
Gita turun dari taksi online di depan rumah Ela. Meskipun acara yang dijanjikan masih dua hari lagi, tapi Gita tidak bisa menahan diri untuk mengunjungi ibu mertuanya. Hatinya begitu kacau sekarang, dengan semua perilaku Arki yang terkadang baik dan terkadang acuh. Pun banyak beban lain yang kini dirasakannya berkumpul dipikiran.
Ela adalah sosok yang bisa membuatnya tenang, dia bukan hanya ibu mertua bagi Gita. Dia sudah Gita anggap seperti ibunya sendiri. Hal yang memberatkannya mengambil keputusan untuk meninggalkan Arki adalah Ela.
Bagaimana jika perempuan itu membencinya? Bagaimana jika Gita kehilangan kehangatan sosoknya. Tapi perpisahannya dengan Arki sudah diujung mata. Gita tidak akan pernah bisa menggenggam hati laki-laki keras sepertinya.
Beberapa kali Gita mengetuk pintu, hingga akhirnya terbuka. Ela menyambut dengan sumringah kedatangan Gita. Dia sudah sejak siang menunggu menantunya datang. Mempersiapkan banyak makanan serta ruangan untuknya menginap.
Saat Gita masuk hanya suara TV yang terdengar dari ruang tengah. Irma dan Indah sedang tidak ada di rumah. Makanya Gita pun berani menginap disini. Ela mengatakan mereka berlibur sejenak ke Jogja, sebagai hadiah ulang tahun dari Indah untuk ibunya. Baru setelah pulang mereka mengadakan acara syukuran.
Baguslah, Gita hanya mengharapkan berada disini bersama dengan ibu mertuanya saja. Bahkan tanpa Arki, yang sekarang sedang melakukan perjalanan dinas ke Malang.
“Ibu seneng banget pas kamu bilang mau temenin di rumah karena Irma gak ada. Jadi ibu gak kesepian,” katanya sambil menghidangkan teh di ruang tamu.
“Aku juga seneng kok nginep di rumah ibu,” balas Gita tersenyum.
Ela masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu. Wajahnya teduh, perkataannya santun dan perilakunya lembut. Setelah bertemu langsung dengan Arya, Gita jadi bertanya-tanya bagaimana kedua orang yang seperti bumi dan langit itu bertemu. Gita juga kini menyadari, Arki lebih banyak mewarisi hal-hal dari ayahnya. Gita melamun sesaat teringat pertemuan yang belum lama berlalu dengan Arya, memberinya kekosongan yang dalam di hatinya.
“Gita, kamu udah makan malam? Tadi pulang kantor kamu langsung kesini?” tanya Ela membuyarkan pikiran Gita.
“Belum. Tadi gak sempat makan malam dulu. Setelah pulang kantor, aku ke rumah dulu ambil baju buat menginap.”
“Padahal gak usah pulang dulu. Capek. Ibu punya banyak baju buat kamu pakai, dijahit sendiri. Siapa tahu kamu suka,” katanya terlihat senang.
__ADS_1
Mereka menuju ruang makan dan mulai menyantap hidangan yang dimasak oleh Ela. Mereka terus berbincang hal-hal yang menyenangkan. Kedua orang yang sudah seperti ibu dan anak. Gita merasa semua perasaan sakit yang dirasakannya bertahun-tahun meluruh dalam senyuman Ela. Sosoknya adalah tempat pulang dan obat yang paling mujarab.
“Irma pasti seneng banget sekarang lagi jalan-jalan sama Indah dan Anaya,” kata Ela tiba-tiba, ketika mereka sedang mencuci dan membereskan bekas makan.
“Ibu udah kangen ya sama mereka?”
“Ya, kangen. Soalnya rumah jadi rame kalau ada mereka. Terutama Anaya. Lucu banget sekarang udah bisa diajak ngobrol kayak orang dewasa,” kata Ela menceritakan dengan riang.
Raut wajah Gita langsung berubah. Mengingat saat Ela terlihat bahagia mendengar kabar kehamilan palsunya, kemudian Ela yang terluka saat tahu bahwa Gita keguguran. Kehamilan dan keguguran palsu tersebut memberi perempuan tua itu sebuah harapan sekaligus luka secara bersamaan. Gita tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi dengan kabar perpisahan. Tapi semua itu tidak bisa dihindari lagi.
Ela menangkap wajah sedih Gita saat menceritakan tentang Anaya. Mengira menantunya sangat terluka karena tidak bisa mempertahankan janinnya. Pasti hingga kini Gita merasa bersalah.
“Maaf, Git. Ibu gak bermaksud—”
“Aku juga mau hamil, Bu.” Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Gita. Tanpa bisa dikontrolnya, hingga dia pun terperanjat sendiri mendengarnya.
Tapi kini terlambat. Dia tidak akan bisa. Arki sudah tidak pernah lagi menyentuhnya. Dia tidak peduli lagi padanya. Walaupun Arki mengatakan hubungan mereka hanya sebatas teman ranjang. Sekarang seranjang pun sudah tidak pernah. Gita memutuskan menempati kamar depan seperti saat pertama kali menikah. Arki tidak melarang atau berkomentar apapun hingga sekarang.
Ela memeluk Gita dengan erat. “Iya, nanti kamu bisa hamil lagi. Ibu selalu doakan kamu dan Arki sehat biar bisa punya anak lagi. Gak usah khawatir dan menjadikan itu beban pikiran. Kalian masih punya banyak waktu dan cara biar bisa punya anak,” kata Ela menenangkan.
Gita tidak punya waktu. Pernikahannya sudah berakhir dan hubungan diantaranya dengan Arki tidak akan bisa diperbaiki. Gita hingga kini masih mempertanyakan kenapa laki-laki itu belum juga menjatuhkan gugatan perceraian.
Padahal hari-hari mereka sudah seperti dua orang yang asing, teramat asing untuk sekedar kecupan saja. Gita perlahan mati karena kesepian dan kini kekosongan serta kekecewaan yang menambah beban pikiran.
__ADS_1
Keinginan kekanakan yang Gita lakukan dengan Ela adalah tidur bersamanya. Aneh memang. Tapi semenjak ibunya meninggal, rasanya Gita tidak pernah punya kesempatan untuk mendekap sosok seorang ibu. Jelas bahwa ibu tirinya tidak pernah melakukannya. Peduli saja pun tidak.
“Ibu gak apa-apa kan tidur sama aku?” kata Gita sedikit malu. Dia pun tidak menyangka ketika Ela menyetujui permintaan anehnya untuk tidur bersama.
“Ya, gak apa-apa. Ibu udah lama gak ada temen bobo. Arki sejak SD udah gak mau lagi bobo bareng sama Ibu,” kata Ela di sebelah Gita. Dia membenarkan posisi selimut menantunya sebelum berbaring.
Gita tidak bisa berhenti memandangi Ela sambil tersenyum. Menyadari hal itu, Ela juga berbalik dan memandangi menantunya. Tangannya dengan lembut mengelus kepala Gita.
Senyum Gita mengabur dan lenyap, berubah menjadi isakan. Kerinduan pada ibunya tiba-tiba dia rasakan begitu melukainya. Tidak pernah dia sadari bahwa dia begitu menginginkan diperlakukan demikian lembut dan penuh kasih sayang oleh seorang perempuan dewasa, oleh ibunya.
“Loh, kok nangis? Kenapa, Nak?” kata Ela bingung.
Tapi tangis Gita tidak mereda. Malah semakin kencang saja. Ela tidak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan Gita. Selain memberikannya tepukan lembut dan menyuruhnya meluapkan saja rasa sedihnya. Ela pun tidak mengerti apa yang terjadi pada menantunya hingga membuatnya menangis.
“Aku kangen ibuku,” ucap Gita diantara tangis.
Sesuatu yang tidak pernah dia ucapkan pada siapapun, seunur hidupnya. Merindukan sosok yang hanya samar berada dalam ingatan. Gita terlalu kecil untuk mengingat bagaimana rasanya punya ibu.
Meskipun sebuah album foto yang sudah dia tinggalkan sejak meninggalkan rumah lamanya, memberikan gambaran bagaimana rupa ibunya. Namun, Gita tidak pernah sedikitpin ingat kehangatannya. Seluruh benaknya hanya memutar bayangan Ani, ibu titi yang selalu memarahinya setiap hari.
“Kalau kamu kangen sama ibumu. Datang aja kesini. Siapa tahu ibu bisa sedikit mengobati perasaan kamu.” Ela bersungguh-sungguh.
Dia ingin Gita menganggapnya seperti ibunya sendiri. Gadis malang yang harus berbohong tentang ibu dan adik tirinya, karena hubungan mereka yang buruk, pasti menyimpan banyak luka dan kerinduan besar pada ibu kandungnya.
__ADS_1
Kalimat itu rupanya malah membuat Gita semakin tersedu, bukan karena senang dan bahagia mendapatkan kehangatan seperti itu. Melainkan seperti sebuah rantai besar yang menahan hatinya agar tidak melepaskan pernikahan menakutkan dengan Arki. Padahal Gita sudah siap mengucapkan perpisahan dan menjalani hidupnya dengan kesendirian.
Tapi kesendirian ternyata adalah bayangan menakutkan, ketika diujung harinya dia seharunya bisa pulang ke pelukan seseorang. Pada sosok ibu yang baru Gita temukan kembali setelah puluhan tahun menghilang dari dalam hatinya.