Istriku Penipu

Istriku Penipu
Pahlawan


__ADS_3

Gita pikir, hidupnya sudah aman. Memulai lagi dari awal tanpa gangguan. Hidup biasa tanpa terlibat dengan konglomerat kejam. Gita ingin hidup biasa saja. Dulu dia mengira, hidup kaya raya akan menyenangkan. Semua kebutuhannya terpenuhi dan tidak peduli utang. Makanya dia memilih jalan paling menyesatkan dihidupnya untuk menipu seseorang. Agar jalannya hidup damai bisa tercapai dengan cepat.


Gita salah.


Entah perilakunya yang salah atau targetnya lah yang tidak tepat.


Gita malah menipu Arkian Wibisana. Atasannya ketika dulu bekerja, orang yang Gita anggap laki-laki biasa. Bukan seorang anak konglomerat yang berpengaruh dan memiliki banyak sekali pesuruh, yang bisa dengan mudah menghancurkan hidup Gita.


Saat Basuki datang ke tempat persembunyian, Gita berpikir hidupnya akan berakhir saat itu juga. Basuki dan Arya pasti tahu tentang kehamilannya. Gita akan dilenyapkan bersama bayinya. Pada akhirnya dia tidak bisa hidup damai seperti keinginannya.


Rasa sakit yang menjalari kepala karena pukulan Basuki membuat Gita ingin menyerah pada hidupnya. Sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan saat itu. Gita akan berakhir mengenaskan juga seperti Ani ditangan Basuki dan orang-orangnya.


Meskipun demikian, di dalam hatinya dia ingin bertahan hidup sekali lagi. Ingin diselamatkan. Nama yang langsung dipikirkan Gita saat itu hanya Arki. Laki-laki yang selalu datang tiba-tiba dan menatapnya penuh kepanikan dan ketakutan. Pahlawan yang menyelamatkannya.


Hingga akhir, karena pikiran tersebut, Gita bahkan bisa melihat bayangan Arki muncul dihadapannya. Menghentikan Basuki dari aksi jahatnya. Gita bisa mendengar suaranya lagi memanggil dikejauhan. Dibatas kesadarannya.


“Ar ... Ki ...,” panggil Gita terdengar parau.


Dia nyaris tidak bisa bangun. Kepalanya pusing dan berdenyut menyakitkan. Matanya kirinya sulit terbuka karena bengkak dan seluruh tubuhnya nyeri. Terasa hancur dan sulit bergerak karena berat. Pandangannya mengabur, tidak tahu apakah sekarang dia bermimpi atau sudah hilang dari dunia. Tapi cahaya-cahaya putih berhamburan di matanya. Bayangan seseorang berada di sisinya.


“Ya? Gak apa-apa. Tidur lagi aja. Jangan bangun dulu,” jawab Arki kemudian mengecup keningnya.


Gita nyaris mengira itu nyata. Mendengar suara yang sangat dirindukannya. Selama berbulan-bulan, Gita masih seringkali berharap bisa mendengar suara itu lagi. Hingga Gita juga bisa mencium aroma parfum yang sering Arki gunakan. Wangi dan menenangkan hati.


Genggaman hangat tangannya juga sangat nyata terasa. Gita pasti sudah gila karena pukulan keras yang diterimanya dari Basuki. Mengira Arki benar-benar ada disana untuk Gita. Mungkin kerinduan dan perasaan tidak berdaya yang dialaminya selalu menuntun Gita untuk memikirkan Arki. Berharap laki-laki itu bisa membantunya. Malah sejak awal memang seperti itu.


Gita selalu yakin Arki akan membantunya.

__ADS_1


Hingga berani menipu Arki, karena Gita yakin dengan kebaikannya.


Tapi sekarang, sepertinya hal itu mustahil dilakukan Arki. Dia sudah bersama dengan perempuan pilihan ayahnya, yang dia cintai sepenuh hati, yang dia cium dan ajak tidur. Dia tidak mungkin tahu persembunyiannya. Dia tidak mungkin datang untuknya.


Gita terlelap kembali. Meyakini apa yang didengar dan dirasakannya hanya mimpi.


Arki masih duduk di kursi dekat ranjang Gita. Menatapnya lekat sejak dua jam yang lalu. Perasaannya getir melihat istrinya yang tampak kacau dan penuh luka seperti sekarang. Seharusnya dia menempatkan orang-orangnya untuk menjaga Gita. Rasa bersalahnya kian besar seiring waktu.


Arki merasa sangat lalai sebagai suami. Dia tidak bisa melindungi istrinya sendiri.


“Pak Arkian, saya sudah mengantar adik Bu Gita ke hotel. Di sana aman dan sudah ada orang yang ditugaskan berjaga. Basuki dan orang-orangnya juga sudah dibawa ke Jakarta bersama orang-orang Pak Adrian. Sekarang Beliau yang mengurus masalah Basuki,” ucap Danu.


“Adrian bawa Basuki ke mana? Aku gak mau dia diproses hukum. Lebih baik dilenyapkan saja.”


“Saya kurang tahu mengenai itu.”


“Ada pergerakan dari Arya dan orang-orangnya?”


Setelah selesai melaporkan situasi Danu pergi dari ruangan tersebut. Meninggalkan Arki dan Gita berdua lagi. Arki menatap Gita kembali, menggenggam tangan dan menciumnya. Arki juga mengelus pelan perut Gita. Meskipun belum terlalu kentara, tapi sudah terlihat membesar. Tiga atau empat bulan? Arki tidak tahu pasti berapa usia kandungannya.


Perasaan hangat mulai merambat dihatinya. Sebentar lagi Arki akan menjadi seorang ayah. Senyum kecil merekah dibibirnya. Dengan keberadaan bayi dipeut Gita, mereka tidak punya alasan untuk berpisah. Arki juga harus segera membereskan kesalahpahaman Gita. Tidak ada perselingkuhan yang terjadi antara dia dan Amanda. Semua hanya rekayasa Arya saja.


Setelah lama Arki terus menatap Gita, akhirnya lelah dan kantuk juga jatuh ke kelopak matanya. Jam di dinding kamar menunjukkan pukul 01.00 malam. Arki tanpa sadar terlelap dalam keadaan duduk, dengan kepala merebah di ranjang. Tangannya masih tetap menggenggam Gita. Tidak ingin melewatkan satu detikpun tanpanya. Arki tidak akan lagi melepaskan Gita selamanya.


...****************...


Arya gusar karena Basuki tidak bisa dihubungi. Tadi malam dia memang sangat marah mengetahui asisten pribadi yang sudah sangat dikenalnya diam-diam mencicipi mainannya. Tanpa pikir panjang Arya malah memecatnya. Padahal Basuki adalah sahabat lama dan orang penting dihidupnya.

__ADS_1


Basuki bisa mengambil Shela dan menikmatinya sesuka hati jika mau. Gadis itu beberapa minggu terakhir ini agak kurang menyenangkan. Menolak melayaninya dengan berbagai macam alasan. Seharusnya dia tidak melepaskan bawahan penting hanya untuk gadis yang bisa dia gantikan sesuka hati.


“Belum ada kabar soal Basuki?” kata Arya saat Adrian masuk ke ruang kerjanya.


Adrian menggeleng, menyimpan sebuah nampan berisi cangkir teh. “Aku sudah suruh orang ke apartemennya. Tapi Basuki tidak ada. Sampai sekarang nomornya juga tidak aktif. Sepertinya dia tidak pulang kesana sejak malam,” jawab Adrian.


Arya menghembuskan napas berat. Memang baru kali ini mereka berdua berselisih paham seperti sekarang. Basuki mungkin sakit hati karena pemecatannya.


“Seharusnya ayah tidak usah lagi mempercayai Basuki. Ayah sendiri yang memecatnya, kan?”


“Kamu paham apa soal itu? Dia bahkan lebih lama bekerja dengan ayah dibandingkan umur hidup kamu.”


“Aku juga bisa melakukan hal-hal yang Basuki lakukan untuk ayah. Aku akan jadi asisten pribadi ayah jika diperlukan.”


Arya memang percaya pada Adrian layaknya terhadap Basuki. Tapi Adrian masih terlalu hijau. Belum berpengalaman dalam menangani banyak hal seperti Basuki. Apalagi banyak aksinya yang jauh dari kata terhormat dan berwibawa selama ini. Hanya Basuki lah yang bisa menutupi kekurangannya. Adrian terlalu emosional dan Arya juga tidak ingin wibawanya jatuh di depan anaknya sendiri.


“Cari Basuki sampai ketemu!” balasnya tidak tergoyahkan. Arya menyeruput tehnya yang masih panas mengepul.


Adrian berekspresi kecut. Kemudian meninggalkan ruangan ayahnya. Dia menuju parkiran dan menaiki mobilnya. Ada Aditya yang menunggu di sana sejak tadi. Duduk di kursi penumpang belakang kemudi.


“Gimana?” tanya Aditya tanpa berbasa-basi.


“Dia tetap nanyain Basuki. Sampai sekarang masih gak mau ganti asisten pribadinya,” jawab Adrian mulai menjalankan kendaraan ke luar kediaman Wibisana.


“Ya udah tinggal habisi aja si Basuki. Biar dia gak nyariin terus. Lagian dia tanpa Basuki gak ada apa-apanya. Udah keburu manja segala dilayani A sampai Z sama Basuki sampai ketergantungan. Dia udah gak segarang pas masih muda dengan mimpin sendiri bawahannya yang kejam-kejam itu,” kata Aditya santai.


“Aku udah suruh orang-orangku buat manipulasi kematian Basuki. Gak disuruh pun aku ngerti.”

__ADS_1


“Terus gimana sama Arya? Yang tadi berhasil, kan?”


“Hmm... paling lambat nanti sore dia bakal menelepon lagi.”


__ADS_2