
“Ibu kenapa sih mau nikah lagi sama ayah? Gak perlu sampai kayak gini juga kali kalau mau ngurusin dia,” omel Arki kesal.
Dua bulan berlalu semenjak Arya dan dirinya saling melepaskan dendam, Arki malah mendapatkan kabar dari ibunya bahwa mereka menikah kembali. Gugatan cerai Salma sudah di setujui pengadilan sebulan yang lalu. Arya resmi menjadi duda. Tidak ada halangan bagi Arya dan Ela untuk kembali menikah.
Mereka telah berbicara panjang tentang perjalanan hidup dan kisah mereka yang belum usai. Terenggut tiba-tiba dengan kemunculan dua orang perempuan yang menjadi ibu dari Adrian dan Aditya. Saat itu mereka terlalu muda dan terlalu emosional untuk mempertahankan hubungan.
Ditengah kebohongan, pengkhianatan, dan sakit hati, ada cerita yang mereka simpan sendiri. Tidak satupun berani diungkapkan pada satu sama lain selama lebih dari 20 tahun. Tidak pernah sekalipun semenjak bercerai, mereka kembali duduk berdua dan menuntaskan praduga serta saling berbicara. Terlalu tinggi ego mereka berdua hingga menyakiti banyak pihak.
“Ayahmu itu gak ada yang ngurus. Kasihan. Ibu kan masih cukup sehat buat ngurusin dia, nganterin terapi dan berobat,” jawab Ela yang sedang membereskan beberapa baju ke dalam koper.
“Ya gak perlu sampai nikah lagi juga, kan? Kenapa sih Ibu gak diskusi dulu sama aku soal ini?” Arki begitu emosi dan belum bisa menerima keputusan ibunya. Baginya Arya tetap laki-laki jahat yang mengkhianati ibunya. Membuat hidup ibunya menderita.
“Yang nikah itu kan Ibu, Ki. Kamu paling sekali dua kali berkunjung ke tempat Ibu. Kalau kamu yang gak cocok, terus mau kamu tolak? Terus gimana sama perasaan Ibu?” kata Ela masih tenang menghadapi anaknya yang terlanjur emosi. “Kamu dulu bilang gitu pas minta restu buat nikahin Gita,” lanjut Ela tersenyum pada Arki.
Arki hanya mengerjap kaget mendengar kata-kata ibunya. Tidak menyangka Ela masih mengingat hal yang diucapkannya dulu. Saat itu Arki begitu terdesak karena tahu bahwa Gita sedang hamil anaknya. Meskipun tidak lama kemudian dia akhirnya tahu bahwa semua itu hanya kebohongan saja.
“Ibu tahu kamu khawatir dan masih sakit hati sama ayahmu. Tapi Ibu bisa pastikan dia tidak akan berbuat hal jahat sama Ibu, Ki. Terlalu banyak yang sudah kita sembunyikan selama lebih dari 20 tahun. Akhirnya kita bisa saling terbuka dan memaafkan.”
“Ibu yakin bisa memaafkan orang kayak dia? Yang berkhianat dan berbuat jahat sama orang lain?”
Ela duduk di tepian ranjang, menyuruh Arki ikut duduk di sampingnya. “Kamu pernah nanya sama Gita, kenapa dia bisa maafin kamu? Kamu pernah nanya sama dirimu sendiri, kenapa bisa maafin Gita? Hal yang sama juga Ibu lakukan pada ayahmu. Perasaan sayang kita lebih berharga dibandingkan dengan kebencian. Meskipun hal jahat dan pengkhianatannya tetap gak pernah Ibu benarkan. Harusnya Ibu ngelakuin ini dari dulu, sebelum ayahmu semakin gak terkendali. Ibu yang bilang kalau ayahmu harus nikahin ibu Adrian dan Aditya. Sementara Ibu sendiri pergi, tanpa mau dengar penjelasan dan kasih kesempatan.”
“Ibu gak salah dengan pergi dan bercerai sama ayah. Gita juga ngelakuin hal yang sama pas tahu aku mulai melihat perempuan lain sebagai pilihan. Arya sendiri yang memilih jadi jahat sama ibu Adrian dan Aditya, juga sama cewek-cewek lainnya. Bukan salah Ibu! Jangan ngerasa bertanggung jawab sama kesalahan yang dia lakukan!”
“Ibu gak merasa begitu. Itu bukan alasan Ibu balik lagi sama ayahmu.”
“Aku tahu Ibu masih sayang sama dia. Tapi aku gak rela kalau Ibu harus jadi istri dia lagi. Gimana kalau dia nyakitin Ibu lagi? Selingkuh sama cewek-cewek yang masih muda dan seger kayak kebiasaannya itu?”
“Ayah kamu bahkan susah jalan. Gimana mau selingkuh?” balas Ela sambil terkekeh. “Kita udah gak mikirin hal-hal kayak gitu lagi. Ibu dan ayahmu itu kesepian, Ki. Butuh teman buat mengobrol banyak hal dan menemani sampai salah satu dari kita dipanggil Tuhan duluan.”
“Ibu kan punya aku, Gita, Tante Irma, Indah juga. Bisa ngobrol kapan aja Ibu mau.”
“Arki, kamu pasti ngerti gimana kamu butuh pasangan, kan? Bukan hanya untuk melepaskan hasrat duniawi aja, tapi tempat aman buat pulang dan bercerita. Ibu gak pernah bilang sama kamu gimana berat dan kesepiannya jadi ibu tunggal. Kadang pingin menyandarkan diri ke bahu seseorang. Mau kayak gimana pun, Ibu tetap perempuan biasa. Butuh laki-laki yang mendampingi. Selama hidup, orang yang paling Ibu inginkan buat lewatin banyak hal bersama itu ayahmu.”
Arki mengambil napas dalam dan memejamkan mata. Membungkam riuh dikepala tentang ketidakrelaannya melepas sang ibu kembali bersama ayahnya. Orang yang selama bertahun-tahun membuat ibunya diam-diam menangis tengah malam. Orang yang menjijikan dengan meniduri banyak perempuan sementara ibunya tetap setia dan menjaga hatinya. Orang yang merenggut banyak kebahagiaan saudara tirinya. Arki tahu cinta bisa sebodoh apa. Tapi masih tidak rela ibunya sendiri terlalu bodoh mengambil langkah.
Meskipun kesal dan marah memenuhi Arki, sudah jelas Ela tidak akan mundur untuk berkumpul bersama Arya. Dalam hal ini Arki kalah. Dia melihat kembali berkas cahaya di mata ibunya yang terlihat sangat menanti untuk kembali tinggal di kediaman Wibisana. Rasanya seperti melihat ibunya menjadi lebih muda dan ceria. Arki tidak mungkin menghancurkan kebahagiaan seperti itu. Pun tidak bisa menciptakan hal yang sama pada diri ibunya. Hanya oleh Arya saja, ibunya bisa menjadi sebahagia itu. Arki akhirnya harus menyerah.
Setelah usaha yang sia-sia membujuk ibunya untuk membatalkan pernikahannya, Arki kembali ke rumah. Perasaannya masih belum baik-baik saja. Sehingga dia memilih mengurung diri di ruang kerjanya. Meredakan emosi yang meluap tidak karuan. Takut kalau mood-nya yang tidak bagus malah akan menyakiti Gita tanpa disengaja.
__ADS_1
“Pak Arkian, masih ngambek sama ibu?” tanya Gita yang muncul tiba-tiba di ruangan.
“Kok bisa masuk? Aku udah kunci pintunya,” kata Arki yang kaget melihat Gita sudah berdiri di samping meja kerjanya.
“Aku kan punya kunci cadangan,” jawab Gita enteng. “Kamu udah hampir 3 jam mengurung diri di sini. Aku sampai gak ditemenin makan malam. Kamu gak lapar? Padahal udah aku masakin makanan enak loh. Dedek sampe sedih papanya gak ikut makan bareng,” lanjutnya sambil mengelus perut yang sudah membuncit.
Arki mengulurkan sebelah tangannya, menarik Gita mendekat dan menggendongnya di pangkuan. Dia menatap wajah istrinya dan mencari penghiburan di sana. Saat ini hatinya sedang tidak karuan. Butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiran.
“Kamu masih marah ya sama Ibu?” tanya Gita menatap dalam mata Arki yang sehitam jelaga. Tampak sangat dingin dan membahayakan. Gita tahu, ada emosi yang belum surut dari dalam hati suaminya.
“Aku takut ibuku disakiti lagi sama Arya. Aku gak bisa terima kalau dia hidup bareng lagi sama orang yang mengkhianatinya.”
“Aku juga. Awalnya aku takut menerima kamu lagi yang punya pemikiran buat berkhianat sama aku—”
“Tapi aku beda sama Arya, Git. Aku gak main sama cewek lain. Mungkin aku emang pernah berpikir buat ninggalin kamu dan berpaling. Tapi gak aku lakukan, kan? Beda sama Arya yang jelas-jelas punya banyak selingkuhan.”
“Tapi akar masalahnya tetap sama, Ki. Pengkhianatan dan memaafkan. Mau sebesar apapun kesalahannya, ujungnya ibu kamu tetap memaafkan juga. Berarti dia juga punya ruang buat memaafkan sebesar kesalahan ayahmu. Lagipula, kayaknya ayahmu juga masih punya perasaan yang tersimpan buat ibumu.”
“Tahu darimana kamu soal itu? Dia jelas-jelas punya banyak cewek simpenan.”
“Aku beberapa kali ngobrol sama Dokter Nabila waktu jenguk ayahmu. Dia sempat cerita alasannya ngasih tahu semua perbuatan kalian sama ibu. Itu semua karena ibu adalah satu-satunya orang yang bisa menghentikan kalian dan juga memberi pengertian sama Pak Arya. Kamu tahu, kamar ayahmu gak pernah ditempati perempuan manapun setelah bercerai? Dokter Nabila bilang, isinya adalah barang dan foto-foto kamu dan ibumu. Dia masih sesayang itu sama ibu. Walaupun aku gak tahu gimana masa lalu mereka sampai hubungannya sehancur itu.”
“Kamu pasti masih dongkol dan gak rela, kan?” ujar Gita sambil mengusap dada bidang suaminya. Berharap dengan sentuhannya emosi Arki segera meluruh pergi. “Gimana kalau kamu lebih rileks. Serahkan semuanya pada dua orang dewasa yang masih saling cinta itu. Apapun hal di depan yang terjadi, kamu harus ikhlas. Biarkan orang tuamu hidup berpasangan lagi dan menikmati momen berdua kayak kita.”
Arki membuka matanya, melihat wajah Gita sangat dekat. Senyuman teduh, suara yang lembut, dan sentuhan yang hangat. Arki tidak bisa menolak pesona seperti itu dari istrinya. Gita semakin hari semakin cantik dan memabukkan. Dia juga sekarang bersikap lebih tenang dan jarang memantik emosinya. Mungkin karena Arki juga sudah sedikit melunak dalam memperlakukannya.
Dia dan Gita ingin mempertahankan hubungan. Menyingkirkan ketegangan dan konflik yang tidak perlu diantara mereka dengan saling pengertian. Mereka berubah, mungkin juga akan begitu dengan Arya dan Ela.
“Aku gak mau kamu kepikiran terus masalah ibumu. Boleh gak aku cemburu karena gak diperhatikan sama kamu, soalnya sekarang kamu gak fokus sama aku?”
Arki terkekeh. “Kamu cemburu karena aku mikirin ibuku terus?”
“Sedikit. Soalnya aku gak khawatir sama ibu. Beliau perempuan paling kuat, baik dan lembut yang besarin orang sehebat kamu. Pasti semua pertimbangan dan pemikirannya juga bakal secerdas kamu. Dia gak mungkin mengambil jalan kayak gini tanpa pikir panjang buat kedepannya.”
“Kamu muji aku? Tumben.”
Gita tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya di leher Arki. “Aku mau ibu ngerasain hal kayak gini juga. Meluk orang yang disayanginya sampai tua. Aku sayang sama ibu dan pingin dia bahagia juga,” ucapnya kemudian mencium bibir Arki sekilas.
“Kamu yakin ibu aku bakal bahagia?”
__ADS_1
“Yakin. Gak ada yang lebih bahagia buat perempuan dibandingkan hidup sama-sama dengan orang yang disayanginya. Apalagi orang itu juga sayang banget sama kita.”
“Kayak aku ke kamu? Aku berharap ibu juga bisa ngerasa bahagia dipersatukan lagi kayak kita.”
“Iya. Bener begitu. Makanya kamu berhenti khawatir sama ibu. Khawatirin aku aja sekarang! Aku sampai harus nyari perhatian kayak gini karena ditinggalin makan malam sendirian dan gak dihubungi seharian,” ucap Gita sambil cemberut.
“Segitu pinginnya diperhatikan. Bumil manja banget,” kata Arki terkekeh. Entah kenapa fokusnya mulai beralih. Kini pikiran yang mengganggunya mulai berkurang. Digantikan ocehan Gita yang menggemaskan.
“Kamu mau tahu hal yang lebih gila karena aku gak dapat perhatian seharian ini, gak?”
Arki menaikan sebelah alisnya. “Apa?”
“Aku izinin kamu nengokin dedek malam ini,” bisiknya di telinga Arki, yang langsung disambut gelak tawa sang suami. “Tapi jangan kasar-kasar ya. Takut dedeknya cedera dalam perut.”
“Aku gak sesadis itu,” kata Arki yang masih berurai tawa. “Di sini atau di kamar aja?”
“Di kamar dong! Kamu mau punggung sama pinggangku sakit harus main di meja kerja kamu yang keras gini? Gak berprikemanusiaan emang Pak Arkian!”
Arki menggendong Gita keluar ruang kerja sambil terus tertawa. Lekas saja tubuh istrinya dibaringkan di kasur empuk di kamar mereka. Ciuman lembut mulai Arki daratkan di bibir indah Gita. Sentuhan nakal mulai bergerilya di tubuh istrinya. Pikirannya mulai terhanyut dan hanya terfokus pada makhluk indah dihadapannya saja. Arki tidak habis pikir, kehadiran satu orang manusia ini saja mampu mengaburkan banyak masalah yang berkeliaran dibenaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wah gak kerasa udah sampai bab ke-100 lebih. Aku kuat juga nulisnya ya 😭👍
Gimana? Ada yang gak setuju Arya sama Ela balikan? Hehe
Karena semuanya sudah (hampir) bahagia dan semua masalahnya sudah (hampir) terselesaikan. Jadi, besok adalah bab buat mengakhiri cerita Arki dan Gita.
Adrian dan Aditya gimana dong? Rencananya bakal dibikin novel terpisah. Tapi gak janji yaa. Entah kapan digarapnya hehe
Apakah Adrian balikan sama Nabila?
Apakah Aditya sama Shela atau sama cewek lain?
Kita tunggu nanti. (Kalau author nya sempat bikin).
Terima kasih yang udah baca dan dukung sampai sini ya!
Jangan lupa besok bab terakhir! Akan ada penampilan spesial dari seseorang hehehe 😆✌️
__ADS_1