
Arki tidak ingin melepaskan pagutannya dari bibir Gita. Entah berapa lama mereka saling merangkul dan menautkan kecup. Rasanya Arki tidak ingin kehilangan sentuhan manis itu sedetik pun. Memang sudah sangat terobsesi pada Gita.
Bahkan kabar tentang kematiannya dulu pun membuat Arki nyaris mengakhiri hidupnya juga. Arki harus berterimakasih kepada Aditya, meskipun perannya kecil. Paling tidak hari itu ketika datang ke rumah, dia membantunya bangkit dari tempat tidur untuk sekadar membuatnya naik pitam.
Hal-hal rumit yang ada dikepalanya dan intuisi yang dirasakannya tentang keanehan kepergian Gita, mendapatkan dukungan oleh adiknya. Hingga Arki bangkit dan bersedia menelusuri kembali jejak menghilangnya Gita.
Jika semua penyelidikan tidak dilakukannya kembali. Arki tidak yakin bisa berdiri di sini dan memeluk Gita lagi. Mungkin semesta menuntun dan menggerakkan mereka agar bersatu kembali. Menyusun kembali takdir yang sempat tidak Arki yakini memihak padanya.
“Permisi, ini makan siang dan obatnya ya, Bu.”
Perawat memasuki ruangan dan membubarkan ciuman mereka. Nyaris gelagapan karena tertangkap basah sedang bermesraan, mereka tersenyum canggung pada perawat yang terlihat habis menangkap basah sesuatu yang memalukan. Setelah perawat pergi kembali, mereka berdua saling memandang dan tertawa.
“Nanti setelah pulang, aku cium kamu yang banyak,” bisik Arki sambil menempelkan kening. “Makan dulu sekarang,” lanjutnya.
Gita mengangguk dan menahan senyum malu. Dia mulai duduk kembali dengan benar di ranjangnya dan menghadapi makanan di depannya. Mulai menyuap sendok ke mulutnya.
Hari ini perasaan Gita seperti roller coaster. Semalaman sangat sedih dan bersalah, hingga tadi pagi juga ogah-ogahan memakan apapun. Kini perasaannya menjadi lebih baik setelah kedatangan Arki kembali. Apalagi kesalahanpahaman mereka akhirnya terurai. Walaupun hatinya belum merekat erat dan masih kecewa pada Arki karena sempat tergoda dengan perempuan lain.
“Kamu kemarin dari mana? Kok gak bisa dihubungi?” tanya Gita penasaran.
“Nyari video itu di apartemen Basuki. Tapi gak ada. Jadinya aku ketemu sama Amanda dan maksa dia buat ngasih rekaman itu,” jawab Arki santai.
“Kamu ketemu cewek itu?” Mulut Gita kini melengkung sedih.
“Buat minta rekaman, Gita. Aku gak ada hubungan atau perasaan apa-apa sama Amanda. Kenapa, kamu masih cemburu sama dia?” Arki mengelus pipi Gita dengan ibu jarinya.
“Kamu matiin ponsel kamu sampai gak bisa dihubungi sama bawahanmu. Aku khawatir.”
“Ponselku mati dari semalam belum di charge. Maaf ya!” Arki mengeluarkan ponselnya yang mati dari saku dan menghubungkannya pada pengisi daya.
__ADS_1
“Aku baru lihat berita di TV soal Basuki. Dia kecelakaan mobil di tol. Kamu gak terlibat sama kejadian itu kan, Ki?” kata Gita berhati-hati.
Arki mengerutkan dahi. Sebenarnya dia tidak begitu kaget dengan kabar tersebut. Kedua adiknya pasti yang merencanakan kecelakaan itu. Entah dengan cara bagaimana. Sebenarnya Arki ingin melenyapkannya sendiri. Melihat apa yang sudah dia lakukan pada Gita. Tapi Adrian dan Aditya sudah lebih dulu mengurusnya.
“Kecelakaan gimana maksudnya? Aku gak ketemu sama Basuki di apartemennya. Kemarin aku ngebobol pake akses masuk cadangan,” kata Arki.
Dia tidak ingin Gita tahu bahwa saat ini mengambil bagian dari rencana pembunuhan Basuki dan memberi pelajaran ayahnya sendiri. Arki tahu akan seperti apa reaksi Gita nanti. Hanya Arki, Adrian, dan Aditya lah yang mengetahui semua rencana gila ini. Terutama Adrian dan Aditya, yang punya motif serta kepentingan besar dibalik semua tindakannya.
Arki sudah nyaris tidak peduli lagi dengan rencana tersebut setelah tahu Gita selamat. Tidak ada yang dia minta dari Arya. Hanya ingin membuatnya menyesal telah menyusun skenario mengerikan tentang kematian Gita yang menghancurkan hatinya.
Arki menyalakan ponselnya kembali, melihat berita yang Gita maksud di laman berita online. Kecelakaan mengenaskan yang menimpa Basuki. Penyebabnya diduga karena mabuk hingga tidak dapat mengendalikan kendaraannya. Motif yang nyaris terlihat seperti membunuh dirinya sendiri.
Arki tahu siapa yang sanggup melakukan hal mengerikan seperti ini. Aditya lah dalangnya. Dia melakukan hal yang sama seperti kejadian bertahun-tahun lalu terhadap ibunya, pada Basuki. Mereka adegan untuk pembalasan, karena Basukilah yang terakhir ibunya temui. Kecelakaan rekaan yang membuatnya menjadi piatu dan hidup terlantar.
Setelah mengumpulkan bukti dan penyelidikan tentang kematian ibunya, Aditya yakin bahwa kecelakaan tersebut hanyalah manipulasi. Ibunya tidak mabuk. Hasil tes laboratoriumnya tidak mengindikasikan adanya kandungan minuman keras apalagi obat-obatan. Tapi semua media menyatakan kecelakaan akibat kelalaian pengemudi yang mabuk dan kasus penyelidikannya ditutup dengan cepat serta terbatas untuk publik. Media pun hanya sedikit yang meliputnya.
“Kamu jangan terlibat kejahatan kayak ayah kamu ya, Ki! Aku tahu kamu marah dan benci sama Pak Arya dan Basuki. Tapi tolong jangan melakukan kejahatan kayak mereka,” pinta Gita. Dia tidak ingin Arki mendapat masalah dan berakhir dipenjara.
Arki hanya tersenyum dan mengecup pipi Gita. Tidak membalas atau berjanji apapun padanya. Gita pasti kecewa kalau tahu hidup Arki selama ini tidaklah lurus dan baik seperti dugaannya. Semua perilakunya juga ada di batas abu-abu. Dia selalu menggunakan namanya dan kekuasaannya untuk menyelesaikan masalah dengan nilai moral yang dipertanyakan. Termasuk menjerat Gita lebih dalam di pernikahan.
“Kamu mau aku mandiin lagi, gak?” tanya Arki mengalihkan pembicaraan. Semua hal tentang Basuki ataupun Arya bukan urusan Gita.
“Gak mau! Kamu mau melakukan hal-hal mesum sama aku, kan?” balas Gita dengan wajah cemberut dan mulai menyuapkan makanan lagi. Dia tiba-tiba panik dengan perkataan Arki.
Meskipun sangat merindukan Arki, untuk saat ini Gita belum mau melakukannya. Masa iya, mereka harus ber cinta di toilet rumah sakit? Arki dan otaknya yang gila sudah keterlaluan!
“Kalau iya kenapa?” kata Arki kemudian tergelak. “Tenang aja. Udah aku bilang dari dulu, kalau aku gak akan melakukan hal macam-macam sama kamu yang lagi sakit,” lanjutnya.
“Bohong! Aku tahu kelakuan kamu kayak gimana.”
__ADS_1
“Gimana emangnya? Kalau mandi bareng, mau?” Arki tersenyum miring, menggoda.
“Gak ah! Udah diem dulu coba, aku lagi makan nih.”
Arki terkekeh dan berhenti berbicara. Dia kemudian berdiri dan merebahkan tubuhnya di sofa. Kejadian kemarin dan tadi pagi membuatnya lelah. Dia menggeledah apartemen Basuki dan mengamuk di kediaman Nugratama.
Arki sempat berpikir Basuki akan melakukan kesalahan seperti dulu lagi, menyimpan potongan CCTV lama saat kedatangan Gita ke rumah Wibisana, ternyata salah. Di tempatnya atau dimanapun tidak ada bukti tersebut.
Arki kelimpungan sendiri dan nyaris putus asa. Padahal
dia harus membuktikan ucapannya di depan Gita. Kemudian terpikir untuk menghubungi Amanda dan memintanya untuk menyerahkan copy video yang diambilnya di hotel. Kalau pelakunya bukan Amanda sendiri yang merekam, lantas siapa lagi?
Dibutakan oleh kemarahan, Arki mendatangi kediaman Nugratama pagi ini, mengancam, mengamuk, dan melumpuhkan pengamanan hingga Ginanjar Nugratama terlihat pucat pasi karena ketakutan. Apalagi Amanda yang menangis tanpa henti dan memohon-mohon pada Arki.
Pasti kabar tentang kelakuannya sekarang sudah sampai ke telinga Arya, juga pada kedua adik tirinya. Meskipun sepertinya Arya masih terbaring karena keisengan Adrian dan Aditya, bukan berarti dia tidak bisa memerintahkan orang-orangnya untuk menyakiti Gita lagi. Dengan kehadiran Arki meminta bukti pada Amanda, dia yakin Arya bisa langsung menyimpulkan bahwa Arki sudah tahu tentang kebenaran menghilangnya Gita. Bahkan mungkin sudah tahu Arki telah menemui istrinya.
Sekarang Patra dan Agus sudah tidak berada dalam pengawasan Basuki. Mereka diminta menemaninya ke Bogor dan ikut mengamankan tempat Gita berada, mewaspadai pergerakan Arya nanti.
Namun, hingga kini tidak ada hal yang mencurigakan apapun yang terjadi. Kedua adiknya yang diduga akan protes keras karena tindakan impulsif Arki, yang bisa merusak rencana juga sampai kini tidak menghubungi. Arki jadi penasaran sendiri apa yang terjadi di Jakarta.
Ponsel yang sedang mengisi daya di nakas dekat tempat tidur Gita berbunyi. Menyadarkan Arki yang baru terlelap beberapa menit saja karena kelelahan.
“Dari ibu,” ucap Gita menatap Arki yang masih terduduk di sofa mengumpulkan energi untuk bangun.
Arki kemudian berjalan meraih ponsel tersebut dan langsung menerima panggilan ibunya.
“Arkian, kamu dimana?” ucap Ela dengan nada tegas. Dahi Arki langsung berkerut bingung. Ibunya jarang sekali memanggilnya dengan nama penuh, kecuali jika Arki melakukan kesalahan atau sesuatu membuatnya marah. “Ibu tunggu kamu di rumah ayahmu sekarang!” lanjutnya tanpa menunggu Arki menjawab. Sambungan telepon juga segera dimatikan.
Itu bukanlah panggilan untuk menanyakan kabar atau keberadaan Arki. Melainkan perintah untuknya agar datang ke rumah Arya. Rumah Arya. Tempat yang tidak pernah ibunya kunjungi lagi semenjak bercerai. Lantas kenapa dia berada disana dan menunggu Arki. Perasaannya tidak nyaman. Jangan-jangan ibunya sudah tahu apa yang dia dan saudaranya lakukan pada ayahnya sendiri.
__ADS_1