
“Ini Mbak Ririn. Dia yang bakal masak, nyuci, beres-beres rumah selama seminggu ini. Jadi diem aja gak usah banyak gerak dan ngerjain kerjaan rumah dulu. Biar cedera kaki kamu gak makin parah,” ucap Arki saat memperkenalkan asisten rumah tangga sementara mereka.
Pagi buta mereka pulang ke Jakarta kembali. Arki tidak bisa meninggalkan meeting di Senin pagi, karena itu cepat-cepat pulang dengan segera. Sekarang dia malah sudah siap dan rapi mengenakan kemeja kerjanya. Meskipun Gita yakin laki-laki itu kelelahan setelah menyetir cukup lama.
“Nanti kita periksa ke tempat Mbak Dina kalau kamu masih sakit dan gak bisa jalan selama beberapa hari.”
“Aku udah gak apa-apa kok. Sakitnya lumayan berkurang.”
Arki menghela napas, duduk di ranjang dan mendekatkan tubuh pada Gita. Tanpa sadar Gita menahan bahu Arki agar tidak terlalu merapat.
“Mau ngapain?” tanya Gita waspada.
Dia paham selama beberapa hari kemarin tidak bisa menjalankan tugasnya melayani Arki. Pasti laki-laki itu tiba-tiba menjadi mudah tersulut emosi. Sama halnya setiap kali menunggu jadwal bulanannya selesai, Arki akan sangat moody dan lebih liar mempermainkannya.
Arki mencium kening Gita sekilas, kemudian menatap Gita lekat. “Kalau ada apa-apa cepetan telepon.” Arki kemudian bangkit dan pergi meninggalkan kamar.
Gita tidak menduga Arki tidak menagih atau membicarakan tentang jatah melayani. Biasanya dia sangat langkas bertanya atau menjadwalkan kegiatan rutin mereka. Dipenuhi ancaman dan peringatan yang sering kali membuat Gita muak. Baguslah Arki tidak menagihnya dalam keadaan seperti ini. Gila saja, mana mungkin mereka melakukannya saat kakinya masih cedera dan baru saja kena celaka.
Diam di rumah bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Gita tetap memeriksa beberapa pekerjaan yang bisa diselesaikan meskipun tidak pergi ke kantor. Laporan-laporan yang harus ditanganinya tetap dia kerjakan, tidak mau menambah beban pada rekan satu divisinya yang lain karena absen bekerja. Mereka sudah terlalu baik mengizinkannya untuk beristirahat selama seminggu nanti.
Mbak Ririn menyediakan camilan dan minuman untuk menemani Gita bekerja di atas kasurnya. Seketika Gita merasa telah benar-benar menjadi orang kaya seperti di film dan novel yang dia baca. Dilayani seperti seorang putri. Hal yang tidak pernah dirasakan seumur hidupnya.
Setelah beberapa jam bekerja dan menyelesaikan laporan serta mengirimkan email, Gita beristirahat sejenak. Mengambil ponselnya yang tidak dia buka selama mengerjakan laporannya. Beberapa pesan dari Mia diterimanya. Lekas saja dia membuka.
[Mia: Lo gak apa-apa, Git? Sekarang lo dirawat di RS mana? Lo patah tulang sampe gak bisa jalan gitu]
Gita kemarin mengirim pesan pada Mia soal kecelakaannya. Dia juga meminta maaf karena tidak bisa hadir diacara peresmian warung makannya hari ini. Padahal tadinya Gita sudah berniat untuk cuti dan datang ke sana. Sayangnya dia malah kecelakaan, hingga Arki menolak mentah-mentah idenya untuk pergi ke tempat Mia. Sahabatnya itu pasti sibuk persiapan hingga baru membalas pesannya sekarang.
[Gita: Gak apa-apa, Mi. Cuma keseleo doang kok. Gue dirawat di rumah. Tiduran dan makan doang. Mana dilayanin sama ART kayak majikan-majikan kaya.]
[Mia: Bagus deh lo gak kenapa-kenapa. Iya manfaatin duit suami lo biar hidup kayak nona gedongan. Gue minta maaf gak bisa jenguk lo ya, Git. Lagi sibuk banget nih persiapan warung makan gue. Baru sehari doang udah ada pesenan dari orang kantor kenalannya Juan.]
[Gita: It’s okay. Gue ngerti kok, Mi. Gak usah khawatir! Masih parahan pas gue kecelakaan pas di bonceng sama lo.]
__ADS_1
Gita dan Mia terus berkirim pesan dan mengabari. Berkomunikasi dengan sahabatnya itu menjadi obat tersendiri bagi Gita yang tiba-tiba merasa kesepian sekarang. Mungkin karena terbiasa bekerja dan bertemu orang-orang, hening dan terkurung di dalam rumah membuatnya tidak terlalu nyaman.
...****************...
Arki keluar dari ruangannya saat jam makan siang tiba. Dia melihat bawahan satu divisinya juga mulai bersiap untuk pergi makan siang. Mungkin sebagian akan ke kantin karyawan, café, atau juga restoran di mall dekat gedung kantor.
“Zal, makan siang dimana? Bareng lah sama saya,” kata Arki mencari teman makan siang.
“Udon, Pak. Udon. Biasa di sebelah,” sambar Erza menjawab tanya Arki.
“Tumben Pak Arki makan diluar, biasanya bawa bekal.” Sintia terheran melihat atasannya itu mencari teman untuk makan siang. Biasanya dia akan mengurung diri di ruangannya, memakan bekal dari istrinya. Hampir tak pernah terlewat sekalipun.
“Istri saya lagi sakit abis kecelakaan hari Sabtu kemarin, makanya gak bisa bikinin bekal. Lagi recovery.”
“Waduh. Terus sekarang keadaannya gimana, Pak? Nanti abis pulang kerja kita jengukin di rumah sakit,” kata Rizal tampak bersimpati.
“Gak usah. Istri saya lagi istirahat di rumah. Lukanya gak parah kok cuma cedera sendi ringan,” ucap Arki memberitahu. “Yuk ah! Keburu penuh nanti penuh tempat makannya,” lanjutnya menggiring bawahannya agar bergerak.
“Ditraktir gak nih, Pak?” canda Erza.
Amanda sejak tadi hanya diam saja tidak berani bersuara. Dia menempel di belakang Tari dan mengikuti yang lain. Pagi tadi dia sudah meminta maaf secara langsung pada Arki, tentang kenekatannya mendekati bosnya itu. Arki nampak tidak terlalu peduli. Dia hanya memperingatkan Amanda untuk menjaga sikap. Kemudian mengabaikannya saja seperti biasanya.
Selama hampir 2 bulan dia bekerja, sudah berbagai cara mendekati Arki. Dia beberapa kali menyajikan minuman hangat, kopi, teh hingga cokelat mahal yang dipesannya dari luar negeri untuk diminum oleh Arki di pagi hari. Tapi laki-laki itu mengatakan tidak menyukai semuanya.
Amanda pun sudah berusaha mengajukan lembur dan menemani menyusun laporan. Tapi Arki selalu menunjuk rekannya yang lain untuk itu. Mungkin pernah sekali, saat semua rekan satu divisinya lembur hingga malam. Amanda dengan sengaja mengatakan tidak membawa kendaraan dan berniat meminta bosnya itu mengantar pulang. Arki langsung saja memesankan taksi online untuknya.
Semua usahanya berakhir gagal. Amanda jadi berpikir ulang bahwa semua hal yang dilakukannya itu terlalu halus dan tidak berkesan. Diam-diam dia menceritakan itu kepada Damar dan dia berniat membantunya. Arki harus digoda langsung tanpa sembunyi-sembunyi, hingga Amanda setuju melakukannya kemarin di kelab malam.
Perasaannya kian hari semakin kuat kepada Arki. Amanda sudah mengaguminya sejak dulu. Setiap kali hadir di acara keluarga Hadiningrat, yang pertama kali dicari adalah Arki. Laki-laki itu adalah impiannya. Cinta pada pandangan pertama. Kabar baik bersambut saat ayahnya mengatakan keluarga Wibisana sedang mencari istri untuk para putranya. Tanpa berpikir panjang, Amanda menawarkan diri untuk menjadi istri Arki.
Malangnya, Amanda baru tahu Arki telah menikah dengan seseorang. Setelah lulus kuliah dan mengumpulkan keberanian, Amanda ingin menapaki jalannya sendiri untuk mendekati Arki. Dia tahu hal ini salah, merebut Arki dari istrinya adalah perbuatan rendah. Tapi Arya Wibisana mendukung usahanya, karena ternyata istri Arki hanyalah perempuan kelas bawah, yang sama sekali tidak pantas bersanding dengan laki-laki seperti Arki.
...****************...
__ADS_1
“Bu, ada tamu.” Ririn dengan sigap memberitahu Gita yang sedang fokus di depan laptopnya.
“Siapa?”
“Pak Juan, katanya teman Bu Gita.”
Gita mengerutkan dahi bingung. Kenapa Juan bisa datang kesini? Sekali pun Gita tidak pernah menerima kunjungan dari teman-temannya, termasuk Mia. Bahkan sahabatnya itu tidak berani mengunjunginya ke rumah.
Dia berjalan di bantu oleh Ririn menuju ruang tamu. Juan sudah duduk di sana dengan nyaman. Tersenyum saat Gita muncul dan duduk di sofa di dekatnya. Gita agak sedikit khawatir dengan pertemuan mereka seperti ini. Apalagi di rumah, Arki bisa-bisa mengamuk kalau tahu. Tapi tidak mungkin mengusir Juan saat ini, tidak sopan.
“Hai, Git. Gimana keadaan kamu sekarang? Udah baikan?” kata Juan membuka pembicaraan.
“Udah gak apa-apa. Gak parah juga lukanya. Kok kamu tahu dan bisa ke sini sih?” kata Gita terheran-heran.
“Aku tadi habis dari tempat Mia, ikut pembukaan warung makannya. Habis rekomendasikan ke temenku juga yang cari catering makan siang murah. Terus jadi ngobrol sama Mia dan tahu kalau kamu gak bisa datang kesana karena kecelakaan. Aku mau jenguk nih sebagai mantan ketua kelas dan dapat titipan juga dari Mia. Katanya sorry belum bisa jenguk.”
Juan menyerahkan buah tangan yang dibawanya, termasuk sebuah buket bunga ukuran besar yang sejak tadi Gita pandangi. Bunga aster dan mawar tampak cantik ditata. Sangat jarang bagi Gita mendapatkan sebuah buket bunga seperti itu. Mungkin satu kalinya pernah mendapatkan bunga adalah saat wisuda kelulusan kuliah. Sebuah buket mawar dari Mia dan keluarganya.
“Bunganya dari aku. Habis bingung mau kasih apa. Kayaknya Mia udah bawain buah, makanan, apalagi tuh, aku gak tahu isinya apa,” kata Juan sambil tertawa.
Gita tersenyum senang. “Kamu udah kayak kurirnya Mia aja. Makasih ya, Juan!”
“Oh ya, kemarin aku komunikasi lagi sama beberapa anak kelas dan ketemu Fadhil juga. Kita lagi menyusun rencana nih buat reunian, kelas kita aja. Pinginnya anak-anak kita bikin acara kayak gitu di Bali. Aku kan sempat tinggal disana beberapa tahun, jadinya tahu tempat-tempat yang terjangkau buat bikin acara kelas. Kamu ikut kan, Git?”
Gita terdiam sejenak. Dia pasti tidak akan mendapatkan izin dari Arki. Apalagi setelah kejadian kemarin di Lembang. Pertama kalinya dia mendapatkan izin mengikuti acara kantor, dia langsung kecelakaan dan membuat Arki kerepotan. Sudah jelas izin untuk acara reuni di Bali tidak mungkin Gita peroleh.
“Aku belum yakin, Jun. Kayaknya aku harus bilang dulu sama suamiku,” ucap Gita masih gamang.
“Acaranya masih lama kok, Git. Belum fix kapan, masih digodok. Nanti aku sama Fadhil akan infokan di grup. Kita sih gak masalah bawa anggota keluarga juga, anak, istri, suami. Soalnya temanya kan kekeluargaan. Lagian aku tahu orang sana yang bisa bikin harga penginapan lebih miring buat acara besar.”
“Aku gak janji ya, Juan.”
“Iya. Gak apa-apa. Meskipun aku berharap kamu ikut loh, Git. Biar jadi banyakan yang datang. Itung-itung honeymoon juga berdua sama suami. Soalnya acaranya gak melulu full sama teman.”
__ADS_1
Gita hanya tersenyum dan tidak memberikan kejelasan. Masih belum tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Meskipun Gita ingin ikut, dia tidak tahu apakah Arki bisa mengizinkannya. Bayangan mengenai kemarahannya saja sudah membuat Gita kewalahan.
Selama lebih dari satu jam mereka berbincang. Membahas mengenai rencana reuni dan banyak hal lagi yang diceritakan. Gita tidak pernah tahu mengobrol dengan Juan bisa seasyik ini. Juan memang sejak dulu sangat ceria dan mudah bergaul. Pantas saja menjadi ketua kelas dan anggota OSIS pada masanya. Salah satu anak yang cukup populer juga. Meskipun dulu, mereka tidak terlalu dekat dan jarang berbicara berdua.