Istriku Penipu

Istriku Penipu
Tetap Tidak Mau


__ADS_3

Harum aroma masakan menguar ke udara. Mengingatkan memori sepulang sekolah belasan tahun lalu. Mia selalu mengajak pulang ke rumahnya sepulang sekolah, disambut wangi masakan yang baru saja matang. Lelahnya meluruh saat melihat bermacam santapan khas rumahan tersaji di meja makan.


Bagi Gita, ibunya adalah ibu Mia, Asti. Lewat dirinya, Gita bisa merasakan kembali memiliki ibu. Karena itu Mia adalah saudara, yang mengizinkannya memiliki kehangatan keluarga lagi lewat keluarganya.


Gita tidak akan sanggup melihat satu diantara mereka menjadi tumbal keegoisan dan kebodohannya. Gita akan tahan, harus bertahan agar masalah tidak mengayun ke kehidupan mereka. Supaya Arki tidak ikut melaporkan Mia dan keluarganya ke polisi.


Gita akan melakukan apa saja. Menyerahkan diri dan kehormatannya pun dia bersedia.


“Udah bangun, Git?” sapa Ela saat melihat Gita masuk ke dapur. “Maaf ya, Ibu sembarangan masuk dan gak bangunin kamu. Tadi pagi Arki telepon suruh masuk aja, kuncinya disimpan di pot bunga, dan gak boleh bangunin kamu yang lagi tidur. Kasihan katanya,” lanjutnya pura-pura berbisik. Kemudian tersenyum, membuat Gita benar-benar merindukan sosok Asti.


Gita menghambur memeluk Ela dan terisak. Patah hati yang dia rasakan karena kejadian tadi malam lekas meluluh sebagian. Memeluk ibu mertuanya seperti obat yang saat ini Gita butuhkan.


Ela membalas pelukan tersebut, mengelus rambut menantunya dengan lembut. Tangisan lepas tak terkendali dari Gita membuat hatinya ikut merasakan sakit. Pasti berat dan kecewa kehilangan bayi yang belum lama dikandungnya. Salah satu hal paling menyakitkan yang bisa dirasakan oleh perempuan adalah kehilangan anaknya.


“Nangis aja yang kencang, Nak! Ibu temenin di sini,” ucap Ela menenangkan.


Mengira bahwa tangis Gita adalah kehilangan. Mungkin memang benar kehilangan, tapi bukan seperti yang Ela pikirkan. Gita kehilangan dirinya sendiri, kehormatannya, hal yang dijaganya. Demi memenuhi kebutuhan biologis Arki. Demi jaminan dan ganti rugi akibat kebohongannya.


Jika Ela tahu sekejam apa perbuatan Arki padanya, mungkin laki-laki itu tidak akan sanggup lagi mengangkat kepala dengan pongah. Tapi lidah Gita kelu, tidak sanggup mengucap kebenaran. Dia terlalu takut kejujurannya akan melimpas kebahagiaan dan kehidupan Mia serta keluarganya.


Setelah tangisnya tumpah dan isakan mulai mereda, Gita duduk di meja makan. Menghadap hidangan yang sudah dipersiapkan Ela. Sop iga yang masih mengepul hangat, perkedel kentang daging, dan telur dadar sudah tersedia di sana. Menggugah selera.


Sejak pagi Gita hanya mengurung diri, menangisi nasib dan hidupnya yang sudah tidak berharga lagi. Arki sudah merogolnya tanpa ampun tadi malam. Menghinakannya seperti sebuah boneka tidak berharga. Hingga Gita lupa mengisi perutnya.


“Makan yang banyak. Kamu butuh energi buat pulih,” ucap Ela terlihat senang saat Gita makan dengan lahap.


“Ibu nanti menginap disini?” kata Gita setelah selesai makan. Dia masih ingin bersama Ela. Saat ini terlalu takut untuk ditinggal berdua dengan Arki.


“Ibu disini sampai sore, sampai Arki pulang. Soalnya di workshop lagi sibuk. Kalau kamu mau, nginep aja di rumah. Ada Irma dan Indah yang nanti jadi teman ngobrol.”


Gita tersenyum kecut karena kecewa. Tinggal disini bersama Arki atau menginap di rumah Ela dengan mulut Irma yang menyakitkan, sama menyebalkannya. Saat ini dia hanya ingin berdua saja dengan Ela. Menghabiskan waktu seperti ibu dan anak.


“Kamu masih sedih ya, Git? Makanya gak mau ditinggal sendirian?” Ela menghela napas berat. “Padahal Ibu udah bilang sama Arki jangan kerja dulu. Istrinya baru aja keguguran bisa-bisanya masih masuk kerja,” lanjutnya berkomentar.


“Aku gak apa-apa gak ditemani Arki. Asal aku ditemani Ibu.”


“Kamu sama Arki gak berantem karena masalah ini kan, Git?” ucap Ela menelisik.


Gita tidak menjawab. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan yang mengarah pada kebohongan apapun saat ini.


“Meskipun Arki kelihatan gak peduli. Tapi sebenarnya Arki juga pasti sedih karena kehilangan calon anak pertamanya. Dia emang sering gak jujur sama perasaannya sendiri. Malah lari dengan kerja kayak sekarang.”


Gita bungkam. Arki bahkan tidak mau memiliki anak darinya. Seandainya Gita benar-benar keguguran pun, laki-laki itu tidak akan peduli. Arki tidak menyembunyikan perasaan, karena dia memang tidak memiliki perasaan. Orang jahat dan kejam serta bermulut kasar sepertinya tidak mungkin punya perasaan. Apalagi merasa sedih.


“Kalian masih muda. Masih punya waktu buat punya anak lagi. Gak usah khawatir.” Ela menenangkan Gita.


“Kalau aku gak bisa ngasih Ibu cucu, Ibu bakal benci sama aku, gak?”


Gita tahu dia tidak akan bisa memberikan Ela cucu. Pikiran tentang hamil anak Arki pun jauh dari bayangannya. Apalagi sekarang dia setiap hari akan mengkonsumsi pil KB untuk mencegah kehamilan. Gita hanya takut perempuan itu kecewa. Tidak akan sanggup melihatnya terus berharap.


“Ibu emang pingin banget punya cucu. Tapi kalau pun ada masalah kesehatan yang bikin kalian gak bisa punya anak, Ibu gak akan marah. Ibu bakal marah kalau kalian berdua saling menyakiti sebagai pasangan,” ucap Ela.


Seketika Gita terdiam. Di pernikahan ini Gita maupun Arki sama-sama saling menyakiti, dengan berbohong dan mengancam. Terutama Arki yang sekarang sedang mengambil kendali hidup Gita, membuatnya sengsara dan kehilangan segalanya.

__ADS_1


“Kalau ada masalah, bicarakan dan jujur. Jangan saling membohongi, mengkhianati, atau menyakiti. Pasti semua masalah ada jalan keluarnya, asal kalian tetap sayang satu sama lain.”


Gita termenung sejenak. Ela sangat tulus kepadanya, tapi dia sama sekali tidak mengetahui perbuatan Arki yang sebenarnya. Anaknya lah yang menyakiti Gita. Bahkan merenggut kesuciannya dengan dalih ganti rugi. Anaknya lah yang telah mengancamnya, melibatkan Mia ke dalam masalah. Semua salah Arki. Seandainya saja Ela tahu.


“Kalau Arki nyakitin aku, apa yang bakal ibu lakukan?”


“Memang Arki ngelakuin apa sama kamu, Git?”


“Arki—“


“Ibu udah lama disini?” potong Arki yang tiba-tiba datang tanpa mereka sadari. Bahkan Gita tidak mendengar suara mobilnya terparkir di garasi karena terlalu fokus berbicara dengan Ela.


Gita langsung mengatupkan kembali mulutnya. Memandang Arki ketakutan. Dia takut Arki akan menghukumnya karena mencoba membocorkan rahasia mereka pada Ela.


“Lumayan. Ibu sampe sekitar jam sebelas dan masakin buat Gita dulu. Kamu udah makan siang, Ki?”


“Udah kok.” Arki bergabung di meja makan, mencium pucak kepala Gita dan duduk di sebelahnya.


“Kok tumben pulang cepat?”


“Ya kan Gita lagi sakit. Makanya pulang cepat, aku mau jagain dia. Tadi ke kantor cuma buat serahkan laporan audit kemarin aja,” jawab Arki santai.


“Bagus deh kalau gitu. Masa istri keguguran kamu malah sibuk kerja.”


“Nggak dong. Aku mana tega ninggalin Gita pas kondisi kayak gini.” Arki merangkul Gita, hingga mendekat ke tubuhnya.


Seketika itu seluruh tubuh Gita merinding. Merasakan sentuhan Arki lagi setelah semalam, membuatnya ketakutan.


Gita benar-benar jengah dengan kebohongan yang dibuat oleh Arki pada ibunya. Kepura-puraan yang memuakkan. Saat ini pasti banyak rencana jahat dipikiran laki-laki itu. Tidak mungkin Arki pulang cepat untuk mengurusnya. Lagipula Gita tidak ingin mendapatkan perhatian atau perawatan dari Arki, karena perbuatannya semalam.


Mengesampingkan semua perasaan benci dan ketakutannya, Gita mengikuti semua sandiwara Arki di depan Ela. Menampilkan seorang perempuan yang sedih karena harus kehilangan calon bayinya.


Padahal skenario seperti ini adalah rencana awalnya. Kenapa sekarang nyaris memuakkan melihat dirinya sendiri bermain peran? Hatinya ikut terluka bersamaan dengan simpati Ela yang semakin tinggi padanya. Kali ini semua kebohongan ini bukan salahnya, tapi milik Arki. Dia yang membohongi ibunya sendiri seperti sekarang.


“Nanti Ibu berkunjung lagi,” kata Ela berpamitan.


Setelah melepas Ela naik ke mobil untuk pulang, Gita berjalan kembali masuk ke rumah. Arki memperhatikan Gita berjalan dan terkekeh. Dia dengan cepat menyusul kemudian menggendong tubuh Gita.


“Arkian!” teriak Gita kaget. Tanpa sadar melingkarkan tangannya ke leher Arki karena takut terjatuh.


Arki mengabaikan teriakan protes dari Gita dan membawanya ke kamar. Membaringkan tubuh mungil tersebut di kasur. Lekas saja Gita bangun dan bergeser menjauh dari Arki. Instingnya mengatakan untuk menghindari laki-laki itu.


“Aku kasar banget ya tadi malam?” Arki bertanya sambil tersenyum miring.


“Ngapain kamu pulang jam segini? Kamu pasti mau ngelakuin hal-hal jahat lagi kan sama aku?”


“Kan tadi aku udah bilang mau jagain kamu, makanya pulang cepat. Kok gak percaya?”


“Terus aku harus percaya gitu sama orang yang bohong sama ibunya sendiri dengan entengnya?”


Arki terkekeh. “Sebenernya yang pembohong itu aku atau kamu sih? Bukannya kamu lebih parah, ya? Kebohongan kamu sampai bikin aku terjebak di pernikahan ini.”


“Kalau ngerasa terjebak, harusnya kamu ceraikan aku. Gak usah sampai ngelakuin hal kayak gini, nyakitin aku.”

__ADS_1


“Aku juga harus dapat manfaat dari pernikahan ini. Kamu dapat kehidupan nyaman, uang berlimpah, dan utangmu lunas. Setidaknya kamu kasih pelayanan memuaskan sebagai istri. Lagian hal yang aku lakukan wajar, kan? Semua suami punya hak buat itu. Emang kamu gak diajarin kalau menolak hubungan suami istri itu gak baik?”


Gita tidak menjawabnya. Secara hukum maupun agama, Arki adalah suaminya. Tapi hubungan mereka tidak seperti layaknya hubungan lain. Gita tidak mau melayani laki-laki yang melecehkannya dan juga sering bermain perempuan seperti Arki.


“Aku gak mau ngelayanin cowok jorok dan menjijikkan kayak kamu! Seharusnya kamu lampiaskan aja pikiran kotor kamu sama cewek sewaan seperti yang kamu bawa ke tempat karaoke! Aku jijik disentuh sama cowok tukang jajan sembarangan kayak kamu!”


Arki terkekeh, tidak mengira kesalahan pahaman Gita bisa membuatnya seperti ini. Dia juga salah karena tidak cepat-cepat meluruskan masalah ini.


“Jadi kamu gak mau ngelakuin itu sama aku karena mengira aku suka jajan di luar, gitu?”


Arki merangkak mendekat. Tangannya menarik Gita dan memeluknya. Gita meronta dengan beringas, tahu bahwa hal yang tidak diinginkan pasti terjadi saat Arki mulai menelusupkan tangannya ke dalam rok gaun tidurnya.


Gita dipenjara oleh dekapan Arki, hingga duduk dipangkuannya. Kedua tangan Arki membelit pinggang dan punggung, bibirnya panas menelusuri leher. Mengecup beberapa kali hingga rasa geli menghambur tak terkendali.


“Aku gak pernah main sama cewek sembarangan, apalagi cewek panggilan. Cewek yang ke tempat karaoke itu pesanan Rio, aku dibikin mabuk sama dia biar gak sedih karena habis putus dari pacarku,” kata Arki menjelaskan. “Meskipun kamu bukan yang pertama. Tapi aku selalu bersih dan main dengan aman. Jadi kamu gak usah khawatir dan jijik,” bisik Arki terus menyusuri leher.


“Aku tetep gak mau sama kamu! Aku benci sama kamu!”


Gita mendorong mundur bahu Arki, agar laki-laki menjauh. Hal yang dilakukannya percuma. Arki begitu kuat membelenggunya. Hanya tangis putus asa saja yang bisa Gita lakukan jika sudah berhadapan dengan suaminya.


Arki melepaskan ciumannya, menatap Gita lekat sambil tersenyum. “Aku juga gak mau sama kamu. Cuma mau nikmati tubuh kamu aja. Jangan khawatir, nanti kita pisah saat udah waktunya.”


Arki merebahkan tubuh Gita ke tumpukan bantal. Tangannya langsung menarik dengan cepat kain penutup **** *************.


“Arki! Please jangan!” Teriak Gita refleks menyilangkan kedua kaki, menutupi bagian rahasia tersebut. “Aku gak bisa! Masih sakit karena yang semalam. Please jangan!” pinta Gita memohon.


“Aku tahu,” Arki membuka dengan paksa kedua lutut Gita yang menekuk. “Aku cuma mau lihat lecet atau bengkak, gak? Aku mainnya kasar banget tadi malam. Kamu pasti kaget karena baru pertama kali kayak gitu.”


Arki menelaah sejenak hasil perbuatannya pada Gita di wilayah pribadi tersebut. Kemudian tersenyum dan mengecup pangkal paha istrinya dengan lembut.


“Aku ambilin kompres dingin dulu. Besok juga pasti sembuh kok bengkaknya.” Arki melepaskan Gita dan turun dari ranjang.


Beberapa saat kemudian, dia sudah membawa sebuah wadah berisi air dan handuk kecil. Dia duduk kembali di ranjang dan memperhatikan Gita yang meringkuk menjauhinya.


“Mau ngapain kamu?” tanya Gita waspada.


“Kompres biar gak bengkak dan sakit.”


“Gak usah! Kamu pasti mau ambil kesempatan buat berbuat gak senonoh dan maksa aku layanin kamu kayak semalam, kan?”


“Aku gak akan main dulu sampai kamu sembuh. Percuma, nanti kamu gak menikmati juga.” Arki tersenyum dan menyimpan wadah itu di depan Gita. “Nih, kompres sendiri aja kalau gitu. Aku di ada di ruang kerja kalau butuh bantuan.”


“Aku gak butuh apa-apa dari kamu!”


Arki berdiri dari ranjang dan menatap Gita sekali lagi. “Gita, jangan coba-coba bilang sama ibu tentang kesepakatan kita. Bersikap baik selagi aku baik sama kamu. Ngerti?”


Gita melihat punggung Arki semakin menjauh. Keluar kamar dan menutup pintu. Hatinya bingung dan takut. Entah apa yang dipikirkan oleh Arki saat ini. Kenapa dia selalu tahu apa yang akan dilakukannya? Kenapa terkadang dia sangat perhatian?


Tangannya menggapai wadah kecil yang ditinggalkan Arki. Mengompres bagian yang nyeri seperti yang diperintahkan. Rasa sejuk menenangkan, membuat rasa sakitnya mengabur hilang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2