkan apa yang Rio ajarkan untuk meluluhkan hati Gita terlebih dahulu dengan kebaikan dan perhatiannya.
“Kamu pikir dengan kita nikah, kamu ngerasa punya wewenang buat berbuat seenaknya kayak gitu? Kamu mau berlindung dibalik kata suami dan maksa kehendak kamu terus ngelakuin hal menjijikkan sama aku kayak tadi. Gitu, Ki?”
“Aku gak bermaksud kayak gitu. Aku minta maaf ... Aku gak akan kayak gitu lagi,” ucap Arki menyesal.
“Aku lebih baik cerai aja sama kamu. Minta pertanggung jawaban dan bantuan dari kamu itu kesalahan!”
“Gita! Jangan ngomong cerai sembarangan kayak gitu! Kamu gak inget bayi dalam perut kamu butuh ayah?”
“Aku gak peduli! Kalau kamu mau ngelakuin hal kayak gitu terus. Sana cari perempuan panggilan yang harusnya ngelayanin kamu kayak dulu di karaoke!” bentak Gita tidak peduli dengan kata-kata Arki.
Kemudian dia melangkah pergi dari dapur. Mengunci diri di kamarnya sambil menangis ketakutan.
__ADS_1
Arki terdiam sendirian, mencerna kaliamat terakhir yang Gita ucapkan. Dia tahu tentang perempuan yang Rio pesan untuknya malam itu? Pasti dia sudah salah paham, mengira perempuan itu Arki yang memesannya. Mungkin hal itu juga yang menambah kebencian Gita padanya.