
Seminggu berlalu semenjak Gita menghilang. Arki benar-benar kehilangan jejak Gita. Istrinya itu seperti menghilang ditelan bumi. Bahkan semua transaksi-transaksi penting atas nama Gita yang bisa Arki lacak, kini tidak ada dimana pun. Pun nomor ponselnya tidak bisa dihubungi lagi.
Mungkin Gita memang benar-benar sudah tidak tahan hidup dengannya. Begitu menderita kah dia selama ini? Bisa jadi. Arki merenggut kehormatannya, memaksanya melayani, dan membelenggunya. Bahkan dia juga mengacuhkannya selama beberapa bulan kebelakang.
Gita pasti sangat terluka dengan semua perbuatan jahatnya. Hingga dia sudah tidak peduli lagi dengan kesepakatan mereka dulu, tentang pelaporan ke kepolisian terkait penipuannya.
Arki semakin terpuruk. Kondisinya lebih buruk dibandingkan dengan patah hati saat melihat Luna selingkuh dengan mata kepalanya sendiri. Dulu dia masih beraktivitas dengan normal. Bekerja, bertemu ibunya, dan bahkan sibuk membatalkan pertunangannya. Meskipun selama beberapa saat dia menarik diri dari pergaulan dengan teman-temannya untuk mendapatkan ketenangan.
Kini Arki seperti tidak lagi memijak bumi. Kehilangannya begitu melemahkannya. Nyaris dia membiarkan dirinya mati dengan tidak peduli pada kesehatannya sendiri. Berbaring di kasurnya dengan pikiran berkabut penuh penyesalan. Dia sesekali mengisi perutnya yang kosong dengan mie instan atau beberapa cemilan dengan tanpa minta. Sekadarnya saja, untuk meredakan teriakan perut keroncongan.
Ratusan panggilan dan pesan masuk ke ponselnya, hanya Patra dan Agus lah yang sempat Arki balas dan terima. Mereka setiap hari melaporkan berkembangan pencarian Gita. Damar mencarinya, Amanda terus menghubunginya, dan bawahannya juga kelimpungan saat Arki tidak ada. Arki mengirim surat pengunduran dirinya pagi tadi, dia sama sekali tidak peduli pada pekerjaan atau siapapun juga selain keberadaan Gita.
Bel terus berbunyi, selama hampir 5 menit terus nyaring terdengar. Si tamu tidak menyerah juga. Arki malas menggeser tubuh lemasnya dari atas kasur. Tapi suara bel yang memekakan telinga mengganggu kedamaiannya. Hingga akhirnya dia beranjak dan membuka pintu. Disana sudah berdiri Ela, dengan wajah marah dan khawatir menjadi satu.
Arki juga menghindari semua pesan dan panggilan ibunya.
“Kenapa kamu dan Gita gak angkat telepon dan balas pesan ibu?” omelnya khawatir.
Arki langsung memeluk Ela, seketika menangis seperti seorang bocah kehilangan mainannya. Hal yang sudah tidak pernah dia lakukan lagi di depan Ela ketika beranjak dewasa. Ela begitu kaget melihat anaknya sangat rapuh seperti ini. Mencoba menenangkan Arki dengan mengelus punggungnya diiringi rasa penasaran dan kebingungan yang kentara.
“Kamu kenapa, Ki? Hmm? Bilang sama ibu!” ucap Ela lembut.
__ADS_1
“Gita pergi, Bu.” Arki mengucapkan kata paling menyakitkan.
“Maksudnya pergi?” kata Ela bingung. Kepanikan juga seketika menyergap hatinya. Takut terjadi sesuatu dengan menantu kesayangannya.
“Gita kabur dari rumah, ninggalin aku.”
Arki melepaskan pelukannya dari Ela. Kini dia bisa melihat ekspresi ibunya yang sangat shock dengan kabar yang baru saja didengarnya. Mereka masuk ke dalam rumah, duduk saling berhadapan di sofa ruang tamu.
Setelah di desak dan Arki menemukan kembali kesadarannya, dia bercerita pada Ela. Semuanya. Termasuk bagaimana mereka mengawali pernikahan dengan kebohongan. Arki tidak bisa menyembunyikannya lagi dari Ela. Dia tidak tahu harus mengadu kemana dan bercerita beban berat ini pada siapa, selain pada ibunya sendiri.
Kengerian dan kemarahan tampak di wajah Ela. Arki sudah mempersiapkan diri dengan reaksi ibunya. Dia menerima jika harus dicaci maki dan dibenci oleh Ela. Arki salah dan dia tidak ingin berlindung lagi.
“Kamu melakukan semua hal jahat itu sama Gita, karena merasa kamu punya hak, karena kamu merasa tersakiti dengan kebohongan dan perilaku Gita? Memaksa dia melayani kamu, mengacuhkan dia karena kamu pikir bisa menikah lagi dengan perempuan yang sederajat denganmu? ARKIAN! Sejak kapan kamu punya pikiran se b a j i n g a n ini? Sejak kapan kamu seberani ini melecehkan perempuan?!” bentak Ela keras. Air mata bergulir dipipinya. Terluka sendiri dengan perbuatan anaknya yang sangat jahat pada Gita.
“Ibu berjuang sampai terluka buat dapatkan hak asuh kamu, supaya kamu bisa ibu didik dengan baik, supaya kamu gak hidup dan se b r e n g s e k ayah kamu! Tapi semuanya sia-sia, kamu beneran anak Arya Wibisana, laki-laki jahat yang merendahkan martabat wanita! Ibu gagal mendidik kamu!” kata Ela begitu sedih. Memukulkan tangannya di dada, berharap rasa sakit dan kecewanya bisa memudar seketika.
Arki gemetar mendengar perkataan ibunya. Iya, dia menjadi semakin mirip ayahnya. Tanpa dia duga. Menggunakan uang dan kekuasaan untuk menjerat perempuan. Menjadikan mereka objek pemuas tanpa memikirkan perasaan mereka.
Padahal dia begitu terluka melihat ibunya disakiti oleh Arya, dikhianati begitu kejamnya. Dia melakukan hal yang sama pada Gita. Memberikan harapan pada Amanda dan mencoba bermain dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan istrinya.
“Ibu selalu bilang sama kamu untuk gak bersikap kasar dan pendendam. Ibu ngerti kamu marah sama Gita karena kebohongannya, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya mempermainkan perasaan dan hidupnya. Menjadikan dia bonekamu cuma untuk diajak ber cinta, kemudian kamu dengan mudahnya berpikir menggantinya dengan perempuan yang lebih hebat dan kaya.” Ela menghela napas dalam, mencoba menenangkan hatinya yang riuh penuh amarah pada anaknya.
__ADS_1
“Aku tahu aku salah, aku gak akan beralasan apa-apa buat membela diri. Aku mau minta maaf dan memulai hubungan baru dengan Gita. Tapi dia terlanjur pergi tanpa tahu perasaanku,” kata Arki akhirnya bersuara.
“Penyesalan kamu udah gak ada artinya, Ki. Gita udah pergi. Berarti dia udah menutup pintu hatinya buat kamu. Ibu benar-benar kecewa sama kamu.”
“Aku minta maaf, Bu.”
“Bukan ibu yang seharusnya dengar permintaan maaf kamu.”
“Aku akan berusaha nyari Gita dan bilang ini langsung. Aku janji akan menemukan Gita. Aku sayang sama Gita,” kata Arki begitu lirih dan sedih.
Dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya yang terus saja berlarian tak tentu arah karena resah. Dia ingin menemukan Gita dan memeluknya sekarang juga.
Ela begitu marah dan kecewa pada Arki. Tapi dia juga tidak tega melihat anaknya itu begitu terluka. Bahkan keadaannya lebih parah dibandingkan saat pernikahannya gagal dengan Luna. Ela nyaris tidak mengenali putranya yang begitu berantakan, kurus, dan tidak terurus.
Arki mungkin selama ini tidak menyadari bahwa pelan-pelan Gita sudah membawa kembali kebahagiaan padanya, Ela bisa melihatnya sendiri. Arki mungkin menyimpan perasaannya jauh dibalik perasaan benci dan dendamnya karena kebohongan dan pemberontakan Gita. Ela bersimpati pada perasaan Arki.
Dia juga menyesal telah membandingkannya dengan mantan suaminya, Arki tidak sejahat itu. Arki masih bisa mengendalikan dirinya agar tidak terjatuh dalam perselingkuhan lebih dalam. Kini dia juga menyadari bahwa yang diinginkannya hanya Gita dan rumah tangga yang damai.
Ela bangkit dari sofa, kemudian duduk disebelah Arki, memeluknya. Dia membiarkan saja anak laki-lakinya itu menyandarkan duka padanya. Merasakan kehilangan hingga dia bisa belajar untuk bersikap hormat terhadap perempuan.
Sambil terus berharap, semoga menantunya dalam keadaan selamat dan bisa kembali berkumpul dengan mereka. Ela juga berutang maaf pada Gita, karena tidak mendidik Arki menjadi laki-laki yang baik, menyesal kenapa sifat jahat Arya begitu kentara menurun padanya.
__ADS_1
Ela tidak akan berhenti berdoa, agar Arki dan Gita segera bertemu, meluruskan semua masalahnya. Harapnya kedua anaknya itu bersatu kembali segera, karena Ela juga sebenarnya melihat cinta tumbuh dihati Gita untuk anaknya.