
Gita sedikit ragu dan merasa sangat takut membicarakan ini dengan Arki. Tapi dia harus melakukannya, demi keberlanjutan rencananya.
Sebuah amplop berwarna putih bertuliskan nama rumah sakit dia serahkan pada Arki yang sedang sarapan di meja makan.
“Waktu kamu ke Surabaya, aku kontrol sendiri ke dokter. Katanya semuanya oke, ukuran bayinya normal dan sesuai usia kehamilan. Sekarang udah masuk ke usia 8 minggu,” kata Gita menjelaskan.
Arki mengambil amplop putih yang diserahkan Gita di meja, membukanya dan melihat foto hitam putih yang dikenalnya sebagai foto hasil USG. Arki juga menemukan hal serupa saat berada di kosan Gita. Sekarang bulatan yang sepertinya adalah bayinya tampak lebih besar dan jelas, walaupun belum terlihat seperti manusia.
“Kok gak bilang sih kalau mau kontrol? Kamu kan bisa nunggu aku pulang biar aku anterin. Kapan kamu kontrol lagi?” kata Arki sedikit terganggu dengan keputusan Gita yang datang sendirian ke dokter.
“Itu … nanti bulan depan. Aku gak apa-apa kok, kemarin kan udah jadwalnya kontrol menurut dokter,” kata Gita berkelit mencari alasan.
“Ya udah bulan depan kasih tahu kapan waktunya, biar aku ambil cuti dan anterin kamu periksa.”
“Aku gak apa-apa kontrol sendirian kalau kamu sibuk. Kamu gak usah ambil cuti.”
“Kok bilang gitu sih? Sekarang kamu punya suami, Git. Masa kontrol kehamilan sendirian? Aku juga kan mau tahu perkembangan bayiku kayak gimana,” kata Arki kesal. Alisnya tertaut menatap tajam ke arah Gita.
Gawat!
Alarm kepanikan dinyalakan dikepala Gita. Dia tahu bahwa memberitahukan ini tidak akan mudah. Arki mulai memaksanya untuk memeriksakan ke dokter bersama. Dia terlihat sangat kesal dan marah karena Gita berani mengatakan tidak butuh dirinya untuk mengantarkan pemeriksaan ke dokter. Sekarang Gita malah berharap Arki bukanlah laki-laki yang baik dan peduli pada kehamilannya yang penuh kebohongan itu.
“Iya nanti aku kasih tahu,” balas Gita menyerah. Lebih baik menghindari konflik dan menjanjikannya sesuatu untuk saat ini.
Mereka belum 2 minggu menikah, Gita tidak boleh gegabah mengambil langkah. Mungkin menyerahkan hasil pemeriksaan hari ini salah satu hal yang berbahaya. Dia tidak tahu bahwa Arki akan bereaksi seperti ini. Dia benar-benar melakukan tanggung jawab penuh terhadap perbuatannya. Tidak seperti yang Gita duga.
__ADS_1
“Lagian rumah sakit ini jauh dari tempat kita. Aku ada kenalan dokter kandungan tempat kakaknya Rio sering periksa. Rumah sakitnya gak jauh dari sini, paling 10 menit kalau gak macet. Kamu ganti dokter aja sama dia,” pinta Arki.
“Gak!” bentak Gita dengan spontan. Dia kaget karena Arki menyarankan hal yang diluar skenarionya. Harusnya tidak seperti ini, harusnya Arki mengikutinya saja.
Arki terperanjat dengan penolakan Gita yang keras tersebut. “Kenapa emangnya?”
“Aku udah cocok sama dokter Dewi, gak mau ganti sama yang lain.”
“Dokternya sama-sama cewek kok, Git. Kalau kamu ada apa-apa tiba-tiba, masa aku harus nganterin kamu ke dokter yang jauh itu buat ditangani? Kalau dekat kan enak, bisa ditangani sama dokter kandungan yang sama kalau darurat. Terus kamu mau lahiran di rumah sakit yang jauh dari rumah? Kalau kontraksinya tiba-tiba gimana?” Arki terus mendesak agar Gita memikirkan ulang sarannya.
“Gak mau! Pokoknya aku mau tetep sama dokter Dewi. Gak mau ganti dokter.”
“Kenalanku juga dokter kompeten, Git. Dia baik banget. Kamu gak usah takut.”
“Pokoknya aku gak mau, Ki! Kamu ngerti gak sih?” Gita mulai panik dan meninggikan suaranya.
“Aku udah nyamannya periksa sama dokter Dewi, Ki. Kalau kamu terus maksa, kamu aja yang hamil!” bentak Gita kehilangan kendalinya. Dia lantas pergi meninggalkan Arki di dapur.
“Gita!” teriak Arki kesal melihat Gita melengos pergi.
Oh My God!
Perselisihan pertama mereka meletus bahkan sebelum mereka menggenapi usia pernikahan selama dua pekan. Arki tiba-tiba merasa sangat tidak nyaman dengan semua ini. Padahal hal kecil seperti ini tidak usah sampai diributkan hingga saling membentak. Dia jadi bertanya-tanya sendiri seperti apakah Gita sebenarnya? Kenapa bisa sekeras kepala itu? Apakah mereka akan cocok bersama?
Gita begitu panik dan ketakutan hingga menangis kalut, dia mengunci pintu kamarnya untuk menghindari perdebatan lebih lanjut dengan Arki. Laki-laki itu sungguh di luar dugaannya. Ternyata skenario yang Gita susun sangat sulit diikuti. Gita tidak menyangka Arki akan menyuruhnya untuk mengganti dokter kandungan.
__ADS_1
Meskipun nama dokter yang tercantum di hasil pemeriksaannya belum pernah dia temui sekalipun, Gita ingin mempertahankannya. Demi kebohongan yang tetap berlanjut untuk beberapa bulan ke depan. Gita berdoa meminta agar dia bisa menyelesaikan rencananya hingga akhir tanpa hambatan.
“Gita! Git!” panggil Arki dari balik pintu, dia mengetuknya beberapa kali. “Kamu jangan kayak gini dong, Git! Kalau ada masalah tuh selesaikan dulu sampai beres, jangan main pergi-pergi aja,” lanjut Arki.
Gita menatap pintu yang ada di hadapannya penuh ketakutan. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Arki, jika laki-laki itu terus memaksanya untuk berganti dokter. Dia takut tiba-tiba kalah dan menyerah karena desakan dan ketakutannya pada Arki. Sebisa mungkin untuk saat ini Gita harus menghindarinya.
“Gita, kalau kamu gak mau ganti dokter ya udah gak apa-apa. Gak usah marah-marah kayak tadi. Aku gak akan maksa kamu kalau kamu nyamannya sama dokter Dewi,” kata Arki tenang. Dia harus banyak mengalah kali ini. Jangan sampai hubungannya dengan Gita rusak karena hal sepele.
Mendengarkan perkataan Arki tersebut, Gita merasa tidak percaya. Benarkah secepat ini Arki merekonsiliasi masalah mereka? Dia menyerah? Gita menghapus air matanya yang turun karena panik dan takut, mendekatkan tubuhnya ke pintu untuk mendengar Arki lebih jelas berbicara.
“Aku ikutin mau kamu, yang hamil kamu. Aku gak ngerasain apa-apa. Jangan kayak gini, Git. Buka pintunya, kita ngobrol baik-baik. Jangan sampai masalah kayak gini aja bikin kamu kesel dan ngerusak hubungan kita,” lanjut Arki membujuk.
Gita menghela napas, mengatur ekspresinya agar terlihat sedih dan memelas. Tangannya mulai membuka kuncian pintu, menampakan dirinya dari kisi pintu yang terbuka sedikit. Arki tersenyum saat melihat wajah Gita muncul, mendorong pintu agar sepenuhnya terbuka.
“Jangan nangis, aku gak akan maksa kamu lagi kalau kamu gak mau,” ucap Arki menyeka air mata yang tersisa menetes dipipi Gita dengan ibu jarinya.
“Aku gak suka kalau kamu gak ngerti soal pilihanku. Aku nyaman periksa sama dokter Dewi, ga mau ganti ke yang lain,” kata Gita dengan nada sedih dan merajuk.
Arki mengangguk. “Iya. Maafin aku. Aku kirain semua dokter sama aja, gak ngerti kalau kamu nyamannya konsultasi sama dokter pilihan kamu sendiri.” Arki memeluk Gita dan menenangkannya.
Selamat! Sorak Gita dalam hati.
Untuk saat ini Gita terhindar dari masalah yang berpotensi merusak rencananya. Untung saja Arki sangat pengertian dan sabar. Jika tidak, mereka mungkin akan bertengkar habis-habisan karena masalah seperti ini saja. Haruskan Gita merasa beruntung menipu orang seperti Arki?
“Nanti aku anterin kamu bulan depan periksa ke dokter Dewi, ya?” kata Arki lembut.
__ADS_1
Gawat! Bahaya belum usai!