
Arki memarkir mobilnya di area drop off kendaraan seperti biasanya. Tiba-tiba dia merangsek mendekat dan mencium bibir Gita. Singkat namun berbahaya, membuat lipstick yang dikenakan oleh Gita menjadi berantakan tak karuan.
“Arkian!” protes Gita marah, menghentakkan tubuh laki-laki itu, menjauh.
Sejak kejadian malam itu, Arki lebih berani melakukan hal-hal seperti itu padanya. Tanpa perasaan bersalah ataupun permintaan maaf. Terhitung sejak kemarin, Arki sudah mendaratkan ciuman tiba-tiba seperti itu sebanyak sepuluh kali. Gita kesal, marah, dan takut.
Sekarang mungkin hanya ciuman saja. Besok atau lusa, laki-laki itu pasti melakukan hal yang lebih parah. Gita tidak bisa menunggu hingga sebulan bahkan minggu depan untuk lepas dari Arki.
Melihat Gita memaki dan protes karena kecupan pagi yang hangat itu, Arki hanya tersenyum. Dia tidak peduli pada respon istrinya yang sangat menolaknya. Lama-lama juga Gita akan menyukainya. Arki sudah tidak berusaha melakukan pendekatan pelan-pelan. Kali ini waktunya bergerak cepat untuk mendapatkan keinginannya.
“Salam buat, Pak Usman,” kata Arki sambil menyeringai.
Gita tidak menjawab apapun lagi. Dia tahu bahwa membawa nama atasannya adalah ancaman untuk Gita. Agar Gita menjadi takut dan mengikuti kemauan Arki. Sepertinya Arki benar-benar tahu bahwa Gita menginginkan dan menyukai pekerjaannya di kantor ini.
Perasaannya lega saat turun dari mobil. Setidaknya selama seharian ini Gita tidak akan melihat atau berada di dekat laki-laki berbahaya itu.
Antrian masuk ke lift cukup padat. Gita ikut berbaris di belakang sambil menenangkan hatinya. Tanpa sadar dia diperhatikan oleh seseorang sejak tadi. Dia berdiri disebelahnya sambil terus mencuri pandang pada Gita.
Sampai pada pintu lift, mereka harus mengurungkan niat untuk ikut pada sesi itu, karena lift sudah penuh. Terpaksa mereka menunggu lagi lift untuk turun kembali.
“Lipstick kamu berantakan,” kata perempuan disebelahnya menyerahkan beberapa helai tisu pada Gita.
“Oh ... Makasih,” kata Gita terperanjat. Dia tidak sempat merapikan penampilannya dulu sebelum keluar dari mobil Arki. Gita hanya ingin cepat menjauh darinya.
“Emm ... Kamu pacarnya Arki ya? Tadi aku lihat kamu dianterin sama dia,” kata perempuan itu penasaran.
Gita cukup kaget mendengar kata-kata dari perempuan itu. Siapa lagi yang mengenal Arki di kantornya? Jangan-jangan dia kenal dengan semua orang di tempat kerja Gita sekarang.
“Aku istrinya,” jawab Gita enggan. Dia tidak menyembunyikan statusnya sama sekali. Lagipula Arki juga pasti punya banyak kenalan disini, jadi percuma menutupi statusnya. “Kamu kenal Arki? Temannya?” lanjut Gita giliran bertanya.
“Aku—“
“Luna! Jiaaah ... Kapan balik dari Paris? Gimana sukses gak berburu ilmunya? Jangan-jangan kamu cuma numpang liburan dibayarin kantor doang disana,” ucap Tama yang tiba-tiba saja datang dan mengajak bicara perempuan di samping Gita.
Luna? Rasanya Gita pernah mendengar nama itu sebelumnya. Entah dimana.
“Jumat lalu, Tam. Iya dong, sambil studi banding harus liburan. Mumpung dibayarin kantor,” ucap Luna sambil tertawa.
Mereka memasuki lift dan terus mengobrol berdua. Melupakan keberadaan Gita yang ada disana juga. Tapi Gita juga ikut mencuri dengar pembicaraan mereka sepanjang berada di lift.
__ADS_1
Sepertinya Luna adalah salah satu karyawan yang berprestasi sehingga dikirim ke Paris, untuk studi banding di salah satu brand kosmetik terkenal disana. Luna merupakan Project Management yang membawahi beberapa produk laris dari Marvelook.
Karir cemerlang, otak yang cerdas, dan sangat cantik. Gita hampir saja terpesona dengan kecantikan Luna yang luar biasa, dengan rambut panjang bergelombang berwarna hitam, bibir penuh, hidung tinggi dan mata cokelat yang indah. Gita merasa seperti orang-orangan sawah saat membandingkan dirinya di pantulan cermin dalam lift.
“Cantik banget sih dia, Tam. Iri aku lihatnya,” ucap Gita pada Tama saat mereka turun di lantai 14 menuju ke ruangan.
“Kamu juga cantik kali, Git. Tapi Luna emang another level lah. Incaran hampir semua cowok di kantor.”
“Gak heran sih yang begitu pasti banyak yang deketin. Belum married ya?”
“Punya pacar sih si Joshua, anak Project Management juga. Dulu gosipnya sempat tunangan sama cowok, tapi batal nikah. Gak tahu kenapa.”
“Sama anak sini juga calonnya?”
“Bukan. Katanya sama auditor di luar kantor. Adek tingkatnya Pak Usman. Gak pernah lihat juga sih yang mana. Pas aku masuk kesini, mereka udah putus. Aku denger dari gosip doang.”
Gita menghentikan langkahnya. Auditor, adik tingkat Pak Usman, gagal menikah, Luna yang sepertinya tahu tentang Arki. Gita menyambung benang merah yang tercecer dari pertemuannya dengan Luna dan cerita dari Tama. Jangan-jangan Luna adalah mantan tunangan Arki?
Sekilas Gita mulai mengingat sesuatu. Malam dimana Arki melecehkannya di karaoke, dia memanggil satu nama dalam racauannya. Mengira Gita adalah gadis yang dipujanya.
Pantas saja nama Luna begitu familiar diingatan Gita. Nama itu terus diucapkan Arki saat menyentuhnya. Menjijikkan sekaligus menyakitkan. Entah kenapa Gita merasa sangat terluka karena mengingat itu.
...****************...
Orang seperti Luna memang sangat pantas berada disamping Arki. Pantas saja Tante Irma membandingkan dirinya yang tidak seberapa dengan mantan terdahulu Arki.
Gita tidak tahu kenapa dia merasa sangat terganggu, yang jelas ini bukan cemburu. Dia tidak mungkin cemburu pada Arki. Bahkan Gita tidak suka padanya.
Hanya saja Gita merasa tiba-tiba kalah dan sangat tidak pantas. Apalagi Arki memang sejak awal tidak menginginkannya. Mungkin hanya Luna yang selama ini ada dipikirannya.
Apakah hingga sekarang Arki masih terus menyayangi Luna? Hingga malam itu, Arki tidak pernah melepas namanya dalam setiap racauannya.
Gita juga menduga, bahwa semua keinginan Arki untuk menyentuhnya hanya sebagai pelarian karena tidak bisa bersama Luna lagi. Kini Gita menambah daftar alasan kenapa dia membenci Arki dan ingin berpisah darinya.
Ruangan kantin sudah mulai surut manusia. Hanya beberapa yang masih berlalu lalang disana sambil memakan makan siang yang disediakan kantor.
Gita hari ini tidak membawa bekal untuknya sendiri maupun Arki. Dia sedang tidak mau bersusah payah melayani kebutuhan Arki. Tentu saja tadi pagi laki-laki itu terlihat kesal, karena Gita tidak mau membuatkannya bekal makan siang seperti biasa. Tapi Gita tidak peduli.
Gita makan sendiri, disaat teman satu timnya sudah kembali ke ruangan. Semua ini karena dia tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, sehingga semua tugasnya terhambat. Hingga telat makan siang.
__ADS_1
“Boleh duduk bareng gak?” tanya Luna tiba-tiba, kemudian duduk di depan Gita tanpa menunggu responnya. “Oh ya. Tadi pagi kita belum sempat kenalan. Aku Luna, Project Management,” lanjutnya mengulurkan tangan.
Meskipun enggan berbincang atau berkenalan, Gita akhirnya menjabat tangan Luna. “Gita,” balasnya singkat.
“Emm ... kamu sama Arki udah nikah berapa lama?” tanya Luna langsung pada intinya.
“Sebulan.”
“Wah, pengantin baru ternyata. Kalian pacaran berapa lama sebelum nikah?”
Gita mengernyit. Mempertanyakan keberanian perempuan itu untuk bertanya hal-hal pribadi dan tidak perlu seperti itu. Padahal mereka belum terlalu kenal. Gita tidak menyukainya.
“Aku tahu kamu mantannya Arki. Kenapa tiba-tiba nanya hal kayak gitu sama aku?”
Luna tertawa, tidak mengira Gita sangat berani mengonfrontasinya. Apakah Arki sekarang menyukai perempuan yang seperti itu? Seleranya mungkin sudah berubah.
“Kamu pasti salah paham deh. Aku gak bermaksud buruk sama kamu atau hubungan kalian. Lagian aku sama Arki beneran udah gak ada apa-apa. Kita putus lebih dari setahun lalu dan sekarang aku juga udah punya pacar yang sebentar lagi aku nikahi. Cuma aku penasaran aja sama istri Arki. Semacam, luar biasa banget Arki sampai menikah sama cewek itu,” kata Luna menjelaskan.
Gita tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Luna. Memangnya kenapa jika Arki menikahinya? Apakah dia berpikir Gita tidak pantas untuk menjadi istri Arki setelah dia putus darinya? Tiba-tiba saja mood nya berubah menjadi kelabu.
“Kalau gak punya maksud buruk dan hubungan kalian udah berakhir, kayaknya kamu gak perlu cari tahu deh soal kehidupan percintaan mantanmu. Kecuali kalau rasa penasaran kamu emang didasari karena masih berharap sama Arki.”
“Oh My God, Gita!” Luna tertawa kencang. “Aku gak bermaksud bikin kamu cemburu, beneran deh. Aku malah punya niat baik buat memperingatkan kamu soal Arki. Ya, sebenarnya udah telat juga sih. Kalian kan udah nikah,” lanjutnya tampak tidak terganggu dengan ketidaksukaan Gita
“Maksudnya?” tanya Gita bingung.
“Do you think you know him so well? Aku ngerasa orang kayak Arki gak pantes punya pasangan. Dia cowok paling mengerikan buat dinikahi. Sebaiknya kamu hati-hati. Kalau bisa sih lari dari sekarang. Meskipun kelihatan baik dan sayang sama kamu, dia bisa aja berbuat jahat. Apalagi kalau kamu bikin kesalahan sama dia.”
Gita menautkan alis bingung. Dia tahu Arki memang tidak begitu baik, jauh di dalam dirinya banyak hal yang tidak Gita sukai dan membuatnya takut Tapi mendengar orang lain menjelekkan suaminya sendiri di depannya, membuat Gita geram dan kesal.
“Makasih buat pemberitahuannya. Tapi hal kayak gini gak perlu diomongin sama pasangan Arki, kan? Seakan-akan kamu menjelekkan dia buat bikin mantan kamu kelihatan buruk. Apalagi kamu ngasih tahu hal kayak gini sama orang yang baru ditemui. Such a low gesture!”
Luna mengerucutkan bibirnya tidak senang dengan tanggapan Gita. “Padahal niatku baik. Memperingatkan sesama cewek biar gak terjebak hubungan dengan orang yang bisa bikin mereka gila. Kamu gak tahu aja seberapa jahatnya Arki sama aku. Bikin aku depresi. Suatu saat kamu bakal tahu gimana Arki yang sebenarnya dan berterima kasih sama aku.”
“Aku gak berutang apapun sampai harus bilang makasih sama kamu. Aku tahu Arki gak sempurna dan mungkin kisah kalian menyakitkan. Tapi bukan berarti aku bakal mengalami hal yang sama juga, kan? Kalian mungkin emang gak cocok aja.”
Gita tidak tahu kenapa sangat defensif seperti itu terhadap Arki. Padahal laki-laki itu memang jelas memiliki banyak sifat yang Gita benci. Dia juga berniat menceraikan Arki secepatnya. Tapi dia tidak suka mendengar semua omong kosong dan tingkah sok tahu Luna.
“Ya udah. Kamu rasain sendiri nanti,” ucap Luna tidak peduli dan pergi meninggalkan Gita.
__ADS_1